Minggu, Maret 1, 2026
No menu items!

Membaca Seri Ring Road karya Syahrizal Pahlevi: Jalan Raya sebagai Medan Pengalaman dan Politik Melihat

Must Read
Rain Rosidi
Rain Rosidi
Rain Rosidi / Muhammad Rain Rosidi adalah seorang kurator seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Beliau juga mengajar di Lembaga Seni Rupa Yogyakarta (L’ASRY).

Di tengah keriuhan seni rupa kontemporer yang sering kali terjebak dalam pengejaran citra spektakuler atau narasi global yang mengawang, Seri Ring Road (2009) karya Syahrizal Pahlevi muncul sebagai sebuah anomali yang membumi. Ia tidak bicara tentang megahnya gedung pencakar langit atau distopia masa depan yang abstrak. Sebaliknya, ia mengajak kita menengok ruang yang sangat dekat, yang kita lalui setiap hari hingga kita lupa untuk benar-benar memperhatikannya: yaitu jalan lingkar di pinggiran Yogyakarta.

Bagi warga Yogyakarta, Ring Road adalah arteri sekaligus pembatas. Ia adalah jalur cepat bagi truk-truk raksasa dan bus antarkota yang menderu dari dan menuju luar kota. Namun, di tangan Pahlevi, jalan ini berhenti menjadi sekadar infrastruktur sipil. Ia bertransformasi menjadi ruang hidup yang terus-menerus dialami oleh tubuh; sebuah ruang yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dinegosiasikan setiap detik.

Paradigma Melihat: Dari Tindakan Netral ke Tindakan Politis

Pendekatan Pahlevi menempatkan praktiknya dalam tradisi seni yang memahami bahwa “melihat” bukanlah tindakan netral. Sebagaimana argumen John Berger dalam bukunya yang monumental, Ways of Seeing (1972), apa yang kita lihat selalu dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, dan posisi sosial kita. Citra tidak pernah berdiri sendiri dalam ruang hampa; ia selalu berkelindan dengan ingatan, sejarah, dan relasi kuasa.

Ketika kita berkendara di Ring Road, apakah kita melihat seorang pedagang koran sebagai bagian dari pemandangan, atau sebagai simbol kerentanan ekonomi? Apakah truk gandeng di depan kita adalah mesin logistik yang efisien, atau monster besi yang mengancam nyawa? Di sinilah Pahlevi bermain. Ring Road dalam karyanya bukan sekadar objek visual, melainkan medan pengalaman yang sarat makna sosial bagi mereka yang hidup dan bergerak di sekitarnya.

Menolak yang Spektakuler, Merayakan yang “Biasa”

Pahlevi memiliki konsistensi yang unik dalam mengangkat hal-hal yang dianggap “remeh” atau “biasa”. Ia pernah memotret profil orang-orang terdekat, sayuran, hingga sudut-sudut bangunan yang tidak menarik bagi turis. Dalam Seri Ring Road, kecenderungan ini mencapai puncaknya sebagai sebuah sikap kritis.

Di saat representasi kota kerap memuja kemajuan, seperti mall yang megah, hotel yang menjulang, atau taman kota yang estetis, Pahlevi justru menyoroti debu aspal dan kebisingan knalpot. Ia tidak menampilkan jalan raya sebagai simbol romantika urban yang manis. Baginya, jalan adalah ruang ambivalen, sebuah tempat mencari nafkah sekaligus tempat bertaruh nyawa. Ruang ini sejatinya tidak ramah bagi tubuh manusia.

Estetika Cukil Kayu Hitam Putih: Drama Kontras di Atas Kain

Aspek teknis yang paling krusial dalam seri ini adalah penggunaan teknik cukil kayu (woodcut) hitam putih. Pilihan untuk meniadakan warna (monokrom) bukanlah sekadar masalah teknis, melainkan keputusan artistik yang sangat sadar. Dalam dunia grafis hitam putih, tidak ada wilayah abu-abu yang aman. Segalanya adalah tentang benturan antara kegelapan (tinta) dan cahaya (permukaan medium).

Pahlevi menggunakan kontras tinggi ini untuk menggambarkan kerasnya kehidupan jalanan. Hitam dalam karyanya mewakili beban aspal, polusi kendaraan, dan tekanan ruang publik. Sementara itu, putih atau warna dasar kain merepresentasikan sela-sela oksigen, cahaya matahari yang terik, atau harapan-harapan kecil manusia di pinggir jalan.

Pahlevi mencetak cukilan kayu ini langsung di atas kain, bukan kertas. Dalam tradisi seni grafis, kertas sering kali diasosiasikan dengan kebersihan dan standar galeri yang steril. Dengan menggunakan kain, Pahlevi merusak ekspektasi itu. Kain memiliki tekstur yang lentur dan tidak beraturan, menyimpan jejak tekanan tangan seniman dengan cara yang lebih “organik” dan “kotor”. Sesuai dengan pemikiran Maurice Merleau-Ponty, pengalaman visual adalah pengalaman bertubuh. Cetakan hitam putih di atas kain ini mencerminkan debu dan residu nyata dari jalanan yang tidak pernah bersih.

Bedah Karya: Lima Lingkaran dan Simfoni Jalanan

Mari kita masuk ke dalam inti visual seri ini. Pahlevi menghadirkan lima karya berdiameter besar berbentuk lingkaran. Pilihan bentuk lingkaran ini adalah sebuah genius konseptual. Secara fungsional, ring road adalah jalur sirkulasi yang mengitari kota. Bentuk lingkaran dalam karya ini merefleksikan sifat jalan tersebut sebagai ruang sirkular yang bergerak tanpa henti, sebuah putaran nasib dan mesin yang terus berotasi.

1. Truk Gandeng: Antara Aspal dan Langit

Pada karya pertama, kita dihadapkan pada sosok truk gandeng yang melintang gagah di tengah bidang. Komposisinya membagi ruang secara dramatis. Bagian bawah adalah representasi aspal jalanan. Melalui teknik cukil kayu hitam putihnya, Pahlevi membiarkan bagian bawah ini didominasi oleh tinta hitam pekat dengan goresan cukilan yang sangat minim. Hitam di sini adalah beban yang masif.

Di sisi atas, goresan cukilannya lebih rapat dan lincah untuk menunjukkan pepohonan dan langit. Namun, ia tetap menyisakan jejak garis hitam yang menandai cakrawala. Hal ini seolah mengatakan bahwa bahkan di ruang terbuka sekalipun, polusi jalan raya tetap membayangi alam. Langit tak lagi sepenuhnya luas; ia telah terfragmentasi oleh narasi industri.

2. Penanda Geografis dan Identitas Mobilitas

Karya kedua membawa kita pada konteks spasial yang sangat spesifik. Kita melihat truk melintas di bawah rambu penunjuk arah: Purworejo, Godean, dan Yogyakarta. Di belakangnya, mobil boks mengikuti. Kejelasan tipografi pada rambu jalan yang dicukil secara manual memberikan kesan otentik, seolah-olah kita benar-benar sedang berada di titik transit tersebut.

Ini bukan sembarang jalan raya; ini adalah Ring Road Barat Yogyakarta. Penggunaan elemen hitam putih yang tegas pada teks rambu jalan memberikan penekanan pada “identitas tempat”. Kita bisa membayangkan panasnya lampu merah di perempatan tersebut, bau asap, dan getaran tanah saat mobil boks melaju kencang. Ini adalah realisme yang tidak hanya ditangkap oleh mata, tapi oleh kesadaran geografis warga lokal.

3. Tubuh yang Rentan di Hadapan Mesin

Salah satu karya yang paling kuat secara emosional adalah karya ketiga yang menampilkan pedagang koran bertudung. Ia berdiri tegak di tengah bidang, sementara di belakangnya, sebuah truk raksasa melintas. Di sinilah letak inti dari “Politik Melihat” Pahlevi.

Juktaposisi antara tubuh manusia yang rapuh, hanya berbalut kain tudung untuk menghalau panas, dengan mesin besi yang masif menciptakan ketegangan visual yang luar biasa. Melalui garis-garis hitam putih yang tajam, manusia tampak kerdil dan hampir “tertelan” oleh detail mekanis truk di belakangnya. Pedagang koran itu adalah representasi dari ribuan tubuh yang terpaksa mencari celah di antara deru mesin demi menyambung hidup.

4. Perempuan di Jalur Lambat: Gestur Waspada

Karya keempat menggeser fokus kita pada seorang perempuan di jalur lambat. Posisinya digambarkan sedikit bergeser ke kiri, mengikuti arah pandangnya yang tajam. Ada sesuatu yang tidak nyaman dalam gesturnya, ia tampak kaku dan waspada.

Pahlevi menggunakan teknik garis putus-putus yang nyaris menyatu dengan latar belakang. Dalam skema hitam putih, teknik ini menciptakan efek getaran visual (moiré), seolah-olah udara di sekitar perempuan itu bergetar karena suara kendaraan. Ruang aspal hitam yang luas di belakangnya bukan sekadar latar, melainkan beban ruang yang menekan. Ia menegaskan betapa dominannya jalan raya, sehingga eksistensi individu selalu diliputi oleh rasa cemas.

5. Ritme Riuh Terpal dan Muatan

Karya terakhir dalam rangkaian lingkaran ini menampilkan truk penuh muatan yang ditutup terpal. Truk ini mengisi dua pertiga bidang, memberikan kesan sesak. Yang menarik adalah bagaimana Pahlevi menyusun truk dan latar belakangnya melalui ritme garis hitam putih dengan intonasi yang serupa.

Tidak ada pemisahan warna yang jelas antara objek dan ruang di sekitarnya. Semuanya menyatu dalam sebuah ritme garis yang repetitif, menciptakan kesan riuh dan terus bergerak. Ini adalah representasi dari hiruk-pikuk jalan raya di mana batas antara subjek dan lingkungan sering kali kabur karena kecepatan dan kebisingan yang berlebihan.

Estetika Garis: Getaran yang Melelahkan

Jika kita perhatikan lebih dekat, elemen visual paling dominan dalam seri ini adalah garis. Pahlevi menggunakan garis-garis pendek, rapat, dan berulang. Teknik ini mengingatkan kita pada bahasa visual komik untuk menggambarkan gerakan (speed lines). Namun, dalam medium cukil kayu, garis ini memiliki karakter yang lebih kasar dan “bertenaga”.

Hampir seluruh bidang karya dipenuhi oleh garis-garis ini. Tidak ada ruang kosong untuk bernapas. Mata penonton dipaksa untuk terus bergerak mengikuti ritme yang padat. Ini adalah strategi visual yang cerdas untuk memindahkan sensasi psikis saat berada di jalan raya ke dalam ruang galeri. Melihat karya-karya ini memberikan rasa “lelah” yang sama dengan berkendara di bawah terik matahari. Mata kita tidak dimanjakan oleh gradasi warna yang lembut, melainkan dihantam oleh kejujuran hitam-putih yang konstan.

Jalan Raya sebagai Kritik Modernitas

Secara lebih luas, Seri Ring Road dapat dibaca sebagai kritik terhadap bagaimana modernitas dan pembangunan dipahami di Indonesia. Sering kali, pembangunan jalan tol atau jalur lingkar dirayakan sebagai pencapaian teknokratis, termasuk angka-angka efisiensi logistik. Namun, jarang sekali kita bertanya: bagaimana nasib tubuh-tubuh yang tersisih di pinggirannya?

Pahlevi menghadirkan pengalaman mikro yang konkret. Ia menunjukkan bahwa di balik kelancaran truk-truk logistik, ada ketegangan, kecemasan, dan polusi yang harus ditanggung oleh warga. Jalan raya dalam karyanya adalah medan pertemuan yang tidak setara antara manusia dan mesin, antara desa yang perlahan tergerus dan kota yang terus melebar tanpa arah.

Kesimpulan: Menjadi Saksi yang Bertubuh

Seri Ring Road ini mengingatkan kita bahwa tugas seniman bukan selalu untuk menciptakan dunia baru yang indah, melainkan untuk menjadi saksi atas dunia yang ada sekarang dengan cara yang paling jujur. Medium cukil kayu hitam putih yang dipilih Pahlevi adalah personifikasi dari kejujuran tersebut, yaitu bernuansa tajam, kontras, dan tanpa kompromi.

Ia membuktikan bahwa hal sesederhana truk yang lewat atau rambu jalan yang berdebu bisa menjadi pintu masuk menuju diskusi yang dalam tentang eksistensi manusia di ruang publik. Ia mengajak kita untuk tidak sekadar menjadi penonton yang pasif di dalam kendaraan yang tertutup rapat, melainkan untuk kembali menjadi subjek yang bertubuh, yang peduli pada getaran aspal dan nasib orang-orang di jalur lambat.

Dalam kesederhanaan temanya, seri ini menawarkan kritik yang tajam, yaitu bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat kendaraan bisa melaju, tetapi dari seberapa aman tubuh-tubuh manusia dapat hidup berdampingan di pinggirannya.

PENULIS

Rain Rosidi / Muhammad Rain Rosidi adalah seorang kurator seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Beliau juga mengajar di Lembaga Seni Rupa Yogyakarta (L’ASRY).

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Satu Hari, Dua Sesi, dan Lima Belas Tubuh yang Berbagi

Enam Tubuh di Petang yang Cukup Teduh Akhir Januari, dan kau menggenapi sebuah undangan menyaksi, menonton parade pantomim yang diadakan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img