Senin, April 6, 2026
No menu items!

GARIS MERAH PUTUS-PUTUS…. TUBUH, JEMBATAN KARATAN DAN LORONG KESEPIAN HENDRA SETIAWAN

Must Read

Anatomi tubuh dan Karakter

Sore sebelum pertunjukan Hendra ada workshop untuk pemuda yang dilakukan oleh Asita. Asita memang orang yang paling santai dan eksploratif terhadap ruang, ia bisa dengan spontan mampu membangun cerita pertunjukan dan membaca teks ruang secara lain,  secara bersamaan sekaligus membayangkan memancing di sungainya ketika waktu luang. Itulah kenapa sebelum pukul 16.00 sore waktu workshop belum dimulai,  ia sudah menunggu di lokasi dengan membawa pancing, membawa buku gambar sket dan rokok. Ketika waktunya telah tiba ia sudah beranjak ke lokasi kegiatan, tetapi belum banyak pemuda yang datang. Workshop dimulai dengan sekitar pukul 16.45 bersama 4 pemuda dan 1 pemudi.

Materi workshop yang diberikan oleh Asita lebih banyak pada yang seputar teknis pengenalan pantomim melalui penghargaan sikap diri terhadap tubuh. Bagaimana mana memandang pantomim sebagai seni mengenai tubuh. Ketika pantomim dipahami sebagai seni yang berbasis pada tubuh tentu sumber, modal, cara laku yang ditunjukan akan menuntut pengolahan yang berbeda dengan cara, modal dan sumber gerak dan bahasa tubuh dalam keseharian. Selain itu tubuh dituntut untuk berlogika dan memiliki pemahaman yang benar melalui pemanasan.

Menurut Asita dalam mengolah raga jika yang dituntut adalah kekuatan maka yang dibutuhkan adalah kelenturan, jika seseorang itu lentur pasti ia kuat. Tetapi tidak berlaku sebaliknya jika berlatih kekuatan namun mengabaikan  kelenturan, maka akan sedikit berguna bagi keseimbangan kesehatan tubuh, juga terutama kegunaannya untuk pantomim.  Maka dari itu saat melakukan pemanasan Asita meminta para peserta untuk tidak asal melakukan peregangan. Ketika tahapan meregangkan otot, paras harus benar-benar memastikan regang-regangnya otot pada titik-titik tertentu yang ditarik.

Sehingga ketika melakukan gerak-gerak tertentu secara ekstrim peserta tidak mudah cedera. Begitu pula ketika membangun sebuah karakter melalui tubuh dan gerakan, peregangan akan membantu tubuh untuk siap melakukan gerak-gerik apapun. Selain memberi pemahaman terhadap pemanasan pada peregangan. Asita juga mengenalkan pengetahuan mengenai anatomi tubuh dan imajinasi. Bagaimana pengetahuan anatomi tubuh dan imajinasi tersebut memberi efek dan pemahaman modal sederhana mengenai bangunan penciptaan karakter.  Penciptaan karakter tokoh yang memanfaatkan gerak-gerik pengetahuan anatomi tubuh, dengan dan cara laku yang disadari setiap orang, ternyata mendorong dan menggali  kreativitas dan daya cipta para peserta.         

Tubuh, Jembatan karatan, dan Lorong Kesepian

            Saat Hendra Setiawan berdiri sangat lama di sebuah lorong jembatan yang panjang yang sudah tidak terpakai,  awalnya penulis merasa diajak berdialog mengenai teks lain dari ruang pementasanya. Namun ketika Hendra berdiam diri sangat lama dan tidak bergerak sedikitpun di tengah-tengah jembatan dalam tertentu, penonton sedikit gusar dan bosan namun tetap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dialog mengenai jembatan di awal lama kelamaan menjadi teror lain yang muncul tiba-tiba bersamaan teks-teks yang lahir di tengah “kebosanan”, mempertanyakan ulang jarak dan waktu, sejarah, dan kehadiran tubuh yang tidak semena-mena begitu saja lahir.

            Tubuh lahir dan tubuh bersamaan dengan teks-teks lain yang lahir dari kebosanan tadi. Tiba-tiba saja sekonyong-konyong  lubang-lubang yang tidak rata dari jembatan memiliki makna lain, besi-besi yang sudah karatan menjadi penanda yang kuat menyayat, akan waktu  ke-sepi-an dan ke-hampa-an akan eksitensinya sebuah benda telah hilang. Tiba-tiba seluruh waktu kosong dan berhenti. Tubuh Hendra mulai lahir dan tumbuh dari gerakan tubuh  berulang-ulang dan diulang-ulang; menggerakkan jari dan tangan dalam saku yang tidak bisa keluar, jatuh dan bangun, menutup kepala dengan kaus dan membukanya, melepas kaos dan memakainya kembali, bergerak maju dan mundur, gerak tangan meremas sesuatu, dengan berbagai tempo dan emosi yang berlainan.   Penonton mulai  tertawa dan gusar entah pikiran-pikiran apa yang keluar dari kepala mereka.  Terlebih saat Hendra memasukan kepala pada lubang aspal jembatan.

            Pertunjukan Hendra terbilang lama, penonton dibuat canggung, gusar, hanyut, juga ketakutan. Tidak ada yang tahu kapan berakhirnya walau Hendra telah memberi kode akhir selesai pertunjukan hal tersebutlah yang menyulitkan. Meski di akhir sesi setelah pertunjukan muncul berbagai respon yang mendalam dan berlainan dari berbagai penonton awam dalam menonton pantomim. Sebab seluruh pertunjukan yang dipertontonkan di Jembatan Edukasi Siluk menurut salah seorang ibu, membuatnya mempertanyakan ulang keyakinan dan pemahaman mengenai seni pantomim yang  telah ia mengerti; ternyata seni pantomim  memiliki berbagai wajah yang berlainan dan perbedaan tersebut yang membuatnya menarik untuk ditonton.    

             Sementara beberapa penonton muda yang sorenya mengikuti workshop.  Mereka berpendapat, saat menonton pertunjukan Hendra seperti dapat melihat kedalaman ukuran Jambatan, teror magis dari dari lubang-lubang yang lebih muncul saat direspon oleh pertunjukan, dan ketahanan tubuh yang memikat dari seorang aktor yang berada diatas jembatan mati yang sudah tidak lagi digunakan untuk aktivitas. Mereka bergidik dan merenungkan dan mempertanyakan sesuatu mengenai ke-hidup-an dan ke-lahir-an sebuah “ruang” melalui tubuh yang bergerak dan mampu menggerakan sesuatu di sekitarnya yang dianggap atau telah di- “mati”–kan fungsinya meski masih eksis sebagai ruang.

Sedayu, 28 Desember 2018 

Ficky Tri Sanjaya. Seorang Aktor Pantomim dan Teater, Tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil menggeluti berbagai macam seni yang membuat daya kreativitasnya terus tumbuh hingga sekarang. Bulan Desember ini Ficky bersama kelompok Parisukaria berpentas keliling di Negeri Sakura, Jepang.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Salam dari Bertiga Tralalalaa…

Kami berteman sudah lama. Dua dekade lebih telah berlalu, dan waktu terus menguji dalam pertemuan dan perpisahan tapi kami...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img