Citra Sasmita, perupa dan seniman multidisiplin asal Tabanan, Bali. Namanya mulai banyak diperbincangkan di kancah seni rupa Indonesia dan global. Di balik karya-karya lukisan, patung dan instalasi, ia memadukan teknik tradisional kamasan yang dipadukan dengan berbagai media, selain mengangkat ikonografi sosok perempuan dengan menelaah hirarki gender tradisional, menggugat kultur patriarki dan mengkritisi kecenderungan karya male centric, juga menantang mitos pascakolonial di Bali.
Karya-karyanya pernah ditampilkan di Biennale Jogja XV (2019) dan berbagai biennale serta museum internasional di seluruh dunia seperti Sharjah Biennial (United Arab Emirates, forthcoming 2025); Precarious Joys, Toronto Biennial of Art (Canada, 2024); After Rain, Diriyah Contemporary Art Biennale (Saudi Arabia, 2024); Ten Thousand Suns, 24th Biennale of Sydney (Australia, 2024) dan lain-lain.
Pada tahun 2025, Into Eternal Land sukses menjadi pameran tunggal pertamanya di Inggris. Selain itu, Citra baru meraih penghargaan utama Sovereign Asian Art Prize di Hong Kong (2026) melalui karya “Poetry of The Fountain”
Ditemui di Cemeti-Institut untuk Seni dan masyarakat-Yogyakarta pada 16 Juni 2026 di tengah pamerannya bertajuk Pulse of Ritual. Pameran ini berlangsung 12 Juni hingga 8 Agustus 2026. Pada pameran ini, Citra menyusun dramaturgi dari upacara dan ritual di Bali dengan pengalaman kompleks yang mampu beresonansi dengan alam, mengangkat sosok Ratu Klungkung, I Dewa Agung Istri Kanya yang menulis teks Kakawin Prelambang Bahasa Wewatekan dan trauma-trauma kolonialisme di masa lalu. Berikut petikan wawancara bersama Citra Sasmita.

Kita mulai dari bagaimana proses awal dari pameran Pulse of Ritual atau Denyut Ritual ini, bisa diceritakan?
Jadi aku memulai dari riset waktu residensi di Belgia tahun 2022, terus ke Belanda mencari teks Kakawin Prelambang Bahasa Wewatekan yang ditulis oleh I Dewa Agung Istri Kanya, Ratu Klungkung abad ke 19. Bila merujuk pada bukunya Helen Creese (Peneliti Bahasa Jawa Kuna dan Sastra Bali asal Australia) ditulis di buku: Perempuan dalam Dunia Kakawin (terbit Pustaka Larasan, 2012) bahwa, perempuan penulis pertama yang ditemukan di Nusantara dan aktif menulis di lontar itu adalah I Dewa Agung Istri Kanya, karya di lontarnya ditemukan akhir abad 18, awal abad ke 19.
Waktu itu aku ke Belanda dan cukup lama mendapat perizinan, sebenarnya teks itu di Belanda, entah di Leiden atau Museum Tropen, karena aku tidak dapat akses (perizinan), akhirnya aku email Helen Creese untuk mencari Prelambang Bahasa Wewatekan yang sebenarnya itu adalah naskah ketika Ratu Klungkung menjadi tahanan politik di Kerajaan Karang Asem. Pada waktu itu, Karang Asem sudah berafiliasi dengan Belanda.
Ternyata aku dikasih oleh Helen Creese copy-an manuskrip itu, ada sekitar 30 bait tapi di videonya dalam “Timur Merah Project VIII: Pilgrim, How You Journey (2022)” aku mengambil 5 bait saja karena isinya sangat acak. Maksudnya alurnya tidak linier, kadang Ratu Klungkung membicarakan sang ayah, membicarakan sedang bernegosiasi dengan Belanda, kadang membicarakan peperangan juga. Jadi, aku mencari jembatan merah agar peristiwa itu seolah linier dari ayah sang Ratu meninggal, lalu bagaimana Ratu Klungkung menjadi tahanan politik di Karang Asem. Terus, aku pakai double channel (dua layar), ketika aku kasih bait ini ke Mbok Dayu, dia lalu cari langgam yang cocok untuk menyanyikan lagu teks ini, karena langgam puisinya itu langgam Karang Asem.
Sedangkan channel yang ini (video bangunan kerajaan) adalah situasi yang ada di Puri Karang Asem, karena kerajaan ini kan sudah berdiri abad 17 jadi waktu kita ambil video itu masih ada relief-relief yang berhubungan dengan zaman itu, termasuk gerbang tempat Mbok Dayu menyanyi ini adalah gerbang yang sudah berusia dari abad ke -17.
Kerajaan ini sekarang seperti ditinggalkan, tidak ada yang tinggal di sini, tapi kalau ada upacara-upacara tertentu, keluarga kerajaan baru datang. Sebenarnya banyak relief menarik, seperti hewan-hewan mitologi yang menjadi penanda hirarkis, misalnya relief hewan bertaring untuk pavilion raja atau ratu, sedangkan untuk pangeran relief burung-burung.
Selain itu, kami merekam juga tempat beliau (Ratu Klungkung) menjadi tahanan, dikurung di paviliun mana dan beruntung sekali ketika kita mendokumentasikan semuanya di puri itu, beberapa bulan kemudian puri direnovasi karena ada royal wedding, jadi ada bagian tertentu itu sudah hilang, jadi beruntung sekali kita bisa merekam dengan detail semuanya.
Apakah dalam pameran ini berangkat dari teks kakawin atau teks ini melengkapi?
Melengkapi. Jadi pameran ini untuk membuat “Denyut Ritual”, jadi sebenarnya aku bikin dramaturgi, bagaimana upacara dan ritual di Bali, elemennya banyak sekali. Ada suara, ada cahaya, ada lamak (benda dalam ritual/ upacara bentuknya seperti bendera), ada baner, ada rempah di sana. Jadi, pengalaman kompleks itu diharapkan mampu beresonansi terhadap alam misalnya atau juga rekonsiliasi terhadap trauma-trauma masa lalu, karena dalam konteks Bali adalah trauma kolonialisme.
Kemudian karya-karya di sini tidak semua baru, kalau ini (Timur Merah Project VIII: Pilgrim, How You Journey) dari tahun 2023, kalau yang lain pernah dipamerkan untuk Biennale sekitar tahun 2024 dan pernah di ICAD tahun 2000.
Lamak ini masih baru, lamak itu semacam bendera untuk mendekorasi pura untuk menggantung dari atas ke bawah, simbol stairway to heaven, atau Betara Turun Kabeh (Dewa turun semua), tandanya seperti red carpet dewa-dewa menuju turun ke bumi

Bisa dijelaskan elemen-elemen ritual di pameran ini, seperti makna rambut, makna sisik ular?
Jadi sebenarnya membaca Bali tidak bisa secara geopolitik, tapi secara politik kosmologis. Bagaimana ritual itu berperan sebagai semacam soft power-nya kerajaan untuk mengatur masyarakat, makanya ritual dilakukan berulang-ulang. Setahun itu bisa ratusan ritual, karena masyarakat Bali tidak ikut kalender tahunan (masehi) kita kalendernya setiap 6 bulan sekali dan tergantung dengan situasi alam, misalnya kita di bawah naungan Gunung Merapi, Gunung Agung, selain Laut Selatan juga ada di Bali.
Jadi, kita punya ritual yang namanya Nyegara Gunung (filosofi laut dan gunung sebagai satu kesatuan yang harmonis) sebagai sebuah siklus, jadi untuk menggambarkan filosofi siklus itu ada tradisi melukis primordial di Bali yang bisa kita bilang rerajahan dan itu membuat kode-kode, sebelum kita mengenal kebudayaan tulis, semua kode-kode itu lewat gambar, jadi orang itu mempelajari gambar untuk memahami filosofinya. Untuk memahami filosofi Nyegara Gunung dengan ular yang menggigit ekornya, menggambarkan siklus yang tidak terputus. Kepala ular menggambarkan puncak gunung, sedangkan sungai dan ekornya menggambarkan lautan. (Simbol ular pada instalasi: Timur Merah Project XII: Light Speed and Revelation, 2024)
Kalau rambut (Pada karya: Mutation of Thought, 2024) banyak dipakai di material ceremony sebagai alat ritual. Misalnya, orang membuat topeng tapaan seperti topeng yang dipilih dari kayu keramat, untuk wig-nya pakai rambut manusia, orang mempersembahkan rambut untuk karya. Jadi kalau di Bali, kalau misalnya tidak bisa pakai canang atau sesajen, karena benar-benar tidak punya uang, tubuh bisa jadi persembahan, boleh rambut, boleh dengan kerja, jadi memasukan DNA kepada karya seni ini, begitu metode kesenian kita di Bali.
Kalau misalnya dari P.J. Zoetmulder (Petrus Josephus Zoetmulder, pastor asal Belanda yang menekuni studi Jawa kuno), dia punya kalangwan (kalanguan) itu berasal dari kata langu (istilah dalam buku Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, 1974), langu artinya keindahan kalbu.
Sedangkan modern art itu portalnya cuma mata, tidak masuk ke kalbu. Padahal mata kita adalah portal, jadi portalnya seperti matahari, bulan, jadi bagian siklus juga, jadi orang-orang yang mempraktikkan “kalanguan” di Bali, dia punya laku hidup: bagaimana caranya energi ilahi termanifestasi ke karya seni, sehingga karya seni itu kalau di Bali dalam konteks upacara menjadi tempat sarana pemujaan. Seperti Mangku Muriati (seniman perempuan Bali yang melukis gaya tradisional kamasan), Mangku Muriati guruku berkata, gimana caranya karya seni ini bisa menggugah hati orang. Nah, aspek sederhananya justru dalam konteks kontemporer.
Kembali ke posisi Ratu Klungkung sebagai ide landasan karya, bagaimana Citra memposisikan diri dengan Bali sebagai akar dalam melihat perempuan Bali, maksudnya bagaimana posisi perempuan di pameran ini?
Sebenarnya proses aku dengan kamasan ini sudah lama karena aku mengangkat kamasan sebagai salah satu bentuk seni rupa, seni visual pertama di Bali dari abad ke-15 dan memang lukisan kamasan leluhurnya dari Jawa, wayang beber, terus jadinya menjadi wayang kamasan. Banyak yang diceritakan di sini dari mulai naskah, yang popular itu Ramayana dan Mahabarata. Sebelum itu ada kisah panji, paling tidak, Sarasamuscaya sebagai kitab-kitab kependetaan yang membicarakan ritual.
Ketika aku melihat karya-karya koleksi kamasan lama, ternyata tidak banyak koleksinya di Bali dan sedikit sekali. Adapun yang bisa terdeteksi itu (lukisan kamasan) dari generasi di atas, ayahnya Mangku Muriati. Ketika aku residensi, aku diperlihatkan kamasan yang abad 17 dan abad 18 dan itu banyak tersebar, aku lihat di Honolulu Museum of Art di Amerika, kemudian di Leiden (Belanda), waktu aku ke Australia ada sedikit, di Museum Sonobudoyo ada 40-an lukisan kamasan.
Kamasan itu sumbangan dari orang Belanda yang sebenarnya tidak mengerti bahwa ini lukisan apa, dari penemuan tersebut banyak narasi-narasi yang sifatnya male centric, jadi dalam kamasan membicarakan ekspedisi, peperangan, mengambil puteri untuk dikawinin, jadi perempuan itu dilihat dari fungsi prokreasi (fungsi biologis atau reproduksi).
Terus ada teks Calon Arang yang diilustrasikan di lukisan Kamasan, menggambarkan perempuan sebagai monstrous female. Padahal Calon Arang itu sebenarnya bentuk kekuatan politis dari perempuan yang menguasai pengetahuan, menguasai geopolitik, makanya Calon Arang itu disingkirkan supaya kerajaan ini bisa berperang karena dia itu center gatekeeper dari Kerajaan Bedahulu di Gianyar-Bali atau kerajaan tetangga yang ingin memperluas daerah kekuasaan, Akhirnya, Calon Arang ini disingkirkan. Disebarkan rumor kalau dia bisa ilmu hitam, penyihir, membawa penyakit, ada lockdown waktu itu. Rumor kalau ke luar pekarangan akan mati tiba-tiba. Itu Lockdown cara lama.
Jadi aku dengan sadar di versiku ini menempatkan perempuan sebagai kontra narasi dari male centric itu, jadi aku reka ulang perempuan tapi dalam icon yang lebih primordial ketika ajaran tantric turun ke Bali. Ajaran tantric, ajaran ke-Budha-an. Kalau ketika hindu masuk, mereka sudah ada aspek estetika yang moralis, ada busana, perhiasan, itu menggambarkan dewa harus tampak makmur karena tujuan kerajaan itu adalah mencapai kemakmuran. Kalau dulu tujuan manusia itu mencapai “titik spiritual” jadi ekspresinya itu sangat-sangat ketelanjangan. Sebenarnya ketelanjangan dalam ajaran budhisme bukan porno tapi lebih membicarakan bagaimana perspektif kita melihat ketubuhan yang lebih fana. Yang sejati itu apa? Jadi aku lebih banyak menggambarkan tubuh-tubuh telanjang yang berproses.

Termasuk, bagaimana sebenarnya dengan posisi perempuan dalam ritual di Bali?
Perempuan itu memegang proses sentral dalam ritual karena nenekku memang ahli banten (sesajen). Masing-masing banten itu dalam upacara berbeda-beda, tergantung tingkatan, tujuan, ada misalnya tujuan untuk spirit bawah atau untuk manusia, bayi baru lahir atau upacara pernikahan, atau untuk upacara leluhur, untuk dewa, tujuannya beda-beda.
Kakekku itu pemangku di Tabanan, jadi pura itu ada ulang tahunnya dan jumlah pura itu banyak sekali, tapi karena sudah mekanis, pengetahuan kita itu bukan pengetahuan yang tercatat, pengetahuan yang lebih oral atau learning by doing, jadi kalau mereka ditanya tentang filosofinya apa, jawabannya tidak tahu. Nah, baru ada kesadaran beberapa tahun ini, perempuan yang gak bisa bikin canang bisa masuk kursus, diajarin, sekarang ada kursus bikin canang dan dijelaskan maknanya, jadi mulai ada semacam gerakan penyadaran dalam “teknologi timur” atau realitas timur dalam peran kita melindungi alam. Si alam itu bernafas, makanya pohon besar dikasih kain kan, bagi kita secara asosiatif ini angker, ada penunggu, justru itu tujuannya supaya pohon itu tidak ditebang karena dia melindungi air tanah.
Selanjutnya, bila Clifford Geertz (antropolog) berkata bahwa Bali itu sebagai negara teater, bahwa semuanya dipertunjukan, diritualkan, termasuk ketika saya melihat ritual ngaben, hal yang cukup mengejutkan bahwa kematian seolah dirayakan tidak dalam bentuk kesedihan, sebenarnya apakah makna dari ritual seperti ngaben bagi orang luar dan masyarakat Bali sendiri?
Sebenarnya begini, antropolog luar datang ke Nusantara, mereka bawa konsep white burden, bahwa negara-negara jajahan harus dikasih “beradab” karena kita dianggap tidak beradab. Saat di Bali mereka melihat orang telanjang dada, belum punya adab, sopan santun. Termasuk dalam melihat fenomena ritual, ada dramaturgi, ada prosesi yang berulang-ulang, repetisi, termasuk ketika ngaben. Bahkan kita melihat karya seni sebelum 1930 kita itu bikin karya seni seolah tidak ada tantangan, selesai upacara lukisannya sudah dibakar saja. Kita belum mengerti tentang durability, pengaruh seni modern yang harus dikoleksi dan bertahan ratusan tahun.
Di satu sisi aku berterima kasih karena menyelamatkan asset-aset lukisan lama, jadi tidak dibakar saat ritual, tapi yang menarik itu cara transmisi pengetahuan harus berulang-ulang, dramaturginya harus runut, dari ini terus lanjut ini, terus puncaknya ini, sebelum membakti semaunya harus dibersihkan dulu prayascita (sesajen untuk penyucian), ada tiga mandala ada yang rendah dibersihkan, lalu mandala tengah dan mandala utama. Teater state seperti itu. Akhirnya, bagi mereka impact-nya apa, apa ini semacam pertunjukan atau jamuan ke orang-orang Belanda. Tapi kenapa dalam (Ritual) semuanya harus diulang-ulang biar kita ingat, nalar tubuh kita ingat prosesi.
Kalau dalam ngaben bagi orang Bali sendiri, kalau orang meninggal tinggal cari medium, dirasukin medium datang si arwah meninggal itu, kita bisa berkomunikasi, tidak ada rasa kehilangan, kita percaya dia sudah pindah alam, di hari-hari tertentu dia (arwah) pasti pulang. Makanya, di rumah itu ada Rong Tiga, semacam altar kecil atau rumah klasternya si leluhur ini. Kaitan dengan leluhur Bali itu sangat kuat.
Merunut ceritamu, bahwa kakekmu pemangku, nenek sebagai ahli banten, kakek buyut ahli lontar, menulis lontar. Nah, sebenarnya dengan latar belakang keluargamu, apakah turut berkontribusi membentuk Citra menjadi seniman atau setidaknya tertarik dalam berkesenian?
Kalau dari keluarga lebih pada misi berkarya, aku kan (berkesenian) berangkat dari feminisme tapi menurutku feminisme pun adalah ideologi yang masih ada bolong-bolongnya yang belum disempurnakan, karena menurutku masih belum menemukan muaranya nih.
Maksudnya feminisme itu, feminisme dalam konteks barat?
Iya. Feminisme barat tidak bisa bekerja di konteks timur, konteks Indonesia pada umumnya karena spiritnya dimulai dari spirit kapitalisme tapi kita adalah spirit tradisional, bukan marxis, maksudnya ada seorang penulis yang membicarakan aspek timbal balik yang cukup setara antara manusia, manusia dan manusia dan alam.
Jadi kita mengambil sesuatu dari alam dan kita memberi kepada alam untuk memulihkan diri dulu, itu sudah ekofeminisme. Karena kita gak bisa mengambil terus dari alam. Sedangkan kapitalisme barat bekerja eksploitatif untuk kepentingan umat manusia, kalau belum dapat peak (puncak) nya tetap dikeruk jadi alam menjadi subordinat terutama perempuan. Jadi perempuan sudah dilepaskan dari realitas alam dan masuk ke industri ketika laki-laki semua pergi berperang, perempuan jadi victim (korban) masuk ke industri untuk melanjutkan misi penghancuran alam ini.
Sedangkan dalam konteks timur, tubuh kita itu dalam laku ritual. Laku tradisional. Melihat alam sebagai keluarga. Dulu itu di Bali ada gempa bumi, kita memanggil mereka itu kakak atau nenek. “Nenek jangan ngehancurin, kasihan rumahnya sudah reyot, jangan lewat sini”. Jadi kita berkomunikasi dengan alam, seolah kita punya hubungan yang sangat dekat. Itu kan sesuatu yang tidak terkaji dalam konteks diskursus seni pada umumnya karena mereka lebih percaya pada logosentrisme, epistemologi barat, pada teori barat, tapi melihat aspek pengetahuan timur itu sesuatu yang tidak masuk akal, tidak rasional, semuanya harus rasional, padahal DNA kita itu tidak rasional, kita bisa berkomunikasi dengan spirit yang tak kasat mata, tapi satu hal yang mereka tidak sadari bahwa kesenian kita jauh lebih sustain sebagai gerakan komunal. Pada seni rupa barat, mereka sustain sebagai individu, misalnya Picasso dikenal sampai sekarang karena namanya diglorifikasi tapi sebagai praktik dan proses sudah selesai di karya seni.
Tapi kalau kita, sebagai produk bukan produk akhir tapi diingat proses membuatnya. Jadi kembali dengan latar belakang keluargaku yang membuat aku melihat misiku dan soal cara kerja keluargaku dengan kesenian dan cara pandang kita terhadap tradisi bagaimana.
Bagi orang metropolitan, tradisi itu sebagai sesuatu yang tertinggal dan stagnan, tetapi tradisi bagi kami adalah cara membekukan waktu biar tidak cepat mengalami perubahan, terus kalau sudah berubah, kita mau apa? Daripada kita diatur oleh waktu, Kala, dewa waktu, kita harus mengendalikan waktu.

Saya mengenal istilah Bali sebagai benteng yang terbuka, bila dilihat dari diri Citra sendiri sebagai seniman yang lokal dan mengglobal, bagaimana Citra sendiri melihat posisi Bali secara global?
Kalau kita melihat Bali hubungan internasionalnya sudah dari dulu, jadi sudah dari dulu orang China masuk, tapi saya melihatnya bukan benteng tapi meeting point jadi dari abad ke 8 atau abad ke 11 sudah ada pengaruh luar. Orang China bawa nekara (gendang perunggu) misalnya. Jadi aku pikir Bali itu tempat adanya akulturasi banyak budaya, Islam juga masuk, pedagang Arab masuk. Tapi yang menjadi masalah itu adalah bagaimana akses batasan secara teritori itu dilanggar oleh kolonial, awalnya memang untuk dagang karena kita dengan pedagang muslim tidak ada perang, dulu adanya seperti perang intern antara satu kerajaan dengan kerajaan lain untuk menentukan secara hirarki siapa yang lebih tinggi dan gunung menjadi simbol target yang paling tinggi, karena gunung dianggap leluhur, jadi semakin tinggi wilayah kerajaannya semakin dihormati dia dan kalau di laut meski area pesisir banyak pedagang dan lebih kaya tidak seperti di gunung, walaupun kaya tapi secara kosmologi politik dianggap tidak terlalu berpengaruh.
Makanya yang jadi benteng terakhir itu Klungkung, jadi ada delapan benteng Kerajaan, Buleleng juga ditaklukan, awalnya mereka bisa mengalahkan Belanda tapi pasukannya sedikit, dikirimkanlah beribu-ribu pasukan jadi satu-satu membaca, jadi ada 8 arah mata angin dan kerajaan itu menjadi benteng-benteng, satu-satu dilemahkan. Kerajaan Ubud dilemahkan, ya sudah daripada rakyat menderita jadi pekerja paksa buat infrastruktur Bali, kan mereka (penjajah) juga ingin mengkristenkan Bali tapi jadi masalah karena landskap Bali tidak bisa dibikin rel kereta, Dimana kereta penting untuk logistik, kedua mereka gagal mengkristenkan orang Bali karena ada yang jadi Kristen, tapi dia dihakimi oleh masyarakat, akhirnya malu, akhirnya dibunuh misionarisnya oleh orang Kristen ini, akhirnya pemerintah Belanda melarang Kristen masuk Bali pada masa itu.
Benteng terakhir itu Klungkung, jadi kerajaan terakhir yang berperang dengan Belanda Perang Puputan tahun 1908 itu, akhirnya sekarang ketika pos-posnya ini dikuasai Belanda, jadi kantor Belanda sekarang. Puri Gede Karangasem, makanya dinding pagarnya ada relief Belanda, jadi itu tanda sudah pernah jadi kantor Belanda.
Selanjutnya, kalau dari diri Citra sendiri sebagai seniman, membawa Bali ke seni rupa internasional?
Kalau aku sebenarnya sebagai sikap politis saja membawa Bali. Kalau aku seniman Bali, mempresentasikan tentang Bali, karena ini kritik terhadap Orde Baru sebenarnya. Dimana ketika Orde baru, pemerintah bisa mengirim seniman ke seluruh daerah dan mereka sebagai orang luar mengambil kebudayaan dari daerah yang mereka tidak diwarisi. Jadi generasiku termasuk generasi yang banyak susahnya karena sebagai seni turistik, di Bali mereka (seniman) cuma dianggap bikin souvenir.
Aku sebagai orang Bali yang melihat langsung merasa padahal ada seniman besar kayak Made Wianta dan timbul pertanyaan, kenapa Affandi yang melukis Bali (Barong) dari Jogja, kenapa lukisan dia lebih dihargai, dibanding pelukis Bali yang melukis Barong?
Kenapa Sunaryo, melukis tari Bali lebih diapresiasi dibanding pelukis Bali yang melukis tari Bali? Nah itu, gara-gara Orde Baru sebenarnya, jadi aku sebagai orang Bali, aku pewaris sah kebudayaan Bali, aku harus jadi juru bicara Bali lewat karya-karyaku.
Kembali soal karya, apa yang ingin Citra sampaikan dari sosok-sosok Perempuan ikonografi di pameran ini?
Kalau kubilang, akarnya itu dari rerajahan, jadi kakekku punya buku rerajahan yang dilukis banyak fungsinya, misal ada yang untuk “kajang” (Selembar kain yang bertuliskan aksara- aksara suci) jadi untuk orang meninggal yang dipercaya untuk transformasi ke alam sana.
Jadi rerajahan itu anomali semua, tubuh-tubuh yang semiotik, bukan simbolik, kalau kamasan ketika menggarap Mahabarata dan Ramayana itu sudah simbolik, tapi rerajahan muncul sebelum ada makna dan sebelum ada bahasa.
Aku banyak mengambil inspirasi ketika kakekku mengambil buku itu, isi dan fungsinya banyak, ada untuk proteksi, ada tolak bala, ada untuk melindungi anak kecil, termasuk rerajahan Bali membicarakan konstelasi alam semesta, jadi sebenarnya untuk rekonsiliasi atau berdoa pada alam, harus menarik semua energi alam. Misalnya ada gempa bumi, ini pertanda apa? jangan-jangan ada bencana, kita ada tindakan preventifnya lewat ritual, makanya sebelum covid, semua rumah isi bunga tapak dara, jadi bentuk rerajahan yang paling simpel supaya dewa-dewa penjaga Catus Pata atau portal gerbang kalau di jalan ini ada pertigaan untuk memproteksi mereka dari penyakit dan marabahaya.
Bagaimana kerjasama dengan galeri Cemeti sendiri untuk berpameran di sini, termasuk dengan Pak Peter?
Aku diundang sama mas Dito dan Mbak Mira (Direktur Cemeti Institut) karena dia tertarik untuk mengajak aku di Indonesia, karena aku jarang di Indonesia, kenapa aku banyak ikut Biennale, tapi tidak ada karya pameran Biennale yang aku ikuti di pameran Indonesia. Jadi mereka ingin membaca konteks gagasanku itu bagaimana, jadi sebenarnya kalau ini bisa beresonansi pada praktik seni rupa pada umumnya di Indonesia, aku senang banget, karena aku membawa konteks tradisi.
Tema dan judulnya aku yang menentukan, kemudian aku undang Pak Peter karena dia menulis buku “Perempuan-perempuan perkasa”, jadi cocok ini membicarakan aspek politik kosmologis yang dipimpin oleh perempuan, dipimpin oleh seorang Ratu. Terus misinya mungkin memantik anak-anak daerah untuk menggali lagi mereka punya kekayaan apa, tradisi apa sih. Biar mereka manfaatkan sendiri, biar tidak melihat seni itu tersentralisasi di Indonesia. Bukan hanya di Jakarta, Bandung, atau Jogja.
Dahulu, Timur Merah Project 2019 lahir setelah aku residensi di Jogja 2018 awal, mulai melihat pemetaan seni rupa Indonesia yang status quo. Sebenarnya masih bertahan dengan referensi patron-patron seni yang melanggengkan satu generasi. Bahwa kontemporer art adalah si seniman dengan beberapa nama, lalu gimana kita yang generasi muda?
Kita juga punya tawaran gagasan, tawaran visual dan estetik, makanya Timur Merah lahir tidak hanya sebagai tawaran tapi juga tantangan untuk mengganggu skena Indonesia dan ternyata itu dibaca menarik oleh para kurator, karena di Indonesia yang banyak mensuport aku kebanyakan kurator dibanding galeri.
Secara gagasan kurator support, kalau galeri mereka susahnya, gimana cara jualnya? kan ini tradisi. Buruknya Indonesia kan begitu, harus ada validasi luar dulu, kalau di luar bisa dijual. Tapi yang terpenting buatku produksi gagasannya, kalau visual itu hanya sesuatu yang biasa, bahkan aku bilang kalau 70% dari gagasanku sebenarnya belum 100% jadi masih ada celah yang bisa dikembangkan dan kurang sempurna,
Terakhir, kegelisahan Citra sebagai seniman, khususnya melihat seni rupa saat ini?
Kegelisahanku adalah kalau karya seni itu Nir-empati. Karena sudah banyak orang tergiur sebagai metode art industry, kita abai ada kasus perang, kemanusiaan, Palestina. Dulu aku berangkatnya dengan bertemu bu Toeti Heraty, aku bertemu bu Dolorosa Sinaga, dua orang ini cukup tajam membentuk mindset-ku, kalau bu Dolo harus tahu keberpihakan kita sebagai seniman, kalau bu Toeti seniman itu harus punya ideologi dan itu harus diimani.
Penulis

Selvi Agnesia. Penulis seni dan budaya, berdomisili di Yogyakarta. Buku terbarunya, “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca” (JBS, 2026)






