Saat ini banyak bermunculan berbagai macam jenis minuman yang dijual secara luas. Minuman-minuman yang menarik untuk anak-anak maupun orang dewasa begitu laris manis.
Suatu hari, keponakan saya yang baru berusia tujuh tahun, membelikan saya minuman instan. Dia bangga bisa membelikan saya minuman kesukaannya itu dengan menggunakan uang sakunya sendiri. Apa lagi, keponakan saya memang sangat suka minuman instan, sehingga hampir setiap hari dia membeli minuman ini, dan sampai akhirnya dia juga membelikan saya minuman yang sama.
Siang itu, saya sedang scroll media sosial dan menemukan sebuah video unik. Video ini adalah tentang seekor kambing yang sedang diperas susunya. Susu tersebut langsung mengalir masuk ke dalam ember yang sudah disiapkan di bawahnya. Namun, tak lama kemudian, kambing itu mengeluarkan kotoran (tahi/inthil) yang langsung masuk kedalam ember berisi susu. Dan seketika video berubah menjadi segelas minuman instan tersebut.
Usai melihat video tersebut, maka muncul keisengan saya. Saya pun mencari keponakan saya yang suka minuman instan tersebut.
“Nduk, tahu nggak, minuman instan yang tiap hari kamu minum itu asalnya dari apa?” tanya saya sambil menahan senyum.
“Itu kan, dari tepung atau apa gitu,” tebaknya. Wajahnya tampak sangat serius menanggapi saya.
“Salah!” sahut saya.
“Trus, dari apa?” tanyanya lagi.
“Nih, lihat prosesnya!” kata saya sambil menunjukkan video yang sudah saya simpan sebelumnya.
Melihat video tersebut, spontan dia berteriak, “Huaaaa!!!!! Kok, dari tahi kambing? Ini beneran?” tanyanya lagi. Saya hanya tersenyum. Namun dia berfikir senyum saya adalah jawaban yang artinya ‘iya’.
“Hiiii!!!!! Menjijikkan! Hoek..hoek…” dia pun sampai ingin muntah.
“Hush! Bukan..itu cuma video buat lucu-lucuan. Tidak ada minuman dibuat dari tahi kambing,” saya pun langsung merangkulnya. Namun, sejak saat itu, keponakan daya tidak mau lagi minum minuman instan, katanya setiap kali melihat minuman instan, dia jadi membayangkan tahi kambing di dalam gelasnya.
Penulis

Fery Yanni adalah seorang penulis multi genre. Beberapa bukunya sudah diterbitkan di beberapa penerbit mayor. Tak hanya buku solo, tetapi juga bergabung di beberapa antologi, baik antologi lomba maupun antologi di komunitas. Selain buku, karyanya juga banyak tersebar di majalah dan koran, media cetak maupun digital. Selain aktif menulis, penulis juga menjadi mentor kelas menulis online, menjadi ilustrator dan editor di komunitas menulis.






