Gantungan-gantungan kertas putih pembungkus lilin itu terlihat menghiasi panggung. Satu per satu sosok pria berbaju hitam terlihat menyalakan lilin-lilin yang terbungkus kertas putih itu. Belum usai semua lilin dinyalakan, ada bagian api dari lilin yang membakar kertas sehingga membuatnya terjatuh dan terbakar. Suasana gelap dan sunyi terasa perlahan mulai tegang karena api yang membakar kertas itu jatuh ke tanah.
Itulah sedikit cuplikan pertunjukan Surat Cinta Salah Belok dari Hendra Setiawan (Jakarta) di area terbuka Rumah Banjarsari pada (1/7/2026) malam.

Malam itu, Hendra mencoba menggambarkan peristiwa yang terjadi akibat dari sebuah kerusakan yang dilakukan melalui kode-kode simbolik cahaya, bunyi, benda dan tubuh untuk menunjang bentuk pertunjukannya.
Seusai pentas, Hendra mengatakan jika pentas yang dilakukannya terinspirasi dari kejadian di Jalur Gaza.
“Ya, inspirasi memang dari sana. Namun kemudian saya tarik ke satu sisi tentang akibat dari sebuah kerusakan yang ditampilkan,” ungkap Hendra.
Hendra yang dalam proses kreatifnya selalu mencoba menghadirkan ketegangan-ketegangan yang bisa disajikan dalam karya garapannya agar terlihat menarik ketika ditonton secara visual.
“Di garapan ini, saya mencoba mencari bagaimana sebuah kertas bisa menimbulkan sebuah ketegangan,” terangnya.
Bukan hanya kertas, dalam pertunjukan yang menyajikan dialog yang panjang, acapkali Hendra juga ingin mencari ketegangan-ketegangan yang ada dalam naskah tersebut.
Dalam pertunjukan Surat Cinta Salah Belok, selain menggunakan kertas sebagai properti artistik pertunjukan, Hendra juga menghadirkan balon-balon hitam yang dijepit di antara sela kedua paha serta lengannya. Balon-balon itu kemudian dia letuskan sehingga terdengar menyerupai tembakan yang mengenai dirinya. Ia pun kemudian tersungkur layaknya korban penembakan senjata api.
Selain itu Hendra juga menata sedemikian rupa batu bata di atas tanah. Pada sebuah adegan, ia mencoba untuk merusak batu bata itu sehingga menyerupai puing-puing bangunan yang porak poranda akibat adanya gempuran senjata maupun mesiu yang menghancurkannya.

Peristiwa tragedi kemanusiaan yang cukup indah berhasil Hendra ciptakan malam itu. Perpaduan antara artistik yang digunakan serta tubuh Hendra sendiri menjadi satu kesatuan utuh. Hal itu juga diamini oleh Hanindawan, tokoh teater senior dari kota Solo.
“Saya melihat totalitas Hendra dalam pentas malam ini. Artistik bukan hanya visual yang ditampilkan di atas panggung, tetapi tubuh juga digunakan. Bukan hanya kertas, balon, batu bata tapi juga tubuh yang jatuh menghadirkan ketragisan sebuah peristiwa sehingga aktor sudah ‘hilang’ dan totalitas tragedi kemanusiaan yang terasa,” ungkap Hanindawan dalam diskusi usai pertunjukan.
(LSA)






