Senin, Juni 15, 2026
No menu items!

Puisi buah karya Hamimie

Must Read
Hamimie hamimie
Hamimie hamimie
Menyelesaikan studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir di UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis.

Soneta: Kura-kura Terakhir Pulau Vulkanik Galapagos

kapal-kapal yang berlabuh
tersimpan rapat di saku matanya
varian senja menjelang langit lebam
terbungkus rapi dalam cangkang

kekal buih di kaki
mungkin ciuman-ciuman ombak
kan terkenang sebagai kawan
dan sayap angsa, seperti terluka

oleh permainan cinta. Ia
begitu gugup; selalu ada arus
kesedihan yang terpendam

nota ajal berserakan. di pasir
gebalau menandai babak terindah
akhir riwayat kura-kura istirah

2025

Berguru Kepada Ikan

dua cupang tengkar mesra
membentangkan siripnya
pada seberang dinding kaca
seperti hendak melumat amarah:
serigala tak bernama di savana

dua cupang berhadapan
tetapi hanya lubuk pilihan
menyadarinya sebagai ciuman

mestinya bumi ini
dipenuhi ikan warna-warni
kita jadi punya sehelai ekor
bernafas hingga maut segan datang
sebab udara bening terhidang bagi insang
sedikit polusi, sedikit nyawa meregang

2025

Upaya Menebus Air Mata Kekasih

derita memoles rautnya
10 tahun lebih muda
dengan masing lidah
kita bertukar basah

ia begitu iman pada
keindahan pikiran. yang
menyarungkan parang
segala candu untuk mengejang

ingin sekali ia tinggalkan medan
pertempuran. dan mengetuk kembali
pintu rumah. memelihara api
pada tungku bibirnya.

selain matahari, apa yang ia cari
sebagai pengetuk pagi?
tebaran gulma. kokang senjata.
dan kelak di sorga, jika benar ada,
ia kan gelisah tuk berdoa. demi apa. pada siapa

simpan pandang yang masih terjalin
atau tanam sekali ari-ari
ia pun ngerti, Ni, hanya nektar sengkarut
yang kelak menceraikan kita dari maut


Neutopia

seiris bunga bakung
aku mencari, memasung
sekepal daging beracun
jadikan penguburanmu
sebagai pertunjukan agung

tempat kita menebar tunas-tunas
pelukan. hingga lunas rindu tertumpas
kita nulis sajak demi hayati retak
kita membubung ke bumantara
untuk jauhi ranjau; realita

aku tak punya hari kelahiran
tetapi hari ibu menghembusku
adalah perayaan nelayan
menjerat ikan lewat pancing bidan

setelah kuresapi kawah makna ini
terebus dalam gunung berpijar
terwadah olehmu abu kremasi
kunyatakan dalam gerak hidup yang wajar


Misteri Ribuan Gelondongan
—Sumatera

selalu ada hulu
selalu ada bambu
selalu ada ek
selalu tak ada kau

mari larut dalam hidup
jerat zaman yang ditetaskan
ngilu pembaruan. lalu dingin
tertahan dalam cermin

rimba lelambang menyangsi siang
juga malam. tak mempertemukan
matahari dan bulan. kau sajenkan
darahku pada bah, pada roh rimba
yang kau sadap getahnya
untuk dialirkan ke praja. atau ke mana
saja selain di Swarnadwipa

kau bertahan pada sebujur kayu
untuk sampai padaku: lautmu


Satu Arbei Di Simpang Ajal
: Taste Of Cherry, Abbas Kiarostami


katakan resah dengan belati. kau tebus empat tiket pada pria tua kau pinta kubur nasibmu di undakan terasering. 200 ribu toman untuk satu galian. burung-burung mengerubung pohon. sempurna sendiri. suara seng dan palu pekak. kucing hitam di loteng. kau bercermin pada langit sore. kau katrol sekarat dalam arbei syafaat. uap mengental pekat memayung. suara terompet tinggi mengalun. menjadi ideologi, kau rengkuh sampai mati. menjadi hieroglif terpahat pada tembok candi, sebelum memulai masehi, sebelum terlunta dari palung rahim. perlahan seketika: haus mesra.

Kata-kata dari Redaktur

Puisi yang ditulis Hamimie memiliki kecenderungan bahasa yang lembut tanpa kehilangan ketajaman intuisi dan kepekaannya terhadap beragam isu. Peristiwa sosial, lingkungan, dunia imaji dan persoalan duniawi lainnya ditampilkan dengan wajah yang manis. Kemarahan, kesedihan, penyesalan, nyatanya bisa hadir dalam ungkapan yang tidak verbal dan garang. 

Selain itu, penyair juga cukup lihai memilih dan menata bahasa sehingga ia terbaca dengan ringat tetapi menyentak. Ia menyapa dengan lirih, tidak melemparkan tanggungjawab pada orang banyak. Ia mengajak kita, pembaca, untuk duduk dan merenung. Kemarahan tetaplah kemarahan, dia tidak kehilangan fungsinya ketika dibahasakan dengan santun.

Membaca puisi-puisi ini membuat kita sadar bahwa ada banyak cara untuk bisa bersuara. (IK)

Penyair

Hamimie, menyelesaikan studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir di UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis. Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Harian Rakyat Sultra, Bangka Pos, Radar Banyuwangi, Sastra Berita Jatim, Ngewiyak dan media lain. Pernah mengikuti Lokakarya Festival Sastra Kota Malang 2025 “Membaca Kota, Menulis Puisi”.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Puisi Karol Pancho

BAWAKAN AKU BUNGA Jika kamu memang sebegitu cintanya padaku.Bawakanlah aku, bunga favoritku.Bukan mawar yang dipotong durinya.Bukan matahari yang menyimpan kuaci...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img