BAWAKAN AKU BUNGA
Jika kamu memang sebegitu cintanya padaku.
Bawakanlah aku, bunga favoritku.
Bukan mawar yang dipotong durinya.
Bukan matahari yang menyimpan kuaci pada wajahnya.
Bukan tulip yang cantik saat masih menguncup.
(sebelum kau bawakan aku bunga, jangan berani melempar kecup!)
Bawakan aku bunga melati.
Kata ibuku, bunga itu menebarkan wangi kematian.
Aku ingin mengunyahnya pelan-pelan.
Karena aku ingin memakan kematianku sendiri.
Memberinya paham bahwa ia berada dalam kendaliku.
Bawakan aku bunga terompet.
Kata ibuku, bunga itu adalah tubuh cantik sangkakala.
Aku ingin meniupnya, sekencang-kencangnya.
Sebab aku ingin mengadakan kiamat.
Memberinya paham bahwa ia juga berada dalam kendaliku.
(Matraman, 28 April 2026)
MAIN HITUNG-HITUNGAN
satu dua tiga empat,
jangan dulu maju, lanjutkan jalan di tempat.
lima enam tujuh delapan,
tidak usah lihat ke belakang, kakimu mengajak jalan ke depan.
satu kali satu, sama dengan satu,
biarkan aku maju meski hasilnya begitu melulu.
dua kali dua, lagi-lagi empat,
ini bukan soal kesempatan saja, tetapi harus ada niat!
seribu dua ratus lima puluh kurang….
Cukup ah!
Jangan kebiasaan bikin pusing orang.
Lagian negeri kita sudah tidak kenal uang lima puluhan.
Dari emas, perak, diganti nikel, kuningan, dan aluminium.
Dari mahal jadi nilai minimum.
Murahan… sama seperti gombalanmu.
Bahkan juru parkir saja ogah menerimanya.
(Rawa Buaya, 24 April 2026)
JAKARTA 00.05
Jakarta
Oh Jakarta!
Cintaku padamu gelap gulita.
Tak peduli pandang, tak peduli ruang.
Jalan terus sambil ketendang-tendang.
Tubruk sana tubrik sini bertubi-tubi.
Liar, berantakan, tapi untung tidak kelihatan.
Ya namanya juga kegelapan ye!
Apa-apa yang busuk juga nggak ketahuan.
Awas!
Buanglah semua sentermu.
Hancurkan lampu emergensi.
Hari ini tidak ada lagi yang dianggap sebuah urgensi.
Tidak pula dengan nyawaku dan nyawamu.
(Loteng kosong, 10 April 2026)
BAJU PUTIH
Di balik baju putihmu yang ringkih…
Ada suara yang lirih
menyebut namaku yang terpilih.
Kancing bajumu yang pipih
mulai pelan-pelan merintih.
Dari baliknya, kuusap dadamu dengan penuh kasih.
Hatimu yang perih
sudah mulai lupa rasa risih.
Yang ada hanya sedih.
Sedih sedikit lebih
karena besok pagi aku harus kembali beralih.
Berdalih
pada dia yang terkasih.
Yah, jadi yang tersisih…
memang paling pedih, sih!
(Jakarta, 13 November 2025)
Kata-kata dari Redaktur
Karol Pancho memiliki sudut pandang yang unik. Ia berangkat dari peristiwa dan diksi yang sederhana, mengocoknya dengan rima yang sengaja dibenturkan, memainkan kata sedemikian rupa untuk menghadirkan ironi dan dan efek dramatik. Meski terkesan main-main, riang, dan santai sekaligus jenaka, namun ia memberi hentakan lain yang jika disadari akan menjadi daya tariknya sebagai penulis puisi. Puisinya enteng tapi sebenarnya memiliki isi. Ada yang ingin ia suarakan… (IK)
Penyair

Karol Pancho adalah seorang penata kata, kuli tinta, dan pembaca yang malas. Penjaga Rawa Buaya yang semakin tua semakin menikmati kopi tubruk sendirian sambil bikin coret-coretan. Temukan dia di IG @karolpancho






