Minggu, Oktober 11, 2026
No menu items!

Pada Akhirnya Kita Hanya Bisa Bercerita

Must Read

“Menjadi manusia bukan sekadar memakai baju, celana juga sepatu, melainkan lebih dari itu. Seekor kera apabila kau pakaikan baju, celana, juga sepatu maka lagaknya sudah seperti manusia. Menjadi manusia haruslah memikirkan kemanusiaan, memìliki adab, memiliki keprihatinan. Itu yang tidak dimiliki seekor kera, dan menjadi pembeda manusia dengan binatang primata.“

Itu adalah salah satu kalimat yang diucapkannya ketika membuka cerita. Kisah masa lalu miliknya yang terjajah, dan rasa kemanusiaan dalam dirinya yang sering dipertanyakan. Matanya yang mulai kelabu kemudian akan menerawang jauh, ingatan yang dulu sempat lamat-lamat menajam kembali seiring uzurnya umur. Tak banyak yang bisa dilakukannya kini, usianya telah lewat 90 tahun, angka pada usianya telah demikian banyak. Kawan-kawannya dulu pun telah banyak yang berpulang, dunia menyisakan dirinya dan beberapa gelintir kawan seusia. Di tengah gempuran usia yang menua, mata yang mulai kabur, juga serangan rematik di persendian, daya hidupnya tetap meletup bagai bara, setidaknya itulah yang terlihat dalam dirinya kini.

“Menjadi tua itu anugerah, meski kerap kali dirundung sepi.”

Dia kesepian, setidaknya beberapa kali dia katakan mengenai hal itu. Tak ada teman seramai dulu, keluarganya pun sebagian telah berlalu … ada yang berkalang tanah, ada pula yang entah ke mana. Dia tak pernah benar-benar tahu ke mana sanak saudaranya itu pergi. Kesepian lantaran rindu, sedang di sisinya masih ada istri, anak, menantu dan beberapa cucu. Dia begitu gemar bercerita, tentang apa saja yang diingatnya. Semisal ada cerita darinya tentang sebuah lorong panjang di pinggiran kota.

“Lorong itu begitu gelap, tak ada pencahayaan selain obor ketika melewatinya. Kumpeni yang membuatnya, sebagai jalan rahasia.”

Lorong itu berawal dari belakang gudang kantor kawedanan, lorong dengan pintu serupa brangkas dari kayu jati, berhandle tembaga tebal. Butuh dua orang untuk membuka pintu menuju lorong rahasia itu. Bukan, dia tak menyebut banker melainkan jalan tembus menuju pinggiran kota guna melarikan diri ketika dikejar musuh. Malam itu, 1943 bulan Januari tanggal 5, dirinya berjalan cepat dengan beberapa orang. Cahaya obor menjadi penerang. Dirinya masih remaja, ketika menjadi telik Belanda. Dia menolak disebut pengkhianat, tidak … dia bukan pengkhianat hanya saja mengabdi kepada mereka yang mau memberinya makan. Usianya baru sepuluh tahun ketika seorang kumpeni membawanya ke sebuah barak, tempat di mana para tentara Belanda berada. Dirinya didapuk sebagai jongos, membawa barang ini dan itu, atau menyiapkan makan dan minum. Usianya masih terlalu muda untuk menolak bekerja dan mengabdi kepada kumpeni.

“Mereka mudah melepas pelor dari bedil, dengan sesama mereka pelor mudah menembus kepala. Lalu bagaimana denganku? Setiap detik kematian bisa kapan saja datang kalau aku tak patuh.”

Bertahun kemudian, selepas dia selamat dari lorong panjang, lari dari kejaran Jepang, orang-orang menyebutnya pengkhianat. Orang-orang tak bahagia mendapatinya selamat, lantas melanjutkan hidup seolah dia tak pernah dirajam kesengsaraan.

“Mereka tak tahu, masa kecilku penuh penderitaan. Aku kerap kali kelaparan, bertahan hidup lantaran belum digariskan takdir kematian.”

Ketika menceritakan itu, matanya akan menerawang jauh, seolah dirinya menemukan kembali dirinya dikala muda. Ceritanya akan mengalir, seperti aliran sungai di musim penghujan.

“Orang-orang hanya melihatku sebagai bekas ketiplak Belanda, tidak lebih dari itu. Dalam hidupku, sudah penuh kujalani banyak jalan, semuanya bukannya buruk melainkan tidak mulus. Nuraniku dibilang mati, kemanusiaanku tidak ada hanya lantaran dari berpuluh orang yang melarikan diri dari tentara Jepang waktu itu, yang selamat hanya beberapa gelintir termasuk aku.”

Dirinya tak hanya menceritakan tentang kehidupannya sebagai seorang pelarian tentara Jepang, juga ada cerita lainnya. Setelah lolos dari tentara Jepang, dan Indonesia merdeka, dia memilih menepi di sebuah desa.

“Tidak, aku bukan petani. Aku tidak bisa bercocok tanam. Aku menyukai menggambar, dan belakangan waktu itu aku suka melukis. Aku menggunakan cat dinding, kuberi warna dari pewarna bubuk untuk melukis di kanvas yang kubeli ke kota. Di desa nun jauh dari kebisingan kota itu, aku menepi. Kuhabiskan banyak waktuku di pondok sederhana. Masa itulah aku menjadi pelukis amatir, namun demikian sibuk dengan kegiatanku menggambar dan memulas warna itu. Kalau kau tanya, mengapa aku tak menikah waktu itu? Lantaran tak ada perempuan yang mau denganku. Kau lihat? Codet di pelipis sampai ke pipi kanan ini? Perempuan takut melihatnya.”

Ceritanya kemudian mengalir tentang masa dirinya menghabiskan waktu menjadi pelukis di sebuah desa kecil, desa di kaki bukit yang selalu temaram dalam selimut kabut saban pagi. Dia menikmati kehidupannya, makan dari tanaman di pekarangan rumah yang ditanam tetangga baik, dan menghabiskan sisa hari dengan menggambar. Meski amatir nasibnya bisa dikatakan lumayan sebagai seorang pelukis. Katanya seorang kawan lamannya dari kota sering bertandang, membeli beberapa lukisannya, uang dari penjualan lukisan itu teramat cukup untuk menghidupinya selama di desa. Setelahnya teman lamanya itu sering datang membawa teman-teman lainnya, melihat-lihat lukisan lantas membeli apabila cocok harganya. Uang yang didapatkannya melebihi angan-angannya.

“Lalu Rusman, salah satu teman yang dibawa kenalan lamaku itu memesan sebuah lukisan.” Dia mengulum senyum.

“Lukisan apa?” Tanyaku perlahan.

“Seorang petani.”

Lukisan itu merekam kehidupan seorang petani, memakai caping untuk menggebah panas matahari. Laiknya para petani betulan yang dilihatnya saban hari. Mereka bercaping, memanggul pacul dan rela berpanas-panasan setiap hari. Tapi Rusman meminta sosok petani di lukisan itu membawa sebilah clurit.

“Aku bertanya kepadanya, mengapa memakai arit? Bukankah petani memakai pacul? Kata Rusman, tak sekadar pacul yang dibawa seorang petani tetapi juga sabit alias clurit. Gulma-gulma yang mengganggu tanaman padi haruslah dibabat habis. Itulah perjuangan katanya. Aku menurut saja, toh aku dibayar Rusman. Makna lukisan itu bukan menjadi masalah bagiku. Biarlah itu urusan Rusman.”

Uang dari menjual lukisan memang sangat cukup, ada waktu dia membagikannya kepada para tetangga desa. Tak semua orang di desa memiliki sawah atau kebun, banyak di antara mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Kegiatannya lantas bertambah, dia menjadikan dirinya sebagai donatur bagi para janda tua, anak-anak tak berayah, dan kepada mereka yang miskin.

“Kemanusiaan itulah yang mendasariku melakukan semua itu. Dulu di jaman para kumpeni, aku sering kali dipanggil monyet. Haaah! Tidak, aku bukan monyet. Aku manusia. Aku tak bisa dibandingkan dengan para kera.”

Dia menceritakan seorang sersan muda Belanda memiliki binatang peliharaan seekor kera, dipakaikannya baju dan celana primata berbulu itu. Lalu di banyak waktu, dirinya yang muda dan menjadi jongos mereka selalu disamakan dengan binatang itu. Katanya dirinya selalu dimiripkan dengan kera peliharaan yang dipanggil Lugos itu.

¤

Dia berhenti bercerita dan meneguk teh hangat. Matanya yang berwarna abu-abu lantaran dihajar usia itu menatapku. Aku hanya duduk di depannya, sedang televisi di belakangku masih menyala meski tanpa suara.

“Aku tak pernah membayangkan bahwa akan menemukan cerita hidup semacam itu, setelah aku tentram nyaman menepi di desa.”

Beberapa orang datang ke pondoknya malam itu. Mereka datang beramai-ramai, beberapa orang berseragam itu menanyakan tentang banyak hal dan sebagian besarnya tak ia mengerti. Lukisan petani milik Rusman ditanyakan berkali-kali. Dirinya tak berkelit dan mengaku bahwa dirinyalah yang melukis.

“Rusman meminta saya melukisnya. Saya hanya menuruti keinginannya.” Dia tak gentar menjawab pertanyaan itu.

“Kau kenal juga dengan Cipto? Kawan Rusman itu?” Pertanyaan dari pria berseragam di depannya terdengar lagi.

Oh, Cipto? Ya tentu saja dia mengenalnya. Cipto kawan lamanya, sejak mereka melarikan diri bersama ketika dikejar-kejar tentara Jepang. Cipto jugalah salah satu kawannya yang bertahan hidup, keluar dari lorong panjang nan gelap di belakang kantor kawedanan.

“Cipto kawan lama saya. Jauh sebelum saya mengenal Rusman, saya sudah mengenal Cipto sejak muda.”

Mereka berbisik, mengangguk dan kemudian merangsek masuk ke pondok. Dua orang menahannya, beberapa orang mengobrak-abrik dalam pondok. Lantas menemukan lukisan beberapa petani yang dilukisnya lantaran pemandangan yang kerap dilihatnya setiap hari adalah mereka kaum petani. Dirinya digiring ke sebuah mobil, dan beberapa kali gagang senapan menghajar punggungnya ketika dirinya berusaha melawan.

“Kau antek-antek komunis! Diam!” Bentakan itu begitu kasarnya.

Di atas mobil yang membawanya pergi, dia bertanya-tanya mengapa disebut semacam itu. Mengapa dirinya harus dibawa pergi. Dalam cahaya remang rembulan, matanya menatap rumah-rumah berdinding bambu, beratap rendah bergenting ijuk. Itulah rumah-rumah kaum miskin yang sering diberinya uang dari menjual lukisan. Dirinya dibawa ke sebuah tempat introgasi, dikatakan bahwa dirinya komplotan Cipto dan Rusman.

“Mereka memang teman saya. Tapi mengapa saya dibawa dan diperlakukan sebagai penjahat?” Dia tak kunjung mengerti. Cipto dan Rusman mungkin komunis seperti yang dikatakan mereka, tapi dirinya tidak. Dia tak tahu menahu dengan gerakan itu, hidupnya telah diserahkan sepenuhnya dalam pelukan sebuah desa di kaki bukit dan tak mengerti intrik politik.

Dia ditawan, tak boleh pulang. Dirinya dijebloskan di balik jeruji besi tanpa peradilan. Semakin dirinya melawan, semakin banyak pukulan yang didapat. Dia memilih diam pada akhirnya, dan menerka betapa lucu garis hidupnya. Lepas dari cengkeraman Jepang, ditangkap bangsa sendiri atas apa yang tak pernah dilakukannya. Dia tak tahu berapa lama berada di balik tahanan, meski pada akhirnya dia memang keluar. Di depan rumah tahanan, dia terbengong-bengong melihat sekitar. Tempat itu teramat asing, dia ditahan di kota yang tak dikenalinya sama sekali. Beberapa minggu dia menggelandang, tak ada yang peduli dengan mantan tahanan, sampai akhirnya dia terduduk lesu di depan sebuah pabrik batik kecil. Tubuhnya buruk begitu pula kesehatannya.

“Lalu dari balik pintu pabrik batik itu muncul seorang pekerja tua, dia membawaku masuk ke dalamnya.”

Dirinya diberi makan dan minum, dipersilakan pula mandi. Esoknya dia diminta bekerja, menjadi buruh pabrik batik. Dilakukan semua itu dengan baik, sampai akhirnya putri juragan batik berkunjung. Perempuan muda itu baru 20 tahun umurnya, baru lulus sekolah ekonomi dan hendak membantu keluarga meneruskan bisnis turun temurun dalam usaha batik. Mereka sering bertemu, kerap berjumpa dan bertukar sapa. Sampai akhirnya tumbuh benih cinta.

“Oh, putri juragan tentu tak mudah saja diserahkan kepada pemuda, bekas tapol pula!”

Cinta itu menjadi terlarang, namun lelaki muda itu berusaha untuk memantaskan. Dua tahun kemudian, barulah keduanya bersanding di pelaminan. Ketika mengingat itu dia tertawa, tak disangka dirinya memiliki istri ketika usianya telah mencapai angka 40 tahun! Usia yang terpaut 18 tahun tak menjadi soal.

“Aku mencintainya, dia juga. Penerimaan meski aku buruk rupa dan juga sempat mendekam di balik jeruji penjara.”

Matanya berbinar-binar, wajahnya tak sekelam sebelumnya. Cerita-ceritanya telah kerap diceritakannya kepadaku, berulang-ulang tapi tetap kudengarkan.

“Eyang Uti sudah pulang arisan!” Ucapanku ini memungkas ceritanya. Eyang Uti tak lain istrinya, putri juragan batik yang diceritakannya, perempuan bersahaja itu masih setia sampai usia senja.

Dia tak kecewa ketika ceritanya pungkas, baginya cerita hari ini memang sudahlah cukup. Matahari mulai lingsir, senja datang melata. Aku cucunya akan selalu setia, menjadi pendengar semua cerita.

Salatiga, 2025.

Penulis

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, 1994. Dia menulis cerita pendek dan novel. Novel terbarunya berjudul ‘Nyi Sadikem’ diterbitkan Penerbit Marjin Kiri.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Karya-Karya Ken

Pengkarya V. Kent Pradipta. SD Kelas 2, SD Kanisius Jomegatan. Hobi berenang dan bercita-cita menjadi Polisi.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img