Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu, saya dan kawan-kawan teater di Solo pertama kali memasuki ruangan yang disebut Skills Lab di lantai empat Fakultas Kedokteran UNS. Tahun demi tahun kami lewati sebagai rombongan pasien standar yang bertugas menjadi “orang sakit” di dalam ujian kedokteran. Ini adalah sebuah pekerjaan berbayar dan bernilai lumayan bagi kami yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa. Meski telah melalui beberapa kali regenerasi, masih banyak kawan-kawan saya yang bertahan menjadi pasien meski sudah lulus dan bekerja. Bahkan di sela-sela pekerjaan masing-masing, mereka sebisa mungkin tetap memenuhi tugasnya sebagai pasien standar.
Relasi dekat dalam waktu yang cukup lama dengan instansi itu membuat saya sendiri saat ini lebih sering diundang menjadi pelatih untuk para pasien, mendampingi mereka memerankan orang sakit dan mempelajari moulage (kondisi medis tiruan seperti luka, cacat, dan lain-lain). Belakangan saya banyak merefleksikan pengalaman saya sebagai pasien pura-pura tersebut agar dapat menyusun materi dengan baik. Refleksi ini menuntun saya pada kesadaran bahwa proses melatih pasien standar ini sepenuhnya bersandar pada metode keaktoran teater. Tetapi, persinggungan antara teater dan kedokteran ini sesungguhnya tidak terjadi secara instan. Jauh sebelum kebutuhan praktis ujian kedokteran diterapkan, hubungan teater dan kedokteran bukanlah hal baru dalam lintasan sejarah.
Bukan Kebetulan Bahasa
Saya sempat terhenyak sesaat setelah melihat unggahan foto Franka Makarim di media sosial yang berisi dirinya tengah menemani sang suami, Nadiem Makarim, untuk menjalani operasi kelimanya seusai dijatuhi tuntutan hukuman 18 tahun penjara ditambah denda triliunan rupiah oleh Jaksa Penuntut Umum. Pada foto ketiga dari sudut pandang kaca pintu, Franka terlihat sedang merengkuh tangan suaminya yang terbaring di dalam ruangan bertuliskan Operating Theater. Gambar monokrom tersebut terasa sangat intens, tulisan Operating Theater itu tidak lagi terbaca sama. Saya merasa seperti penonton yang sedang mengintip suatu peristiwa dramatis dengan tegangan nyata di hadapan mata, seperti ketika menonton teater realis.
Acapkali tulisan Operating Theater saya lewati saat sedang menjenguk kawan di rumah sakit. Dugaan saya, theater dalam tulisan Operating Theater hanyalah menunjukkan arti sebuah ruangan tempat berlangsungnya operasi di rumah sakit, layaknya theatron yang dimaknai oleh orang-orang Yunani Kuno sebagai ruang berlangsungnya sebuah pertunjukan. Ternyata kesamaan itu bukanlah sebuah kebetulan.
Jauh mundur ke abad 18 dan 19, dunia kedokteran modern memang mempraktikkan keilmuan mereka sebagai sebuah pertunjukan publik yang dramatis. Richard Barnett dalam bukunya Crucial Interventions: An Illustrated Treatise on the Principles & Practice of Nineteenth-Century Surgery (2015) mendokumentasikan bagaimana tindakan operasi di Operating Theater memang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat dilihat oleh para murid kedokteran bahkan masyarakat umum. Situasi pembedahan pasien digambarkan sebagai pertunjukan yang penuh sesak, bising, kotor, sekaligus dramatis: penuh dengan tangis pasien dan jeritan orang-orang yang melihat begitu banyak darah, juga riuh tepuk tangan penonton yang menyaksikan hadirnya ahli bedah layaknya seorang matador yang masuk ke dalam arena.
Pertunjukan bedah yang dramatis ini juga diabadikan oleh Thomas Eakins dalam lukisannya berjudul The Gross Clinic (1875). Seseorang yang bernama Dr. Samuel Gross tengah memegang alat bedah dengan tangannya yang berlumuran darah. Di sekelilingnya, tampak para asisten sedang melakukan tugasnya untuk melancarkan pembedahan tulang paha, ada yang memegangi kaki dan kepala pasien yang tertutup kain putih, sebagian lagi memegangi alat-alat bedah dengan tangan yang turut berlumur darah segar. Dr. Gross terlihat sangat serius, sedangkan di dekatnya, seorang perempuan memalingkan mukanya dan menangis histeris. Mereka semua terlihat lebih terang dengan semburat cahaya dari atas mereka, sedangkan para penonton melihat dengan seksama di tribun yang tampak lebih gelap. Dalam lukisan yang kini berdiam di Philadelphia Museum of Arts & the Pennsylvania Academy of Fine Arts ini, operasi bedah adalah sebuah pertunjukan yang menekankan intensitas psikologis dan kesan teaterikal kuat dengan detail-detail komposisi yang mengesankan.
Operating Theater dengan bentuk tribun arena seperti yang diarsipkan oleh Thomas Eakins dalam lukisannya memang benar-benar nyata adanya. Sebuah ruang operasi tua di London bernama The Old Operating Theater Museum and Herb Garret menjadi bukti fisik situs arsitektur medis pada awal abad 19. Ruangan ini didesain khusus seperti amfiteater tapal kuda, dengan kursi penonton bertingkat yang memudahkan penonton untuk melihat ke level bawah di mana peristiwa operasi dilakukan. Dari atas, cahaya matahari menembus atap kaca, seolah menyinari pertunjukan berdarah dan memfokuskan para penonton untuk tidak berpaling dari tempatnya.
Penemuan anestesi dan tindakan medis yang steril pada penghujung abad 19 mengakhiri masa-masa pertunjukan operasi tersebut. Joseph Lister adalah salah satu tokoh yang melakukan transformasi tindakan steril pada dunia operasi medis. Dalam bukunya, The Butchering Art: Joseph Lister’s Quest to Transform the Grisly World of Victorian Medicine (2017), Lindsey Fitzharris menggambarkan bahwa Dr. Lister menyadari banyaknya penonton, udara kotor, dan kontaminasi kuman dari tangan dokter yang tidak bersih menyebabkan infeksi hingga kematian pasien. Transformasi yang dilakukannya adalah mendisiplinkan ruang medis dengan tindakan sterilisasi melalui penemuan asam karbol sebagai antiseptik. Itulah sebabnya, Operating Theater tidak lagi terbuka bagi orang banyak, tetapi tertutup, bersih, dan steril, baik dari manusia yang tidak berkepentingan maupun dari kontaminasi kuman.
Jejak sejarah panjang antara dunia kedokteran dan teater tersebut menguatkan bahwa perasaan dramatis yang saya rasakan saat melihat foto orang di ruang operasi atau ketika melewati ruang operasi rumah sakit bukanlah sebuah kebetulan. Theater dalam Operating Theater tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ruangan khusus, tetapi juga merupakan sebuah pertunjukan, sebuah peristiwa besar antara hidup dan mati yang melibatkan hati, pikiran, dan perasaan banyak orang. Jika dulu peristiwa itu ditonton secara langsung di sebuah ruang terbuka, kini kita menontonnya lewat video atau foto yang diunggah di media sosial atau juga lewat layar monitor khusus di rumah sakit. Beberapa abad yang lalu orang-orang perlu berebut membeli tiket atau mengupayakan akses agar mendapat kesempatan menonton operasi secara langsung, tetapi kini tidak sembarang orang dapat masuk ke dalam ruangan operasi demi menjaga sterilisasi dan etika kemanusiaan. Ruang-ruang operasi kini memang telah tertutup rapat, tetapi pertunjukannya tetap berlangsung: dokter mengoperasi pasien di hadapan tim medis lainnya termasuk para koas yang belajar. Sedang di sebalik pintu ruang operasi, keluarga tengah menunggu dengan cemas. Dan kita melihatnya dari layar ponsel melalui media sosial, atau justru merekamnya dalam memori saat tak sengaja melihat peristiwa itu di rumah sakit.
Objective Structured Clinical Examination sebagai Pertunjukan Teater
Teater nyatanya tak pernah pergi dari dunia kedokteran meski ruang operasi telah ditutup rapat-rapat. Ruang pertunjukan itu bergeser di Skills Lab Fakultas Kedokteran, tempat OSCE diberlangsungkan. Objective Structured Clinical Examination (disingkat OSCE) adalah serangkaian ujian praktik yang wajib ditempuh oleh para mahasiswa Fakultas Kedokteran. Ujian praktik ini menguji kompetensi klinis para calon dokter secara objektif dan terstruktur dengan dramaturgi yang ketat. Para calon dokter yang mengikuti OSCE wajib menghadapi pasien dengan penyakit dan keluhan tertentu di setiap station, melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik serta keterampilan klinis, diagnosis, meresepkan obat, hingga melakukan edukasi kepada pasien yang sakit. Semua itu harus selesai dalam waktu 15 menit per station.
Di lantai 4 Skills Lab Fakultas Kedokteran UNS itulah, saya mengalami bagaimana setiap station OSCE menjelma panggung pertunjukan teater yang disiplin. Sekitar 12-15 station di Skills Lab adalah apa yang disebut Erving Goffman sebagai panggung depan (front stage), tempat di mana fungsi pertunjukan resmi dijalankan. Di dalam station itulah mahasiswa kedokteran dan aktor profesional memainkan perannya sebagai seorang dokter dan pasien dengan keluhan tertentu. Pertunjukan ini ditonton oleh seorang dokter/profesor sebagai seorang penguji yang menyimak jalannya pertunjukan dengan sangat detail.
Setting ruang ujian pada setiap station ditata menggunakan komposisi layaknya panggung yang sangat presisi. Kursi dokter dan pasien berhadap-hadapan dibatasi oleh meja yang berisi alat-alat kerja dokter seperti stetoskop, sfigmomanometer, termometer, spatel medis, penlight, buku obat, hingga kertas-kertas kosong dan bolpoin. Tidak jauh dari meja dan kursi dokter, terdapat satu bed medis standar, lengkap dengan lampu, foodstep, selimut, dan bantal untuk pasien. Pada station tertentu (untuk menandai suatu tindakan khusus, misalnya pasang kateter, pemeriksaan kelamin, pemeriksaan kepala dan dada), bed ini dilengkapi dengan manekin khusus yang terbuat dari silikon, bisa bagian kepala hingga badan saja, bisa bagian paha dan kelamin saja, atau utuh satu badan. Ada pula wastafel lengkap dengan sabun dan handuk kecil. Tak lupa terdapat tempat sampah berukuran kecil yang telah dipisah, masing-masing adalah sampah umum dan sampah khusus medis. Terakhir, meja dan kursi penguji berada di pojok belakang, ditempatkan sedemikian rupa agar dapat melihat semua proses pemeriksaan yang dilakukan dokter.
Setiap station sebagai panggung depan membutuhkan adanya jalinan performa dua arah antar aktor. Untuk memastikan keberlangsungannya, setiap aktor, baik dokter maupun pasien melakukan pengelolaan kesan (impression management). Dokter melakukan tindakan performatif sebagaimana seorang yang profesional dan menguasai seluruh standar operasional yang berlaku di klinik. Ia memakai jas putih, mengelola gestur dan vokal agar tetap terlihat tenang, kompeten, penuh empati, juga melakukan berbagai pemeriksaan medis sesuai prosedur. Demikian juga para pasien, mereka perlu mengerahkan kemampuan aktingnya dengan baik agar para dokter tidak keliru mendiagnosis penyakit maupun salah resep. Para pasien juga menampilkan visualisasi penyakit dengan bantuan moulage agar rasa sakit terlihat nyata. Pasien tidak boleh salah dalam menghafal naskah ujian. Apa yang tertera di dalam naskah harus dihafalkan dan divisualisasikan dengan tepat.
Jalinan performa dua arah yang saling menuntut kepercayaan tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya ruang isolasi yang jauh dari tatapan penonton. Di sinilah kemudian ruang persiapan menjadi panggung belakang (back stage), sesuatu yang didefinisikan Goffman sebagai ruang di mana kesan yang dibangun oleh pertunjukan secara sadar ditentang atau dilepaskan. Para mahasiswa dan aktor yang berperan sebagai dokter dan pasien ini melakukan semua aktivitas pra ujian di ruang yang terpisah dan tidak saling bertemu. Kedua ruang tersebut merupakan ruang persiapan Skills Lab. Bagi para aktor pasien standar, ruang persiapan ini adalah tempat untuk melepaskan semua “topeng” pasien. Para aktor dapat melakukan kegiatan persiapan seperti makan dan minum, berdandan, menghafalkan naskah ujian, latihan peran, beristirahat, hingga saatnya tiba untuk berperan kembali menjadi orang sakit selama 4 jam sesi ujian. Selain itu, ruang ini juga menjadi laboratorium evaluasi dramaturgi medis, yang memungkinan para aktor untuk saling mengoreksi takaran emosi akting, memastikan akurasi respon fisik, sekaligus memeriksa stamina fisik dan mental agar dapat menjaga fokus serta konsistensi karakter.
Apa yang terjadi di dalam ruang ujian dan ruang persiapan sebagai panggung depan dan panggung belakang tidak hanya menjadi sebuah kepura-puraan belaka, tetapi adalah upaya untuk menciptakan sebuah realitas sebagai simulasi (reality as simulation). Bagi Goffman, performa sosial di panggung depan bukanlah sebuah kepalsuan yang manipulatif, melainkan teknik mendasar bagi manusia untuk mengonstruksi kenyataan interaksi melalui pengelolaan kesan. Hal ini terlihat jelas pada apa yang ditampilkan seorang mahasiswa kedokteran, misalnya menggunakan jas putih atau alat-alat medis. Aktivitas tersebut bukan hanya sekedar memperagakan dirinya sebagai dokter semata, tetapi memaksa tubuh dan kesadaran mereka untuk meresponnya sebagai sebuah situasi medis yang nyata. Dengan demikian, setiap calon dokter di panggung depan tersebut akan membayangkan dan melakukan simulasi etika yang baik dalam kerja medis dan menjadikannya sebuah realitas, dilakukan berulang kali dan seterusnya.
Teater di Jantung Pendidikan Medis
Persinggungan antara teater dan dunia kedokteran pada gilirannya bukan hanya sebuah perjalanan transisi sejarah, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran pemaknaan yang cukup radikal. Beberapa abad lalu, dunia kedokteran menggunakan Operating Theater sebagai panggung untuk menunjukkan keahlian medis, yang sayangnya justru turut mempertontonkan rasa sakit demi sebuah rekreasi ilmiah. Kini, teater justru dipanggil masuk ke dalam jantung pendidikan medis untuk tujuan yang sebaliknya. Pada sekat-sekat ruang ujian yang dingin dan kaku itu, teater telah menjadi bagian dari instrumen pendidikan yang penting; sebuah jembatan dramaturgi yang membantu para mahasiswa kedokteran untuk menjadi seorang dokter yang tidak hanya mahir, tetapi juga mampu untuk belajar membaca dan memanusiakan manusia melalui ilmu, empati, dan etika medis yang diterapkannya kemudian. Saya rasa, empati demikianlah yang kita semua harapkan di dunia yang brutal ini.
Surakarta, Mei 2026
Penulis

Luna Kharisma adalah sutradara teater asal Surakarta dan salah satu pendiri Mirat Kolektif. Karya-karyanya banyak menggali pengalaman, perjuangan, dan resistensi perempuan dalam berbagai konteks sosial dan historis. Beberapa karya penyutradaraan yang pernah dipentaskan antara lain Trilogi Di Dalam Rumah (2015-2019), Sebuah Cerita Malam Ini (2021), Rapat Rukun Tetangga (2022), Sebagian Pertemuan (2023), Api Kartini Edisi Khusus (2023), Hantu Pada Halaman yang Hilang (2024), dan Sudut Hati Terpercik Api (2025). Selain sebagai sutradara, ia mempunyai minat di bidang musik sebagai seorang vokalis.






