Jumat, September 4, 2026
No menu items!

Bergerak di Luar Orbit

Must Read
jelatadotco@gmail.com
jelatadotco@gmail.comhttps://jelata.co/
jelata.co adalah media untuk masyarakat yang suka bekerja, berkarya. dan bercita-cita

Skena pertunjukan tari di Mataram, Lombok ‘dikuasai’ oleh tradisi. Itu pun bukan dalam pengertian yang ideal. Pertunjukan tari yang berlangsung setiap tahun adalah atas inisiatif pemerintah, baik untuk keperluan program Taman Budaya maupun sebagai bagian dari industri pariwisata. Situasi ini membentuk orbit penciptaan yang berorientasi (hanya) pada job, proyek pertunjukan dengan biaya dari penyelenggara yang umumnya adalah dinas-dinas birokrasi pemerintah.

Alhasil, para penari dan sanggar-sanggar tari di Mataram, bekerja dan mencipta atas dasar motif itu, motif mendapat pekerjaan. Tentu tidak ada masalah dengan itu. Seorang seniman berhak (bahkan mungkin harus) untuk bisa menghidupi diri dari hasil keseniannya. Tetapi, sebagai seniman seseorang semestinya juga bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pencapaian bidang seni yang digelutinya. Sebab tanpa itu, kesenian akan kehilangan nilai (value) nya, dan hanya menyisakan harga (price) belaka. Kerja seorang seniman di dalam orbit seperti itu tidak akan memberi tempat bagi kegelisahan penciptaan yang mandiri, dengan gagasan tema maupun bentuk yang otentik, apalagi mengharapkan adanya pencarian dan pencapaian-pencapaian baru.

Didorong oleh kenyataan itu, SFNlabs membuka ruang bagi siapa saja untuk berproses bersama guna menghasilkan dan mempresentasikan karya yang mandiri. SFNlabs adalah sekumpulan anak muda yang bergiat di seni pertunjukan, musik, seni rupa, dan video. Didirikan oleh Syamsul Fajri Nurawat, SFNlabs telah menghasilkan dan mempresentasikan sejumlah karya, baik di Mataram maupun daerah lain. Memang, tidak semua pertunjukan SFNlabs adalah pertunjukan mandiri. Mereka juga sering menerima undangan pentas, baik dari Taman Budaya maupun lembaga lain.

Dari sejumlah program SFNlabs, ada satu program yang disebut Laboratorium Penciptaan. Pada program ini kemungkinan untuk menghasilkan karya-karya mandiri dari pelbagai disiplin seni dapat dimungkinkan. Salah seorang yang menyambut program ini dan menawarkan proposal karyanya adalah Irma Septiana, mahasiswi dari Universitas Nahdlatul Ulama, Nusa Tenggara Barat. Irma yang bertubuh mungil sudah sempat bermain sebagai aktor dalam beberapa pertunjukan produksi SFNlabs. Tapi baru kali ini ia tampil independen dengan gagasan dan pencarian sendiri.

Irma suka menari dan punya dasar tari tradisi, tetapi tentu saja ia jauh dari pengalaman mencipta tari kontemporer, meskipun bidang akademiknya adalah Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik. Karena itu ketika ia menawarkan hendak membuat tari kontemporer, bayang-bayang orbit tari yang saya sebut tadi segera menaungi. Ada dua sisi yang timbul dari bayang-bayang itu. Yang pertama adalah kegairahan untuk tidak menjadi bagian dari orbit itu. Yang kedua keragu-raguan apakah pencapaian estetik Irma melalui karyanya bisa selaras dengan semangat itu.

Untuk karyanya Irma menawarkan satu topik yang diakuinya dekat dengan pengalamannya sendiri. Topik itu adalah tentang kecantikan. Topik yang cukup seksi, sebab kita tahu perkara ‘tubuh’ akan selalu relevan dibicarakan. Perangkap untuk selalu tampil cantik -dengan standar kecantikan bikinan iklan kapital- kerap membuat kaum perempuan menjadi korban. Produk-produk kosmetik memberi godaan terus-menerus sehingga akan sulit menghindar dari penggunaan terhadapnya. Padahal tidak semua produk kosmetik aman. Kandungan merkuri dalam produk kosmetik bisa merusak kulit, alih-alih mempercantiknya.

Dengan gagasan itu Irma Septiana merancang pertunjukan yang ia beri judul “Selamat Tinggal, Merkuri.” Selama kurang lebih dua bulan ia melakukan observasi, menyusun kisahan, dan mencari bentuk gerak. Dalam rancangan pertunjukan ia dibantu oleh Syahrul Mubarrak dan Reza Ashari sebagai penata musik, dan Mahrus Putra yang mengolah video.

Pertunjukan “Selamat Tinggal, Merkuri” berlangsung di areal Taman Budaya. Tetapi bukan di dalam gedung pertunjukan, melainkan di luarnya. Konsep outdoor, saya kira sangat berisiko, bukan hanya secara teknis tapi juga estetis. Apabila pertunjukan tidak bersifat interaktif, apa guna menempatkan penonton dan pemain dalam posisi sejajar? Tapi pertunjukan tetap dilangsungkan di luar.

Beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai para kru masih sibuk menata areal permainan. Mereka kelihatan berpikir keras bagaimana cara meletakkan lampu agar posisinya pas. Mereka memanfaatkan tiang listrik dan pohonan yang tumbuh di sekitar areal permainan untuk meletakkan lampu. Tak ada benda-benda sebagai artistik, kecuali level dari kayu yang dipersiapkan untuk satu bagian adegan.

Penonton pun datang berbondong-bondong, bagian reservasi meminta penonton mengisi buku tamu dan memberikan booklet sederhana yang difotokopi. Semuanya berlangsung di ruang terbuka, di bawah langit malam.

Terus terang, saya ragu menyebut pertunjukan “Selamat Tinggal, Merkuri” sebagai pertunjukan tari. Saya lebih suka menyebutnya pertunjukan gerak. Irma tampak belum membentuk tubuhnya sehingga benar-benar lentur. Adegan-adegan yang disusunnya pun tak memiliki irama dan tempo yang tegas merujuk pada struktur dramatik tertentu. Tetapi saya lihat, Irma berusaha keras membebaskan tubuhnya untuk mengalami ketegangan antara membutuhkan dan menolak kecantikan buatan. Video yang disemprotkan pada dinding bagian luar gedung pertunjukan yang memang berfungsi sebagai latar belakang, memberi ‘aksentuasi kontemporer’ pada pertunjukan ini. Sayang sebenarnya Irma tak menggunakan banyak properti, padahal tubuhnya yang mungil itu nyaris tenggelam oleh ruang yang terbuka, sehingga emosi gerakan lebih dulu menguap sebelum sampai ke pemirsa.

Dalam sesi diskusi usai pertunjukan, beberapa mahasiswa melontarkan pertanyaan-pertanyaan umum. Ada satu kritik tajam disampaikan oleh Kongso Sukoco, salah seorang ‘sesepuh’ teater di Mataram. Dia bilang bahwa karya seni seharusnya menyampaikan persoalan atau gagasan yang baru, tidak mengulang-ulang persoalan yang sudah sering dibicarakan. Kritik ini saya kira bisa diterima sebagai masukan yang bagus.

Yang mengherankan saya adalah nyaris tidak ada ‘orang tari’ yang datang menonton pertunjukan ini. Kenyataan itu memperkuat adanya orbit yang saya maksud tadi. “Selamat Tinggal, Merkuri” jelas tidak ada duitnya. Baik Irma maupun kawan-kawan yang membantunya, semuanya tak mendapat bayaran. Para penonton juga tidak membeli tiket. Semuanya gratis.

Sesungguhnya sulit mengharapkan pertunjukan ini punya efek yang kuat bagi skena tari di Mataram. Tapi, saya kira, tak pernah ada yang sia-sia. Kesempatan yang diberikan SFNlabs serta keberanian Irma Septiana untuk menampilkan karyanya secara independen telah menunjukkan bahwa akan selalu ada yang bergerak di luar orbit, di luar sesuatu yang sudah mapan dan melenakan. Tentu saja Irma, sebagaimana umumnya para seniman muda, masih akan menemu simpang; apakah ia nanti akan terus bergerak di luar atau justru ikut berputar di orbit itu.

Setelah satu-persatu penonton pulang, saya melihat para kru tepar di trotoar di antara rumputan Taman Budaya. Lampu-lampu taman menerangi tubuh-tubuh mereka seperti gema pertunjukan yang baru saja berlalu. Saya agak terharu dengan pemandangan yang demikian. Saat itu, malam, tanggal 28 Maret 2018.***

Penulis

KIKI SULISTYO lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Selain aktif sebagai penyair, cerpenis, dan penulis lepas, sejak 2009 terlibat dalam sejumlah pertunjukan teater sebagai pemain, penulis teks, dramaturg, dan asisten sutradara. Tahun 2012 mendapat penghargaan dari Forum Sastra Bekasi (FSB) untuk puisinya, Sepanjang Jalan ke Dasan Agung. Tahun 2017 meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk buku puisinya, Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari?. Tahun 2019 terpilih sebagai Tokoh Seni Tempo bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (2018). Buku-bukunya yang lain yaitu, Hikayat Lintah (kumpulan puisi, 2014), Rencana Berciuman (kumpulan puisi, 2015), Penangkar Bekisar (kumpulan puisi, 2015; masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2015), serta Belfegor dan Para Penambang (kumpulan cerpen, 2017). Tahun 2009, bersama Syamsul Fajri Nurawat dan Antosa Rakatesa, mendirikan Komunitas Akarpohon yang sampai sekarang aktif menggiatkan kerja-kerja penciptaan, diskusi, dan pengarsipan sastra, teater, dan proyek-proyek seni lainnya.     

Artikulli paraprak
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Karya-Karya Kent Pradipta

Seri Tokoh-Tokoh, Pensil di atas kertas, tahun 2026 Pengkarya: V. Kent Pradipta Kelas 2 di Sekolah Dasar Kanisius (SDK) Jomegatan....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img