Mengakhiri Bengkel Mime Ke Timur
Menempuh perjalanan ke Timur tidaklah dekat dan mudah. Bayangan indah pulau-pulau jauh di Indonesia hanya pernah terbayangkan anak-anak ketika sekolah dasar dan menguap seiring berjalananya waktu. Tidak kurang 2 kali perjalanan kereta, 5 kali penerbangan pesawat, lebih dari 10 kali menaiki angkot atau mobil sewa untuk masuk kedaerah-daerah pelosok jauh di Ambon (Wara, Morela, Hila) ataupun Nusa Tenggara Timur (Kupang dan Kefa).
2 minggu lebih sedikit untuk menempuh waktu, berkerjasama, berbagi pengalaman, bahu-membahu dengan para seniman lokal, yang bekerja ekstra keras, menata jadwal yang super ketat dan disiplin mewujudkan peristiwa dan perjumpaan dialog seni bersama melalui serangkaian workshop, diskusi dan pementasan. Melihat dan merasa begitu luas, kaya dan pluralnya daerah-daerah di Nusantara. Melihat Jawa begitu kaya dan dimanja serta begitu terbatasnya infrastruktur serta dukungan seni di daerah-daerah jauh, namun keterbatasan tersebut tak lantas membuat kreatifitas senimanya mampus.
Ruang-ruang seni di pulau-pulau jauh tetap bergerak dengan optimis meski dengan gaung kecil. Meyakini bahwa seni masih memiliki ruang tampung bagi kekecewaan dan kebahagiaan bagi kewarasan bersama, saling memahami akan arti pentingnya nilai kemanusian yang melapaui batas wilayah, ras, etnis, gender, usia, agama, politik, ekonomi, yang terkadang membelenggu dan menghambat perjumpaan antar manusia. Sampai berjumpa lagi Timur Indah, bangga menjadi nusantara. Salom
Selanjutnya….
Bengkel mime ke Medan (10 – 17 Oktober 2018)
10 Oktober 2018
Kali ini Bengkel Mime Theatre memiliki agenda membuka jejaring komunitas seni di Medan Sumatra Utara. Penjajakan ini diharapkan agar mengenal lebih dekat bagaimana iklim kesenian dan masyarakat penikmat seni di Medan secara langsung. Agenda kami di Medan ini tidak begitu panjang kurang lebih satu minggu. Tim yang berangkatpun hanya dua orang dan menyiapkan beberapa nomor baik kelompok maupun pementasan tungal. Kami berangkat pagi sekali dari rumah pukul 04.00 menuju Bandara mengejar keberangkatan penerbangan pertama. Pesawat dari Jogja transit sebentar di Halim sebelum meneruskan perjalanan ke Medan, Tiket yang kami dapat tidak begitu mahal sekitar 800 ribu. Tepat pukul 09.30 sampailah kami di Kualanamu Medan, lanjut turun dan keluar Bandara.
Kami mecoba untuk menaiki Kereta Bandara, yang konon baru dan murah untuk bisa membawa dari Bandara menuju kota Medan dengan harga 100 rb pertiket, pemesan 3 tiket mendapat diskon 20% dengan jarak tempuh 29,9 KM. Hampir saja kami tidak bisa menaiki Kereta Bandara sebab pembayaranya adalah non tunai, beruntung salah satu dari kami memiliki kartu ATM yang masih terisi cukup untuk pembelian tiket. Jarak tempuh kereta Bandara kurang lebih 45 menit dengan kecepatan kurang lebih 60/70Km/jam tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Keretanya cukup bersih dan tenang, tempat duduknya lelusas dan kaca pemandangan lebih lebar, nikmat untuk menikmati suasana Medan.
Namun tampaknya momen menikmati saat ini beralih menjadi dokumentasi, para penumpang lebih asik berselfi ataupun memotret dari pada menikmati momen yang tak berulang dan harapannya abadi dengan kehadiran smart phone yang mampu mengabadikan peristiwa. Tapi seakan peristiwa hanya berlalu begitu saja, secepat kilat beralih menjadi fosil. Waktu seakan-akan langsung pindah dari masa kini ke masa lalu? Orang-orang hidup di masa kini tetapi langsung meloncat ke masa depan, melalui masa lalu dalam smart phone. Manusia menjadi serpihan dari lintasan-lintasan waktu, ia sudah tidak utuh. Nampaknya Ada gejala Smartphone akan lebih Smar dari Manusianya. Smartphone mungkin akan membuat manusia kehilangan keterampilan inderawinya dan interaksi langsung dengan alam hidupnya.
Yang langsung tampak jelas dan mencolok dari Kota Medan adalah landschape arsitekturnya yang menarik. Landschape tanahnya sejajar, namun struktur bangunannya bertingkat berderet dan antar bangunan tampak saling bertabrakan atau bertumpuk. Struktur arstektur ini hampir berlebihan jika dibanding Jakarta, tetapi sedikit memiliki kesamaan, Arsitektur Jakarta lebih angkuh dan megah, tetapi Medan tampak lebih lembut dan terbuka. Medan di Zaman kolonial adalah pusat kota yang letaknya ada di Lapangan Merdeka.
Ketika turun dari stasiun kota Medan langsung terkejut pula melihat suasana jalanan, yang berbeda sekali dengan kota-kota di timur, atau di Jawa. Mobil lebih banyak di pakai di kota medan dari pada motor. Sehingga di jam-jam tertentu, meski jalan-jalan di kota lebar, tetap saja macet parah. Ojak menjemput kami di muka stasiun, ia seorang Aktivis teater lulusan Hukum, tapi sedang menempuh S2 Penciptaan di Universitas Sumatra Utara, Ojax bergerak di Rumah Karya Indonesia diamana banyak komunitas-komunitas seni anak muda Medan lintas disiplin bergabung, sebagai ruang bersama untuk berbagi ide dan gagasan, menyelenggarakan beberapa perhelatan festival- festival budaya besar secara swadaya salah satunya adalah Jong Batak.
Ojak mengajak kami ke pusat kota di Jl. Ahmad Yani (Kesawan) dimana hanya arsitektur kolonial bercokol. Karena jam sudah siang rupanya ia tahu kami kelaparan, oleh karenanya ia mengajak kami mencicipi makanan khas Medan yang populer, yaitu soto Kesawan. Soto ini ketika jam makan siang tiba sangat laris sekali, sehingga kami harus mengantri berdiri untuk bisa duduk dan pesan makanan. Soto Kesawan bersandingan dengan roti chanai yang penjualnya adalah orang india. Soto Kesawan ini agak unik kuahnya satan, mirip dengan soto betawi, yang didalamnya terdapat isi jeroan usus, iso, udang, daging sapi, paru, dan ayam, dengan nasi, satu piring kecil sambal dan jeruk nipis. Ditambah Roti chanai khas India yang adaptasi Indonesia seperti martabak bedanya dengan kuah kari, acar, bawang merah, putih dan cabe hijau.
Siang-sore kami istirahat di kosan yang telah disiapkan oleh Ojak. Malamnya kami di jemput oleh teman-teman volunter yang membantu acara ke Taman Budaya Medan. Lokasi Tamn Budaya tidak jauh dari Kosan kami dan juga pusat kota. Lokasinya tidak begitu luas tetapi ada satu panggung besar, panggung terbuka kecil dan auditorium ruang pamer karya, dan beberapa kantor divisi-divisi seni. Kami singgah di sana sebentar sebelum kemudian ke Aceh Corner, tempat nongkrong mahasiswa dan komunitas seni. Pemiliknya juga adalah salah satu dari anggota komunitas seni. Di aceh corner mencoba kopi Sanger, kopi susu dengan campuar kuning telur ayam kampung dalam proses membuatnya. Rasanya cukup nikmat sebagai perkenalan.
Ada Stigma di masyarakat bahwa Sumatra Utara atau Medan identik dengan Batak dan 5 marga besarnya. Hal tersebut benar jika di desa-desa daerah dimana marga-amarga tersebut tumbuh. Tetapi di kota Medan secara etnis masyarajatnya telah berbaur dan plural. Ada Batak, Cina, Jawa, Keling, Aceh, dan banyak lagi. Sumatera Utara merupakan daerah yang besar sebab terdiri dari 20an Kabupaten. Konon gubernurnya yang baru saja terpilih dari kalangan militer, menurut kabar yang terdengar memerintahkan tembak ditempat bagi mahasiswa yang melakukan demo.
Dimalam hari diatas pukul 21.00 kota Medan sudah mulai sepi, sebelumnya kami telah diajak teman-teman Medan keliling kota, mendatangi Istana Maiumun, melintasi tugu Patasi pendiri kota medan, Tugu kolam peringatan pembantaian orang-orang yang dianggap Komunis, kantor balai kota yang konon katanya daerah wilayah sosialita, komplek pelacuran di Jl. Gajah Mada, Bak Penyimpanan Air kota dan kemudian pulang untuk tidur.
Malamnya sebelum tidur Andy mainan hape, dan tetiba tidur pulas,mendengkur dan mengigau munkin ia masih kecapekan karena perjalanan. Saya tidak bisa tidur hingga larut malam, di tempat kost ini ada beberapa kamar dan ternyata terkadang tetangga sebelah ramai sekali seperti ada tamu dan berbicara lumayan keras di telinga. Hingga larut saya beru bisa terpejam dan paginya sedikit gerimis. Di televisi mengabarkan kecelakaan dan banjir di sekitar Sumatera Utara.
11 Oktober 2018
Pagi hari yang basah, kami segera besiap untuk mandi dan ke Taman budaya medan. Ojax datang menyusul di kost kami. Kost kami di lantai atas, jadi kami harus melewati tangga turun dan keluar, ada dua kunci yang kami pegang. Pertama kunci gerbang luar dengan gembok dan kedua pintu kamar kost. Diluar meski sempat gerimis suasana jalan dan jual-beli tampak ramai di pinggir jalan. Karena kost tidak jauh dari Taman Budaya kami jalan kaki melewati pintu belakang, kami akan sarapan dulu. Langsung menuju kantin. Segera memesan kopi dan makan nasi rames. Andy makan soto karena dia ingin makanan yang berkuah dan panas. Setelah makan kami sempat berbincang sebentar untuk ngobrol apa yang akan kita lakukan hari ini. Ojax hari ini masih ada studi S2 sehingga dia tidak bisa menemani, nanti akan ada teman-teman yang menyusul ke kantin, sekitar siang Ojax baru kembali.
Teman-teman yang akan membantu selesai kami sarapan baru datang beberapa di kantin, mereka juga memesan kopi dan sarapan. Ada Subhan, Amik, Satria dan Ridho, Aku sempat menyambangi mendengarkan obrolan mereka sebentar. Sebelum akhirnya menuju ke lokasi persiapan. Pagi seusah selesa sarapan, kami mempersiapkan tempat sambil menunggu beberapa barang datang, hingga menuju siang, ada beberapa anak lagi menyusul ada Indra, debonk dan adik Subhan. Karena ada 4 reportoar tunggal dan dua reportoar duet. Saya mencoba mengobrol dengan Andy bagamana cara yang enak menonton pertunjukan kita. Kami memutuskan memilih beberapa spot dan berpndah-pindah setiap pergantian reportoar. Setelahnya kami coba memasang back drob hitam ataupun putih sebagai backgroud latar pada beberapa spot ruangan yang kami pilih. Kemudian menutupnya atau menghiasnya, di beberapa titik spot kami menambah level. Selain level kami juga membayangkan titik lampu panggung dari mana saja sumbernya. Kebutuhan properti atau setting apalagi yang kami butuhkan di lokasi. Sebelum berangkat kami memang memiliki kebiasaan tour untuk melist semua kebutuhan, baik yang dibawa mandiri maupun kebutuhan di lokasi sehingga memudahkan kami berkordinasi dengan teman-teman di komunitas dimana tempat kami pentas.
Agak siang Ojax mulai datang dan sempat berkordiansi dengan teman-teman teater komunitas yang membantu kami ada teater Cetra, Stigma, Tisa. Setelahnya kami jalan naik grab menuju tempat makan, siang itu kami makan di warung bakso langganannya Ojax dengan pacarnya. Ojax memang jarang kulineran, jika tidak dengan pacarnya. Kadang ia harus bertanya pada pacarnya dulu lokasi makan yang enak. Setelah dari bakso kami kembali kelokasi, dan melanjutkan sedikit beberapa spot panggung yang belum selesai dan melengkapi kebutuhan set dan properti juga menata penambahan lampu. Agak soerean kami istirahat dan beberapa beberapa kawan komunitas mencoba mengajak kami menuju ke tengah kota untuk menengok ke rumah museum untuk Chong Avi. Seorang saidagar china kaya yang sangat di hargai oleh masyarakat yang hidup di zaman kolonial, ia memiliki sekitar 1200an pegawai dan katanya memberi upah yang layak bagai para pegawainya.
Kota medan ternyata jika sore sangat macet, tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Sehingga kami harus mencari jalan berputar untuk menuju ke tengah kota. Sambil perjalanan seperti biasa saya melihat bangunan-bangunan lama yang masih tersisa di pingir-pinggir jalan. Banguna-bangunan tersebut seperti akan bercerita akan kenangan dan masa lalu namun tidak mampu. Bangunan tersebut hanya membisu dalam kekosongan bersama lumut hitam yang menempel di diding tempok. Jalan-jalan kota di Medan tampaknya berukuran lebar dan lenggang menandakan bahwa mungkin dulu kota ini merupakan sebuah pusat perdagangan. Sesampainya di Chong Avi ternyata kami sudah tdak bisa masuk karena kesorean. Kami hanya bisa melihat-lihat di halaman depan rumahnya. Tampak bangunan dan isi bangunan sangat terawat bersih, penjagaanya juga ketat dengan cctv di beberapa titik area. Banyak sekali simbol-simbol gambar, patung dan motif konfusianisme.
Alhasil karena kita tidak dapat masuk kami meneruskan untuk pergi ke Masjid besar di depan istana maimun. Dimana konon katanya masjid dan istana ini memiliki lorong yang menghubungkan keduanya. Andy dan beberapa kawan masuk kedalam Masjid saya tidak tahu apa yang mereka perlihatkan dan yang di lihat Andy. Tidak tahu mengapa saya tidak tertarik untuk masuk ke masjid. Saya justru tertarik menaiki jembatan penyeberangan di samping masjid besar yang menhubungkan beberapa simpang jalan. Karena sore tersbut sudah hampir menjelang magrib, jadi seperti umumnya di kota-kota di Indonesia, jalan raya sangat padat orang pulang dari kantor. Arus kepadatan orang tersebut sangat menarik perhatian saya, karena begitu banya manusia menjadi representasi kondisi kebutuhan dan geliat kota Medan saat ini. Saya mengambil gambar masijid besar dari tangga penyeberangan ini, juga beberapa spot perlintasan kota Banyak bentor berjajar di penggiran masjid, juga orang berjualan. Di jembatan penyebarangan dimana saya berdiri menatap suasana, saya melihat seorang anak sepertinya autis dan tidak terawat ia mondar-mandir jembatan penyeberangan dan sepertinya histeris melihat keramaian.
Setelah puas merasakan suasana di atas jembatan penyeberangan kemudian turun, dan mencoba berkomunikasi dengan orang tukang bentor di Medan sambil meminjam korek merokok menunggu teman-teman yang masuk ke masjid. Setelah dari masjid, kami mencoba mencari makan malam disekitar arah stadion, saya kurang tahu persis naman jalannya. Sambil mencari pulsa internet karena pulsa internet Andy habis, jadi kami harus berputar-putar mencari Indomaret karena tidak nemu penjual pulsa di pinggir jalan yang sesuai, tapi ternyata hape andy tetiba error tidak tahu kenapa internetnya tidak jalan atau mungkin terlalu penuh data, sehingga musti di servis. Meski andy tampak gusar karena kondisi hapenya dan menayakan bagaimana solusinya jika di servis dan berapa lama, dan seperti apapa nanti kondisinya, tetapi tampaknya lebih menyenangkan jika dia tidak memegang hape sebab, selama hapenya aktif ia selalu saja mainan hape dan tidak terkadang tidak tanggap sekali dengan kondisi lingkungan dan menyebalkan.Sambil sesekali Satria di telepon oleh pacaranya karena menunggu untuk berangkat ke sebuah acara. Tetapi kami sempat singgah makan di sebuah kafe, yang menjual makanan berkuah, sebab Andy ingin makan makanan berkuah. Saya, Andy, Subhan dan Satria.
Kami kembali ke Taman Budaya bertemu dengan Ojax, setelahnya kami berpisah dengan Satria dan Subhan, kami melanjutkan jalan bersama Ojax. Ojax mengajak kami nonkrong di sebuah warung gaul pinggir jalan, disana menjual aneka menu yang sama seperti teh tarik dan indomie, atau jaggung bakar dan roti. Kami memesan teh susu, telur khas Medan, saya mencoba melihat proses pembuatan teh susu tersebut yang menggunakan kuning telur kampung ditambah susu diblander dahulu, hingga keluar busanya, lalu di guyur dengan saringan teh rencong, Minuman teh yang hangat untuk malam. Agak sedikit amis tapi nikmat. Ojak memesan indomie untuk makan malam dan kemudian memesan sate yang lewat. Kami ngobrol mengenai atsmosfer seni di Medan dan komunitas-komunitas seni baik di Medan maupun di luar. Andy sangat fokus dan serius mengobrol mengenai seni dan komunitas yang tumbuh Independin di Kota-kota, salah satu program bersama yang ia gagas dan tumbuh bersama teman-teman muda yang menggunakan media seni sebagai langakah gagasan kerja bersama dengan masyarakat di beberapa daerah kota. Malam ini obrolan cukup bekualitas, sebab mungkin karena Andy tidak memegang Hape, meski Ojax lawan bicaranya yang kemudian kadang kedodoran mengikuti topik karena sesekali membuka Hape. Selesai pulang kami naik Grab menuju kost. Ojax mengobrol dengan supir Grap yang tampak seorang batak, kemudian ternyata supir tersebut barasal dari daerah yang sama denganya namun berbeda marga. Supir tersebut menjadi teman yang menyenangkan untuk teman ngobrol pulang. Meski Batak supir tersebut menikah dengan orang China dan perkawinan percampuran antar etnis yang berbeda di Medan sudah menjadi hal yang biasa katanya.
12 Oktober 2018
Malam Ojax menemani kami tidur di kost. Karena sudah terlarut malam juga untuk pulang. Pagi itu Ojax pergi duluan karena harus ke kampus. Kami menyusul bangun dan juga bersiap-saiap menuju Taman Budaya. Kami membawa serta barang-barang, kostum, serta properti untuk pertunjukan. Pagi itu aku sempat ngopi sebentar sambil menunggu teman-teman komunitas medan. Setelah datang kami mencari sarapan di luar, karena Andy ingin makanan yang berkuah dan merasakan lontong Medan. Andy pagi itu badanya tidak enak ia juga menitip untuk beli Minyak kayu putih. Setelahnya kami melanjutkan menata set dan properti yang kurang, menutup seluruh ruang pintu masuk dengan backdrob berwarna hitam dan mepersiapkan buku tamu serta riflet mengenai pertunjukan Mandala pantomim dan beberapa nomor karya yang ditampilkan. Sore itu ada workshop dan pementasan yang ternyata tidak banyak sekitar 4-6 orang yang hadir, entah karena kurang promosi atau karena panitia kesulitan mencari penonton. Alhasil workshop kemudian mepersilahkan panitia untuk ikut terlibat. Saya yang memberi materi workshop, sore itu saya mengenalkan joged amerta pada teman-teman sebagai pembuka worksho, yaitu menyapa alam, setelahnya bergerak bebas, kemudian masuk materi teknis menganai gerak pantomim. Setelah workshop ada pementasan di sore hari, kami memainkan 3 reportoar pendek. Penonton yang datang hanya 2 seorang ibu dan anaknya serta teman-teman panitia. Meski begitu kami tetap bermain.
Setelahnya acara kami menanyakan kenapa hal tersebut bisa terjadi, workshop dan penonton tidak banyak yang datang dari kalangan anak-anak sekolah. Kata teman-teman komunitas mereka telah berusaha mengajak dan mengundang beberapa sekolah untuk terlibat, tetapi katanya beberapa sekolah seperti menutup diri. Sebab beberapa komunitas teater yang mendampingi anak-anak sekolah, yang telah di undang untuk terlibat katanya telah memiliki agenda lain dan para murid pasti telah diagendakan untuk menonton pertunjukan yang mereka gelar. Selain itu juga bersamaan dengan semacam jambore anak-anak sekolah. Apapun itu sore itu kami sedikit kecewa dengan teman-teman komunitas Medan. Meski begitu kegiatan tetap berjalan, pasti tetap ada evaluasi berasama nanti di akhir seluruh rangkaian acara, hal tersebut juga merupakan bagian proses komunikasi berjejaring dan bekerjasama bersama komunitas yang berda-beda disiplin kebudayaanya.
Malam harinya kami melakukan pementasan lagi, 4 reportoar tunggal Mangkat Dadi Asu, Piknik, Berburu dan PertemuanSeusai Hujan, dua pertunjukan kelompok Tukang Cukur dan Perpisahan Terjadi dimana-mana. Penonton yang hadir cukup banyak dan antusias meski tidak penuh. Kata seorang penonton seusai pertunjukan dalam obrolan ringan, pertunjukan Bengkel Mime sayangat menyegarkan, karena sudah lama tidak ada pertunjukan pentomim di Medan setelah Milan Siladek yang katanya pernah singgah dan melakukan workshop di tahun 80-90an. Harapannya pertunjukan Bengkel Mime menjadi pemantik lagi untuk tumbuhnya komunitas pantomim di Medan. Selain obrolan itu ada beberapa obrolan teknis terkait bentuk pantomim dan pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep pertunjukan karena menurut beberapa orang meski bagus pertunjukan pantomim Bengkel mime menurutnya tidak lumrah.
Seusai acara kami berkemas, bersih-bersih, mengembalikan beberapa properti yang diambil dari sekitar Taman Budaya, dan mengamankan beberapa kebutuhan alat-alat yang penting seperti lampu, dimer dan sound. Sambil istirahat saya, beberapa penonton dan teman-teman komunitas mengobrol tipis-tipis lebih dalam jongkok dipinggiran aula mengenai pertunjukan sambil menunggu, teman-teman lain berkumpul dan kemas-kemas selesai. Setelahnya kami menuju untuk makan malam. Kami makan mie Aceh di dekat maskas Rumah Karya Indonesia (RKI) dimana Ojax dan kawan-kawanya sering menggagas festival-festival yang berbasis masyarakat secara independen. Kami makan sambil ngobrol santai, evalusi sedikit mengenai acara, dan menyusun perjalanan untuk piknik bersama.
Rencananya kami akan jalan ke Danau Toba malam dini hari sehingga pagi sudah ada disana. Ternyata perjalanan di malam hari meski lancar tetapi panjang dan berkelok. Kurang lebih 3 jam perjalanan dari Medan menuju danau toba, melewati berastagi. Ada Ridho dan Amik dan Indra kalau tidak salah ikut serta dalam mobil. Dari percakapan santai yang riuh di dalam mobil hingga tidak ada suara sampai di lokasi karena hampir semua tertidur. Pukul 05.00 kami sampai di tepia danau, yang lain sudah tertidur. Pagi itu ternyata agak rintik gerismis. Kami berada di pinggran danau toba di daerah Tao Silalahi seberang samosir, karena danau toba memang luas.
Saya sudah bangun dan langsung keluar monil meninggalkan beberapa teman yang masih asyik tidur. Udara sangat dingin menggigit, apalagi disertai hujan rintik dan suasana masih samar karena masih agak gelap. Terkesimalah oleh hamparan peggunungan yang menjulang gelap ditutupi kabut, air danau yang tenang, dan angin yang menusuk. Ada beberapa unggun api, setelah agak terang ternyata di pinggiran danau banyak anak-anak muda mudi dengan tenda menginap di pinggirnya. Saya dan amik menepi ke pinggiran di sebuah warung kecil dan memesan segelas kopi. Sambil duduk dan menunggu hujan reda, juga yang lain bangun dari tidurnya.
Setelah rintik agak sedikit reda dan semakin terang, mencoba untuk kepinggir danau menyapa air dan alam, dengan bergerak. Ada banyak ikan-ikan kecil mati, pengunuan yang tinggi tersebut ternyata berwarna hijau muda dengan hamparan yang saling menyambung luas ada beberapa batu besar yang tertancap/ tertimbun. Arus danau tampak menyimpan energi yang kuat, arus diatasnya tenang namun di dalamnya yang tampak oleh mata bergerak kuat. Kembali kewarung dan bertanya kenapa ikan-ikan itu mati, katanya karena ombaknya kecil, jika ombaknya kecil beberapa ikan kecil akan mati. Ojax mengajak untuk berpindah warung setelah mengobrol dengan yang punya sebentar yang sudah saling mengenal karena salah satu festival yang diinisiasi RKI salah satunya dilakukan di pinggir danau tersebut yaitu seribu tenda.
13-17 Oktober 2018
Pagi itu kami mewancarai Ojax di warung sebelah, karena di pinggiran danau toba telah berdiri beberapa warung baru yang di bangun warga pasca acara yang diselenggarakan RKI karena setelah acara masih banyak pengunjung wisata berdatangan dilokasi tersebut yang sebelumnya sepi, sempat ada obrolan mengenai persoalan pengelolaan sampah ketika banyak pengunjung dan warung telah berdiri, juga mengenai pengelolaan toilet dan beberapa dinamika yang mincul pasca ramainya wisata Tausilalahi pasca acara seribu tenda. Kami mewawancara Ojax untuk keperluan kepenuliasan kota-kota bersuara, melalui berbagai kegiatan yang di gagas RKI , pengelolaannya, sistem kerja, serta visi dan misi kelompok tersebut dengan menyantap mie kuah yang hangat pengusir dingin yang menggigit. .Ikan-ikan kecil mati, karena dan bangkainya mengapun di pinggiran danai. Kata para pemilik warung ikan-ikan tersebut mati karena kekurangan oksigen, dan arus ombak yang kuat dari dalam danau.
Agak siang sedikit kami naik di atas bukit dan menatap pemandangan dari sana keseluruh danau. Sambil bercakap mengnai sejarah dan tokoh-tokoh sastra yang bersal dari Medan yang saat ini tidak banyak anak muda dari beberapa komunitas yang menyertai kami ke TOBA, mengenalnya. Salah seorang yang kami bahas adalah Amir Hamzah dan Sitor Sitomurang. Kami menghabiskan waktu bersantai cukup lumayan di bukit, sebelum akhirnya turun dan melihat muda-mudi berkasih-kasihan dibawah. Sebelum pulang kami sempat mengambil beberapa gambar besama, dan menuju monumen Silalahi. Yaitu monumen mengenai asal-usul kelahiran marga Silalahi. Kami sempat ditanya oleh penduduk yang tinggal disekitar monumen bersal dari mana. Disekitar monumen tersebut ada makam sakral dan rumah adat yang besar tetapi sedang diperbaiki jadi kami tidak bisa masuk untuk melihat. Tidak lama kemudian kami pulang, Selama perjalanan pulang kami melihat hamparan penggunungan, danau, rumah-rumah penduduk, pertanian, batu-batu yang tertanam di bawah yang rata tanah pegununganbanyak, sungguh indah dan mengesankan.
Kami sempat mampir di pinggiran atas untuk menikmati luasnya hamparan gunung dan gambaran danau toba seperti dalam gambar di mata uang rupiah yang pernah muncul. Kami mampir di sebuah warung di pinggir pasar, melewati keramayaian pasar yang khas, hasil bumi, dan ada babi guling pula. Kami istirahat makan sebelum kemudian meneruskan pergi ke rumah adat di desa Dokan Tanah Karo, dimana Ojax dan kawan-kawan Rumaha Karya Indonesia pernah menginisiasi festival yang bersumber dari cerita lisan masyarakat Karo yaitu “ Penususira” proses penurunan ‘sira’ berarti garap yang berada di tiang atap rumah adat masayarkat karo. Kami berjalan-jalan dan masuk kedalam rumah yang di dalam satu rumah adat di isi oleh beberapa keluarga, dengan sekat kain, berisi kamar, lemarai, juga dapur dalam satu tempat. Ada banyak anjing berkeliaran, anak-anak masih bermain bersama di tanah, laki-laki masih sering bermain catur dan nongkrong di warung untuk mengopi. Sedikit banyak mendegarkan cerita dari salah satu keluarga yang tinggal disana, seorang mamak dan anaknya yang telah menjadi pemuda dan sekolah. Yang menceritakan tentang pengambilan kayu-kayu, penopang dalam pemabangunan rumah adat disana. Bagaimana leluhur mereka memilih kayu-kayu di tengah hutan dalam, memilih pohon yang paling besar, membawa sesaji, dan lat musik untuk berkomunisi dengan leluhur dan roh penunggu pohon, agar kayu pohon yang akan diminta dapat dipotong dan dibawa pulang, dan memberi berkah bagi penghuni. Tidak terlalu dalam kami mengobrol dan bercerita tentang adat dan budaya Karo, tampaknya perlu banyak membaca untuk mengetahui lebih dalam tradisi masyarakat Karo yang telah hidup ratusan tahun hingga saat ini.
Setelah dari Dokan kami mampir ke berastagi dirumah pengasingan Bung Karno, bagaimana menlihat sosok bung Karno yang seorang penyokong nasionalisme di zaman pergerakan berkenalan dengan landskap kebudayaan masyarakat Sumatera Utara Khususnya di Berastagi sebelum kemerdekaan. Mampir di sebuah warung kopi di dekat taman rekreasi keluarga di berastagi yang indah, duduk sambil mendengarkan lagu-lagu barat dan video klipnya diputar di layar televisi. Tidak lupa kami mampir di pasar yang menjual hasil bumi dan oleh-oleh. Seperti umumnya dan lumrahnya orang melancong, kami membeli beberapa syal, baju dan gelang untuk tanda mata bagi keluarga dan teman-teman. Sebelum kemudian meneruskan perjalanan yang berkelok-kelok dan panjang dengan antrian kendaraan membelah pegunungan bukit barisan yang kokoh dan mistis.
Sebelum ke Markas RKI kami mampir dahulu bentar mengantar Ojak untuk mengambil barang kebutuhan untuk di bawa ke markas RKI. Sesampainya di markas RKI kami memesan makanan sebagai makanan santapan malam penutup sebelum tidur. Andy langsung naik keatas bersama Ojak, mereka setelah makan tidak kelihatan kemana. Saya masih di lantai bawah, untuk makan dan tak berselang lama datanglah datanglah dokter Robert salah satu orang yang di tuakan di RKI kami mengobrol, seru tentang berabagai topik, mulai dari pengalaman saya melihat kota Medan dengan struktur bangunananya, percampuran budayanya, sejarahnya, dan ruang tumbuh seni yang dapat hidup dalam stuktur kota yang majemuk seperti di Medan. Cerita pengalaman perkenalan tubuh saya di danau toba, melihat gelombang air danau yang kuat di dasar air tetapi tenang di atasnya, banyaknya batu-batuan besar yang tertimbun tanah seperti makam-makam kuno, tibalah tanggapan dokter Robert yang bercerita Asal-usul nenek moyang orang Batak yang menurut dongeng bersumber dari batu atas ledakan gunung yang kemudian menjadi danau toba, lahirnya manusia pertama Sisingamangaraja. Bagaimana sastra lama seperti pantun batak itu betapa halusnya dahulu, maka cerminan kasar orang batak seperti tokoh-tokoh yang populer di jakarta (Hotman Paris, Ruhut Sitompul, Luhut Binsar, dll) itu seharusnya bukan representasi karakteristik masyarakat Batak pada umumnya yang sesungguhnya keras tapi halus. Kami bercerita pula soal tanah adat di sekitaran Danau Toba, bagaimana nanti nasib membawanya pada ranah kekuasaan politik negara. Semoga Danau toba masih tetap lestari dan menyimpan misterinya, terhindar dari rakusnya kekuasaan yang ingin mengubahnya menjadi pariwisata artifisial dan tidak berdampak pada kultur peradaban masyarakat yang membangun.
Penulis

Ficky Tri Sanjaya. Seorang Aktor Pantomim dan Teater, Tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil menggeluti berbagai macam seni yang membuat daya kreativitasnya terus tumbuh hingga sekarang. Bulan Desember ini Ficky bersama kelompok Parisukaria berpentas keliling di Negeri Sakura, Jepang.






