Senin, April 6, 2026
No menu items!

Komang Margiono: Melipat Badai, Membentang Nada

Must Read

Ia bertahun-tahun bertahan hidup di koridor Malioboro, menyanyikan reggae di gerbang gang Pasar Kembang, terjerat kelindan marijuana sehingga harus terkurung di lapas, hingga menjadi awak kapal dan menaklukkan badai tak bernama di laut lepas. Di sepanjang perjalanan itu, baginya hanya nyanyian yang bisa menjadi kompas penyelamat jika ia tersesat.

Namanya Komang Margiono. Secara administratif, akta kelahirannya mencatat tahun 1982, namun ia kerap berseloroh bahwa hidupnya yang asli dimulai pada 1979. Ia tumbuh di Kemetiran Kidul, sebuah perkampungan padat di pusat Kota Yogyakarta. Ia anak ragil dari lima bersaudara.  Ibunya seorang sinden, sementara ayahnya pengrawit, yang mengiringi jalannya cerita ketoprak RRI era Den Wardoyo. Dengan kata lain, sejak dalam ayunan ia telah diasuh alunan laras pelog dan slendro—sebuah warisan seni yang menubuh dan menjadi denyut dalam kesehariannya.

Sekolahnya berpindah-pindah, mulai dari SD Ngupasan 2—yang didominasi anak-anak polisi, SMP Bopkri 2, hingga SMA Putra Samudra. Di sekolah pelayaran inilah ia belajar navigasi kapal yang kelak membawanya melanglang buana. Ia sempat melanjutkan kuliah di Universitas Ganesha Magelang, juga di bidang pelayaran, namun studinya kandas di tengah jalan sebelum sempat mengenakan seragam perwira.

Sejak belia, laut seperti sudah memanggilnya. Cita-cita Komang sejak kecil menjadi marinir. Namun ayahnya menentang—tak ingin anaknya hidup “dikontrak negara”. Merasa tak mendapat dukungan, hubungan anak dan ayah itu pun merenggang. Komang memilih keluar rumah.

“Kamu laki-laki,” pesan ayahnya, “apa pun yang terjadi, kamu harus bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri.”

Malioboro dalam Tiga Babak

Akhir 1990-an, Malioboro bukan sekadar jalan bagi Komang; melainkan ibu asuh yang keras. Ia menjadi penjaga gerobak kaki lima dengan upah 15 ribu semalam, tidur beralaskan ubin emperan toko yang dingin. Untuk menyambung hidup, ia juga menggambar sketsa dan ngamen. Ia gabung dengan Komunitas Pengamen Jalanan Malioboro (KPJM). Di situ ia bertemu tokoh-tokoh jalanan, hingga musisi-musisi “lintas iman”.

Lagu-lagu Nirvana sempat menjadi teman setia bagi hari-harinya yang kelam di Malioboro. Namun, sebuah kaset Bob Marley yang ia terima sebagai hadiah ulang tahun menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah musikalitasnya. Sejak saat itu, ia beralih ke musik reggae dan mulai bergaul dengan para musisinya, seperti Sendi Kowena, Steven Coconut, hingga komunitas Slankers di Yogyakarta.

Sambil menyambung hidup dengan berjualan Vespa dan aksesorisnya di kawasan Pasar Kembang, ia tak pernah berhenti menyelami musik. Kedekatannya dengan denyut kehidupan di sana melahirkan Sarkem Percussion, sebuah kolektif musik yang hingga kini setia mengeksplorasi ketukan jimbe dengan teknik dan tempo yang terjaga.

Namun, garis hidupnya tak selalu selurus sumbu filosofi antara Tugu Pal Putih dan Keraton Yogyakarta. Kehidupan jalanan menyuguhkan sisi gelap yang sulit dihindari. Komang mengakui dirinya pernah tersesat di simpang jalan hingga harus berurusan dengan hukum pada 2009. Ia ditangkap bersama delapan orang lainnya dengan barang bukti dua kilogram ganja.

Keadilan rupanya tak menyentuh semua orang dengan cara yang sama. Di saat enam rekannya bebas karena kuasa harta dan jabatan, Komang dan dua kawan lainnya dipaksa tunduk pada ketukan palu hakim. Ia lantas menghuni Lapas Kelas IIA Gracia—sebuah tempat yang ia sebut dengan seloroh getir sebagai “proyek percontohan Asia Tenggara untuk kasus narkoba.”

Vonis tujuh tahun akhirnya terpangkas menjadi dua tahun tujuh bulan, berkat grasi dan dukungan solidaritas kawan-kawan mancanegara yang ia kenal di Malioboro.

Selama di balik jeruji, sang ayah memegang teguh pesannya: tak pernah sekali pun ia datang membesuk, hanya suara lewat telepon di tiap hari Lebaran. Seolah memang menunggu kepulangan anak bungsunya, tepat seminggu setelah Komang menghirup udara bebas, sang ayah tutup usia.

Seperti mendapat dua hukuman, selepas itu semua, Komang bertahan hidup lewat apa pun yang bisa dikerjakan, termasuk mengelola limbah manusia. Kedekatannya dengan isu sanitasi membawanya bekerja untuk BORDA, sebuah NGO asal Jerman yang berbasis di Karimunjawa. Pengalaman inilah yang mengubah perspektifnya; ia tak lagi melihat dunia melalui citra satelit Google Maps, melainkan melalui embusan angin dan garis cakrawala yang nyata.

Lepas ke Laut Lepas, Pulang ke Laras Irama

 “Indonesia itu enggak seperti yang kita lihat di peta,” ujarnya. “Banyak gugusan pulau kecil tak bernama yang bisa hilang kapan saja.”

Dari Karimunjawa, ia berlayar menembus Pasifik, menyusuri samudra hingga ke Australia dan Panama dengan kapal Yak bermesin ganda dan layar tiga—kapal yang didesain untuk keliling dunia. Di lautan, ia menemukan pengalaman yang sukar dijelaskan, “Kalau sudah lepas dari pantai, rasanya seperti di luar angkasa. Dunia lain. Apalagi kalau badai datang,” ceritanya sembari berkelakar.

Sepuluh tahun ia berlayar. Rindu pada musik menariknya kembali ke daratan.

Riuh rendah gamelan di rumah masa kecilnya tak pernah benar-benar pergi; bunyi itu telah menetap menjadi denyut nadi dalam karyanya. Di mana pun berada, ia selalu menyelipkan ruh gamelan ke dalam musiknya. Di Karimunjawa, kreativitasnya membuncah saat ia menyulap tabung gas kapal menjadi instrumen musik yang tiada duanya.

Kini, ia tak lagi mengejar samudra raya dan memilih untuk “mengalir” layaknya irama reggae. Bagi Komang, reggae memiliki dua jalur: party dan roads. Ia memilih yang kedua—sebuah perjalanan panjang yang menuntut kemerdekaan diri. “Rambut gimbal saya ini sudah 15 tahun,” ujarnya. Namun, baginya reggae bukan sekadar urusan rambut. “Banyak yang enggak tahu, reggae itu bukan cuma soal Bob Marley dan rambut gimbalnya. Kalau cuma urusan rambut, Cak Sodiq New Monata juga gimbal,” selorohnya diiringi tawa.

Bagi Komang, yang membuatnya bertahan bukan musik semata, tapi pertemanan yang tumbuh di dalamnya. “Bukan berarti saya kaku dan idealis. Saya enggak mau pulang dengan tangan kosong,” katanya tanpa basa-basi. Prinsipnya sederhana tapi tak gampang: pulang ke rumah harus membawa hasil yang nyata. Hidup, menurutnya, adalah soal perpaduan antara cinta dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Ungkapan itu seolah mengoreksi romantisme pada seni yang “murni”. Komang menyadari, hidup bukan hanya soal idealisme, tetapi harus berpijak pada tanah dan bisa olah-olah di dapur. Tidak semua hal bisa dibayar cuma-cuma dengan tepuk tangan.

Setelah melampaui riuh jalanan dan luasnya samudra, Komang kini menemukan muaranya dalam musik dan ketenangan. Baginya, hidup adalah perjalanan panjang di antara ombak dan irama, di antara kebebasan dan tanggung jawab—alon-alon waton ayem. Ia ingin menuliskan kisah hidupnya, mungkin segera, atau butuh waktu entah berapa lama lagi.

Yogyakarta, Agustus 2025—Maret 2026

PENULIS

Latief S. Nugraha, lahir di Kulon Progo pada 1989. Ia membuat puisi, cerita, sandiwara, dan artikel seputar sejarah, tokoh, dan seni. Buku terbarunya novela Autobiografi Nawang Wulan (Basabasi, 2024). Sejak 2020 ia mengelola Gawe Institut, sebuah ruang arsip sastra Yogyakarta.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Salam dari Bertiga Tralalalaa…

Kami berteman sudah lama. Dua dekade lebih telah berlalu, dan waktu terus menguji dalam pertemuan dan perpisahan tapi kami...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img