Jumat, Mei 1, 2026
No menu items!

Pameran Seni Rupa “Ruang Antara”

Must Read

Kembang Jati Art House bersama Cerobong Art Management menggelar sebuah pameran seni rupa tanpa seremoni pembukaan bertajuk “Ruang Antara”, yang berlangsung pada 15–28 Februari 2026 di Kembang Jati Art House, Jl. Kesejahteraan Sosial No. 6, Nitiprayan RT 01, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Sebanyak 58 karya ditampilkan—terdiri atas 1 karya patung dan 57 lukisan—mewarnai ruang dengan beragam pendekatan visual dan tafsir batin. Pameran ini dihadirkan dalam momentum yang hening sekaligus sarat makna: menyambut Tahun Baru Imlek, bulan suci Ramadan, dan masa pra-Paskah. Tiga peristiwa spiritual yang berbeda keyakinan, namun bertemu dalam satu simpul nilai: jeda, perenungan, dan pembaruan diri.

Dalam cuplikan pengantar pameran disampaikan:

“Sebagai jeda—

saat manusia menoleh ke dalam,

menghitung kembali makna cukup, syukur, dan pengendalian diri.

Karya-karya di ruang ini tidak menawarkan jawaban.

Ia hanya membuka kemungkinan:

untuk berhenti sejenak,

mengendapkan ingatan,

dan mendengar suara yang sering tertutup oleh bising keseharian.

Ruang antara adalah tempat kita belum sepenuhnya tiba,

namun juga tidak lagi berangkat.

Di sanalah, barangkali,

kita paling jujur sebagai manusia.”

doc Meuz Prast

Ruang ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang batin—wilayah sunyi tempat manusia berdamai dengan ambisi, ketakutan, serta harapan-harapannya sendiri. Ia menjadi lorong peralihan: dari gegap gempita menuju keheningan, dari hasrat menuju kesadaran, dari ego menuju penerimaan.

Salah satu karya yang menyentuh sisi lembut tersebut adalah karya Defis, “Where Gentle Heart Rest” (40 x 40 cm, akrilik pada kanvas, 2026). Objeknya seekor anak anjing Maltipoo bernama Leo, dengan mainan ayam plastik berwarna kuning, berlatar semak dan bunga-bunga. Visual yang tampak sederhana itu menyimpan pesan tentang tempat hati beristirahat—tentang kesetiaan, kepolosan, dan keceriaan yang tidak dibuat-buat. Dalam simbol tahun Kuda Api, energi yang menyala-nyala itu seolah dijaga oleh sifat anjing: setia dan waspada, agar api tidak berubah menjadi destruktif, melainkan tetap menjadi cahaya yang menghangatkan.

Tema kuda juga hadir dalam beberapa karya lain. Alperd Roza melalui “Pegasus” (40 x 50 cm, akrilik pada kanvas, 2025) menampilkan kepala kuda bertanduk dalam gaya kubisme, berwarna abu-abu kebiruan. Bentuk yang terfragmentasi menyiratkan sekat-sekat sosial yang membingkai manusia, namun tanduk dan sorot mata kuda itu memancarkan optimisme—kekuatan diri yang tak mudah dipatahkan oleh batasan.

Ekwan Marianto lewat “Hasil Buruan” (40 x 40 cm, akrilik pada kanvas, 2025) menggambarkan seorang pria bertopi koboi menunggang kuda sambil membawa hasil buruan seekor babi hutan, ditemani anjingnya. Adegan ini bukan semata kisah perburuan, melainkan refleksi etos kerja: tentang tanggung jawab, daya juang, dan peran yang dijalani dengan keteguhan, meski kadang terasa berat dan sunyi.

Ahmad Alwi dalam “Delicious Results” (40 x 30 cm, akrilik pada kanvas, 2026) menghadirkan rumah bertumpuk lima membentuk formasi menyerupai binatang, dengan batu hitam sebagai fondasi dan seekor ikan yang terikat pada batu tersebut. Serabut-serabut tali mengelilingi objek sebagai simbol ikatan kewajiban dalam keluarga. Karya ini berbicara tentang hasil yang manis, yang sesungguhnya dibangun di atas beban, tanggung jawab, dan pengorbanan yang tak selalu terlihat.

Karya lain turut memperkaya lanskap makna pameran ini: Angga Yuniars dengan “Fire Horse Turn” (30 x 40 cm, tinta dan cat air pada kertas, 2026); Kasih Hartono melalui “Energi” (50 x 50 cm, akrilik pada kanvas, 2026); serta Meuz Prast dengan “Turangga Agni” (60 x 50 cm, akrilik pada kanvas, 2026). Sebagian karya lainnya mengutarakan endapan ingatan, refleksi spiritual, dan harmonisasi alam melalui teknik abstrak, realis, hingga ekspresif.

Nuansa surealistik tampak kuat pada karya Susilo Budi Purwanto, “Little Bird” (50 x 40 cm, cat minyak pada kanvas, 2025). Seorang anak lelaki digambarkan dengan tangan kiri memegang tangan kanannya sendiri, memiliki empat pasang sayap putih, sementara buah apel merah melayang seolah terbang di atas awan. Visual ini menjadi ungkapan tentang cita-cita: seorang anak yang memegang erat didikan orang tua, namun tetap berusaha terbang dengan sayap-sayap karunia kecerdasan dan imajinasi yang dianugerahkan kepadanya.

Pada akhirnya, “Ruang Antara” bukan sekadar pameran, melainkan pengalaman batin. Ia mengajak kita menunda penilaian, memperlambat langkah, dan menaruh perhatian pada getar-getar halus yang sering terabaikan. Di tengah peralihan musim perayaan dan ibadah, ruang ini mengingatkan bahwa manusia selalu hidup di antara—antara terang dan gelap, antara ingin dan cukup, antara dunia dan Yang Maha Tak Terlihat.

Barangkali justru di ruang antara itulah kita belajar berserah. Bahwa hidup bukan hanya tentang tiba di tujuan, melainkan tentang kesediaan menjalani proses dengan kesadaran penuh. Dalam jeda yang hening, kita menemukan bahwa yang paling abadi bukanlah gegap gempita perayaan, melainkan kemampuan hati untuk kembali—kepada syukur, kepada kasih, dan kepada Sang Sumber Hidup yang senantiasa bekerja diam-diam di antara langkah-langkah kita.

Penulis

MEUZ PRAST, Seorang Perupa muda yang aktif melukis dan berkegiatan seni rupa. Saat ini sering menjadi Master of Ceremony (MC) diberbagai hajatan seni. Perupa berpenampilan rapih lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) ini sedang sibuk berkarya. Menyiapkan pameran-pameran selanjutnya. Meuz juga gemar menulis sastra dan bersemangat menulis ulasan pendek pameran seni rupa.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Berpuasa Bersama Suara Arijit Singh

“Musik sekarang inginnya populer secara instan, bukannya menciptakan sesuatu yang orisinil; padahal itu yang akan awet.” – Lata Mangeshkar “Aku...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img