Selasa, September 1, 2026
No menu items!

INTERUPSI

Must Read

Ratusan tahun, di banyak kota & di berbagai belahan dunia, dalam otak manusia tercetak gambaran stereotip hubungan desa dan kota sebagai oposisi biner. Desa adalah oposisi biner kota dan, atau, sebaliknya, kota adalah oposisi biner desa. Pun ketika perjumpaan budaya, pergaulan dan perdagangan global semakin menyelimut keduanya sekarang. Saya menggunakan diksi ‘kedua’ dengan sufiks (akhiran) ‘-nya’ ini agar kata ‘desa’ dan ‘kota’ tidak hanya menunjuk pada sekadar identifikasi wilayah saja tetapi juga wacana, ideologi dan kebudayaan.

Mitos oposisi biner ini begitu kuat sejak wacana kemajuan peradaban dan kemodernan menjadi keutamaan hidup manusia. Wacana tersebut mencanggihkan wacana lama yang menggambarkan dunia ini melulu sebagai medan pertempuran antara yang baik dan buruk, siang dan malam, terang dan gelap, surga dan neraka, pahlawan dan penjahat, hitam dan putih, dan banyak gambaran indikasi ke-oposisi biner-an lainnya. Memang di antara ke-oposisi-an itu selalu menyelisip gambaran ruang antara, tetapi perhatian terhadap ruang tersebut seringkali terabaikan. Tidak selalu, tapi sering, terabaikan.

Kondisi desa, juga kota, di Jawa (Indonesia) sekarang tentu sangat berbeda dengan 10 atau 20 tahun lalu, tetapi imajinasi tentang hal ikhwal dua wilayah tersebut seringkali masih serupa dengan gambaran keduanya sejak awal abad 20, saat wacana estetika mooi indie mempengaruhi tidak hanya di dunia seni rupa tetapi juga seni musik, perekaman audio–-dan, atau, dengan—visual dan, bahkan sastra. Gambaran tentang kondisi desa dan kota (utamanya desa) menjadi sedemikian romantik-melankolik. Desa, dalam berbagai media tersebut, seringkali digambarkan seolah sebagai representasi kemurnian, kealamian, kesederhanaan yang bersahaja, keindahan, dan sebagainya. Tetapi, bebarengan dengan itu, desa juga menjadi representasi ketertinggalan, kebodohan, kemelaratan, peradaban rendah dan sebagainya. Sedangkan kota merepresentasikan kebalikannya. Ada kemajuan, kekayaan, peradaban tinggi, keadiluhungan budaya, dan sebagainya, selain juga kesemrawutan, kepadatan penduduk, ancaman kejahatan, perebutan kesempatan hidup, dan sebagainya. Stereotip itu tetap terjaga sampai jauh waktu. Setidaknya sampai sekarang, saat kondisi nyatanya sudah banyak berubah.

Stereotip itu juga ada pada narasi-narasi pengalaman manusia-manusia yang berpindah di antaranya, baik dari desa ke kota atau sebaliknya. Stereotip yang paling romantik-melankolik tergambarkan adalah pemaknaan perpindahan manusia desa ke kota sebagai perjuangan hidup. Baik yang ditempuh dalam upaya menuntut ilmu dan, utamanya lagi, mencari nafkah. Tidak sedikit warga kota yang memang berasal dari desa. Perpindahan manusia dari desa ke kota ini sudah banyak yang memperhatikan dan menelitinya, termasuk hal-hal yang dirasakan akibat kondisi yang berbeda dari desa asal berangkat dengan kota yang didatangi. Ada banyak sekali pengalaman yang sudah dan masih akan terus diceritakan. Sederas arus perpindahan yang terus terjadi hingga sampai entah kapan. Ada banyak yang cenderung romantik-melankolik, berada dalam bangunan-bangunan stereotip yang didasari pada kisah-kisah perjuangan yang berujung pada keberhasilan (atau sebaliknya!), tidak sedikit pula yang didasari pada pemaknaan sebagai sekadar pengalaman perpindahan tempat (dengan kesadaran-kesadaran yang lambat laun bertumbuh) saja. Lebih sederhana tetapi menyajikan beraneka ragam persoalan yang memang “demikianlah adanya”, yang tidak bisa tidak harus dihadapi dan dilalui.

Pengalaman berkesadaran tentang perpindahan tempat ini membuat pemaknaan atas desa dan kota menjadi lebih rasional. Mereka, manusia-manusia yang berpindah, akhirnya bisa melihat keduanya sebagai berbeda saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Mereka bisa melihat keburukan, kebaikan dan keanomalian masing-masing. Mereka bisa menemukan ke-desa-an desanya di kota tempatnya sekarang berada dan, atau, sebaliknya. Mereka bahkan bisa saja serta merta merasa asing dengan kesemuanya. Mendapatkan pengalaman yang benar-benar baru tanpa punya rujukan sebelumnya, atau, yang lebih parah dari itu, merasa hilang. Kesadaran atas ruang-ruang yang berbeda ini membuat mereka relatif lebih bisa menghargai keberadaan perbedaan-perbedaan yang seringkali terabaikan. Termasuk hal-hal yang dianggap sebagai kerusakan, kegagalan, bahkan sampah. Pengalaman yang berkesadaran memungkinkan mereka mempunyai anggapan bahwa apa saja yang dijumpainya di ruang di mana mereka berada sebagai artefak-artefak yang menyejarah. Termasuk diri dan eksistensi mereka dalam ruang tersebut.

Berjumpa dengan Agus Tri Wibowo dan Farid Aleyendra, dua orang mahasiswa Program Studi Seni Murni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengkonfirmasi adanya pengalaman berkesadaran pada diri manusia-manusia yang melakukan perpindahan ruang. Keduanya berasal dari desa, dari keluarga petani, yang melanjutkan pendidikan strata sarjana di kota, di ISI Surakarta.

Agus berasal dari Banyumas dan Farid berasal dari Pati. Keduanya adalah pemuda desa yang dalam kehidupan keseharian mereka di rumah melakukan kegiatan umumnya warga desa. Mereka juga membantu orangtuanya bertani sebagaimana biasanya kawan-kawan mereka di desa (tentu bagi yang masih punya tanah garapan). Keduanya harus keluar dari desa masing-masing untuk melanjutkan sekolah di ISI Surakarta. Mereka harus berpindah ke kota, Surakarta. Dari pengakuan mereka, ada banyak keanehan yang harus mereka alami dan jalani sejak berada di kota Surakarta ini, yang banyak berbeda dari kebiasaan mereka di desa. Mereka, dalam kehidupan sehari-hari, mengalami salah tingkah menghadapi banyak hal baru yang belum pernah mereka temui sebelumnya di desa. Dengan cepat mereka beradaptasi, bukan dengan menjadi seperti pemuda-pemuda kota dan budayanya begitu saja, bukan juga terhilang dalam pusaran kehidupan kota. Mereka hanya menjadi dirinya yang berada di tempat lain dan beradaptasi dengan cara hidup di tempat tersebut. Mereka beradaptasi dengan cara bergaul yang berbeda dengan pengalaman mereka sebelumnya, dengan ritme hidup yang lebih cepat, dengan kepragmatisan, dengan perjumpaan-perjumpaan yang didasari kepentingan-kepentingan, dengan ketergantungan teknologi dalam hidup sehari-hari, dan sebagainya.

Pengalaman-pengalaman itu mereka catat dalam ingatan. Keduanya mahasiswa seni rupa, perupa muda yang sedang galak-galaknya berekspresi. Dan, rupanya, pengalaman-pengalaman berkesadaran yang mereka catat itu menjadi bahan bakar sekaligus sumbu bagi karya-karya mereka. Perjumpaan ide dengan Rahmad Putra (biasa menulis nama dirinya dengan ejaan lama: Poetra), kawan seangkatan, membuat keduanya tertarik untuk bersama-sama membuat projek seni. Poetra, yang berasal dari Bangka Belitung, mempunyai ketertarikan untuk memanfaatkan ruang-ruang yang relatif terbengkalai di kota sebagai ruang dan medium penciptaan karya-karya rupa. Ada sempilan ruang di Rumah Banjarsari (ruang publik dan seni), di bagian pojok belakang halaman, yang terbengkalai. Poetra tertarik untuk menggarapnya. Rumah Banjarsari kebetulan juga tertarik dengan ide tersebut dan menyilakan Poetra untuk mengaktifkannya. Kesempatan itu Poetra tawarkan kepada Agus dan Farid. Keduanya tertarik.

Perjumpaan ide antara Poetra, Agus, Farid dan Rumah Banjarsari ini melahirkan projek seni alternatif yang kemudian dinamai INTERUPSI. Projek ini diwujudkan, dikerjakan, di Rumah Banjarsari, Jl. Syamsurizal no. 10, Setabelan, Surakarta, pada 7-31 Agustus 2026 (open studio dimulai sejak 7 Agustus; pembukaan pameran 14 Agustus). Agus dan Farid menggarap karya (karya-karya), merespon ruang terbengkalai di pojok belakang halaman Rumah Banjarsari. Ruang tersebut, sekali lagi, bukan hanya sebagai ruang pamer saja tetapi juga menjadi medium sekaligus rangsangan penciptaan karya-karya keduanya.

Wacana kealternatifan projek seni keduanya ini tentu bukan hal baru dalam medan seni kita. Ada banyak kealternatifan ditawarkan dalam projek-projek seni yang pernah dipresentasikan di negeri ini. Kealternatifan projek-projek tersebut bermacam-macam. Ada ke-alternatif-an dalam hal ruang, medium, audiens, waktu, tema, dan sebagainya. Ke-alternatif-an ini biasanya diukur dari keumuman yang berlaku dalam medan utama seni rupa kita. Meskipun pada akhirnya apa-apa yang menyimpang itu bisa dipoles sebagai komoditi juga. Tetapi, menariknya, alternatif selalu terus lahir dan konsisten melakukan penyimpangan.

INTERUPSI ini adalah tetap projek alternatif. Setidaknya di antara keumuman yang ada di medan seni kota Surakarta. Pemilihan ruang yang tidak representatif sebagai ruang pamer, penggunaan ruang tidak hanya sebagai tempat tetapi juga medium karya seni, tema yang ditawarkan tentang pengalaman berkesadaran perpindahan ruang, keterbukaan keterlibatan audiens terlibat dalam penciptaan karya di momen open studio, bukan komoditi seni, dan banyak lagi. Ke-alternatif-an itu menjadi upaya mereka melakukan interupsi di medan seni rupa sekarang yang relatif berbungkus kesterilan, mewah, high tech, berselera urban, dan mahal. Interupsi mereka pada medan seni sederhana, hanya menunjukkan bahwa apa-apa yang seperti mereka ada, masih ada, dan selalu akan ada. Interupsi yang utama dilakukan dalam INTERUPSI ini sebenarnya bukan pada medan seni rupa kita. Interupsi mereka pada kehidupan keseharian masyarakat kota yang lebih utama. Interupsi yang berisi suara-suara pengalaman berkesadaran manusia-manusia yang melakukan perpindahan tempat dan mengada.

Plosokerep, Agustus 2026

Penulis

Albertus Rusputranto P.A., Dosen Seni Rupa di Institut Seni Indonesi (ISI) Surakarta. Penulis buku Seni Rupa “Medan Seni Rupa Indonesia 1900-1965. Buku Terbarunya “MENCIPTA OBJEK BERMAKNA” diterbitkan ISI Press (2024)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Terinspirasi dari Karya Mendiang Guntur T.Cunong, Teater Akar Surakarta Sajikan Balada Dari Timur.

"Ada yang harus aku katakan, ada yang harus aku ungkapkan...padamu. Ada yang harus kuceritakan, ada yang harus kubicarakan… malam...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img