Hujan di pagi bulan Januari masih menyisakan rintik-rintik yang mulai mendinginkan hati. Pandanganku di dalam ruangan ini hanya tertuju ke satu arah: Riana. Seorang petugas kebersihan sekolah yang sedang sibuk mengepel lantai dan membuat kopi untuk para guru setiap pagi. Bagiku dia cantik meskipun dia janda beranak satu. Riana baru pindah ke kota ini dua bulan yang lalu.
“Ini kopi hitamnya, Pak Arya,” ucap Riana pelan sambil menaruh kopi di hadapanku.
“Terima kasih,” jawabku seadanya. Kemudian Riana langsung melengos pergi keluar untuk membersihkan lorong.
Riana adalah perempuan yang masih muda namun sudah memiliki seorang anak. Kabar yang kudengar, dia menikah muda dan suaminya meninggal akibat kecelakaan saat hendak membawa Riana ke rumah sakit ketika melahirkan anak pertamanya. Kini, dia hanya tinggal berdua dengan anaknya yang masih berusia enam tahun di sebuah rumah kontrakan tidak jauh dari sekolah. Walau wajahnya mulai mengerut karena lelah bekerja demi anaknya, pesona kecantikannya masih jelas terlihat.
“Bapak serius?” seru Riana saat mendengar pernyataan cintaku di halaman belakang sekolah.
“Iya, saya sangat serius,” ucapku sambil lurus menatapnya. Dia terlihat malu-malu kemudian menunduk cukup lama.
“Maaf tapi saya harus pikirkan lagi karena saya sudah punya anak.”
“Saya juga siap menerima anakmu. Riana, saya sudah suka padamu sejak pertama kamu mulai bekerja di sekolah ini,” jawabku sambil menahannya untuk pergi.
“Bapak masih muda. Apa bapak mau menerima saya yang sudah berbuntut ini? Bapak bisa memilih wanita lain yang masih sendiri ketimbang saya.”
“Sudah saya katakan bahwa saya hanya menyukaimu. Lagi pula umur bukan patokan untuk menyukai seseorang bukan?” kataku lagi. Kali ini Riana menunduk dalam kemudian mengangkat kepalanya ke arahku.
“Besok Bapak bertemu dengan anak saya dulu. Jika anak saya juga bisa menerima, maka saya akan menerima lamarannya,” ucap Riana lembut. Aku membiarkannya pergi. Dia terlihat terburu-buru karena hari sudah mulai sore. Rambutnya yang diikat ke belakang terbang dengan indahnya menyesuaikan cepatnya dia berjalan.
Anak kecil yang cantik itu menatapku dengan sorot mata tak biasa. Dia tidak mau lepas dari ibunya dan menolak semua hadiah yang aku berikan. Namun aku tetap berusaha agar dia mau menerimaku. Mulai dari mengajaknya bermain, bernyanyi bersama, bahkan membantunya mengerjakan tugas sekolah. Perlahan namun pasti akhirnya dia tertawa. Aku memeluknya erat dan menceritakan padanya berbagai kisah lucu. Dua minggu kemudian, akhirnya Riana menerima lamaranku dan aku sudah diterima sepenuhnya oleh anaknya sebagai calon Bapak tirinya.
“Menurut Aya, Bapak Arya gimana?” tanya Riana saat kami bertiga hendak pergi menuju rumah orang tuaku.
“Pak Arya baik… tapi, Ma? Bapak Arya benar-benar baik, ‘kan?” ucap Aya sambil menatap aneh ke arahku.
“Iya, Aya. Bapak Arya akan selalu baik sama kamu,” jawabku akhirnya sambil mengelus kepala gadis kecil itu.
“Bukan berpura-pura atau jahat seperti Om itu, kan? Bapak Arya janji kan?” kali ini nada bicara Aya membuatku bingung dan kulihat badannya sedikit gemetar terlebih saat aku hendak menyentuhnya lagi. Riana langsung menggendong Aya dan membuatnya tenang.
“Iya, Sayang, jangan takut lagi.”
Kami akhirnya sampai di rumah orang tuaku. Aku memencet bel dan seorang pembantu membuka pintu rumah kemudian mempersilakan kami masuk.
“Assalamualaikum, Ayah, kami sudah datang.”
“Lama sekali kamu, kukira tidak jadi kemari.” Seorang pria dewasa keluar menemui anak dan calon menantunya. Awalnya mereka saling menyapa dan tersenyum namun keadaan mendadak hening saat pria itu melihat anak yang ada di belakang Riana.
“Kamu anak yang cantik,” ujar sang pria. Mendadak Aya mundur ke belakang kemudian gemetaran lagi namun kali ini jauh lebih hebat. Bahkan saking takutnya dia langsung tersungkur ke lantai. Lalu berteriak-teriak, “TIDAK! JANGAN! PERGI OM! PERGI!”
“Aya kamu kenapa, Nak?” ujar Riana panik
“Dia, Ma, dia! Aya mau pulang! Mau pulang!” Aya langsung menjerit dan menarik mamanya untuk pergi. Kulihat dia juga mulai menangis karena saking paniknya. Riana menatap benci ke arahku, kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata lagi.
Keesokannya aku berniat untuk bertanya sekaligus meminta maaf pada Riana. Namun tak kusangka dia justru mengundurkan diri dari pekerjaannya di sekolah. Aku yang panik akhirnya pergi menuju rumahnya dan kulihat Riana sedang serius menyuapi Aya yang masih terlihat lesu.
“Riana,” sapaku sambil mengetuk pintu rumahnya yang terbuka.
“Maaf, Bapak Arya, saya sedang sibuk mengurus anak saya.”
“Saya mau bicara sama Kamu.”
“Kalau begitu tunggu saja di luar. Sebentar lagi Aya selesai makan lalu Saya akan menemaninya tidur dulu.”
“Baiklah aku tunggu.”
Cukup lama aku menunggu Riana. Kuperhatikan rumahnya yang sangat sederhana. Aya masih terlihat lesu dan lemas. Matanya terlihat sangat lelah seolah habis menangis semalaman. Hingga akhirnya Riana keluar menemuiku.
“Mulai sekarang kita tidak perlu berjumpa lagi. Saya hendak pindah dari tempat ini besok dan memohon untuk lupakan semua tentang pernikahan kita,” ucap Riana tegas. Hal tersebut membuatku terkejut.
“Aku salah apa, Rin? Aku minta maaf kalau ada salah tetapi jangan seperti ini. Bukankah aku selalu bersikap baik terhadapmu dan Aya?”
“Kamu memang baik. Namun sayang ayahmu adalah orang yang bejat dan pernah menyakiti putri saya. Saya tidak mau hidup dan menjadi bagian keluarga dari orang yang pernah memberi trauma pada putriku, kamu pilihlah wanita lain karena saya tidak akan mau kembali bersamamu.”
“Kumohon maafkan aku dan ayahku. Aku akan bertanggung jawab dan mengganti rugi akibat hal yang dilakukan ayahku. Kamu bilang saja berapa biayanya, aku akan berikan,” ucapku lagi sambil menarik tangan Riana kemudian dia menghempaskan tangannya dengan keras dan mendorong tubuhku.
“Ganti rugi?! Kamu pikir putriku seharga dengan uangmu?! Aku tidak akan mau bersamamu!”
Kali ini aku menarik napas panjang kemudian mencoba menenangkan Riana.
“Baiklah, aku akan pergi dan tidak akan pernah memaksamu untuk menikah denganku. Tetapi kumohon, bisakah kamu menceritakan apa kesalahan ayahku? aku hanya ingin tahu hal itu agar aku bisa tenang dan melupakanmu.” Kulihat mata Riana yang sudah mulai reda akan emosi, kemudian dia duduk di sebelahku dan mulai terlihat tenang.
“Baiklah, akan saya ceritakan hal apa yang dilakukan ayahmu terhadap putri saya. Setelah saya selesai bercerita, pergilah dari sini dan jangan ganggu kehidupan kami lagi.”
“Iya, aku janji,” ucapku akhirnya dan Riana mulai bercerita.
***
Kepalaku pusing setelah mendengar penuturan Riana. Jujur, aku tidak pernah menyangka ayahku bisa berbuat seperti itu. Kukira setelah kematian ibu, ayah sudah berubah menjadi orang yang lebih baik. Sayangnya semua ternyata hanya khayalanku saja.
“Dulu ketika Aya masih berusia lima tahun, ayahmu pernah menculik Aya. Saya sibuk mencarinya ke mana-mana dan ketika malam, dia tiba di rumah sambil menangis. Terdengar kalau dia sangat ketakutan dan pria yang tadi bersamanya menyentuh bagian tubuh yang membuat Aya merasa sakit. Singkatnya, dia memperkosa Aya. Ketika akhirnya saya menemukan pria bejat itu, dia justru merasa tak bersalah sama sekali. Aku sudah pernah mengambil jalur hukum untuk mengurus kasus ini namun kau tahu?! Pria itu menutup kasus ini dengan mudah karena uang yang dia miliki. Saya menangis. Kulihat setiap hari Aya menjerit ketakutan dan selalu gemetar setiap malam. Akhirnya setelah terapi yang melelahkan, saya berhasil membuat Aya merasa lebih baik dan kami memutuskan pindah. Setelah sekian lama aku akhirnya bertemu dengan pria itu lagi dan ternyata dia ayahmu. Kamu kira aku bisa menerimanya?!” kata-kata Riana terus terngiang di kepalaku.
“Yang bersalah itu ayahku, bukan aku,” tegasku mencoba meyakinkannya
“Memang bukan kamu, tetapi kamu kira saya sanggup punya mertua seperti ayahmu. Sudahlah, Arya, kita hidup masing-masing saja dan lupakan semua ini. Saya tidak mungkin bisa memilihmu dibandingkan dengan anakku sendiri. Kuharap kamu mau mengerti,” ucap Riana mengakhiri semua pembicaraan di antara kami.
Ayahku memang dulu adalah seseorang yang jahat. Namun karena mama, ayah bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Ketika mama meninggal lima tahun yang lalu, sikap ayah juga masih baik-baik saja. Tak pernah aku kira kalau ternyata dia hanya berpura-pura dan kembali ke jalan yang salah. Aku marah. Mencoba mengingatkannya dan meminta maaf pada Riana. Tetapi ayahku justru menjawabku dengan satu kalimat yang membuatku tambah naik pitam.
“Bukan salah ayah, anak dia terlalu cantik sehingga ayah jadi tergoda. Seharusnya sebagai ibu harus bisa menjaga anak dengan baik.” Hanya itu saja kalimat yang dikeluarkan. Tanpa rasa bersalah ataupun kecewa karena anaknya gagal menikah dengan orang yang dia cintai. Aku pergi dari rumah dan membiarkan ayah tinggal sendirian. Aku pun yang sudah dewasa tidak ingin tinggal dengan orang yang telah berbuat jahat dan tidak merasa bersalah sedikit pun. Ayah sendiri sama sekali tidak peduli dengan sikapku. Dia hanya mengancam tidak akan memberiku warisan. Aku juga tidak mau menerimanya apabila ayah memaksaku karena aku malu dan merasa sakit hati jika aku menggunakan uang ayah lagi. Yang aku tidak tahu dia dapatkan dengan cara halal atau haram.
Bertahun-tahun berlalu. Kini aku telah menikah dengan seorang guru juga yang seusia denganku. Aku tidak tahu lagi kabar Riana dan anaknya, Aya. Aku hanya berharap, mereka hidup bahagia di tempat yang baru tanpa mengingat lagi kenangan buruk yang tanpa sengaja kuungkit kembali. Sementara ayah? aku hanya bisa mendoakannya dalam setiap sujudku berharap dia akan diampuni karena sebulan yang lalu, aku mendapat kabar kalau ayah meninggal akibat keracunan makanan. Jujur, aku masih marah karena sikap ayah yang semaunya. Namun sebagai seorang anak, aku hanya bisa mengingatkan orang tuaku dengan lembut karena aku takut akan menjadi anak durhaka. Aku hanya berharap anak yang ada dalam kandungan istriku nanti tidak mengalami nasib yang sama seperti Aya. Aku akan menjaganya baik-baik sebagai seorang ayah.
Penulis

Inong Islamiyati. Tinggal di Tangerang Selatan. Menyukai kucing, animasi dan sastra.






