Selasa, September 1, 2026
No menu items!

Puisi – Puisi Rina Widya

Must Read

KUCIUM DIA

Cup!
Buru-buru kucium sekilas pipi kanannya, sekenanya
Siapa bilang aku tidak bakal cium-cium dia tanpa izinnya?
 
Spontan dihapusnya bekas ciumanku dengan lengan kirinya
Tanpa menatapku, dia main-mainkan pensil dengan kikuknya
 
Aku tersenyum
Siapa bilang aku tidak bakal curi-curi cium dia lagi?
 
Diam-diam dia memandangiku berkali-kali
Sudah pasti aku telah menarik perhatiannya
Idih! Siapa bilang aku juga tidak sedang mengincarnya?
 
Pelan-pelan kembali kudekati dia
Beruntung tidak curiga

Cup!
Lagi-lagi kena kucium dia
Tepat dan pasti dan lembut dan tidak tergesa
 
Aku nyengir, dia terbelalak
Tidak dihapusnya lagi bekas ciumanku, hatiku bersorak
Dia cepat menunduk, corat-coret dengan pensilnya, semampunya
Aku pura-pura sibuk, tanpa beranjak dari sisinya.
 
Ups! tiba-tiba dia gelitik kakiku
Refleks, kutoleh dia
Ragu-ragu jarinya menunjuk pinggangku
Ada senyum di bibirnya, juga matanya

Wow! Rupanya dia menemukan bolong di oblongku

Aku tertawa
Tawaku menular padanya
 
Sip! Dia berserah
Dengan hati-hati kuangkat tubuh lelakinya yang tidak gagah
Sepasang kakinya kecil, bengkok, terjuntai lemah

Astaga! Alangkah ringan bobotnya di usianya yang telah genap enam
Jelas kurang gizi dan lain-lain karena miskin
Segera kupangku, kupeluk, dan kucium lagi dia … cup!

Lantas kumulai pelajaran
Mula-mula kuajari membaca, meski terbata-bata
Lalu kutuntun menulis huruf-huruf yang pelan-pelan kueja

Duh! Betapa sulitnya meski cuma satu kata
Tuhan! Sepasang tangannya tak kalah bengkok dengan kaki-kakinya
 
Dia terdiam, aku juga
Ingusnya yang kental keluar masuk lubang hidungnya
Ingusku yang cair mulai pelan-pelan mengalir

Kuhentikan pelajaran
Masih cukup waktu
Besok dan besok dan besoknya masih bakal bertemu
Kupeluk lagi, kucium dia … cup, cup!


  (Jakarta, 06 Juli 2008)

DI HATIKU TUMBUH BUNGA

Dia berpapasan denganku di gang siang itu
Rambut di dahinya berserakan
Menyembunyikan tatapannya yang buru-buru

Kukasih saja senyuman
Wah, dia balas juga meski ragu-ragu
Lantas menunduk, terus tunduk, hingga hilang di tikungan

Aku mulai iseng memperhatikannya
Badannya langsing kuat
Perawakannya tegap
Kulitnya gelap liat
Raut mukanya bersahaja dan baik-baik saja
Wow, cool juga!

Halo!
Sapaku saat bertemu di gang yang sama di jam sama
Dia diam saja, tapi senyumnya lebih lebar dari biasa
Hingga kelihatan gigi-giginya.

Halo!
Sapaku lagi pas di belokan di jam berbeda
Dia tersenyum dengan muka keringatan
Ada urat-urat menonjol di pelipisnya
Juga otot-otot di kedua lengannya
Gerobak yang ditariknya masih sama

Apa itu?
Tanyaku sambil melongok isinya
Rupanya, kardus dan koran dan botol dan gelas plastik bekas dan rupa-rupa

Kutaksir usianya sekitar tiga atau empat belas
Saat seumuran dia, aku kelas dua sekolah menengah pertama
Apa dia pernah sekolah, ya?
Hatiku bertanya-tanya

Besoknya, aku bertemu dia lagi siang harinya
Aku telah melihatnya dari kejauhan, dia juga
Saat berpapasan, senyumnya mengembang riang

Aih!
Tiba-tiba di hatiku tumbuh bunga

Dari mana? Sambarku cepat

Aduh!
Sayangnya dia cuma tertawa kecil saja
Tanpa kata-kata


(Jakarta, 18 Juli 200)

Penulis

Rina Widya

Seorang pribadi yang dinamis, sukak menulis dan menggambar. Saat ini aktif belajar seni rupa di L’ASRY (Lembaga Seni Rupa Yogyakarta).

Cacatan Apresiasi dari Redaktur

Membaca puisi-puisi Rinawidya kita diajak masuk kedua yang asyik. Hal kecil bisa dituangkan dengan cerita Panjang, kocak, dan membikin penasaran. Puisinya terasa lucu dengan bahasa sehari-hari, seperti orang bercerita, tetapi menariknya di balik itu semua tersimpan satu kemungkinan, jika digarap dengan maksimal, menjadi satu kekuatan. Betapa hal-hal kecil dan sepele yang tampak lucu adalah sesuatu yang ironi dan mendalam.

Bahasa yang digunakan penyair ini terasa demikian dan nakal. Tetapi rasa genit dan nakal itu membuat kita menjadi penasaran satu sudut pandang lain yang selama ini menghantui kita: sudut pandang maskulin. Rinawidya juga terasa sangat main-main dan riang gembira dengan puisi-puisi yang ditulisnya. Hal-hal yang oleh penyair lain terasa melankolis, di tangannya berjalan penuh keceriaan.

(Indrian Koto)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

INTERUPSI

Ratusan tahun, di banyak kota & di berbagai belahan dunia, dalam otak manusia tercetak gambaran stereotip hubungan desa dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img