Kejadian ini saya tuturkan ulang dari cerita kang Darsono adik kandung mbah Uking (panggilan akrab simbah Sukir). Beliau adalah yang mengalami sendiri kisah nyata yang ngeri-ngeri sedap namun menggelikan.
Di suatu sore menjelang petang serombongan ibu-ibu berjalan beriringan melewati sebuah mbulak (jalan di antara persawahan luas). Mereka pulang dari sebuah acara kondangan di luar kota yang berjarak 3-4 jam perjalanan naik bus dari kota Jogja. Sudah barang tentu karena acara kondangan para ibu-ibu itu mengenakan kebaya yang bagus lengkap dengan kerlap-kerlip perhiasan mencolok. Seperti gelang,kalung, anting, tas/dompet dan seperti jepit di sanggul rambutnya.
Dasar hari yang naas di suatu petang itu tiba-tiba dua orang lelaki kekar mendatangi serombongan ibu-ibu itu. Dengan wajah digarang-garangkan mereka berdua menodongkan senjata tajam kepada para ibu. Kontan terjadi kepanikan yang luar biasa, ketika salah satu hendak berteriak minta tolong, salah seorang perampok itu mendekatkan senjata tajamnya. Seketika itu juga semua terdiam ketakutan. Kalaupun berteriak kemungkinan besar suaranya tak terdengar lantaran jauh dari pemukiman.
Dua Begal tersebut meminta para ibu untuk menyerahkan semua perhiasannya dan seluruh isi dompetnya. Dengan penuh ketakutan para ibu segera memereteli perhiasannya masing-masing. Kemudian diserahkan kepada duo Begal brengsek yang bertampang jelek dan memalukan itu. Tinggal selendang dan kebaya yang melekat di tubuh ibu-ibu. Tak satupun perhiasan menempel di tangan,leher dan telinga.
Di tengah ketakutan dan hari naas itu, mbah Uking memberanikan diri untuk bicara pada pemuda memalukan itu. Bahwa sejujurnya ibu-ibu itu kehabisan uang untuk pulang ke rumah dan hendak mencari bantuan tumpangan. Siapa tahu ada orang baik yang menolongnya. Segera dua Begal itu pun membuka dompet hasil membegal satu persatu. Ternyata memang benar hanya tersisa sedikit uang di dalam dompet.
Mbah Uking mulai berembug secara intensif khas ibu-ibu, membujuk agar duo Begal itu memberi mereka uang untuk pulang ke kota Jogja. Karena hari sudah mulai malam dan perjalanan keluar dari mbulak masih cukup jauh, rupanya Begal itu berbelas kasihan dengan memberi uang transportasi pada para ibu. Setelah agak lama tawar menawar akhirnya duo Begal itu pergi naik motor ngebut dengan penuh kemenangan.
Selang beberapa lama kemudian sebuah mobil carteran yang terlambat datang itu mendatangi ibu-ibu. Bergegas semuanya masuk mobil jemputan sambil memarahi sang sopir muda yang entah kemana saja selama acara kondangan.
Disepanjang perjalanan ibu-ibu tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian barusan yang mengerikan sekaligus menggelikan. Tawa mereka penuh kemenangan melebihi kemenangan si Begal. Ibu-ibu itu merasa dapat untung dari dua Begal sial itu. Karena segala macam perhiasan yang dibegal itu semuanya perhiasan palsu yang nggak bakal laku dipasaran. Mungkin si duo begal brengsek berpikir akan dapat untung besar dari menjual berbagai perhiasan sehingga mau sedikit merugi dengan memberi uang saku ibu-ibu.
Uang dari Begal itu mereka pakai untuk makan bersama mengisi perut lapar selama di perjalanan.
Suara tawa itu terus berderai menghiasi perjalanan pulang dan menjadi cerita seru tujuh turunan. Siapa sebenarmya yang dibegal? itulah kisah begal-begalan. Hari naas berubah menjadi HARI PUAS. Qiqiqiqiii… (S3)
NB: Saya baru paham jika dalam sebuah acara kondangan sebenarnya banyak trik yang dilakukan ibu-ibu agar tetap terlihat tampil oke termasuk perhiasan palsu dan memasukan amplop sumbangan tak berisi uang. Semuanya dilakukan agar pantas seperti peserta kondangan lainnya.






