KUCIUM DIA
Cup!
Buru-buru kucium sekilas pipi kanannya, sekenanya
Siapa bilang aku tidak bakal cium-cium dia tanpa izinnya?
Spontan dihapusnya bekas ciumanku dengan lengan kirinya
Tanpa menatapku, dia main-mainkan pensil dengan kikuknya
Aku tersenyum
Siapa bilang aku tidak bakal curi-curi cium dia lagi?
Diam-diam dia memandangiku berkali-kali
Sudah pasti aku telah menarik perhatiannya
Idih! Siapa bilang aku juga tidak sedang mengincarnya?
Pelan-pelan kembali kudekati dia
Beruntung tidak curiga
Cup!
Lagi-lagi kena kucium dia
Tepat dan pasti dan lembut dan tidak tergesa
Aku nyengir, dia terbelalak
Tidak dihapusnya lagi bekas ciumanku, hatiku bersorak
Dia cepat menunduk, corat-coret dengan pensilnya, semampunya
Aku pura-pura sibuk, tanpa beranjak dari sisinya.
Ups! tiba-tiba dia gelitik kakiku
Refleks, kutoleh dia
Ragu-ragu jarinya menunjuk pinggangku
Ada senyum di bibirnya, juga matanya
Wow! Rupanya dia menemukan bolong di oblongku
Aku tertawa
Tawaku menular padanya
Sip! Dia berserah
Dengan hati-hati kuangkat tubuh lelakinya yang tidak gagah
Sepasang kakinya kecil, bengkok, terjuntai lemah
Astaga! Alangkah ringan bobotnya di usianya yang telah genap enam
Jelas kurang gizi dan lain-lain karena miskin
Segera kupangku, kupeluk, dan kucium lagi dia … cup!
Lantas kumulai pelajaran
Mula-mula kuajari membaca, meski terbata-bata
Lalu kutuntun menulis huruf-huruf yang pelan-pelan kueja
Duh! Betapa sulitnya meski cuma satu kata
Tuhan! Sepasang tangannya tak kalah bengkok dengan kaki-kakinya
Dia terdiam, aku juga
Ingusnya yang kental keluar masuk lubang hidungnya
Ingusku yang cair mulai pelan-pelan mengalir
Kuhentikan pelajaran
Masih cukup waktu
Besok dan besok dan besoknya masih bakal bertemu
Kupeluk lagi, kucium dia … cup, cup!
(Jakarta, 06 Juli 2008)
DI HATIKU TUMBUH BUNGA
Dia berpapasan denganku di gang siang itu
Rambut di dahinya berserakan
Menyembunyikan tatapannya yang buru-buru
Kukasih saja senyuman
Wah, dia balas juga meski ragu-ragu
Lantas menunduk, terus tunduk, hingga hilang di tikungan
Aku mulai iseng memperhatikannya
Badannya langsing kuat
Perawakannya tegap
Kulitnya gelap liat
Raut mukanya bersahaja dan baik-baik saja
Wow, cool juga!
Halo!
Sapaku saat bertemu di gang yang sama di jam sama
Dia diam saja, tapi senyumnya lebih lebar dari biasa
Hingga kelihatan gigi-giginya.
Halo!
Sapaku lagi pas di belokan di jam berbeda
Dia tersenyum dengan muka keringatan
Ada urat-urat menonjol di pelipisnya
Juga otot-otot di kedua lengannya
Gerobak yang ditariknya masih sama
Apa itu?
Tanyaku sambil melongok isinya
Rupanya, kardus dan koran dan botol dan gelas plastik bekas dan rupa-rupa
Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat belas
Saat seumuran dia, aku kelas dua sekolah menengah pertama
Apa dia pernah sekolah, ya?
Hatiku bertanya-tanya
Besoknya, aku bertemu dia lagi siang harinya
Aku telah melihatnya dari kejauhan, dia juga
Saat berpapasan, senyumnya mengembang riang
Aih!
Tiba-tiba di hatiku tumbuh bunga
Dari mana? Sambarku cepat
Aduh!
Sayangnya dia cuma tertawa kecil saja
Tanpa kata-kata
(Jakarta, 18 Juli 200)
Penulis
Rina Widya

Seorang pribadi yang dinamis, sukak menulis dan menggambar. Saat ini aktif belajar seni rupa di L’ASRY (Lembaga Seni Rupa Yogyakarta).
Cacatan Apresiasi dari Redaktur
Membaca puisi-puisi Rinawidya kita diajak masuk kedua yang asyik. Hal kecil bisa dituangkan dengan cerita Panjang, kocak, dan membikin penasaran. Puisinya terasa lucu dengan bahasa sehari-hari, seperti orang bercerita, tetapi menariknya di balik itu semua tersimpan satu kemungkinan, jika digarap dengan maksimal, menjadi satu kekuatan. Betapa hal-hal kecil dan sepele yang tampak lucu adalah sesuatu yang ironi dan mendalam.
Bahasa yang digunakan penyair ini terasa demikian dan nakal. Tetapi rasa genit dan nakal itu membuat kita menjadi penasaran satu sudut pandang lain yang selama ini menghantui kita: sudut pandang maskulin. Rinawidya juga terasa sangat main-main dan riang gembira dengan puisi-puisi yang ditulisnya. Hal-hal yang oleh penyair lain terasa melankolis, di tangannya berjalan penuh keceriaan.
(Indrian Koto)







