Hari-hari ini banyak teman yang berbincang tentang rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia menutup program-program studi perguruan tinggi di Indonesia yang tidak dibutuhkan oleh dunia industri. Rencana ini menunjukkan mana yang dianggap penting dan mana yang tidak dalam kehidupan manusia sekarang. Salah satu penyebabnya konon untuk mengurangi jumlah lulusan perguruan tinggi yang nganggur (dan nganggur ini diartikan sebagai “tidak terserap di dunia industri”).
Sarjana Seni sementara ini agaknya belum dianggap sebagai lulusan perguruan tinggi penyumbang pengangguran. Setidaknya belum ada seruan untuk menutup program studi (prodi) Seni. Padahal banyak dari mereka, dari keahlian mereka, yang tidak terserap dalam industri. Bahkan untuk industri seni pun. Salah satunya para sarjana (juga yang belum atau tidak lulus) dari prodi Seni Rupa (atau Seni Murni); mereka yang seringkali disebut atau menyebut masing-masing dirinya seniman, perupa, pelukis, pematung, pegrafis, performer, penulis seni rupa, kurator, dan sebagainya. Di antara mereka hidup, menghidupi dan dihidupi oleh medan seni di mana mereka hadir di dalamnya, tapi di medan seni ini tidak mesti ada industri di dalamnya (atau kurang bisa disebut industri) meskipun bukan tidak mungkin pergaulan di dalamnya begitu kapitalistik.
Jumlah mahasiswa dan lulusan (juga yang tidak lulus) yang tercatat dan terlibat aktif dalam medan seni arus utama sebenarnya juga tidak banyak. Baik yang aktif dan tinggal di luar kota di mana medan seni arus utama itu bertumbuh maupun yang berada di kota tersebut. Yogyakarta, misalnya; di antara para mahasiswa dan lulusan (sekali lagi, juga yang tidak lulus) perguruan tinggi seni, baik dari Institut Seni Indonesia (ISI) maupun perguruan tinggi lain (termasuk juga yang berasal dari kota lain) yang hidup di kota tersebut, banyak juga yang tidak hadir di medan seni rupa. Banyak yang menjadi kaya oleh dinamika medan seni yang didominasi pasar sekarang, tapi—tetap saja—jauh lebih banyak lagi yang sekadar bisa hidup saja tapi tetap merasa keren dengan identitas kesenimanannya.
Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi di kota-kota lain yang dianggap bukan medan seni rupa arus utama meskipun nilai “angka” penjualan karya-karyanya tidak sefantastis karya-karya mereka yang menjadi bintang di medan seni arus utama. Para seniman di kota-kota lain ini tentu tidak seberuntung mereka yang menjadi seniman di medan seni arus utama, dan lebih banyak dari mereka yang kurang beruntung dalam menggantungkan nasibnya dari penjualan karya seni mereka. Tapi, baik yang berada di medan seni arus utama atau tidak, mereka semua tidak atau kurang terserap dalam industri, pun itu industri seni. Karya-karya dan kemampuan seni mereka kebanyakan tidak berada di ranah populer, dunia di mana industri tumbuh dan berkembang. Kebanyakan mereka tetap dicap sebagai pengangguran dari perspektif industri. Jadi, meskipun sekarang tidak menjadi bagian dari daftar prodi yang terancam ditutup, kalau cara berpikir semacam yang sekarang ada di Kemendiktisaintek tetap ada, bukan tidak mungkin nantinya ancaman ditutupnya prodi Seni Murni (atau Seni Rupa) akan terwujud. Tapi ada kemungkinan juga prodi Seni benar-benar luput dari ancaman ditutup, gara-gara produk kesenian dianggap dibutuhkan untuk sekadar memenuhi kelangenan kaum elite yang berpunya. Waduh!
Ancaman akan ditutup atau lepas dari ancaman penutupan dengan alasan sebagaimana yang saya sebutkan tersebut sama-sama bukan hal yang positif. Keduanya sama-sama berpotensi membunuh marwah seni, membunuh modal inovasi kreatif yang telah menjaga hidup kita sejak manusia menjumpai kemanusiaannya (sejak dari zaman purba manusia). Tapi, apakah rencana penutupan prodi dalam perguruan tinggi gara-gara dianggap tidak memenuhi kebutuhan industri tidak berarti menunjukkan kekerdilan mereka dalam memaknai hidup manusia, ya? Apakah peradaban manusia ditumbuhkan hanya oleh industri? Bukankah banyak peradaban manusia dan alam yang rusak gara-gara industri?
Tapi, ya, sudahlah. Sejarah sudah mencatat banyak keberhasilan upaya manusia dalam menghadapi tantangan hidup mereka. Di antara itu semua, banyak dari keberhasilan perjuangan mereka melawan dominasi dilakukan bertolak dari kesederhanaan. “Desa mawa cara, negara mawa tata.” Semua punya caranya masing-masing untuk mengelola hidup masing-masing. Toh, perguruan atau sekolah pada dasarnya hanyalah pelembagaan kerja belajar-mengajar. Kalau perguruan itu hilang bukannya tidak mungkin hasrat belajar manusia justru semakin berkobar? Lalu, bagaimana para seniman mendapat nafkah dari keseniannya kalau tidak ada industri? Lah, emangnya selama ini ada? Sudahlah, ngobrolin yang masuk akal saja hehehe..
Plosokerep, 3 Mei 2026
Penulis

Albertus Rusputranto P.A., Dosen Seni Rupa di Institut Seni Indonesi (ISI) Surakarta. Penulis buku Seni Rupa “Medan Seni Rupa Indonesia 1900-1965. Buku Terbarunya “MENCIPTA OBJEK BERMAKNA” diterbitkan ISI Press (2024).






