Jalan Kecil Menuju Pulang
: Dina Oktaviani
tumbuhlah, tumbuh patahku
patah yang berjalan
inikah jalan kecil itu, dina?
tak seorang pun bisa menjadi bulan
di langitlangit rumah yang menyalakan putus asa
kejatuhan seperti kaki raksasa
terbelahbelah & kutelan reruntuhan
daratan ini menjorokku hingga angin terakhir
tanjung sialan, ketika kujauhi rumah & tangan mereka
masih mencekikku dari jauh
sungguh, tanjung yang sialan
selamanya aku hidup dalam puisimu, dina
hidup sebagai kehilangan yang berpuntung-puntung sembab
pecah diguyur hujan
tak ada payung tak ada mantra
“sebab kesabaran tak pernah menerangkan apa-apa”
aku ingin meninju perut mereka keras-keras
agar muntah bangkai utang yang kupelihara sendirian
lalu menangis dengan kenyang
hati mana yang bisa?
tak ada yang sanggup menghapusnya
maka kuhapus jalan pulang
Samarinda, 2026
Sebelum Jalan Baru
: Willy Fahmy Agiska
Mang, kuharap kau dilempar ke masa yang jauh
dari rasa awas walau kutahu Bahaya
yang buat kita hidup
dari satu rahasia ke rahasia lain
kau pangku semua marah di saku
marah yang merawatmu & lakban menjaga
untuk selalu sama tak berubah walau remah
biar biar tihangnya, makin subur
kapankapan kau boleh balas dendam
atau melupakan semua yang dulu
buat kau berjalan hingga kakimu
menancap di kota ini
kuharap alarm tubuhmu rusak
agar nyenyak semua yang kau ingin buang
hela napas yang kau lepas
kutata di gelas untuk kita pecahkan
semoga setelah ini, kita tak perlu membelakangi rahasia
sia sial yang membungkus masa depan
Jakarta, 2025

Keramaian Ketika Sendiri
: Sri Andi Wahyudi
kawankawan yang tak dikenal sudah datang
setelah genangan demi genangan
kesedihan mengkristal tajam
menunggu pecah atau menusuk mata
mata siapa yang tergantung di dinding pameran?
tiada cinta yang harap di ruang tunggu ini
tetapi kawankawan mengenalnya
ia tanganmu yang jadikan mereka
mengenang menyulitkan orangorang
tetapi kawankawan menghapal garis tangan
tiada asing yang bisa mereka pelihara
kau tiupkan hidup kepal tiap kepal
kembali pada tanah mencumbu tanah telanjang
waktu hanya layanglayang yang cemburu
kau membaca angin dari dulu
melihat masa kecil terbang bebas
sampai pagi ini datang dengan bahagia
keramaian yang tak bisa dicuri sesiapa
bahkan, dengan busa cinta
Samarinda, 2026
Terlalu Pagi Untuk Puisi
: Dadang Ari Murtono
waktunya jalan kaki bersama Gabo
berkilokilo sebelum pukul tujuh sebelum
ia menggonggong lebih keras dari pagi
kaki nomadenmu yang taat hinggan Muso Salim
bahasa baru apa yang kau pelajari hari ini?
dari kota yang dikepung segala yang banjir dengan bangkai
tiap hidung mengendus tetapi siapa yang akan menulis telanjang
sebelum bencana
berteduh berarti terjebak
kita harus membrontak hujan untuk selamat
walau ia hanya pulang pada rumahnya
tanah yang kita pinjam untuk tinggal
seperti apa tinta akan melukis badanmu kali ini
kejernihan macam apa lagi yang bisa kita curi dari puisi
24 jam lagi kau bisa menemukan segala yang terbelah di Muso Salim
air telah pasang kau harus mencari jawaban sendirian di lantai dua
bagaimana mereka berhutang kepada kita
mari terus naikkan dagu di tanah rendah
masih terlalu pagi untuk puisi
mereka tidak ada di genangan air ini
Samarinda, 2026
Penyair

Kristal Firdaus, kelahiran 1999 di Tanjung Redeb. berpetualang ke Samarinda sekaligus menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Mulawarman, program studi Hubungan Internasional.
Ia suka menulis, memotret, berjualan dan kini giat menulis puisi dari cerita orang lain melalui mesin tik & pertanyaan yang ia ramu di @ngamen.puisi
Mengawali 2026 bersama Hadi Wardoyo ia membangun @amara.press sebagai upaya mengakrabkan zine & menemukan berbagai penulis di Samarinda
Pada tahun 2025, ia menjadi salah satu peserta Emerging Writers di Makassar International Writers Festival (MIWF). Puisinya masuk ke dalam antologi Lapis Penyair Mutakhir Kalimantan Timur: Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (2023) & Annamot Press, In The Back of My Throat (2024) suntingan Norman Erikson Pasaribu & Tatevik Sargsyan.
Buku puisi debutnya, menidurkan Bahaya (2025) diterbitkan oleh Velodrom.
Komentar Redaktur
empat puisi ini mencatat 4 penyair yang memiliki gaya, pikiran, orientasi, dan geografis yang berbeda. Tentu ada hal penting bagi si penyair mempersembahkan puisi-puisi ini kepada masing-orang, entah karena kedekatan personal, obrolan yang tak selesai, rasa hormat atau kagum, atau sekaligus respon kreatif terhadap karya dan pikiran orang yang ingin dipuisikan.
Pola ini menarik sebagai bentuk dokumentasi perjumpaan fisik dan pikiran sekaigus tantangan bagi seorang penulis. Puisi persembahan tentulah sesuatu yang spesifik mengenai karya, pikiran, atau sikap, atau hal-hal yang “hanya mereka yang tahu'” karena melibatkan emosi, pembacaan dan “kedekatan” tertentu. Setidaknya penulis adalah orang yang tahu siapa yang ingin diabadikannya.
Kristal Firdaus mencoba menyelami teks dan pikiran empat penyair (setidaknya keempatnya menulis puisi) sebagai upaya pertukaran kreatif dan catatan penanda.
(Indrian Koto)






