Di tengah laju modernitas visual yang kian berpendar, sebuah ruang refleksi yang sunyi tapi mendalam bersiap dibuka di sudut selatan Yogyakarta. Galeri Lorong, bekerja sama dengan Penerbit Rasikei serta jejaring pengkriya, praktisi, dan akademisi seni, akan menyelenggarakan proyek seni bertajuk “Kesadaran Kriya”. Perhelatan kolektif ini berlangsung berlangsung dari tanggal 18 Juni hingga 11 Juli 2026, bertempat di Galeri Lorong, Nitiprayan, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta.
Secara kesejarahan, kriya bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kriya adalah praktik artistik berumur panjang yang denyutnya berdegup intim dalam keseharian kita—mulai dari anyaman bambu, gerabah, hingga kain batik yang membungkus tubuh. Namun, narasi seni rupa modern Indonesia secara perlahan menggeser posisinya ke wilayah yang ambigu. Sejak institusi pendidikan seni formal mulai memisahkan kriya dari seni rupa murni, kriya kerap kali direduksi maknanya, diletakkan di kelas dua sebagai keterampilan teknis material belaka, atau sekadar industri kerajinan komersial tanpa kedalaman konseptual. Literatur yang membahas kriya secara kritis pun terhitung minim, lebih banyak berkutat pada petunjuk teknis pembuatan ketimbang membedah wacananya secara filosofis.
Berangkat dari kegelisahan historis dan kritis tersebut, “Kesadaran Kriya” berupa hadir bukan sebagai pameran benda mati yang sekadar dipajang. Proyek ini diniatkan sebagai ruang dialektika aktif dan arena produksi pengetahuan. Melalui kurasi, pameran ini akan menyandingkan karya-karya kriya konvensional berdamping dengan karya seni rupa kontemporer yang mengeksplorasi material serta teknik kriya, tetapi selama ini luput dimasukkan dalam kategori tersebut. Batas-batas medium digugat kembali; publik diajak untuk melampaui fungsi fisik sebuah objek demi mengecap gagasan yang lahir dari ketekunan mengolah bahan, keintiman teknik pengerjaan, serta sistem budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Guna membangun fondasi wacana yang kokoh, pameran ini ditopang oleh kerja riset pra-acara yang panjang dan melelahkan. Tim kurator dan penulis melakukan penggalian arsip, dokumentasi sejarah, hingga serangkaian wawancara mendalam bersama para maestro, praktisi, dan akademisi kriya tanah air. Seluruh rekaman pengetahuan pun dipadatkan menjadi buku yang memuat pelbagai perspektif segar mengenai kriya. Buku ini diterbitkan bersama Penerbit Rasikei dan akan diluncurkan secara khidmat sebagai puncak sekaligus penutup seluruh rangkaian program publik.
Semua tadi dibersamai Tim Kurator yang terdiri dari Octalyna Puspa Wardany, S.E., M.Sn., Ph.D., Afghan Pambayun, Damai di Hati, M. Abdurrazak, dan Polanco S. Achri, M.A.. Adapun, naskah buku diisi oleh Afghan Pambayun, Damai di Hati, Dyah Retno Fitriani, S.Sn., M.Sn., Octalyna Puspa Wardany, S.E., M.Sn., Ph.D., Sudjud Dartanto, S.Sn., M.Hum. (cand), serta Polanco S. Achri, M.A.. Serta seniman-seniman yang membersamai antaranya Abdul J. Nugroho, Adelia Feodora R.P., Andika Tukul, Andy SW, Arif Suharson, Arwin Hidayat, Awang Ridho, Carolina Rieka, Dwi Joko Harianto, Fransisca Putri Anggraini Radnugraha, I Made Sukanadi, Julian Wahyu, Kemala Hayati, Ki Mujar Sangkerta, Lelyana, Lucky Baharsyah Eka Fa’i, Mas Mool, Meta Enjelita, M. Abdurrazak, Nabila Rahma, Nina Widjaja, Pak Pono, Pambudi Sulistio, RI Aspagura, Salsabilla Chynta Sekar Allysa, hingga Tukirno B Sutejo.
Perayaan kesadaran ini akan dimulai pada tanggal 18 Juni 2026. Perhelatan tersebut akan dibuka secara resmi oleh Dr. Akhmad Nizam, M.Sn., selaku Kepala Program Studi S1 Kriya FSRD ISI Yogyakarta, serta dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni, mulai dari Pantomim Ficky Tri Sanjaya, seni tradisi Wayang Wahono Simbah, alunan musik dari Band Sandyakala, dengan panduan suasana Patub Porx selaku pemandu acara. Tak berhenti pada malam pembukaan, publik dapat menyelami pameran lebih dalam melalui program tur galeri bersama kurator yang diselenggarakan pada tanggal 20 Juni & 4 Juli 2026.
Dan ada pula diskusi publik mingguan. Diskusi pertama yang mengusung tema “Sejarah dan Pengarsipan” akan digelar pada 25 Juni 2026, disusul diskusi kedua bertajuk “Teknik dan Material” pada 2 Juli 2026. Di samping itu, dimensi interaktif pameran diperluas melalui serangkaian lokakarya publik yang dipandu langsung para seniman terlibat, di mana pengunjung dapat menyentuh langsung sensasi pembuatan batik, eksplorasi tanah liat dalam keramik, pelipatan topeng kertas, penempaan wayang alumunium, hingga seni jahit perca. Kemudian akan ditutup secara hangat pada 11 Juli 2026 melalui peluncuran buku wacana “Kesadaran Kriya” dan dirayakan bersama pertunjukan meriah.






