Memori itu masih terngiang hingga kini. Ketika aku masih kecil, bapak sering mengajakku ke kota dengan sepeda jengki plantangan. Aku duduk di depan, sementara bapak mengayuh pelan. Sepanjang jalan, ia menunjuk bangunan demi bangunan yang kami lewati, seolah sedang...
Jalan Kecil Menuju Pulang: Dina Oktaviani
tumbuhlah, tumbuh patahkupatah yang berjalaninikah jalan kecil itu, dina?tak seorang pun bisa menjadi bulandi langitlangit rumah yang menyalakan putus asakejatuhan seperti kaki raksasaterbelahbelah & kutelan reruntuhandaratan ini menjorokku hingga angin terakhirtanjung sialan, ketika kujauhi...
BULAN SEMPURNA DI WAJAH LAUT
Akhirnya kita berhenti di siniSebuah pantai kecil yang sepiLengkap dengan serakan sampahSeperti rumah kita yang kerap pecahDan berhamburan sampai ke halaman
Bulan menggantung di langitDan bulan di muka ombakSementara lampu kamar kita masih nyalaMenunggu tubuh kita...
Nyanyian dari Teluk Cenderawasih
Laut di sini tidak biru, ia bening seperti mata nenek yang menatap masa lalu tanpa dendam. Di atas perahu, para nelayan mendengar desir ombak seperti bisikan dari arwah yang pernah tenggelam bersama mimpi tentang kebebasan. Sagu...
Aku memiliki bedil dalam mulutku. Bedil itu tumbuh dalam diriku sejak aku dalam kandungan ibu. Pelatuknya hanya akan mengetuk peluru keluar apabila aku bersuara kencang, dengan kata lain, berteriak.
Bisa kalian bayangkan, bagaimana brutalnya kondisi ruang bersalin saat aku lahir....
Disaksikan daun pintu yang terkunci dan gorden jendela motif bunga birkin yang melambai tertiup kipas angin_yang setia tengok kanan kiri serupa kepala kiai yang mendengungkan tahlil_adegan pembuka dimulai. Runi memelorotkan celana dalam Ron dengan manja ketika cecak...
Untuk keperluan studi, aku kembali tinggal di kos-kosan. Kos baruku milik sebuah keluarga berisi sepasang suami istri dan seorang anak perempuan seusiaku. Ibu kosku memiliki enam ekor kucing. Setiap kucing memiliki kisahnya masing-masing. Seringkali kulihat setiap sore Ibu memberi...
GEGURITAN MEI EFENDI
LAYANG KANGGO ANGGRAINI
AnggrainiWaspamu deres miliNgelepi kadigdayan ing badanku sakujur
Ing kana wanci kang padhaSandiwara tresnaku-tresnamuDigelar maneh ing panggung-panggung tonil
O emas mirahku….!Aja kok takokake rasane nresnaniAku wis ora ngertiSabab sekabehing wektuWis kebegan dening kapangOra ana kang cicirDak kuncupake katresnan...