Dikarenakan saya memiliki kecenderungan menulis cerita fiksi yang menggemari pewayangan, maka pada kesempatan kali ini akan memberikan sedikit ulasan tentang kisah pewayangan yang ada kaitannya dengan daya cipta dan kreasi karya seni rupa serta perlindungan alam sekaligus dampak keindahannya bagi kehidupan manusia di muka bumi.
Cerita ini diambil dari Pewayangan Jawa Madya, yaitu kisah tentang para keturunan Pandawa pasca-perang Baratayuda, di zaman setelah Kerajaan Astina dipimpin oleh Prabu Parikesit. Alkisah, di Negara Miantipura sedang dilanda paceklik hebat. Tiga tahun lamanya terjadi bencana kemarau panjang. Tanah di negara itu mengalami kekeringan, banyak pepohonan mati, persawahan dan ladang-ladang kerontang karena hujan yang tak kunjung datang. Kelaparan melanda penduduknya, pun wabah penyakit semakin merajalela.
Pemimpin Negara Miantipura yang bernama Prabu Sulangkara kemudian mengajak para pendeta untuk memohon petunjuk dan pertolongan kepada Dewata agar negara segera dibebaskan dari bencana. Dalam puja yang begitu kusyuk dipanjatkan, Sang Raja mendapatkan ilham agar mencari pelukis yang bisa menggambarkan kembali keindahan alam dan menyenangkan dipandang mata (mooi).
Sejak itu, maka diutuslah Patih Istana bernama Arya Indra Bahu yang kebetulan memiliki anak angkat bernama Sungging Prabangkara yang memiliki kegemaran (hobby) melukis untuk melaksanakan tugas tersebut. Sang putra kemudian menerima amanat dengan sungguh-sungguh. Dia beserta para ahli gambar lainnya, selanjutnya berpetualang (artventure) ke setiap pelosok negara dan mulai menggambar serta melukis pemandangan alam (landscape) di berbagai tempat secara langsung (on the spot).
Dengan daya imajinasi yang kuat, Sungging Prabangkara mampu mengubah pemandangan yang ada di hadapannya. Dari kenyataan alam yang tandus, kering kerontang, gundul, gersang, lalu dirubah menjadi panorama yang sangat elok dan indah dipandang mata. Langit yang berwarna-warni, gunung yang membiru, pepohonan hijau, air sungai yang mengalir gemericik, persawahan subur dengan hamparan padi menguning, rakyat yang sedang bergembira memanen, ladang dengan aneka buah-buahan, binatang-binatang yang sedang merumput, burung-burung yang beterbangan dan hinggap di pepohon rimbun, ikan-ikan yang berenang di air jernih, orang-orang yang sedang beribadat, juga lukisan tentang keramaian suasana jual beli di sebuah pasar.
Betapa puasnya Sang Raja menyaksikan hasil kerja putra Patih Miantipura itu. Maka, dalam beberapa waktu kemudian semua karya seni rupa itu pun dipajang di gedung pertemuan istana dan semua rakyat diperkenankan menyaksikan pameran lukisan-lukisan tersebut. Semua pengunjung berduyun-duyun datang silih berganti. Mereka tak bosan-bosannya melihat dan mengagumi hasil karya Sungging Prabangkara serta berharap agar Negara Miantipura bisa memiliki alam seperti yang ada dalam lukisan.
Sungguh ajaib, beberapa waktu setelah pameran diselenggarakan, alam pun seperti berkenan menerima harapan rakyat Miantipura. Langit mulai menghitam dengan gemuruh membawa desau angin berhawa sejuk. Tak lama kemudian hujan pun turun membasahi tanah yang lama kering kerontang. Hujan turun dengan deras hingga berhari-hari menimbulkan banjir, tetapi tak mengapa, karena menghanyutkan kotoran yang menjadi wabah penyakit.
Berangsur-angsur pepohonan mulai menghijau, udara terasa segar, dan tanah mulai gembur sehingga dapat ditanami lagi. Prabu Sulangkara dan jajaran istana merasa bersyukur karena seluruh rakyat Miantipura telah kembali dapat menjalankan roda kehidupannya dengan gembira. Mereka berhutang budi kepada Sungging Prabangkara yang mampu mencipta karya seni dari kenyataan yang jelek dan buruk kemudian diubah menjadi hasil karya yang indah dipandang mata. Negara Miantipura kembali mendapatkan kemakmurannya dari kekuatan harapan yang ada dalam sebuah karya-karya lukisan.
***
1. Analisa Tesis
Wayang Madya muncul sekitar abad ke 19, yang diciptakan pada zaman Mataram Islam, tepatnya di Mataram Surakarta dengan tokoh penggagasnya yaitu Mangkunegara IV (Pura Mangkunegaran) sebagai jembatan cerita wayang Mahabarata India atau Wayang Purwa era Pandawa – Kurawa yang selesai pada cerita Parikesit (pasca-perang Bharatayudha). Sang avi carita (perawi / novelis) keraton kemudian menghimpun gagasan memunculkan lakon yang disesuaikan dengan konteks keadaan di tanah Jawa. Wayang Madya yang berisi kisah tentang Pemerintahan Prabu Udrayana (Yudayana / Jaya Amisena) di Kerajaan Yawastina di waktu selanjutnya bermetamorfosa menjadi Wayang Gedog yang berisi kisah-kisah perjalanan tokoh utamanya yaitu Raden Panji Asmarabangun atau dikenal sebagai Wayang Panji dengan setting Kerajaan Kediri/Daha dan Jenggala/Kahuripan dan selesai di kisah Anglingdarma.
Wayang Madya sendiri pada kenyataannya justru kurang dikenal bahkan kurang diminati masyarakat Jawa pada umumnya yang lebih menggemari cerita-cerita Wayang Purwa. Hingga sekarang, kisah-kisah dalam lakon cerita Wayang Madya jarang dipentaskan dan nyaris tak dikenal lagi sehingga referensi untuk menggarap sebuah penulisan perlu dilakukan sebuah penelitian yang lebih khusus dikarenakan ‘kelangkaannya’.
2. Hubungan Isi Cerita Wayang dengan Seni Rupa
Dari cerita tentang Sungging Prabangkara tersebut di atas, dapat diambil sebuah hipotesa atau bahkan kesimpulan bahwa cerita tentang adanya aktivitas seniman yang mengadakan kegiatan melukis dan pameran lukisan yang dihadiri banyak pengunjung dalam kisah pewayangan membuktikan bahwa pada era cerita dibuat sudah terjadi kegiatan tersebut di masa pemerintahan Mangkunegara IV. Bisa jadi adalah akibat pergaulan dengan Bangsa Eropa (Belanda) dan Gerakan Renaissance yang gaungnya sampai ke Nusantara di Abad ke 19 atau bahkan di masa sebelumnya. Hal itu tentu sudah meliputi tentang material dari aktivitas hasil olah seni yang bisa diperoleh oleh para seniman di masa itu seperti media cat lukis, tinta, kuas lukis, bahan kain atau kertas untuk media melukis, dan perangkat pendukung lain, termasuk ruang pamer dan mengoleksinya.
3. Renungan Kisah Sungging Prabangkara dan Konservasi Alam
Meski hanya sebuah dongeng masa lampau, namun dari cerita tersebut dapat diambil hikmah atau pun sebuah sintesa bahwa kekuatan imajinasi manusia dengan dukungan harapan dan doa yang sungguh-sungguh, maka semesta akan menjawab dengan pengabulan harapan-harapan (cita-cita). Hasil cipta karya seni pun bisa menjadi medium untuk menguatkan sugesti permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas suatu harapan dan keinginan agar terkabulkan.
Ardian Kresna

Seniman rupa dan penikmat literasi
Referensi :
Ardisoma. 2003. Parikesit. PT. Elexmedia Komputindo, Jakarta
R. A. Kosasih. 2004. Udrayana. PT. Elexmedia Komputindo. Jakarta
Wayang Madya – Google






