Soneta: Kura-kura Terakhir Pulau Vulkanik Galapagos
kapal-kapal yang berlabuh
tersimpan rapat di saku matanya
varian senja menjelang langit lebam
terbungkus rapi dalam cangkang
kekal buih di kaki
mungkin ciuman-ciuman ombak
kan terkenang sebagai kawan
dan sayap angsa, seperti terluka
oleh permainan cinta. Ia
begitu gugup; selalu ada arus
kesedihan yang terpendam
nota ajal berserakan. di pasir
gebalau menandai babak terindah
akhir riwayat kura-kura istirah
2025
Berguru Kepada Ikan
dua cupang tengkar mesra
membentangkan siripnya
pada seberang dinding kaca
seperti hendak melumat amarah:
serigala tak bernama di savana
dua cupang berhadapan
tetapi hanya lubuk pilihan
menyadarinya sebagai ciuman
mestinya bumi ini
dipenuhi ikan warna-warni
kita jadi punya sehelai ekor
bernafas hingga maut segan datang
sebab udara bening terhidang bagi insang
sedikit polusi, sedikit nyawa meregang
2025
Upaya Menebus Air Mata Kekasih
derita memoles rautnya
10 tahun lebih muda
dengan masing lidah
kita bertukar basah
ia begitu iman pada
keindahan pikiran. yang
menyarungkan parang
segala candu untuk mengejang
ingin sekali ia tinggalkan medan
pertempuran. dan mengetuk kembali
pintu rumah. memelihara api
pada tungku bibirnya.
selain matahari, apa yang ia cari
sebagai pengetuk pagi?
tebaran gulma. kokang senjata.
dan kelak di sorga, jika benar ada,
ia kan gelisah tuk berdoa. demi apa. pada siapa
simpan pandang yang masih terjalin
atau tanam sekali ari-ari
ia pun ngerti, Ni, hanya nektar sengkarut
yang kelak menceraikan kita dari maut
Neutopia
seiris bunga bakung
aku mencari, memasung
sekepal daging beracun
jadikan penguburanmu
sebagai pertunjukan agung
tempat kita menebar tunas-tunas
pelukan. hingga lunas rindu tertumpas
kita nulis sajak demi hayati retak
kita membubung ke bumantara
untuk jauhi ranjau; realita
aku tak punya hari kelahiran
tetapi hari ibu menghembusku
adalah perayaan nelayan
menjerat ikan lewat pancing bidan
setelah kuresapi kawah makna ini
terebus dalam gunung berpijar
terwadah olehmu abu kremasi
kunyatakan dalam gerak hidup yang wajar
Misteri Ribuan Gelondongan
—Sumatera
selalu ada hulu
selalu ada bambu
selalu ada ek
selalu tak ada kau
mari larut dalam hidup
jerat zaman yang ditetaskan
ngilu pembaruan. lalu dingin
tertahan dalam cermin
rimba lelambang menyangsi siang
juga malam. tak mempertemukan
matahari dan bulan. kau sajenkan
darahku pada bah, pada roh rimba
yang kau sadap getahnya
untuk dialirkan ke praja. atau ke mana
saja selain di Swarnadwipa
kau bertahan pada sebujur kayu
untuk sampai padaku: lautmu
Satu Arbei Di Simpang Ajal
: Taste Of Cherry, Abbas Kiarostami
katakan resah dengan belati. kau tebus empat tiket pada pria tua kau pinta kubur nasibmu di undakan terasering. 200 ribu toman untuk satu galian. burung-burung mengerubung pohon. sempurna sendiri. suara seng dan palu pekak. kucing hitam di loteng. kau bercermin pada langit sore. kau katrol sekarat dalam arbei syafaat. uap mengental pekat memayung. suara terompet tinggi mengalun. menjadi ideologi, kau rengkuh sampai mati. menjadi hieroglif terpahat pada tembok candi, sebelum memulai masehi, sebelum terlunta dari palung rahim. perlahan seketika: haus mesra.
Penyair

Hamimie, menyelesaikan studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir di UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis. Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Harian Rakyat Sultra, Bangka Pos, Radar Banyuwangi, Sastra Berita Jatim, Ngewiyak dan media lain. Pernah mengikuti Lokakarya Festival Sastra Kota Malang 2025 “Membaca Kota, Menulis Puisi”.






