“Ada yang harus aku katakan, ada yang harus aku ungkapkan…padamu. Ada yang harus kuceritakan, ada yang harus kubicarakan… malam ini…”
Sebuah penggalan lirik lagu berjudul Hajar Indonesia ciptaan Guntur T. Cunong bergema di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah pada (21-22/8/2026) membuka gelaran pementasan Balada Timur oleh Teater Akar Surakarta.
Sebuah potret kemiskinan coba disuguhkan oleh sutradara pementasan Yogi S. Manitis Aji lewat latar artistik kawasan kumuh tempat biasa para pemulung berkumpul dan tinggal usai mencari sampah atau barang rongsokan di sekitar tempat tinggalnya.

Tuwuh Jagad sebagai penata artistik menyajikan tata panggung sebuah bangunan yang belum jadi dan terkesan terbengkalai layaknya bangunan-bangunan mangkrak akibat proyek macet di banyak kota besar yang seringkali menjadi tempat tinggal para kaum marginal atau terpinggirkan.
Berita akan adanya penggusuran di tempat yang sudah ditinggali lama oleh para pemulung, menimbulkan gelombang protes para kaum tertindas yang suaranya hampir hilang ditelan deru kepentingan orang-orang berkuasa.
Seperti ketika seorang penjual kemoceng keliling yang menerima berapa pun hasil dari memeras keringatnya seharian penuh namun, tetap berusaha menyuarakan keresahan hatinya terhadap rencana penggusuran demi sebuah martabat dan harga diri yang dimilikinya.
“Ada hari, ada rejeki… ana dina, ana upo… meski pun kami kelaparan, kami pun tetap berjuang” ucap pria tua yang diperankan secara apik oleh aktor kawakan, Gigok Anurogo.
“Lapar, lapor…lapar…lapor,” ratapnya kemudian.

Selain keresahan yang dirasakan oleh para pemulung tentang adanya penggusuran demi sebuah wajah kota yang bersih, cerita juga berkutat seputar kisah cinta segitiga antara seorang PSK yang biasa mangkal di sekitar lokasi dengan seorang copet dan seorang pengamen.
Pentas yang berlangsung selama dua hari itu dijubeli oleh penonton. Pada hari pertama pementasan, keluarga almarhum Guntur T. Cunong turut hadir menyaksikan pementasan. Pihak Teater Akar Surakarta pun memberikan kenang-kenangan berupa gitar yang diterima oleh salah satu anaknya.
Pementasan drama musikal yang memadukan akting, tari dan musik dimainkan oleh para pemain yang kebanyakan masih pemula.
Ansambel antar pemain menjadi tidak rata karena minimnya jam terbang dan juga masih banyak pemain kedodoran memadukan antara akting, tari dan bernyanyi. Namun kelemahan itu dapat ditutupi oleh aransemen musik yang megah serta semangat dari para pemain yang dengan maksimal ingin menyajikan sebuah karya yang terinspirasi dari lagu-lagu milik mendiang Guntur T. Cunong.
“Kita sebagai seorang seniman harus terus peka dengan zaman. Salah satu kepekaan itu terjembatani dalam lagu karya milik almarhum Mas Guntur T.Cunong.” ujar Yogi tentang latar belakang dirinya membuat pementasan Balada Dari Timur.

Mendiang Guntur T. Cunong merupakan sosok musisi balada yang cukup idealis. Semasa hidupnya, Cunong suka membawakan karya-karya miliknya daripada karya milik orang lain. Karya-karya Cunong seringkali menyuarakan keresahan maupun kritik sosial yang dirasakan oleh kaum-kaum terpinggirkan. Lewat karyanya, Cunong semasa hidupnya berusaha untuk terus bersuara lantang agar didengar oleh para pemegang kebijakan. Kepada para pengamen jalanan, mendiang yang juga sering berjalan dengan Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ), selalu memberikan masukan agar para pengamen menghasilkan karya supaya dihargai bukan dikasihani.
Di kalangan seniman Solo, mendiang Cunong yang juga pentolan Teater Eks Surakarta ini cukup dikenal dekat dan menimbulkan kesan mendalam.
Salah satunya dari Gigok Anurogo, teaterawan yang malam itu juga tampil, teringat kembali saat-saat bersama dengan almarhum.
“Waktu suara Cunong terdengar lewat lagu ‘Hanya’ di ending, saat mau masuk panggung langsung mak-deg teringat orangnya. Mau menangis tapi saya tahan.” ujarnya.

“Saya jadi teringat, pada hari dimana dirinya meninggal sebenarnya saya janjian sama dia buat datang ke acara pementasan ketoprak di Rumah Banjarsari. Tapi setelah usai pementasan, Cunong juga belum datang. Saya kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, baru mau tidur yang dikabari anak saya kalau Cunong meninggal. Langsung saya merasa sangat kehilangan.” kenangnya.
Almarhum Guntur T. Cunong meninggal dunia pada Desember tahun 2018 karena sakit. Kepergiannya yang mendadak cukup membuat teman-temannya dan kalangan pengamen jalanan baik dari Solo maupun Jakarta dan kota-kota lainnya amat sangat kehilangan.
Penulis

Dody Eskha Aquinas seorang penulis jalanan yang tinggal dan lahir di sebuah kota S di Jawa Tengah
yang mulai padat penduduknya. Aktivitasnya sehari-hari adalah jalan-jalan tak tentu
arah alias kabur kanginan.
Menikmati senja adalah kegemarannya sembari makan kacang kulit dan minum
segelas teh hangat serta bercengkerama dengan teman-temannya.
Tiada hari tanpa berpikir meski hidup tetap dijalaninya secara ngawur, begitulah pedoman hidupnya






