“Kenapa ada istilah kenakalan anak atau kenakalan remaja, tetapi tidak ada kenakalan orang tua? Seakan-akan orang tua tidak lagi melakukan kenakalan!” demikian Ribut Eugh bertanya—lebih tepatnya menggugat. Soal yang diajukan tersebut semacam lontaran kerikil yang menghantam dinding dunia pendidikan hingga retak. Demikianlah Lumbung Kawruh hadir menjadi suaka bagi yang tersisih di tempat yang adoh ratu cerak watu, yakni di Dusun Ngurak Urak, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul.
Tetapi, siapa itu Ribut Eugh dan apa itu Lumbung Kawruh?
***

Batu karst yang nyembul pada bukit-bukit kecil di kawasan Rongkop tampak suram seumpama batu nisan kerkop. Di sana, waktu tidak lagi diukur dengan angka, melainkan langkah tanpa alas kaki menyusuri jalan setapak membelah tegalan gersang siang bolong; sembari memikul rumput untuk pakan kambing atau singkong pengganjal perut saat begadang di musim bedhidhing.
Sepulang dari ladang, ia menyandarkan sabit dan cangkul, lalu menjerang air, menyeduh kopi, sembari nglinting tembakau kesukaannya. Di sanggar yang ia sebut “sarang” itu, buku-buku menjadi dinding, gambar cukil kayu dan piagam penghargaan jadi hiasan. Di situ anak-anak setingkat SD dan SMP belajar, berkesenian, serta melakukan gerakan pelestarian lingkungan. Ia menunjukkan betapa pentingnya Lumbung Kawruh sebagai laboratorium. “Saya memilih menyiapkan generasi muda dengan harapan kelak kalau sudah besar setidaknya mereka punya bekal ketika bergabung dengan karang taruna dan terjun di masyarakat,” demikian ujar Ribut.

Baginya, meski jauh dari sanggar-sanggar di jantung Yogyakarta yang tumbuh sebagai ruang temu gagasan yang riuh dengan teori, sanggar—di mana pun letaknya—adalah sebuah upaya tapa ngrame: menempuh jalan sunyi di tengah owah gingsir hiruk-pikuk zaman. Lumbung Kawruh menjadi tempat yang jika dilihat dari luar tampak liar, tetapi setelah memasukinya akan didapati “museum perjumpaan” yang menyimpan etos—barangkali juga mitos—bagaimana manusia Gunungkidul belajar kehidupan. “Sederhana, tapi kami nyaman,” kata Ribut dengan andhap asor.
Ribut Eugh adalah personifikasi dari Lumbung Kawruh itu sendiri, begitu pun sebaliknya. Demikianlah, citra yang terlihat dari sanggar ini tak lain merupakan manifestasi dari sosok pendirinya. Keselarasan itu tampak pula dari penampilannya yang apa adanya. Barangkali orang-orang bisa salah sangka karena penampilannya yang sangar. Bayangkan, rambutnya gimbal dibalut selendang biru, jambang dan jenggotnya panjang, serta kulit yang legam. Namun, anak ragil dari lima bersaudara pasangan Trisno Rejo dan Wartiyem itu sangatlah ramah, murah senyum, suaranya lembut, dan santun.
Tidak hanya itu, pemilik nama asli Ribut Subronto ini juga seorang musisi. Ia vokalis grup reggae Mbako Ijo. Itulah mengapa ada “Eugh” di punggung nama panggungnya—semacam seruan ekspresif khas lagu reggae yang boleh jadi menjadi spirit kebebasan yang ia tularkan di Lumbung Kawruh.

***
Sejarah Lumbung Kawruh tidak lahir dari sebuah manifesto besar, melainkan dari fragmen getir perjalanan perantauan Ribut di Balaraja, Tangerang. Syahdan, dalam kelananya bersama komunitas Vespa, ia menjumpai seorang anak perempuan berseragam sekolah terisak di depan tilas sebuah perpustakaan. Anak itu datang jauh-jauh demi sepotong keinginan untuk membaca, namun yang ia dapati hanya pintu yang terkunci. Perpustakaan itu telah pindah entah ke mana.
Tangis seorang anak di Balaraja itu ternyata terus berdengung di telinga Ribut. Semacam noktah yang ia dapati di tepi jalan, tetapi menjadi luka berkepanjangan bagi Ribut. Dari sana ia tatap nasib anak-anak di kampung halamannya. Maka, tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi, pada 2014 ia putuskan untuk pulang ke Ngurak Urak.
Ribut tidak punya apa-apa saat itu selain pemantik api yang senantiasa ia kalungkan di lehernya. Di kampung halamannya, kemudian ia manfaatkan lumbung desa yang mangkrak—sebuah ruang yang telah kehilangan fungsi agrarisnya, namun masih menyimpan gema masa silam.

Lumbung itu ia bersihkan dari debu waktu. Ia mengisinya dengan buku, alat tulis, alat lukis, alat musik, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Di tangan Ribut, lumbung itu mengalami metamorfosis: tak lagi digunakan untuk menyimpan padi, tetapi untuk menggelar tikar dan bertukar kawruh.
Sebagaimana diketahui, “lumbung” merupakan tempat yang secara praktis maupun eksistensial penting sebagai pertahanan masyarakat agraris di kala limbung menghadapi masa paceklik. Sehingga, di sanggar ini, kawruh menjadi kata kunci yang bukan sekadar teks, ia adalah bau tanah, ia adalah falsafah!
Ribut agaknya sadar akan bahaya yang sering menjangkiti para pencari ilmu: penyakit rumangsa isa—merasa bisa. Maka ia memilih laku isa ngrumangsani—bisa merasa. Di sana, tak ada sekat antara guru dan murid. “Yang tua momong yang muda,” katanya. Sebuah harmoni yang barangkali terdengar arkais, namun menjadi suaka di tengah zaman yang semakin bengis.

Keberpihakan Ribut terhadap anak-anak pun melampaui pagar sanggar. Ia tak segan mendatangi sekolah untuk membantu menyelesaikan perkara siswa yang terancam putus sekolah, dikeluarkan, atau mereka yang sekadar menerima hukuman kering tanpa bimbingan dan konseling. Anak-anak mendapat cap “nakal” karena terlibat pertikaian, dianggap malas karena mangkir kelas, dituding pembangkang saat berani melawan guru yang mengekang. Tetapi sekolah seperti tidak mau tahu apa alasan mereka berperilaku seperti itu, dan memilih secara sepihak memutus harapan siswa.
Ribut tidak bisa tinggal diam mengetahui soal-soal semacam itu. Ia akan bicara sebagai karib, bukan hakim. Lumbung Kawruh pun terbuka sebagai “ruang aman” untuk anak-anak yang terbuang oleh sistem. Meski tak jarang, Ribut sendiri yang menjadi sasaran prasangka; dituduh sebagai sumber pengaruh terhadap kebebasan dan kebablasan siswa. Namun baginya, membela hak anak untuk tetap belajar adalah harga telak.
Di laboratorium ini, kurikulum tidak disusun di atas kertas, melainkan dari apa yang terserak di sekitar. Ribut mengajak anak-anak untuk melestarikan alam, baik berupa menanam pohon maupun membersihkan limbah plastik. Gerakan ini ia beri nama Deruk Cemung.

“Deruk Cemung ini saya ibaratkan orang yang mau deruk (mulung) rereged (kotoran) yang dianggap sampah untuk dikelola. Kalau kita menganggap suatu barang yang tak terpakai adalah sampah maka selamanya sampah akan terus ada dan tidak bisa dimusnahkan. Kita bisanya hanya nderuki (mulungi) kemudian mengolahnya atau mengalihfungsikannya menjadi sesuatu agar tidak lagi dilihat sebagai sampah. Mengupayakan untuk memperpanjang fungsinya dengan recycle, daur ulang,” demikian kata Ribut. Hasilnya, limbah itu bertransformasi menjadi instalasi seni, robot-robotan, hingga wayang uwuh.
Tak berhenti di situ, keprihatinan terhadap kepungan sampah plastik—yang ironisnya meningkat seiring moncernya sektor pariwisata Gunungkidul—ia abadikan melalui lensa. Ribut mengajak anak-anak, muda-mudi Ngurak Urak dan sekitar Kalurahan Petir belajar memotret kenyataan di depan mata mereka sendiri. Baginya, anak-anak pelosok tidak boleh sekadar menjadi penonton; mereka harus punya suara, harus punya narasi. Maka, dengan pendekatan satire dan kritis terhadap pengelolaan sampah daerah, sebuah film dokumenter bertajuk Wisata Plastik pun berhasil diproduksi.
Ironisnya, karena pendekatan yang digunakan terlampau jujur, film itu justru tidak mendapat sambutan hangat di negeri sendiri. Namun, karya yang digarap bersama Jiwa Laut dan Ira Setiawati ini justru menuai apresiasi positif di berbagai festival dan forum film internasional, mulai dari Amerika, Prancis, hingga Jepang.

Alih-alih berkecil hati, Lumbung Kawruh justru membawa film tersebut “pulang” ke akar rumput melalui distribusi edukasi di sejumlah SD di Gunungkidul. Pemutaran film tersebut dipadukan dengan aksi nyata: edukasi pengelolaan sampah, pengenalan wayang uwuh, hingga pembuatan ecobrick. Apakah gerakan ini mendapat dukungan pemerintah? Tidak. Ribut bergerak secara swadaya tanpa berharap peran pemerintah dalam edukasi pengelolaan sampah.
Kegiatan-kegiatan Ribut di Lumbung Kawruh berjalan dengan motif yang tegas. Buku menjadi pandu. Maka, ia buat agenda Sastra Seklimah dan pameran seni rupa.
“Sastra Seklimah merupakan wadah untuk bersastra. Apa itu ‘seklimah’? Maksudnya adalah sak pengucap, saklimah, atau satu kalimat. Cekak aos—singkat tapi sangat berarti.Tetapi selain itu juga mengandung pengertian lain. Seklimah itu akronim dari Senin, Selasa, atau Setu (Sabtu) Kliwon mahanani (mewujud) untuk semua. Belajar karya sastra apa saja. Disengkuyung oleh teman-teman sastrawan dan pandhemen sastra Gunungkidul,” jelas Ribut. Gelaran Sastra Seklimah ini barangkali terlihat hanya merentangkan baris-baris kalimat, tetapi di dalamnya terkandung kedalaman rasa manusia Gunungkidul.

Sementara itu, pameran seni rupa untuk karya anak-anak SD menjadi panggung “upacara kedaulatan” bahwa estetika bukan milik orang kota, nama besar, atau galeri mewah semata. Di rumah sederhana pelosok dusun pun karya seni bisa dipajang sebagai bukti bahwa mereka ada dan tidak kalah.
Kendati di pelosok, keberadaan Lumbung Kawruh cukup diperhitungkan di kancah seni, khususnya seni rupa. Bakat anak-anak di sekitar Kalurahan Petir diasah dan dikembangkan melalui berbagai aktivitas positif di sini. Taman baca dan studio musik sederhana menjadi oase lainnya.
***
Di tengah musim kemarau yang panjang, saat para petani hanya bisa ngawu-awu—menyebar benih di atas tanah kering sambil menanti hujan dengan cemas—Lumbung Kawruh menjadi ruang permenungan. Tersimpan ingatan tentang musim dan tanda-tanda alam, agar anak cucu mau menyentuh tanah.
Gerakan ini dilakukan sakbisa-bisane, sesanggupnya. Tanpa proposal untuk mengemis, Ribut memilih berdikari membangun Lumbung Kawruh dengan falsafah Tular Srawung—suatu jejaring persaudaraan yang disangga dengan tujuh pilar: seni, rasa, akhlak, wawasan, unggah-ungguh, niaga, dan guyub rukun. Nilai-nilai itu tumbuh seperti akar pohon yang tak terlihat, namun berkelindan dengan kuat.
Lumbung Kawruh bukanlah tonggak (bersemi atau tidak), melainkan tenggok. Yang utama dalam hal ini adalah jalinannya, anyamannya, sehingga bisa menampung hasil panen kapan saja. Di bukit yang jauh itu, Ribut membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari sebuah rumah sederhana, beberapa deret buku, dan seorang lelaki yang menolak berhenti mencintai bumi kelahirannya.

Samigaluh, Februari 2026

Latief S. Nugraha, lahir di Kulon Progo pada 1989. Ia membuat puisi, cerita, sandiwara, dan artikel seputar sejarah, tokoh, dan seni. Buku terbarunya novela Autobiografi Nawang Wulan (Basabasi, 2024). Sejak 2020 ia mengelola Gawe Institut, sebuah ruang arsip sastra Yogyakarta.






