POHON JIWAKU
pohon jiwaku kubiarkan bertunas
menelusuri kebebasan di langit hatiku
sampai aku tahu angin surga
yang terus meniupkan kesucian
dan kekudusan hidup
sampai hujan berkat tercurah
akan kerelaan damai sejahteranya
bunga-bunga kegembiraan
kubiarkan terus mekar bergerak
penuh semangat dalam buah-buah
harapan yang terbuka
dalam sukacita
langit biru yang bersih
adalah kelegaan dan aku mendengar
segala macam nyanyian di bumi rasaku
dan aku akan tekun mendengarkannya
(Ngawi 11 Juni 2024)
KESAN NAN ELOK
Janji sempurna
Burung bernyanyi di dahan jati
Suara nyaring
Di balik kamar gadis nan cantik
Gerimis tipis
Di dalam taman wangi melati
Sesayap lebah
Terdengar ramah mengitari bunga
Bintang bersinar
Di langit malam tidaklah pudar
(Ngawi, 6 Juni 2024)
SELEPAS DUKA
Siulan burung di pohon kedawung
Seuntai sajak tidak terisak
Ingatkan kita semasa muda
Terpahat penuh semangat
Di punggung gunung duduk termenung
Merasa diri dalam damai
Kekasihmu kembali berlagu
Dalam rindu ingin bertemu
Jauhkan rasa dari duka lara
Segala cinta sunggah di dada
Dalam sunyi jiwa terangkat tinggi
Semua teratur tiada bentur
(Ngawi, 14 Januari 2024)
KALASUBA
Pandhawa satria utama
Hidup sederhana damai dan sejahtera
Tetapi mengapa Duryudana raja Astina itu
Selalu menaruh sakwasangka?
Adalah Kalamadenda
Raksasa sakti mandraguna
Ingin membantu Duryudana dan Kurawa
Menumpas satria Pandhawa
Agar mudah menumpasnya
Kalamadenda punya permintaan
Agar Semar dijadikan sebagai tumbal
Giranglah para Kurawa
Di Padhukuhan Klampis Ireng
Semar bermata batin awas
Sebelum dibunuh ia gugat ke Kahyangan
Ketemu Sang Bathara Wenang
Atas petunjuk Sang Bathara Wenang
Semar kembali ke mayapada
Ia hendak memalukan Kalamadenda
Berkatalah Semar Badranaya
“Engkau mencari siapa?”
“Aku mencari Semar!”
“Semar telah mati! Yang ada Resi Kalasuba
Kau siapa?”
“Namaku Kalamadenda!”
“He, Kalamadenda! Ayo, kalahkan aku!”
Kalamadenda menghajar Resi Kalasuba
Ia berubah wujud menjadi Semar Sejati
“He, Kalamadenda! Jika engkau ingin
memakan aku, ayo makanlah!
Semua lakon kehidupan telah aku alami
dan aku jalani
Jadi Dewa, aku pernah
Jadi raja, aku pernah
Jadi pendhita aku pernah
Jadi kawula atau punakawan aku pernah
Jadi kere aku telah biasa
E, lae lae! Jangan kaukira aku tak tahu
Siapa kau? Kau adalah Bathara kala!
Kau ingin menangsa kesatria Pandhawa bukan?
Ketahuilah, Pandhawa Lima itu
bukan sukerta karena walaupun
mereka berlima tetapi satu ayah
dan dua ibu
Jadi, bukankah makananmu!
Ayo, pulang!!!
Sebelum kuremuk jiwa-ragamu!”
Hening niskala
Semar rahayu
Kalamadenda menanggung malu
(Ngawi, 2 Agustus 2025)
PENYAIR
Y.P.B.Wiratmoko

Lahir di Ngawi. Penulis dan penyair. Telah menulis 200+ judul buku dan diterbitkan oleh Kompas group dan 25 penerbit anggota IKAPI Jawa Timur. Bukunya beredar di perpustakaan sekolah-sekolah dan perpustakaan desa di seluruh Indonesia. Buku yang ditulis adalah buku-buku di berbagai disiplin bidang ilmu termasuk sastra dan filsafat.






