Jumat, Mei 1, 2026
No menu items!

Berpuasa Bersama Suara Arijit Singh

Must Read

Musik sekarang inginnya populer secara instan, bukannya menciptakan sesuatu yang orisinil; padahal itu yang akan awet.” – Lata Mangeshkar

Aku menghasilkan banyak lagu-lagu sampah.” – Pritam Chakraborty

Pada awal Januari, nama Arijit Singh jadi perbincangan di Indonesia dengan alasan yang salah: para juri Indonesian Idol tak mengenalnya. Tiga pekan kemudian, Arijit Singh menyatakan mundur dari industri musik India untuk seterusnya.

Selain menegaskan sebuah sikap abai yang khas musisi dan orang musik arus utama di Indonesia, dua kejadian di atas tentu tak berhubungan. Acak saja, kebetulan semata. Dan, tentu saja, tulisan ini tak berusaha memperpanjang kehebohan dengan coba memahamkan publik Indonesia—lebih khusus para juri Indonesian Idol—siapa Arijit Singh. (Bahwa ia bukan semata nama paling mapan di studio-studio musik di India dalam 15 tahun terakhir, tapi juga penguasa pasar musik dunia, fisik maupun digital, toh mudah dicari di internet.) Meski demikian, dua kejadian kebetulan ini memantik satu hal pada diri saya: bahwa di antara saya dan Arijit masih ada urusan yang mesti diselesaikan. 

***

Pada 27 Januari 2026, di halaman IGnya, penyanyi latar India Arijit Singh, nama dan suara paling dikenal di studio-studio rekaman Bollywood dalam 15 tahun terakhir, menyatakan pensiun dari dunia palyback untuk seterusnya. Ia tak menjelaskan alasannya.

Ia masih sangat muda, apalagi untuk ukuran musisi: 38 tahun. Juga sehat walafiyat, ta kurang suatu apa. Tak ada problem “komunalitas” seperti  yang dialami sejawatnya AR Rahman baru-baru ini—bagaimanapun, ia seorang Hindu taat yang tak banyak bicara, dan itu membuatnya tak diganggu. Tak juga ada pertanda ia tersingkir dan mulai tak laku di industri; justru, ia masih menjadi suara paling diandalkan di dunia tarik suara Bollywood, selalu ada di daftar penyanyi di film-film besar yang baru saja dirilis, dan jumlah putar lagunya di Spotify masih yang tertinggi di dunia. Tak ada tengara apa-apa. Bahkan ia mengumumkan pengunduran diri itu “dengan gembira”.

Ia tak mundur dari dunia musik sepenuhnya memang, hanya pergi dari Bollywood saja. Tapi itu cukup membuat industri film India terguncang. Vishal Bhardwaj, sutradara, komposer, dan penyanyi yang sering menyertakan Arijit di film-film dan musik garapannya mengatakan keputusan Arijit “tidak fair”. Aamir Khan yang menjadikan suara Arijit Singh sebagai bagian sangat berharga dari film-film produksinya, termasuk proyek film paling mutakhir, Ek Din (belum rilis saat tulisan ini dikerjakan), menyatakan bahwa kebersamaan bersama Arijit terasa selalu “magis”, seakan mereka tak akan lagi berjumpa.

Jangan tanya jutaan penggemarnya. Mereka meratapi kepergiannya, memohon ia mencabut keputusannya, atau kembali dalam waktu tak lama.

Saya menautkan diri dengan beberapa suara paling dikenal di Bollywood, kadang dengan agak sedikit keterlaluan, tapi saya bukan penggemar Arijit. Bahkan, jika membaca tulisan ini lebih jauh, Anda mungkin akan menyebut saya sebagai hater-nya. Saya tak suka kebanyakan lagunya, khususnya yang terlalu populer. Secara emosional saya kadang menyalahkan ketenarannya sebagai penyebab para penyanyi legendaris India yang saya idolakan di masa remaja sepenuhnya tinggal legenda. Jadi, saya tak hendak berpura-pura merasa kehilangan.

“Keputusan yang bagus,” itu yang saya tulis sebagai kapsyen saat mengomentari kabar ini di grup WA Nonton India yang saya ikuti. Terdengar netral. Atau, sejujurnya, cenderung cuek.

Ada dorongan untuk bertindak lebih jauh. Misalnya dengan berkomentar: “Cuma segitu?”. Atau bahkan merayakannya, misal dengan memutar keras-keras lagu-lagu Kumar Sanu dari OST Aashiqui (1990), yang keberadaannya seperti dikubur oleh kemunculan suara Arijit di OST Aashiqui 2 (2013). Tapi sebagai penggila musik India, seringkali lebih gila dibanding terhadap film-filmnya, saya tak mungkin melakukan itu.

Saya mencibir ratusan lagu-lagu lembeknya yang hit, yang dipuja penggemar film India dari generasi paling muda. Saya menyayangkan betapa Arijit membuang-buang bakatnya, penguasaan teknik menyanyinya yang canggih, dan pengetahuan musik klasiknya yang dalam, untuk menyanyi banyak lagu ecek-ecek. Terlalu banyak. Tapi saya tahu (dan mengakui!) beberapa lagunya yang hebat memang betul-betul hebat.

Dan lagu-lagu hebat itu yang membuat saya masih menjadi pembenci yang sadar diri. Saya memiliki terlalu banyak bias (gap generasi, gengsi, selera, dll.) yang membuat saya tak cukup terkoneksi dengan lagu-lagu Arijit. Dan saya tahu, dalam banyak kesempatan, saya tak bersikap adil terhadap lagu-lagunya, dan terutama kepada dirinya.

Awal Maret 2026, Zico Gosh menulis panjang di harian ekonomi India Mint mengapa Arijit mundur dari industri musik India. Kesimpulan Gosh: Arijit lelah dengan iklim industri musik Bollywood yang beracun, makin tak kreatif, makin instan, dan sepenuhnya didikte pasar. Simpulan itu dikomfirmasi oleh pernyataan Amaal Malik, sejawat Arijit di industri, dalam sebuah wawancara dengan kritukus film Baradwaj Rangan lebih belakangan. Malik, selain menekankan bahwa passion utama Arijit bukan lagi menyanyi namun menciptakan musik, ia juga menyatakan bahwa Arijit sudah merasa “cukup” dengan karir musiknya; “Industri film India, khususnya film Hindi, adalah sebuah jebakan. Dan Arijit ingin keluar dari jebakan itu,” demikian Amaal Malik menegaskan. 

Penjelasan Gosh dan pernyataan Amaal Malik tak jauh dari apa yang saya pikirkan tentang pengunduran diri Arijit. Dan pikiran itulah yang membuat saya menyisakan semacam sikap hormat terhadap keputusan Arijit. Dan sikap hormat itu mendorong saya untuk mencoba bersikap lebih adil terhadap Arijit dan lagu-lagunya.

Bertahun-tahun lalu saya pernah membuat tulisan 4000 kata hanya untuk menunjukkan kenapa saya tak menyukai lagu-lagu Arijit Singh (Baca: “Tum Hi Ho dan Sesak Dada Seorang Penggemar Kumar Sanu”, 2018). Tulisan itu sangat melegakan untuk saya pribadi, karena saya bisa memberitahu banyak orang, terutama yang punya pandangan seperti saya, bahwa ketaksukaan, bahkan kebencian, kepada lagu-lagu Arijit beralasan. Tapi, pada saat yang sama, tulisan itu juga menjadi pengakuan yang blak-blakan bahwa kebanyakan alasan itu sebenarnya bersifat sangat personal, emosional, sangat cerry picking. Seiring waktu, saya tahu, alasan-alasan itu bisa berubah, dan bisa diubah.

Dan jika ada waktu yang tepat untuk mengubah alasan-alasan itu, maka itu adalah saat ini.

***

Wikipedia mencatat, Arijit telah menyanyikan kurang-lebih 720 lagu sejak ia debut di film Murder 2 (2011). Saya hampir pasti tak akan mendengarkan semua, bahkan jika jumlahnya saya ciutkan hanya di lagu-lagu berbahasa Hindi yang berjumlah 537 lagu. Tapi saya akan mencoba menelisik semua lagu yang mungkin bisa saya jangkau di internet. Tidak dengan urutan yang runtut (misalnya dari yang paling awal hingga yang akhir, atau sebaliknya), karena sebagian lagu-lagu itu pernah saya dengar sebelumnya, dan saya sudah memiliki kesan atasnya. Tapi saya juga tidak akan mendengarnya dengan acak, karena, mengingat jumlahnya yang besar, itu akan sangat menyulitkan untuk memberinya catatan.

Lagu soundtrack di film Aashiqui 2 (2013) saya pilih untuk memulai proyek ini. Bukan film pertamanya, tapi dari film inilah karir menyanyi Arijit melejit dan menjadikannya sangat dikenal. Dan, jelas, dari film ini, khususnya dari lagu Tum Hi Ho yang mengangkat namanya, saya memutuskan untuk tak menyukainya. Saya mau tahu apa yang saya rasakan setelah bertahun-tahun tak mendengarkannya.

Dan, seperti yang sudah saya antisipasi, persepsi saya tentang lagu-lagu soundtrack di album itu, dan terutama lagu-lagu yang dinyanyikan Arijit, tetap tidak banyak berubah. Lagu-lagu itu tak sekadar tidak cocok dengan selera saya, tapi saya merasa sebagian besarnya memang medioker. Sebagian lagu, terutama yang bercorak pop rock, terdengar sebagai lagu-lagu paling ketinggalan dari jenisnya.

(Apakah kita mesti menemukan lagu-lagu hebat untuk menyukainya? Saya rasa tak selalu begitu, dan karena itu selera diakui keberadaannya. Saya tahu saya memulai kegilaan dengan lagu-lagu India medioker atau bahkan buruk, jadi sebenarnya itu bukan problem terbesar lagu-lagu Aashiqui 2 untuk saya. Jika saya ada di usia 12-13an, seperti dulu untuk pertamakalinya mendengar suara Kumar Sanu, saya pikir saya akan menyukai sebagian lagu ini—sebagaimana saya, hingga sekarang, menyukai sebagian besar lagu-lagu Aashiqui [1990] yang pertama. Mudah saya bayangkan Mahfud remaja setidaknya akan menyukai lagu-lagu semacam Chahun Main Ya Na atau lagu-lagu yang melibatkan Tulsi Kumar, yang suaranya mengingatkan kepada K.S. Chitra, diva Selatan yang tidak terlalu banyak menyanyikan lagu Hindi namun sangat membekas suaranya di masa remaja saya.)

Di antara kesan yang tak banyak berubah atas lagu-lagu Arijit di film ini, saya mungkin perlu memberi sedikit catatan untuk lagu Sun Raha Hai versi Ankit Tiwari. Aashiqui 2 adalah rip-off yang tanpa malu-malu dari A Star is Born, konon dari versi 1937 dan versi 1976. Sun Raha Hai yang membuka film bukan hanya membuat Aashiqui 2  menunjukkan dengan gamblang darimana ia meniru, tapi juga sangat membantu karakter yang dimainkan Aditya Roy Kapoor sebagai bintang rock yang depresif dan destruktif terhubung dengan karakter serupa yang dimainkan Bradley Cooper dan Kris Kristofferson dari versi Hollywoodnya. Perasaan depresif dan destruktif inilah yang paling mewakili film ini dan menjiwainya. Ini juga jenis perasaan yang lebih kompleks dari sekadar jatuh cinta atau patah hati, di mana kebanyakan lagu Arijit di film ini berada. (Lagu macam Tum Hi Ho, yang bicara tentang “hanya kamu”, “hanya kepadamu”, “tak bisa hidup tanpamu”, bagi saya bisa ditaruh di film cinta mana pun, seperti yang dulu saya pikirkan tentang lagu-lagu melodiusnya Kumar Sanu pada awal ‘90an.)

Dari seluruh lagu di Aashiqui 2, lagu Arijit Singh yang paling mendekati vibe dan emosi Sun Raha Hai Na adalah Milne Hai Mujse Aayi, dan barangkali di kondisi kepala dan hati yang sedang lengah, saya mungkin bisa menikmati lagu ini.

Lagu-lagu Arijit dari film-film yang dibintangi Shah Rukh Khan mendapatkan giliran selanjutnya. Ini adalah pasangan combo mematikan untuk saya, yang membuat saya betul-betul melewatkan banyak lagu Arijit. Sialnya, seperti mudah diduga, dua orang ini bekerja sama dalam banyak sekali film, sekitar 10 film. Dalam sepuluh tahun terakhir, saya mungkin hanya sempat menonton tiga-empat film Shah Rukh. Dan karena saya betul-betul melewatkan film-filmnya yang paling baru, yang mana saya tahu suara Arijit selalu menjadi andalan, saya memutuskan untuk memulai dari yang paling belakangan.

Jawan (2023), meskipun saya mencadangkan diri untuk menontonnya kapan-kapan dengan alasan ingin melihat bagaimana Vijay Setupathy memukuli Shah Rukh, saya pikir memang layak untuk dilewatkan musiknya. Dua lagu Arijit di film ini terdengar sama dengan ratusan lagu lainnya. Hal yang sama juga saya rasakan dari, lag-lagi, dua lagu Arijit di Dunki (2023), film terbaru Raju Hirani yang entah kenapa malas sekali untuk menontonnya.

Untuk tidak mengulang, perasaan yang sama juga saya rasakan untuk lagu-lagu Arijit di film Shah Rukh Khan yang lebih awal seperti Chennai Expresse (2013), Happy New Year (2014), dan Dilwale (2015). Di Happy New Year, yang filmnya betul-betul tak ingin saya tonton, saya sebenarnya cukup bisa menikmati Maanwa Lage. Tapi lagu ini sepenuhnya milik Shreya Ghosal, Arijit cuma pelengkap di sini. Gerua dari Dilwale, yang coba mempertemukan lagi pasangan Raj dan Simran dari tahun 1995, benar-benar harus dilewatkan. Saya tak mampu menuntaskannya bahkan hingga setengah lagu, setelah tertawa-tawa melewati pembukaannya yang mirip intro lagu Tommy J. Pisa. Janam Janam dari film yang sama saya duga melumerkan banyak hati hingga hari ini, tapi jelas hati saya tidak termasuk salah satunya. Lagu semacam ini, juga banyak lagu Arijit yang lain, adalah jenis lagu yang memang tidak diperuntukkan untuk saya yang tumbuh bersama Shah Rukh Khan muda dengan suara Vinod Rathord di bibirnya.

Pada Dear Zindagi (2016), saya menemukan Ae Zindage Gale La Gale yang mudah disukai. Tentu, karena ia terasa familiar, sebuah remake dari lagu lama yang tak asing. Tapi, jelas, versi asli yang dinyanyikan Suresh Wadkar dari film Sadma (1983) terasa—dan memang—lebih baik. Lagu lain, Tu Hi Hai (yang konon direkam dengan suara Arijit di detik-detik terakhir rilis, menggantikan penyanyi Pakistan, Ali Zafar, karena khawatir reaksi keras dari kelompok ultranasionalis India) lumayan menyenangkan meskipun tak membuatnya cukup enak untuk didengarkan ulang.

Raees (2017) adalah satu-satunya film Shah Rukh Khan yang saya tonton langsung di bioskop. Mungkin karena itu kesan biasa yang saya dapat ketika mendengarkan ulang satu-satunya lagu Arijit di film itu, Zaalima, agak sulit diubah ketika saya mendengarkannya ulang. Dulu karena sekadar tak berkesan saja, tapi belakangan saya merasa judul-judul semacam Zaalima (“yang zalim”), Qaafirana (“kekafiranku”), atau Murshida (“pembimbingku”) menjadi semacam template Urdu-isasi lagu-lagu cinta Arijit untuk menyebut kekasih—persis lagu-lagu ‘90an memakai “mere aashiqui”, “mere zindagi”, “mere qayamat”, dst. untuk maksud yang sama. Dan ini menjadi faktor lain mengapa kepala dan telinga saya menolaknya.

Yang sedikit mengejutkan, saya ternyata bisa menyukai Jhoome Jo Pathaan dari Pathaan (2023). Barangkali karena saya pernah menghabiskan banyak sekali waktu untuk mendengarkan lagu-lagu Vishal Dadlani, salah satu dari duo Vishal-Shekar yang membidani musik film ini. Tentu saya merasakan bahwa suara lagu ini dibuat berbasis suara Vishal yang lebih berat dan ngerock, dan dengan suaranya lagu ini mungkin bisa lebih baik—dan saya bisa mengkonfirmasi itu ketika menemukan beberapa video lagu ini dalam versi Vishal Dadlani. Tapi saya rasa Arijit membawakannya dengan cukup baik. Kuncinya: jangan menyaksikan video klipnya. Sungguh saya tak sanggup melihat Shah Rukh menari kuda lumping di klip lagu ini.

Pencarian yang secara umum tak terlalu menyenangkan ini sedikit terbayar ketika saya sampai ke lagu-lagu di film Jab Harry Met Sejal (2017), salah satu film Shah Rukh dengan rating paling buruk di IMDb. Di film ini saya menemukan Safar, sebuah lagu perjalanan yang lembut, dengan sentuhan swing dan blues yang pada satu-dua titik membuat saya mengingat musik The Police dan suara Sting. Meski sejujurnya ini bukan lagu terbaik di album yang cukup baik ini (lagu terbaik saya adalah Yadoon Mein, yang terdengar sangat Latin, dengan sentuhan keroncong yang lumayan banyak pada cara Jonita Gandhi menyanyi—ya, saya yakin itu keroncong), tapi bolehlah saya menyimpan Safar untuk didengar lagi kapan-kapan. Sementara untuk dua lagu lain Arijit di film ini, orang lain mungkin suka, tapi saya tidak.

Lagu-lagu Arijit dari film dua Khan yang lain, yaitu Aamir dan Salman, adalah urutan berikutnya yang tepat untuk disimak. Beruntung untuk saya, karena satu dan lain hal (Aamir yang filmnya sangat selektif dan tak terlalu banyak, dan biasanya tak menyandarkan pemasaran pada lagu populer, sementara Salman lama tak mau mempekerjakan Arijit karena alasan personal), saya tak harus bertungkus lumus dengan terlalu banyak film dan terlalu banyak lagu.

Saya sudah sering mendengarkan lagu-lagu dari Dangal (2016), film paling penting untuk menandai kerjasama Arijit dengan Aamir. Tapi, sejujurnya, suara Arijit sering hanya sekadar lewat saja. Limabelas tahun terakhir, selera musik India saya betul-betul direnggut oleh folk dan sufi, yang membuat nama macam Sukwinder Singh, Rekha Bhardwaj, Subha Mudghal, Daler Mahendi, Rahat Fateh Ali Khan, Richa Sharma, Kailash Kher, Javed Bashir, Nooran Sisters, dan sejenisnya menjadi istimewa. Dan usai menonton Dangal, yang segera melekat di kepala dan kuping adalah theme song Dangal oleh Daler Mehndi dan, terutama, Hannakaarak Bapu yang dinyanyikan dua kanak-kanak Punjab Sarwar Khan dan Sartaz Khan Barna, yang bukan hanya terdengar sangat Punjab tapi juga sangat lucu. Naina, lagu sendu yang dinyanyikan Arijit untuk menggambarkan hubungan bapak-anak Pogats yang sedang renggang, bukan lagu buruk, dan cukup menyentuh, dan ia mungkin akan sedikit menyita perhatian jika Anda mendengarkannya secara acak dalam sebuah daftar lagu hit Arijit. Tapi hanya sampai di situ. Naina cuma enak. Dan ia jelas bukan lagu terbaik di album ini.       

Dibanding Dangal, Lal Singh Chadda (2022) jelas jauh lebih mengandalkan suara Arijit, yang mengisi tiga lagu dan dua versi pendek lainnya. Lagi-lagi, bukan lagu-lagu yang jelek, yang sama sekali tak enak didengarkan; ia hanya tak istimewa, terdengar sama dengan banyak lagu lainnya. Saya bisa katakan hal yang sama dengan lagu Arijit di Sitaare Zameen Par (2025). Dan jika mesti memasukkan lagu-lagu Arijit di Lapaata Ladies (Aamir sebagai produser) dan Salaam Venky  (Aamir muncul sebagai cameo), saya merasakan pengalaman yang juga sama. Jo Tum Saath Ho dari Salaam Venky sebenarnya cukup menyentuh, seperti biasanya lagu-lagu Arijit. Tapi justru karena itu, lagu ini menjadi mudah terabaikan.

Dua lagu di waralaba Tiger 3 (2023), yang menjadi kerjasama pertama Arijit dengan superstar Salman Khan, saya rasa juga tidak terlalu menyita perhatian. Sementara Ruaan mungkin bisa dipertimbangkan untuk didengarkan ulang kapan-kapan, Leke Prabhu Ka Naam adalah ramuan sejenis Jhoome Jo Pathaan (mengingat Tiger berada di universe yang sama dengan Pathaan) yang tak terlalu manjur, setidaknya untuk saya. Satu lagu Arijit lain di film Salman paling baru, Sikandar (2025) bisa sepenuhnya diabaikan.

***

Dibanding dengan para Khan yang memang sudah pada bangkotan, juga Akshay Kumar dan Ajay Devgan dan beberapa superstar gaek lain, kombinasi suara Arijit dengan film-film dan wajah dan ekspresi bintang-bintang yang lebih muda sepertinya memang relatif lebih berhasil. (Pada awal ‘90an, hal ini juga terjadi pada Kumar Sanu dan Udit Narayan, yang jauh lebih berhasil ketika mewakili wajah dan ekspresi dari bintang-bintang lebih muda seperti tiga Khan, Akshay Kumar, Ajay Devgan, hingga Suniel Shetty dibanding dengan bintang-bintang yang sudah mapan sejak dekade sebelumnya seperti Sunny Deol, Anil Kapoor, atau Rishi Kapoor, yang memang sudah identik dengan suara Amit Kumar dan Mohd. Aziz, misalnya.) Di antara yang paling berhasil, dan menurut saya beberapa di antaranya menghasilkan lagu-lagu terbaik Arijit, juga lagu-lagu terbaik Arijit menurut saya, adalah bersama duo Ranbir Kapoor dan Ranveer Singh.

Salah satu lagu terbaik Arijit yang paling awal saya dengarkan adalah Phir Aye Dil dari Barfi (2012), yang menurut saya adalah film terbaik Ranbir Kapoor. Pada lagu ini gambaran bakat Arijit, terutama kemampuan vokal dan penguasaannya atas musik klasik India, sepenuhnya tampak. Lalu mengapa lagu ini, juga lagu sangat lembut Saawali Si Raat, tak mengangkat nama Arijit sebagaimana lagu-lagu Aashiqui 2 di tahun berikutnya? Saya pikir sebuah gazal yang ringan dan lembut macam Phir Aye Dil tetaplah sebuah gazal; butuh selera dan telinga sedikit lebih untuk bisa menikmatinya—meski, dibanding dua versi lain (masing-masing oleh Rekha Bhardwaj dan Shaukat Amanat Ali), versi Arijit adalah yang paling ringan.

(Ini mengingatkan saya pada kemunculan Sonu Nigam di pertengahan ‘90an. Sonu adalah penyanyi dengan kemampuan teknik yang lengkap, jauh lebih baik dibanding para kolega penyanyi latar seangkatannya. Ia sudah mulai masuk ke Bollywood di sepertiga pertama dekade ‘90an, di film-film yang dibintangi Aamir, Shah Rukh, dan Ajay Devgan. Karena karakter suaranya dianggap sangat dekat dengan legenda Mohd. Rafi, ia menyanyikan lagu-lagu sendu dengan sentuhan lama. Namun, ia baru menemukan tempatnya di industri ketika mulai identik dengan karakter romantik dan cool Shah Rukh Khan, dan kemudian Hrithik Roshan, di akhir ‘90an.) 

Pada Yeh Jawaani Hai Deewani (2013), Arijit menyanyikan Kabira, sebuah lagu yang cukup enak, dengan sentuhan irama sufi yang ringan. Tak ada keberatan dan komplain soal lagu ini, kecuali bahwa lagu ini memiliki versi yang lebih baik, dan lebih sufi, yang dinyanyikan Rekha Bhardwaj, penyanyi sufi yang lebih prominen. Sangat jelas, karena itu juga, film ini tidak identik dengan suara Arijit. Dan lagu ini menjadi tak terlalu “bunyi”, karena di tahun yang sama Arijit justru menemukan namanya melekat pada lagu-lagu yang jauh lebih ngepop pada film Aashiqui 2.

Sementara lagu Sooraj Dooba Hai dari Roy (2015) bisa kita lupakan sebagaimana filmnya, saya jauh dari keberatan untuk menyimak Agar Tum Saath Ho dari Tamasha (2015) lebih dari sekali. Tentu ada bias yang tak bisa diabaikan, mengingat lagu ini bersandar pada kekuatan suara Alka Yagnik; Alka bukan hanya diva bagi saya, tapi terutama adalah nostalgia masa remaja—suaranya di Bazigar O Bazigar bersama Kumar Sanu akan selalu tinggal di kepala saya sepanjang sisa usia saya. Tapi, saya rasa, Arijit mengerjakan bagiannya dengan baik. Demikian juga dengan nomor unik Wat Wat Wat, terutama di separo terakhir lagu. 

Terkesan masih menjadi sekondan di Yeh Jawaani dan Tamasha, Arijit kemudian menjadi penguasa total di Ae Dil Hai Mushkil (2016) dengan menyanyikan lima dari enam lagu di film ini. Dan, menurut saya, di sinilah Arijit Singh menemukan pasangan terbaik untuk suaranya: gerak bibir, ekpresi muka, dan energi kemudaan Ranbir Kapoor. Dua lagu rock, Ae Dil Hai Mushkil dan Bulleya, terasa sebagai kocokan antara hangover yang masih disisakan oleh Aashiqui 2 dan reka ulang karakter rocker pada diri Ranbir dari film Rockstar (2011). Lebih dari sekadar bisa diterima, dan saya bisa mendengarkannya lebih dari sekali, tapi sulit untuk mengabaiakan pembandingannya dengan lagu-lagu dari film yang telah saya sebutkan. Canna Mereya, sebuah lagu patah hati dengan rasa qawwali yang ringan, yang jadi musik pengiring adegan klimaks di film, juga membuat saya mengingat Rahat Fateh Ali Khan; jika Ae Dil Hai Mushkil dibuat lima tahun lebih awal misalnya, saya yakin lagu sejenis ini akan diisi oleh suara Rahat Fateh—dan saya bisa membayangkan lagu ini menjadi lebih qawwali dengan bagian-bagian lagu yang bisa terdengar lebih dramatis oleh suara Rahat yang melengking itu. Namun, karena faktor Ranbir Kapoor, suara Arijit adalah pilihan paling tepat untuk lagu ini, dan tampaknya tidak ada yang lebih tepat lagi. (Berbeda dengan lagu-lagu Arijit di film-film Shah Rukh, mendengarkan Canna Mereya sembari menonton klipnya dan menemukan suara Arijit menjadi suara [hati] Ranbir membuat lagu ini lebih enak sekian derajat—seperti mendengar Chop Sue atau Aerial dari System of A Down akan lebih terasa magisnya jika sambil menonton video klipnya.) Dari ratusan soundtrack yang melibatkan suara Arijit yang telah saya dengarkan berhari-hari belakangan, dengan beberapa di antaranya suara Arijit sebagai jualan utamanya, dan dengan menimbang kecocokannya dengan Ranbir, saya akan menyebut bahwa soundtrack Ae Dil Hai Mushkil bisa jadi adalah “album” soundtrack terbaik Arijit.

Karena kesesuaian antara suara Arijit dan bibir Ranbir ini, tak mengherankan jika kemudian terus saja jadi jualaan. Sejak Ae Dil Hai Mushkil, suara Arijit nyaris selalu identik dengan film-film Ranbir; dari enam film Ranbir dalam 10 tahun terakhir, hanya di Sanju (2018) suara Arijit absen. Meski demikian, menurut saya, tak ada yang melewati keberhasilan lagu-lagu di Ae Dil Hai Mushkil.

Kombinasi suara Arijit dan ekspresi Ranveer Singh tak seberhasil kombinasinya dengan Ranbir. Beberapa lagu yang menurut saya cukup baik seperti Jiya (Gunday, 2014) dan Sajde (Kill Dil, 2014), rasanya malah agak dirusak oleh ekpresi Ranveer yang tidak pas dan pikturisasi yang tak perlu. Menurut hemat saya, muka Ranveer terlalu selengekan, dan dalam banyak kesempatan terlalu maskulin, untuk suara melankolik Arijit. Meski demikian, pada film-film Ranveer-lah rasa-rasanya Arijit memberikan lagu-lagu terbaiknya di sepanjang karir Bollywoodnya. Dan untuk lagu-lagu terbaik itu, Ranveer biasanya tidak perlu menggerakkan bibirnya.

Lal Ishq dari Goliyoon Ki Rasleela Ram-Leela (2013) adalah salah satu puncak artistik Arijit di awal karirnya. Membandingkannya dengan lagu-lagu di Aashiqui 2 yang rilis di tahun yang sama, Arijit di Ram-Leela terdengar seperti Arijit yang lain. Pada lagu inilah kemampuan dan penguasaan musik klasik India Arijit sepenuhnya dipertunjukkan, jauh lebih kompleks dibanding apa yang dicapainya dengan Phir Ae Dil di Barfi. Dan lagu semacam ini tentu hanya dimainkan di latar adegan. Dengan tingkat kompleksitas yang sama, kombinasi Ranveer dan Arijit kembali memberi kita Aayat di Bajirao Mastani (2015). Dan lagi-lagi, cengkok klasik rumit yang mengkombinasikan ghazal dan qawwali ini tak disulihsuarakan ke bibir Ranveer.

Baru ketika di Padmaavat (2018) cengkok suara yang lebih rumit lagi dari Arijit akhirnya disulihsuarakan. Lucunya, bukan oleh Ranveer, melainkan oleh Jim Sarbh. Berperan sebagai Malik Kafur, seorang kasim yang berhasrat pada sultannya sendiri, Alauddin Khilji yang dimainkan Ranveer, lewat mulut Jim Sarbh-lah kita mendapatkan Binte Dil. Sebuah lagu kearab-araban dengan nuansa homoerotik yang agak terlalu gamblang, Binte Dil bagi saya adalah lagu terbaik yang pernah dinyanyikan Arijit Singh.

Selain untuk Ranbir dan Ranveer, tentu saja suara Arijit bisa didapati di film-film para bintang seusia mereka atau bahkan yang lebih muda dalam frekuensi yang sangat tinggi, seperti Shahid Kapoor, Ayushman Khurana, Rajkumar Rao, Varun Dawaan, Susant Singh Rajput, hingga yang lebih muda lagi seperti Tiger Shroff dan Karthik Aryaan, dan masih banyak lagi. Namun, dengan mengecualikan beberapa film dan satu-dua lagu, saya pikir tak ada yang memiliki asosiasi yang lebih kuat atau setidaknya menyamai apa yang dilakukan Arijit dengan film-film Ranbir dan Ranveer.  

***

Pada awalnya saya berencana mencadangkan waktu sepekan penuh untuk berusaha mendengarkan lagu-lagu Arijit dengan lebih baik—karena itu, judul awal tulisan ini adalah “Sepekan Bersama Suara Arijit Singh”. Tak butuh waktu lama untuk segera tahu bahwa sepekan tak akan cukup, sangat jauh dari cukup, untuk menyimak lagu-lagu Arijit dengan lebih hati-hati dan, terutama, lebih bersikap adil. Dan akhirnya saya menghabiskan hampir sebulan terakhir untuk menyimak nyaris satu persatu lagu-lagu Arijit—dan sebulan lagi untuk menyelesaikan tulisan ini. Pasti ada yang terlewat, tapi mendengarkan lebih dari 450 lagu hampir sepanjang bulan dari penyanyi yang tak cukup kamu sukai atau bahkan benci adalah sebuah prestasi; dalam cara tertentu, ini adalah pengalaman yang sangat spiritual. Saya harus memuji diri saya sendiri untuk kesanggupan yang langka ini.

Tapi buru-buru harus saya katakan untuk jangan terlalu berharap lebih. Nyaris lima ratus lagu rasa-rasanya tidak mengubah banyak berkait yang apa yang telah saya simpulkan tentang Arijit dan lagu-lagunya: apa yang baik tentangnya dan apa yang buruk darinya; kritik sekaligus idealisasi saya atasnya juga masih sama, jika bukannya makin mengeras. Untuk saya, Arijit Singh tetaplah penyanyi dengan bakat besar yang terlalu banyak menghabiskan waktu dan karirnya untuk mengerjakan proyek-proyek receh, musik-musik yang terlalu mudah didengar, lagu-lagu kelewat manis sebagai penglaris untuk menyenangkan kerumunan penonton.

Dari hampir limaratus lagu, saya makin yakin bahwa sedikit lagu Arijit yang sejak dulu saya kecualikan memang relatif istimewa dibanding lagu-lagu Arijit kebanyakan yang membuatnya sangat populer. Dan ini juga menguatkan simpulan saya bahwa hanya di tangan beberapa komposerlah Arijit bisa diselamatkan dari sepenuhnya menjadi penyanyi pop penghibur kerumunan. Komposer-komposer seperti Jeet Ganguli, Ankit Tiwari, Pritam, atau Vishal-Shekar memberinya ketenaran dan penggemar dan membuatnya menjadi poster boy bagi industri musik Bollywood, namun bersama para maestro macam A.R. Rahman, Sanjay Leela Bhansali, dan Vishal Bhardwaj-lah Arijit Singh memperoleh reputasi dan pengakuan yang diinginkannya, yang memang berhak didapatkannya.

Di antara ketiga komposer yang disebut terakhir, A.R. Rahman adalah yang paling banyak bekerjasama dengan Arijit. Dan tak mengherankan jika di antara keduanya tercipta relasi guru-murid, mengingat Arijit bukan semata penyanyi melainkan musisi yang mengaransemen musik. Meski demikian, dari sekian banyak lagu yang dihasilkan dari kerjasama dua orang ini, untuk saya rasanya tak semua cukup berhasil atau semata menjadi lagu “Arijit yang lain”. Barangkali karena, terkhusus di masa-masa awal kerjasama keduanya, beberapa lagu yang mereka hasilkan “sekadar” versi Hindi dari soundtrack film-film Tamil yang telah direkam sebelumnya dengan hasil yang lebih baik. Meskipun dari pola ini Arijit menghasilkan lagu -lagu yang cukup baik seperti Dil Chaspiya (Kochadaiiyaan, 2014) atau Mere Aasmaan Jal Gaya (Ponniyin Selvan: II, 2023), namun lagu seperti Tu Chale (I, 2015) sebaiknya tak perlu direkam—toh tak ada yang akan mengingatnya.

Bahkan, sejujurnya, beberapa lagu original yang dihasilkan oleh duo ini saya rasa so-so saja. Menjadi line-up utama dan mendapat lagu tema di OST Mohenjo Daro (2016), dengan Ashutosh Gowariker di kursi sutradara dan AR Rahman di belakang musik (tim yang menghasilkan nomor-nomor klasik di Lagaan (2001), Swades (2006), dan Jodhaa Akbar (2008), Arijit menurut saya malah menjadi mata rantai yang lemah di proyek yang megah ini. Ia menyanyi dengan terlalu nyaman dan terlalu aman, dan akhirnya terlalu ngepop, untuk musik yang begitu grandeur, dan itu membuat saya berangan-angan bagaimana jika lagu Mohenjo Mohenjo dibawakan penyanyi latar andalan AR Rahman yang lebih berpengalaman seperti Udit Narayan (yang bersama AR Rahman menghasilkan banyak masterpiece macam Ae Ajnabi, Mitwa, dan Yeh Taara Woh Taara) atau Sonu Nigam (simak kemegahan lagu macam Atrangi Re atau In Lamhon Ki Daaman Mein). Saya juga merasakan lagu-lagu seperti Enna Sonna (OK Jaanu, 2017), Khulke Jeene Ka (Dil Bechara, 2020), Jwalamukhi (99 Songs, 2021), Jaane Tu (Chhaava, 2025), hingga yang paling akhir Tere Ishk Mein (Tere Ishk Mein, 2025) tidak terlalu istimewa; tidak buruk tentu (mana bisa AR Rahman menghasilkan musik buruk!), tapi lagu-lagu itu terdengar rutin raja—di bawah naungan AR Rahman, Arijit mestinya bisa menghasilkan lebih dari itu.       

Tentu saja, dari sekian banyak lagu yang mereka hasilkan kita akan menemukan lagu-lagu bagus. Saya tidak tertarik menonton Atrangi Re (2021), film yang memasangkan Sara Ali Khan (putri Saif Ali Khan) dengan bintang yang lebih tua dari bapaknya, Akshay Kumar, tapi saya tak keberatan mengunduh dua lagu yang dinyanyikan Arijit Singh di film ini, Rait Zara Si dan Tumhein Mohabbat Hai. Sekilas terasa dibayang-bayangi oleh lagu-lagu hebat dari OST Raanjhanaa (2013), hasil kolaborasi pertama AR Rahman, sutradara Anand L. Rai, dan superstar sinema Tamil Danush, tapi saya merasa ini album yang cukup layak yang dihasilkan dari kerjasama Arijit dan Rahman.

Saya bahkan hampir memutuskan untuk menganggap bahwa Tumhein Mohabbat Hai adalah lagu paling baik yang dihasilkan oleh Arijit bersama AR Rahman, sampai kemudian saya menyimak Vida Karo dari OST Amar Singh Chamkila (2023). Ini adalah sebuah soundtrack yang bagus dari ujung ke ujung, album yang memang semestinya dihasilkan jenius seperti AR Rahman untuk sebuah film yang menceritakan hidup seorang musisi, dan itu membuat saya kembali ke kebiasaan lama: mengunduh seluruh lagu di soundtrack karya AR Rahman, setelah terakhir melakukannya dengan OST Highway (2014). Didominasi oleh folk Punjabi, yang menggambarkan dari mana dan seperti apa musik yang menghidupi dan dihidupi oleh Amar Singh Chamkila, Vida Karo terdengar sangat berbeda; mungkin bukan lagu paling menonjol di album ini, karena itu sepertinya milik Bol Mohabbat (dengan musiknya yang dramatik, dinyanyikan sendiri AR Rahman dengan semangat dan kesungguhan yang langka, dan didukung oleh suara Kailash Kher yang selalu terdengar agung), tapi Vida Karo, saya tak ragu untuk mengatakan, adalah produk terbaik yang dihasilkan oleh Arijit bersama AR Rahman. Mengambil vibe musik India era ‘50an, konon sebagai tribut kepada film Pyaasa (1958) dari Guru Dutt, dan lebih khusus lagi kepada suara legendaris Mohammed Rafi, pada Vida Karo Arijit menunjukkan sekali lagi sejago apa dia dalam menyanyi.

Arijit Singh selama ini tidak dikenal karena suaranya menyerupai para legenda yang telah lewat, seperti yang terjadi dengan hampir seluruh penyanyi latar laki-laki era ‘80an yang dianggap mencoba menjadi Mohammed Rafi baru, atau Kumar Sanu yang meniru Kishore Kumar di awal ‘90an, atau Shaan yang berusaha mirip dengan Udit Narayan di awal 2000an—ia ada di jalur indi pop yang dipelopori band sufi rock asal Pakistan, Junoon, khususnya oleh vokalisnya, Ali Azmat, yang sempat menyanyi untuk beberapa film Bollywood di awal 2000an, yang kemudian diarusutamakan oleh Krishnakumar Kunnath (KK), ditebali warna sufinya oleh Rahat Fateh Ali Khan, lalu lebih dipopkan lagi oleh penyanyi pop-rock Pakistan yang lain, Atif Aslam. Lewat Vida Karo, Arijit menunjukkan bahwa pengkotakan semacam itu tak berlaku untuknya. Ketika mesti menyanyi dengan suara ala Rafi, ia melibasnya—dengan sempurna, tanpa terasa terlalu keras berusaha. Seorang kawan penggemar musik India mengatakan bahwa apa yang dilakukan Arijit dengan Vida Karo akan membuat Sonu Nigam, penyanyi latar yang dianggap memiliki warna dan kapasitas suara paling dekat dengan Mohammed Rafi, dilanda rasa iri. Untuk saya sendiri, Vida Karo juga adalah semacam penebusan atas kesembronoan yang berujung kegagalan yang buruk yang dilakukan Arijit ketika menyanyikan ulang Woh Subah Hami Se Aayegi dari penyanyi legendaris Mukesh di film Begum Jaan (2017).        

Bersama Vishal Bhardwaj, seorang sutradara dengan film-film yang gelap dan kompleks sekaligus komposer yang musiknya memiliki kekhasan yang sulit dipertukarkan dengan komposer lain, Arijit Singh selalu sukses keluar dari kubangan popnya. Tidak saja terdengar lebih rumit di musik dan teknik menyanyinya, tapi sering juga lebih “melangit” liriknya. Ini karena lagu-lagu yang diciptakan Vishal hampir selalu memakai lirik yang ditulis Gulzar, salah satu lirisis dan penyair yang paling dihormati di sinema India.

Tentu saja bersama Vishal Bhardwaj, dengan lirik-lirik yang ditulis Gulzar, Arijit tetap menyanyikan lagu cinta. Tapi jangan harap ia akan bicara tentang “kamulah cintaku”, “kamulah hidup dan matiku”, atau “aku tak mungkin hidup tanpamu”. Simak Yeh Ishq Hai dari Rangoon (2017), misalnya: “Inilah cinta… // Ketika bangun, ia adalah Tabrizi // ketika bicara, ia adalah Rumi”.

Tapi cinta hanya bagian sangat kecil saja, karena, di tangan Vishal Bhardwaj, suara Arijit bisa menggambarkan perasaan-perasaan paling rumit yang dialami manusia:   tentang rasa sakit yang sangat (Gulon Mein Rang Bhare, Haider [2014]), tentang rasa takut (Kya Pataa, Dhrisyam [2015]), tentang duka yang terlalu berat untuk ditanggung (Shaam Ke Saaye, Talvar [2015]), hingga tentang rasa lega setelah sebuah penebusan (Ruan Ruan, Sonchiriya [2019]). Jika di lagu-lagu patah hati pada umumnya suara Arijit terdengar mengiris, pada lagu-lagu yang diiringi musik Vishal dan lirik Gulzar suara Arijit akan menghantam dada, menghancurkannya, menjadikannya kepingan-kepingan sangat kecil. Simaklah Shaam Ke Saaye, dan dengarkan petikan gitarnya yang gugup kemetar dan terbata-bata tak beraturan dan suara Arijit merangkak-rangkak terhuyung, Anda tak perlu tahu artinya untuk merasakan nyeri di dada.

Barangkali yang sedikit disayangkan, Arijit sepertinya melewatkan masa-masa emas Vishal Bhardwaj. Ia datang dan diandalkan ketika karir film dan musik Vishal Bhardwaj tengah berada di tren menurun. Saya adalah penggemar fanatik film, tapi terutama musik, Vishal Bhardwaj dan akan tetap ngotot bahwa hanya Vishal Bharwaj-lah satu-satunya komposer di Bollywood yang tidak pernah membuat musik buruk. Tapi bagaimana pun, puncak kurva karir musik Vishal sudah berada jauh di belakang, yaitu ketika ia menyutradarai dan menggarap musik Haider (2014), dengan lagu Bismil berada di ujung menara. Haider adalah proyek pertama Arijit bersama Vishal Bhardwaj, dan Arijit mendapatkan dua lagu di album ini. Tapi jelas, Arijit saat itu adalah pupuk bawang di tim ini. Bismil, lagu terbaik di album ini, juga mungkin salah satu lagu terbaik di Bollywood dalam 25 tahun terakhir, diberikan kepada anak emas Vishal Bhardwaj, Sukwinder Singh—dan memang tak ada yang lebih tepat lagi. Dan meskipun dua lagu yang dinyanyikan Arijit (Khul Kabhi dan Gulon Mein Rang Bhare) jauh dari buruk, ia bahkan masih kalah pamor oleh Jhelum, lagu menyayat hati tentang pencarian dan kehilangan yang dinyanyikan oleh Vishal Bhardwaj sendiri. Jelas sekali setelah Haider, Arijit segera menjadi penyanyi penting, jika bukan yang terpenting, di musik-musik yang digarap Vishal Bharwaj, baik untuk filmnya sendiri maupun untuk film orang lain. Tapi, karena film-film itu kebanyakan gagal di pasar, maka lagu-lagu yang dinyanyikan Arijit itu biasanya juga gagal disimak lebih banyak orang. Contoh paling buruk adalah lagu-lagu Arijit di film Rangoon (2017) dan Pataakha (2018). Sekali lagi, itu jelas bukan lagu-lagu yang buruk, tapi penggemar Tum Hi Ho atau Gerua atau Teri Mitti mungkin tak pernah terusik untuk mencari tahu, dan dengan demikian asosiasi Arijit dengan lagu cinta menye-menye tak pernah terganggu-gugat.         

Terkait Bhansali, lebih mudah mengatakan bahwa semua musik yang diciptakannya untuk Arijit adalah puncak-puncak tertinggi capaian musikal Arijit. Sederhana itu. Lagu-lagu seperti Lal Ishq, Aayat, dan Binte Dil, tak perlu menunggu waktu untuk menjadi klasik. Bahkan lagu Muskurahat dari Gangubai Katiawadi (2022), yang paling enteng dan paling menye-menye di antara semuanya, tetap terdengar rumit, megah, dan menggetarkan dibanding seluruh lagu Arijit di Aashiqui 2 dijadikan satu. 

***

Bagaimanapun, setelah mendengar hampir 500 lagu, sesuatu terasa tumbuh dalam diri saya, seperti roti yang mekar seiring naiknya suhu pemanggang. Jelas, saya kini lebih banyak tahu tentang Arijit Singh dan lagu-lagunya; saya bisa bicara sepanjang malam tentangnya—pasti masih dengan sikap yang kelewat kritis, tapi setidaknya kini dengan bahan dan bandingan yang sedikit lebih kaya. Dari sekadar pembenci yang sengak, saya kira saya bisa sedikit bergeser menjadi pendengar yang ceriwis. Saya tak tahu apakah itu membuat saya bisa menjadi lebih adil terhadap Arijit dan lagu-lagunya seperti yang saya harapkan, setidaknya itu membuat saya merasa lebih baik.

Jika Anda bertanya-tanya tentang lagu-lagu Arijit, alih-alih tersenyum kecil dengan nada mencemooh, kini saya siap membantu. Jelas, saya bukan yang paling tahu, tapi saya sekarang sedikit lebih tahu dibanding sebelumnya. Yang suka lagu “enak”, dan tak ingin menanggung rasa terasing karena menyukai lagu India, sebaiknya pilih jalur mudah: lagu-lagu sejuta umat seperti Tum Hi Ho, Raabta, Muskurane, Hamari Adhuri Kahani, dan sejenisnya. Jangan lupakan juga lagu-lagu hit Arijit dari film-film Shah Rukh Khan macam Gerua, Janam Janam, atau Zaalima, dan masih banyak lagi. Mendengar lagu-lagu itu, saya jamin, Anda tak akan sendirian sebagaimana umumnya yang dialami penggemar musik India di Indonesia. Iis Dahlia dan Inul Daratista, juga Fildan dan Lesti, dan kebanyakan penggemar Dangdut Akademi Indosiar pasti menyukai lagu-lagu itu. Jika itu tak cukup, saya beritahu, pada satu masa, lagu-lagu Arijit jenis inilah yang menguasai sudut-sudut warung kopi dan kafe-kafe kelas mahasiswa di Jogja, dan saya yakin penggemar baru Arijit dari masa itu masih banyak dan mungkin terus berkembang hingga sekarang. Para penggemar Shah Rukh Khan di akhir 90an/ awal 2000an yang fanatik dengan suara Udit Narayan atau Sonu Nigam mungkin tak selalu cocok dengan suara Arijit, tapi biasanya mereka loyal terhadap apa pun yang dihasilkan oleh film-film Shah Rukh.

Dan jika Anda menyukai lagu-lagu yang saya sebut di atas, maka Anda akan juga menyukai ratusan lagu Arijit yang lain; lebih dari tiga perempat dari nyaris limaratusan lagu Arijit kurang lebih punya nada dan vibe yang sama. Saya sendiri, seperti yang bisa dibaca di sekujur tulisan ini, tak menyukai lagu-lagu itu (dan, sejujurnya, rasa benci saya pada Arijit dan lagu-lagunya bersumber dari lagu-lagu jenis ini), tapi selera kita tak harus sama, dan itu tak apa-apa.

Untuk yang tahu sedikit lebih banyak soal musik, memiliki keinginan untuk membuat perbandingan-perbandingan, mencoba mengulik di mana dan bagaimana posisi musik India di antara musik lain di dunia, mungkin perlu mendengar lagu-lagu Arijit dalam format/iringan band. Kebanyakan lagu-lagu di daftar ini diciptakan oleh Pritam Chakrabhorty, komposer yang paling banyak menciptakan lagu untuk Arijit Singh.

Pada lagu Safar, misalnya, dari film Shah Rukh yang terabaikan, Jab Harry Met Sejal (2017), Arijit sekilas terdengar seperti Sting yang diiringi The Police. Untuk seorang komposer yang pernah dituduh mencomot musik Papa Roach dan Iron Maiden, Pritam tentu saja tak akan asing dengan musik The Police. Di lagu Mausam dari film Metro… in Dino (2016) yang juga dikomposeri oleh Pritam, orang yang juga pernah menjiplak lagu Peterpan, Sheila On 7, dan Samsons, kita akan mendengar Arijit sekilas menyanyi seperti Fadli Padi.

Jika malas dengan musik ciptaan Pritam, seperti yang kadang saya alami, sebagian karena alasan-alasan yang yang telah disebut, Anda bisa mencoba beberapa lagu “sejenis” dari komposer lain. Amit Trivedi saya pikir pantas untuk dicoba. Meskipun kebanyakan komposisi Amit yang terbaik menurut saya adalah yang lebih retro (OST Bombay Velvet, misalnya, atau lagu-lagu di series Qala dan Jubilee), Anda bisa menyimak suara Arijit pada beberapa lagu di film Qaidi Band (2017). Atau dari trio Shankar-Ehsaan-Loy, seperti di film Toofan (2021—cek lagu lembut Ananya) atau di The Archies (2023—meski lagu yang memakai suara Arijit, In Rahoon Mein, bukan lagu terbaik di album soundtrack yang cukup bagus ini). 

Seperti di lagu-lagu jenis pertama, saya banyak menolak lagu-lagu Arijit jenis ini, terutama karena indeferensiasinya. Juga, sejujurnya, ada semacam apriori yang sulit saya atasi ketika mendengar kebanyakan musik yang dihasilkan Pritam (dan komposer industrial seangkatannya), yang muncul ketika selera dan preferensi musik India saya sudah sepenuhnya terbentuk. Tak ketinggalan, sejenis sentimen negatif terhadap lagu film India yang “kurang India”, sebagai bias dari masa tumbuh saya yang dibentuk oleh lagu-lagu India 90an yang “sangat India”. Namun, saya pikir saya bisa menikmati beberapa lagu: kadang karena memang cocok dengan selera saya, dan saya tak ingin terlalu menimbang-nimbangnya, kadang malah didorong oleh sensasi aneh untuk mencoba menyimak lagu-lagu India yang “kurang India” itu; khusus untuk lagu-lagu Arijit, sebagian untuk mencoba mengakui bahwa Arijit memang bisa melibas lagu jenis apa pun. 

Jika ingin satu “selera” dengan saya soal Arijit Singh, Anda bisa pegang tiga nama yang sudah saya sebut sebelumnya, yaitu AR Rahman, Vishal Bhardwaj, dan Sanjay Leela Bhansali. Di bawah tiga nama ini, musik yang mengiringi lagu-lagu Arijit dijamin bagus, bahkan lebih sering megah. Karena tingkat kerumitan musiknya, Rahman, Vishal, atau Bhansali selalu membuat Arijit mengerahkan seluruh kemampuannya. Pada musik-musik ketiga nama ini, saya selalu menemukan Arijit Singh yang berbeda; dan, menurut saya, inilah Arijit Singh yang seharusnya; dan, saya yakin, inilah Arijit Singh yang diinginkan Arijit sendiri.

Yang betul-betul tak bisa saya tolak adalah ketika Arijit bernyanyi klasik—atau, sebut saja, ada klasik-klasiknya. Ketika Arijit menyanyi klasik, ia terdengar hebat bukan hanya karena bisa melakukannya dengan hebat, tapi terutama karena ia adalah sedikit dari penyanyi arus utama Bollywood yang bisa melakukannya; jika ditarik tigapuluh tahun ke belakang—di luar para spesialis klasik (atau folk) seperti Jagjit Singh, Pankaj Udash, Shankar Mahadevan, Sukhwinder Singh, Richa Sharma, Rekha Bhardwaj, Rahat Fateh Ali Khan, Kailash Kher, Javed Ali, Kavita Seth, Javed Bashir, hingga Nooran Sisters—hanya Sonu Nigam dan Shreya Ghosal yang ada di kelas yang sama dengan Arijit. Inilah mengapa saya menempatkan lagu-lagu Arijit yang dikomposeri oleh Bhansali selalu di atas. Mendengarkan lebih dulu lagu-lagu macam Laal Ishq dan Aayat, lebih-lebih setelah Binte Dil, membuat saya sulit sekali menyimak lagu-lagu bersalut gula seperti Tum Hi Ho, Muskurane, atau Hamari Adhuri Kahaani.

Tapi Arijit menyanyikan nomor-nomor klasiknya tak hanya bersama Bhansali. Lagu-lagu dengan musik klasik juga didapatkan Arijit dari komposer-komposer seperti Shankar-Ehsaan-Loy, Salim-Sulaiman, bahkan dari Pritam. Menemukan suara Arijit yang tiba-tiba menyusup di antara Arshad Muhammad dan Divya Kumar dalam sebuah duel qawwali yang epik berjudul Yaar Ilahi di Katyar Kalijat Gushali (2015), sebuah film musikal tentang para penyanyi qawwali era India kolonial, tak bisa tidak, telinga dan hati saya menyerah sepenuhnya. Tepuk tangan yang riuh untuk Shankar-Ehsan-Loy untuk musik yang megah dan lirik karya Sameer yang melangit (meski tanpa sepenuhnya tahu artinya), tapi untuk saya Arijit adalah permata bagi lagu tersebut; mendapati bahwa persepsi kita salah terhadap seseorang dalam cara yang luar biasa adalah sebuah revelasi, sejenis pencerahan sekaligus pembebasan. Hal yang sama juga saya alami ketika mendapati dengan sangat terlambat Sab Dhan Maati dari Jai Gangaajal (2016); kombinasi musik yang ilahiyah Salim-Sulaiman dan lengkingan suara Arijit menegakkan bulu roma. Juga, ketika menemukan Arijit menyanyikan satu versi Mere Dholna di Bhool Bhulaiyaa 2 (yang sebelumnya dinyanyikan oleh Shreya Ghosal di Bhool Bhulaiyaa, 2007) dan menunjukkan kemampuannya berakrobat suara, membuat saya selalu bisa sedikit memaafkan Pritam atas banyak sampah yang pernah dibuatnya.

***

Meski sepanjang Ramadan mendengarkan suaranya, daftar lagu Arijit Singh saya tak banyak bertambah: dari belasan, kini jadi sekitar 25; mungkin seiring waktu bisa bertambah, tapi saya yakin tak akan terlalu banyak. Dan itu cukup. Saya rasa saya tak perlu menyukai 400an lagunya—biar orang lain saja. Cukup dengan 25 lagu, atau paling banyak 30, 30an lagu yang betul-betul saya sukai, saya akan mengubur permusuhan dengan Arijit, dan saya rasa kami bisa berteman.

Saya tetap tak memasukkan namanya dalam daftar penyanyi India favorit saya, itu jelas. (Tempat untuk lagu-lagu “enak” sudah sepenuhnya dikapling oleh para penyanyi India era ‘80an dan ‘90an—Kumar Sanu, Udit Narayan, Kavita Krishnamurty, Alka Yagnik, Mohammed Aziz, Amit Kumar, Anuradha Paudwal, Sadana Sargam, dan para penyanyi India dari masa remaja saya tak akan bisa diganggu-gugat tempatnya. Untuk lagu-lagu India tahun 2000an ke atas, yang sebagian besar saya dengar pada usia 30an, disesaki oleh para penyanyi sufi dan klasik seperti Sukhwinder Singh, Richa Sharma, Shubha Mudgal, Bombay Jayashree, Rahat Fateh Ali Khan, Rekha Bhardwaj, Kailash Kher, Javed Bashir, atau band fusion macam Indian Ocean. Dalam banyak kesempatan, sebagian karena keingintahuan, saya menghabiskan banyak waktu untuk mengulik lagu-lagu India yang kurang saya ketahui atau yang terlewatkan, namun kebanyakannya ini adalah perjalanan ke masa lalu, atau masa yang jauh terlewat, seperti musik India era ’40an-‘60an, yang dianggap sebagai The Golden Era, dan karena itu hasilnya tentu saja adalah nama-nama dari masa silam: Lata, Asha, Mukesh, Rafi, Gita Dutt, Hemant Kumar, Kishore Kumar, musik-musik “berhantu” SD Burman atau Khayyam, keabadian karya-karya duo Shankar-Jaikisant, kejeniusan RD Burman, atau lirik-lirik Sahir Ludianvi yang menggetarkan.) Tapi, saya kira ini bukan masalah besar. Arijit telah mendapatkan banyak penggemar, dan lebih banyak lagi penggemar, bahkan setelah suaranya tak lagi muncul di film-film India di tahun-tahun mendatang.    

Barangkali, yang bisa saya lakukan adalah membuat folder khusus untuk lagu-lagunya. Selama ini, belasan lagu Arijit yang tersimpan di komputer dan sesekali saya putar masih bertahan di folder soundtrack filmnya masing-masing. Kini, dengan beberapa tambahan lagu baru, saya rasa folder bernama Arijit bisa saya tambahkan, menyusul folder Shreya Ghoshal, Rahat Fateh Ali Khan, Richa Sharma, Javed Basher, dan (entah bagaimana bisa ada) Atif Aslam dari para penyanyi yang muncul setelah tahun 2000an. Saya bisa menambahkan lagu-lagu “baru” dari hasil kebersamaan kami selama dua bulan terakhir ini, seperti Le Chal Mujhe (NH10, 2015), Sab Dhan Maati (Jai Gangaajal, 2016), Piya Tu Piya (Dongri Ka Raja, 2016), Safar (Jab Harry Met Sejal, 2017), Andheron Mein Rishtey (Saheb Biwi Aur Gangster 3, 2018), Raazi-Title Track (Raazi, 2018), Har Har Gange (Batti Gul Meter Chalu, 2018), Tum Hain Mohabbat Hai (Atrangi Re, 2021) Muskurahat (Gangubhai Kathiawadi, 2022), Mere Dolna (Bhool Bhulaiyaa 2, 2022), Mere Aasmaan Jal Gaya (Poniyim Selvan 2, 2023), O Bedardeya (Tu Jhoothi Main Makkar, 2023), Vida Karo (Amar Singh Chamkila, 2025), Moh Na Laage (Dukaan, 2025), Mausam (Metro.. In Dino, 2025) Ajeeb-O-Ghareeb (Azaad, 2025) Aap Is Dhoop Mein (Gustaakh Ishq, 2025), juga dua-tiga lagu dari dua album soundtrack Vishal Bhardwaj yang butuh saya simak ulang (Khufiya [2023] dan O’ Romeo [2026]), untuk melengkapi satu-dua lagu Arijit yang ada di folder-folder film Barfi (2012), Ram-Leela (2013), Haider (2014), Talvar (2015), Bajirao Mastani (2015), Drishyam (2015), Sarbjit (2016), Begum Jaan (2017), Rangoon (2017), dan Padmavaat (2018). 

Dan, pada akhirnya, saya berharap pilihannya untuk mundur dari industri musik Bollywood adalah sebuah keputusan tepat. Jika sebelumnya saya “sempat” merasa lega bahwa tak akan ada lagi film India baru dengan suara Arijit di album soundtracknya, saya kira sekarang saya bisa lega karena keputusannya mundur itu membuat Arijit—meminjam diksi Amaal Malik—terbebas dari “jebakan” Bollywood, dan siapa tahu bisa membuatnya menghasilkan musik yang lebih baik di luar kungkungan industri. 

Pringgading, 27 April 2026.

*Versi sangat pendek dimuat di Jawa Pos, 28 Maret 2026, dengan judul “Berdamai dengan Arijit Singh”.

Penulis

Mahfud Ikhwan, penulis Indonesia nan produktif. Beliau menulis novel, esai, cerita pendek, dan tulisan nonfiksi. Lahir di Lamongan, Jawa Timur, 7 Mei 1980. Saat ini tinggal di Yogyakarta bersama istri tercinta.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Pameran Seni Rupa “Ruang Antara”

Kembang Jati Art House bersama Cerobong Art Management menggelar sebuah pameran seni rupa tanpa seremoni pembukaan bertajuk “Ruang Antara”,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img