Salah Satu Cara Melihat Palestina
kolak dan kue sedang disusun ketika seorang bule
memanggul kamera televisi dengan logo canal+
bergerak-gerak seperti kobra waktu istiqlal
sedang sibuk bersiap menjamu buka puasa orang banyak
dalam perjalanan pulang melintasi beton pembatas
lapangan parkir, kuingat lagi adegan itu–dipaksanya
lidahku bergerak silang menyilang
lantunan ayat imam salat tarawih tadi, Ma, kataku,
mirip dengan irama nyanyi seorang trubador yahudi
–bob dylan bahkan belum menang nobel malam itu
aku tak perlu memberitahumu apa jawaban ibuku
ayahku, seperti biasa, melangkah tiga langkah
di depan membiarkan kami
tak jauh dari situ, ada gonjong paling mencolok
kami sudah cicipi bumbu-bumbunya dan mungkin
tak akan pernah kembali ke sana
2025
Senjata dan Pemuda
berikan aku trauma untuk dipupurkan pada
kelopak mata bocah lelaki yang jatuh tertidur
menjelang isya
masuk ke dalam mimpi dan di sana ia bergulat
melawan keberanian dan hasrat pada masa
depan yang agung
kelak tubuhnya segar ketika terbangun karena
bawah sadarnya menang dengan lukaluka
terwariskan dari masa yang bahkan lebih dulu
dari kakek neneknya–yang tak pernah dimintanya
dari situ kudapatkan penjelasan tentang bau
keringat dan tali sepatu tak terikat para pemuda
yang baru pulang dari demonstrasi di depan
gedung parlemen
juga anjing-anjing terkekang tali leher yang sengaja
diarahkan untuk menggonggongi orangorang
bercelana cutbrai di layar hitamputih menjelang
pertunjukan listrik gerombolan dari london
atau bayang nyala api dari kejauhan yang terang
di mata tuan hero of the day waktu ia berkhotbah
di hadapan ribuan gelisah di sebuah lapangan
dekat terminal
hmm…
dulu ada pabrik-pabrik kayu di madiun, tetapi
anak-anak lebih suka revolusi. Sejak itu, trauma
mengalir sampai ke selokan yang meriak
di sampingku kini
juga merayap dalam dinginnya kain jubah hitam
hakim paling tinggi yang tersangkut di kursi majelis
–sampai-sampai raja baru merasa perlu menitipkan
pawang untuk berjaga-jaga dari rasa takut
pada risiko atas dosa-dosa lama
2025
Setelah Ziarah
aku kenal kusutnya semak-semak rumpun salak
di belakang makam kawan sebaya yang mati pada
usia 36 empat tahun lalu–membujur dekat dataran
terendah tanah landai pemakaman umum kota kami
di hari lebaran kedua
marmer-marmer hitamnya yang baru melawan pudarnya
eksistensi sekaligus sebagai peringatan bagi rumputrumput
liar yang baunya sudah tertanam sebelum akal bisa mengingat
dari sana bermula pertanyaan soal suara hujan yang
berisiknya terasa lain karena orang-orang di sini lebih
suka seng daripada genteng
aku menahan diri dengan menyingkapkan suhu darahku
ketika duduk di lantai dengan kawankawan lama yang
berkesah soal saudara lelaki masuk penjara empat kali
karena sabusabu dan rumah baru yang mencari
belahan jiwa kedua setelah perpisahan 15 tahun lalu
2025
Bibiku Tak Membaca
kain-kain tanah abang yang menempel
di tembok toko kecil simpang tiga pasar
dekat ancol itu menunjukkan wajah yang redup
ketika aku datang
kami bicara dan aku tak punya bahasa untuk
menjelaskan permaklumanku bahwa orang tua
di hadapanku tak berdaya di hadapan
budaya online yang menggerogoti sejak covid datang
aku tak punya bahasa
untuk sesuatu yang sangat kukenal
batu-batu yang tersusun acak
di bawah lantai kayu tak jauh dari
air maninjau itulah yang mengikat
kami
akulah sang cahaya, kata mereka
memang ada hamka di sungai batang
tetapi leluhur di lembah itu adalah
anak dagang dan sawah dan rimba
tak ada kitab selain alquran
bibi-bibiku yang tak membaca
hanya bisa merasakan alamku yang asing
mereka memiliki aku
sekalipun mereka tak pernah berusaha
mengikatku
dan aku larut
dalam bayangan cahaya lampu-lampu
tikungan pejompongan
pada kaca bus rintik hujan
2025
Penyair

Ervin Kumbang lahir di sebuah kota kecil di Provinsi Jambi. Saat ini tinggal dan bekerja di Jakarta.
Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Usia yang Aneh” terbit secara swadaya melalui Langgam Pustaka pada Oktober 2024. Beberapa puisinya juga pernah dimuat di media massa.
Untuk kesenangan dan berlatih menulis puisi, Ervin melakukan penerjemahan puisi-puisi asing yang bisa disimak di phyloginik.blogspot.com.






