Saya masih mengingat dengan jelas peristiwa satu tahun yang lalu, sekitar bulan Agustus 2025 ketika gelombang protes massa turun ke jalan menuntut keadilan akibat ketimpangan ekonomi dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, diperparah oleh kematian driver Gojek dilindas kendaraan aparat. Saya dan kawan-kawan Mirat Kolektif ikut turun ke jalan, berkali-kali lari tunggang-langgang menghindari gas air mata yang ditembakkan brutal oleh polisi. Kawan-kawan kami ada yang kena pukul, ada yang luka lecet akibat jatuh saat berlarian bersama massa. Sedangkan saya bersama dua orang lainnya harus naik pagar lancip setinggi 2,5 meter, diselamatkan warga kampung dari lemparan gas air mata. Di sosial media, kami menyaksikan bagaimana kacaunya situasi saat itu di seluruh Indonesia, termasuk pada akhirnya berita kriminalisasi kawan-kawan aktivis yang berada pada garda depan perlawanan ini.
Ribuan orang ditangkap, tak terkecuali para aktivis perempuan. Ratusan lagi luka-luka, puluhan orang mati, ratusan sisanya masih jadi tapol hingga kini. Dampak dari penangkapan dan kriminalisasi para aktivis itu meninggalkan luka dan trauma yang cukup mendalam bagi para pelaku gerakan sosial, terutama para perempuan yang dalam kerja-kerja aktivisme ini menanggung beban berlebih. Mereka tidak hanya berhadapan dengan isu dan warga yang dibela di garis depan, tetapi juga menghadapi langsung represi aparat dan sistem patriarki yang bekerja di dalam masyarakat maupun gerakan itu sendiri. Belum lagi tuntutan kerja-kerja domestik dan bahkan perawatan komunitas yang seringkali dibebankan lebih kepada perempuan, termasuk juga beban ekspektasi domestik di rumah masing-masing (mengurus anak/orang tua/pasangan).
Penumpukan beban ini tidak hanya berdampak secara psikologis, tetapi juga mengendap di tubuh mereka. Dalam situasi serba darurat yang melelahkan tersebut, tubuh dipaksa untuk terus siaga sehingga kehilangan hak paling mendasarnya, yaitu hak untuk berhenti dan merasa aman. Kondisi ini kemudian dengan tangkas ditangkap oleh kawan-kawan kolektif Bersemai Sekebun, sebuah kolektif lintas generasi dalam lingkar jaringan aktivis di Salatiga, Semarang, dan sekitarnya, yang berfokus pada pembelajaran isu kemanusiaan dan pelanggaran HAM di Indonesia. Bersama dengan AJAR dan jejaring aktivis perempuan lainnya, Bersemai Sekebun di bulan Juni lalu mengadakan kegiatan retreat sebagai ruang jeda bersama bagi para aktivis perempuan di wilayah Semarang dan sekitarnya untuk saling berbagi keresahan, menguatkan, serta menghimpun kekuatan bersama yang berkelanjutan.
Pada titik inilah kerja perawatan dan penyediaan ruang jeda menjadi sebuah kebutuhan bersama yang teramat politis. Sebagaimana disuarakan oleh Audre Lorde (1988) melalui gagasan self care as warfare, merawat diri di tengah perjuangan bukanlah bentuk pelarian atau tindakan egois. Sebaliknya, merawat tubuh adalah bagian tak terpisahkan dari strategi bertahan hidup (self-preservation) untuk menjaga keberlanjutan daya juang kolektif. Merawat tubuh, termasuk di dalamnya adalah merebut kembali otoritas atas tubuh dan memulihkan energi untuk terus bertahan hidup, adalah sebuah bentuk perlawanan politik. Pertanyaannya, dengan cara apa kerja perawatan itu dilakukan?
Teater sebagai Ruang Jeda
Mirat Kolektif dihubungi oleh kawan-kawan Bersemai Sekebun untuk membantu pelaksanaan kegiatan retreat ini sebagai fasilitator di salah satu mata acaranya, yaitu tentang Tubuhku Membebaskanku. Mereka berharap agar kami dapat membersamai para aktivis perempuan melepaskan beban-beban tubuh mereka selama ini menggunakan pola-pola latihan teater yang biasa kami lakukan. Kami kemudian berusaha merumuskan kemungkinan-kemungkinan yang dapat disusun berdasarkan pengalaman kami berteater selama ini. Praktik yang dirasa cocok untuk dilakukan bersama-sama adalah praktik teater kaum tertindas Augusto Boal. Kami menggunakan empat tahapan metode Boal, yaitu (1) memahami tubuh, (2) membuat tubuh ekspresif, (3) teater sebagai bahasa, dan (4) teater sebagai wacana. Prinsip-prinsip dasar metode Boal ini kami olah kembali, kemudian disesuaikan dengan kemampuan/kebiasaan latihan rutin kami dan situasi-kondisi kegiatan retreat tersebut.
Tahap memahami tubuh diawali dengan pemanasan yang berurutan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Selain sebagai upaya meregangkan atau merilekskan tubuh, kawan-kawan diajak pula untuk mengenali bagian tubuh mana yang terasa sakit, ngilu, kaku, dan tidak biasa bergerak. Dengan demikian, meski dalam waktu pemanasan yang tidak terlalu panjang, kami semua benar-benar merasakan gerak tubuh masing-masing.
Selanjutnya, latihan menyadari nafas dan grounding. Melalui latihan pernapasan yang lambat dan teratur, kawan-kawan diajak untuk melepaskan ketegangan menumpuk akibat stres kronis dan ancaman represi. Napas tidak lagi sekadar mekanisme biologis yang bekerja otomatis, melainkan disadari sebagai jangkar untuk mengembalikan rasa aman ke dalam tubuh. Proses ini diperkuat dengan latihan grounding—menjejakkan kaki ke bumi dengan penuh kesadaran—agar tubuh dapat merasakan kehadirannya secara penuh, “di sini dan saat ini”. Tahap pemanasan, pernapasan, dan grounding ini menjadi fondasi krusial dalam tahap pertama metode Boal (memahami tubuh).
Setelah tubuh diregangkan dan diajak hadir secara penuh, tahap kedua–membuat tubuh ekspresif–dilakukan untuk perlahan-lahan membongkar habituasi tubuh yang selama ini terbiasa dalam mode bertahan. Proses tahap ini sebetulnya adalah yang paling menantang, karena upaya membongkar kebiasaan tubuh yang sesungguhnya tentu saja tidak dapat dilakukan dalam satu waktu yang pendek. Tetapi, dalam rentang waktu pendek tersebut, setidaknya kawan-kawan merasakan bagaimana tubuh menyadari kembali kebebasannya untuk bergerak, bernapas, dan merasa, dengan bantuan berbagai stimulus yang diberikan. Stimulus tersebut berupa ruang yang terbuka, kehadiran kawan lain, kondisi lingkungan sekitar, dan alunan musik. Dalam tahap ini, tubuh adalah media ekspresi yang bebas dan tanpa tekanan. Sesi ini diakhiri dengan menikmati nafas yang panjang sambil berbaring terlentang (savasana) di rerumputan.
Kondisi tubuh yang rileks dan terbuka setelah melalui dua tahapan Boal menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap ketiga dan keempat: teater sebagai bahasa dan teater sebagai wacana. Pada fase ini, tubuh tidak lagi sekadar memulihkan dirinya sendiri, melainkan diajak untuk mengartikulasikan pengalaman politiknya melalui dua taraf percobaan, yaitu teater citra (image theater menurut Boal, atau yang diterjemahkan oleh Joned Suryatmoko sebagai teater gambar), dan teater forum (forum theater). Dua taraf latihan atau percobaan ini juga dimaksudkan agar para perempuan yang terlibat dapat mengenali tubuhnya sebagai senjata, sebagai alat, yang dapat turut menghancurkan “rumah tuan”. Seperti yang pernah dikatakan oleh Audre Lorde (1984), “the master’s tools will never dismantle the master’s house”, maka perlu perkakas, senjata, alat, praktik, pengetahun lain untuk membongkar “rumah tuan”. Kesadaran tubuh sebagai senjata adalah instrumen kritis untuk membongkar narasi penindasan atau narasi “rumah tuan”, juga sebagai bentuk latihan untuk merumuskan taktik baru secara bersama-sama.
Sebelum masuk ke teater citra atau teater gambar, kami semua mencoba mengenali kembali tubuh lebih dalam dengan cara membentuk pose/gambar/citra menggunakan tubuh mereka dengan beberapa parameter. Diawali dengan parameter garis, para perempuan ini berpose dengan kesadaran garis, seperti garis lurus, lengkung, dan zig-zag. Kemudian parameter levelitas membantu mereka untuk memperkaya pose pada level tertentu, yaitu bawah, tengah, dan atas. Pose personal ini diujicobakan terus-menerus hingga mereka tidak lagi merasa asing dengan parameter-parameter sederhana seperti garis, levelitas, arah, jarak, durasi, dan tempo. Latihan ini dilanjutkan dengan membuat pose personal berdasarkan benda-benda yang ada di sekitar mereka, seperti botol, kertas, vas bunga, asbak, dan lain sebagainya hingga mereka mulai asyik dengan tahapan ini.
Kami kemudian mengajak mereka untuk melakukan sambung-menyambung pose dengan berkelompok, sehingga mereka memahami cara kerja gambar atau diorama atas suatu peristiwa. Dalam latihan ini, perlahan-lahan konsep spect-actorship dikenalkan. Semua orang di dalamnya adalah spect-actor, yaitu orang yang terlibat, berpikir, mengubah, mengujicobakan, bukan hanya menonton secara pasif. Mereka dapat mengambil jarak dari gambar bersama yang dihasilkan dengan cara keluar dari pose-pose tersebut, melihat melalui jarak kritis, kemudian masuk kembali untuk membentuk pose baru. Latihan-latihan membentuk gambar melalui pose tubuh mereka ini meskipun secara perlahan telah mengenalkan mereka pada konsep spect-actorship, tetapi tubuh pada prinsipnya masih digunakan untuk menyampaikan gagasan semata, belum secara detail membicarakan hubungan kausalitas antar gagasan. Analisis gagasan menggunakan tubuh akan dilakukan nanti di tahap keempat: teater sebagai wacana.
Sebagai jembatan sebelum memasuki tahapan keempat, yaitu teater sebagai wacana melalui teater forum, latihan yang dilakukan adalah membuat pose tentang mimpi atau cita-cita mereka masing-masing. Latihan ini juga menggunakan benda-benda yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Dalam ToR retreat, saya meminta panitia untuk menuliskan kebutuhan yang wajib dibawa oleh para peserta, yaitu membawa barang atau benda yang menggambarkan, mendekati, atau mengingatkan mereka pada mimpi/cita-cita personalnya. Satu-persatu dari mereka kemudian mencoba mengartikulasikan mimpinya menggunakan pose tubuh dan benda yang dibawanya. Sesi ini terasa cukup mengharukan karena meski tampak sederhana, tetapi mimpi-mimpi mereka sangat personal dan barangkali adalah sesuatu yang sangat sulit mereka raih selama ini. Mimpi-mimpi itu adalah keinginan mereka yang telah lama tidak mendapat tempat di tengah-tengah narasi besar perlawanan sekaligus ungkapan jujur dari tubuh mereka yang senantiasa merasa terancam oleh situasi dan kondisi negara selama ini.
Pose-pose mimpi tersebut kemudian disusun berkelompok untuk menjadi semacam repertoar kecil. Setiap kelompok menghafalkan urutan dan bentuknya. Setelah itu, mereka diajak masuk ke format teater forum. Saya sendiri menjadi joker yang memfasilitasi jalannya teater forum sekaligus membuat jalinan dramaturginya dengan menyusun urutan per bagian. Bagian pertama, merayakan mimpi-mimpi mereka. Bagian kedua adalah memikirkan dan menulis realitas atau masalah yang dihadapi dalam aktivisme yang mereka perjuangkan. Bagian ketiga adalah menubuhkan realitas yang telah ditulis menjadi sebuah citra atau gambar bersama. Di bagian ketiga itulah forum akan diberlangsungkan.
Hal yang penting dalam pelaksanaan teater forum ini (terutama pada bagian menubuhkan realitas) adalah bagaimana para aktivis ini dapat membuat rangkaian pose/gambar/citra tentang situasi riil atau masalah aktivisme yang dihadapi hari ini. Kemudian membuat situasi idealnya atau menggambarkan bagaimana situasi sebaiknya. Terakhir, membuat berbagai situasi transisi untuk menunjukkan bagaimana upaya perubahan dari situasi riil ke situasi ideal. Pada momen inilah tahapan keempat (teater sebagai wacana) perlahan diwujudkan. Melalui tubuhnya, mereka menganalisis permasalahan, bergantian mengubah citra atau situasi yang tidak pas secara bertahap tanpa terburu-buru hingga tercapai citra paling ideal menurut forum. Dengan demikian, proses ini tidak berfokus pada citra idealnya, tetapi bagaimana mereka dengan kesadaran penuh berusaha menempuh transisi demi transisi untuk mencapai citra ideal tersebut. Di situlah letak tubuh menyadari bahwa untuk mengurai masalah yang mengakar dan sistemik, dibutuhkan perjalanan, percobaan, latihan, dan jarak kritis yang diciptakan bersama. Atau dalam bahasa Boal, tepat di sanalah teater menjadi latihan revolusi.
Setelah menemukan kesepakatan atas citra ideal, seluruh tahapan ini kemudian ditutup dengan kembali saling merawat dan memberi kasih kepada kawan. Kami semua saling memijat, saling menepuk bagian tubuh yang tegang, menyadari napas, dan menciptakan momen refleksi bersama. Keseluruhan proses ini diberlangsungkan dengan mengupayakan ruang yang aman dan menyenangkan bagi semua.
Membaca Ulang Ruang Jeda
Retreat bersama kawan-kawan perempuan ini memberi ruang refleksi yang mendalam bagi saya secara personal, terutama tentang bagaimana dunia teater yang saya geluti pada akhirnya bersimpangan dengan ruang-ruang aktivisme (meski saya sendiri tidak sedang ingin memisahkan diri saya sebagai seniman dengan para aktivis, karena dalam peristiwa ini kami adalah sama dan menjalani proses ini bersama-sama). Dalam ruang jeda ini, teater membebaskan dirinya dari orientasi tontonan estetik. Teater berfungsi sebagai metode, proses, dan ruang intervensi sosial-politik di tengah masyarakat. Teater turut membongkar dikotomi sempit yang selama ini memisahkan antara “aksi politik di jalan” dan “pemulihan tubuh di ruang privat”. Keduanya sama-sama penting dan tak terpisahkan.
Proses menubuhkan mimpi hingga simulasi citra ideal dalam teater forum membuktikan bahwa tubuh perempuan adalah instrumen berdaya, sebuah senjata perlawanan yang memiliki agensi untuk merebut kembali otoritasnya, membongkar narasi penindasan, juga merumuskan taktik baru secara bersama-sama. Kesadaran atas kebutuhan dan dinamika tubuh inilah yang membuat peristiwa dalam ruang jeda ini menjadi sangat penting, karena apa yang terjadi pada tubuh di dalam latihan, sedikit banyak atau di antaranya, adalah pantulan dari seluruh kerja-kerja aktivisme yang dilakukan selama ini. Kelelahan, ketakutan, keberatan, dan perasaan-perasaan semacamnya (terutama yang dirasakan oleh perempuan) adalah valid, maka perlu ruang untuk mengelola dan merefleksikan beban-beban tersebut sebagai upaya menghadapi perjuangan berikutnya. Perlawanan yang panjang tidak hanya dipelihara oleh amarah yang terus-menerus membakar, melainkan juga oleh rasa kasih, kesadaran atas tubuh, dan keberanian untuk saling merawat. Dan di situlah juga seharusnya teater: bertemu dan tumbuh bersama perjuangan itu.
Surakarta-Salatiga, Juli 2026
Penulis

Luna Kharisma adalah sutradara teater asal Surakarta dan salah satu pendiri Mirat Kolektif. Karya-karyanya banyak menggali pengalaman, perjuangan, dan resistensi perempuan dalam berbagai konteks sosial dan historis. Beberapa karya penyutradaraan yang pernah dipentaskan antara lain Trilogi Di Dalam Rumah (2015-2019), Sebuah Cerita Malam Ini (2021), Rapat Rukun Tetangga (2022), Sebagian Pertemuan (2023), Api Kartini Edisi Khusus (2023), Hantu Pada Halaman yang Hilang (2024), dan Sudut Hati Terpercik Api (2025). Selain sebagai sutradara, ia mempunyai minat di bidang musik sebagai seorang vokalis.






