- Enam Tubuh di Petang yang Cukup Teduh
Akhir Januari, dan kau menggenapi sebuah undangan menyaksi, menonton parade pantomim yang diadakan Yayasan Rumah Pantomime Yogyakarta di IFI. Setelah menimbang ulang untuk memakai tebal jaket dan sepatu, sebab kau ingat pendingin ruangan di sana cukuplah amat, kau pun berangkat. Sesampai di sana, halaman depan, yang biasa dipakai untuk menanti, sudah tak genap ramai; dan kau paham, para penonton sudah masuk ke dalam ruang pertunjukan. Di luar, di halaman, kau sejenak duduk dan beramah tamah dengan kawan-kenalan yang masih ada di sana; dan lantas masuk ke dalam—setelah mengisi buku tamu dan diberi izin panitia masuk di saat yang tepat. Itu kali, kau menduga, terlampau telat; tetapi untung saja kau masih sempat menonton nomer pertama. Ya: kau hanya luput pembukaan seremonial-formal. Itu kali, sebab datang agak terlambat, kau duduk di tepi, di sisi kiri dari area penonton, dekat dengan tangga lalu-lalang dan hampir tepat di bawah pendingin ruangan—

Pertunjukan pertama dibawakan oleh Arief Wicaksono dengan judul karya “Mobil Balap”. Di atas panggung, telah ada sebuah kursi. Dan, tak lama, setelah pengantar pembawa acara, masuk Arief dengan pakaian serba hitam; dan memakai riasan putih. Ia mengawali adegan dengan membuka pintu; lantas berganti pakaian yang perlahan memunculkan imaji bahwa ia berganti kostum pembalap. Senyap: tanpa musik, tanpa suara. Ia lantas masuk ke dalam mobil imajiner yang diciptakannya dari gerak teatrikal. Kursi, yang sudah ada sejak mula itu, akhirnya genap menjadi kursi mobil balap. Dengan tangan dan juga jemari, juga wajah yang berekspresi, dia membuat imaji tentang tombol dan spidometer: imaji ruang dalam mobil balap. Lalu, balapan pun dimulai! Dengan sepasang tangannya, ia membuat gerak, mencipta imaji mobil-mobil yang berkejaran jarak. Ah, bagimu, dua tangan itu membawamu pada sejenis pertunjukan di dalam pertunjukan; sepasang matamu yang besar oleh komik mendapati jika itu seperti panel di dalam panel. Dan bagimu, hal menarik lainnya adalah munculnya suatu ilusi bunyi: seperti terdengar suara wuuus dan ngeeeng. Ya, di beberapa sisi, ada pergantian sudut pandang: sudut pandang penonton balapan dan kamerawan yang mengambil gambar. Ah, sikut yang menjelma kamera! Tentu saja, mobil yang dipakai oleh Arief menang; dan adegan disusul perayaan khas pembalap. Namun, meski tetap betah menyaksi, kau bayangkan apabila teknik dan imaji konflik bisa lebih intens. Amat menarik, kau bayangkan bila lintasan balap yang dimunculkan lebihlah ekstrem—sehingga ketegangan balapan itu dapat semakin tebal! Lintasan balap yang berkelok tajam dan menanjak tebal, mobil yang jauh tertinggal tetapi berkeinginan mengejar kuat, juga ekspresi pembalap dalam mobil yang lebih berhasrat… Ah, kau bayangkan bila itu dimunculkan, betapa kemenangan di akhir atau bahkan kekalahan pun akan punya suatu lebih arti. Pendramatisiran, imaji yang diliarkan, dan teknik serta tubuh yang siap, agaknya, akan membuat mobil balap itu bukan sekadar mobil yang membalap.

Pertunjukan kedua dibawakan oleh Yuristavia dengan judul karya “The Cook”. Lampu kembali padam setelah tadi sejenak menyala untuk membacakan judul dan penampil. Kemudian, yang tampak hanya lampu sorot yang menembak ke tengah panggung. Yuristavia pun masuk dengan kostum berwarna-warni tanpa riasan putih di wajah. Adegan dimulai dengan gerak kecil lembut tapi penuh penekanan; dan, di sepasang matamu, itu terasa berbatas tipis dengan tari. Celemek yang dipakai olehnya mempertegas judul yang dibacakan pembawa acara. Lalu, adegan bangun tidur, dan gerakan yang mencipta imaji ruang; dan dalam imaji di kepalamu, ia tengah mencipta suatu ruang, ruang dapur dengan penuh rak dan meja, juga sebuah kompor. Gerakan-gerakan yang dimunculkan, olehnya, dalam kepalamu, terbaca sebagai serangkaian gerakan memasak. Kepalamu terbawa kepada suatu imaji realis; meski ada spaktakel-spektakel berbobot komikal yang menjadikan terasa karikartural. Namun, di tengah berlangsungnya pertunjukan, kepalamu masih meraba dan betah memunculkan tanya: Apa yang ia masak sesungguhnya? Namun, imaji realis itu, yang dibawa ke arah komikal, bagimu, seketika jadi buyar saat Yuristavia memakai adonan imajiner itu menjadi pakaian, menjadikannya baju dan celana. Lalu, musik yang sejak awal tadi lembut mulai memberi penekanan lebih pada emosi tegang. Dan, titik balik bagimu yang menyaksi adalah ketika adegan membelah dada: lalu mengambil jantung, usus, dan organ dalam lain lalu memotongnya dengan pisau imajiner. Tubuhmu yang sudah agak hangat sebab jaket akhirnya merinding: realis itu menjelma jadi surealis, lalu simbolis. Tanyamu yang mula, tanya tentang apa yang ia memasak, bertambah menjadi apa ia sungguh memasak masakan, dan apa masakan itu untuk dimakan atau ada kemungkinan lain? Kata memasak pun bagimu jadi begitu lain, jadi metaforis-metonimis. Puncak yang sungguh membuatmu merinding dan terjebak pada magi adalah ketika ia melepas celemek dan menyatukannya dengan rangkaian adonan. Kain itu telah jadi adonan, jadi suatu liar dan liat imaji. Dan celemek itu… dijelmakan bayi! Lalu, ia menimang-nimang; dan perlahan lampu pun padam. Pertunjukan rampung, tetapi begitu bergema, bergema…

Pertunjukan ketiga dibawakan oleh Dinda Avilia dengan judul karya “Ngejar Apa Sih?”. Ia, itu kali, memakai kostum jas kotak-kotak, bercelana pendek, dan memakai riasan putih. Adegan dimulai dengan bangun pagi. Kursi sebagai properti kembali ditambahkan. Musik membangun suasana dan tempo. Dinda, setelah genap terbangun, lantas tenggelam dalam kerja mengetik. Jari-jemari itu, bagimu, berhasil mencipta imaji bekerja di depan laptop, laptop imajiner. Ia pun bangkit menuju ke sisi panggung kanan; memberi imaji kulkas atau rak penyimpanan benda-benda di sana. Dari kulkas atau rak itu, tampak diambilnya dua kaleng minuman; lalu kembali tenggelam dalam kerja mengetik. Minuman itu lekas dihabiskannya—dengan suatu penekanan dramatis. Lalu, adegan pun berulang: mengambil minuman kaleng, meminum, dan tenggelam dalam kerja mengetik kembali. Imaji ruang makin tebal terasa; meski masih memberi opsi yang agak luas, kamar rumah besar atau kosan kecil. Lalu, tempo naik dan naik. Namun, di momen yang demikian, kau sayangkan, tempo itu tak genap sampai kepada puncak yang chaos; meski titik muak dan mempertanyakan lagi apa yang dikerja sudah dan genap terbaca-terasa. Musik pun membantu membangun suasana… Dalam pergeseran adegan itu, mata dan juga kepalamu mendapati pergantian ruang imajiner; dan meski tak terlalu menganggu, tapi titik pijakannya terasa tak konsisten secara teknis. Adegan liris keluar rumah jadi dramaturgi penting. Dengan dan melalui adegan berjalan pantomim itu, Dinda menyuguhkan suatu tawaran: ada yang sering luput sebab terlena pada rutinitas. Memaknai pun menjadi suatu yang luput untuk ditimbang. Adegan memberi makan kucing itu, pun mengeluakan makanan kucing dalam kemasan saku, terbayang jelas dalam kepalamu: tampak begitu indah. Judul dan aksi itu saling mengisi! Ah, andai imaji ruang, tempo, dan penekanan dramatis lebih ditingkatkan, kau bercuriga “Ngejar Apa Sih?” jadi bukan hanya tanya yang bergema, tapi menjadi ajakan memaknai. Konsistensi pada pintu masuk-keluar, skala ruang, dan pergeseran menjadi suatu yang layak ditimbang—

Pertunjukan keempat sore itu dibawakan oleh Jamaluddin Latif dengan judul karya “Berbusa”. Setelah senyap pergantian, Jamaluddin Latif masuk dengan pakaian putih-hitam, kemeja putih dan celana kain hitam. Ia tak memakai riasan. Adegan diawali dengan ia yang tengah men-setting mikropon imajiner dengan tiangnya. Adegan komikal kecil, tentang tak kencangnya mik itu, berlaku beberapa kali: sebagai suatu pembangun imaji. Ia berulang pula merapikan pakaian, dan memberi kegelisahan pada penonton pula. Ia yang tak berias, bagimu, malah memberikan kesan topeng tersendiri: topeng yang lain. Lalu lampu padam! Adegan yang sungguh bermula baru terlaksana. Serangkaian gerak menjelmakan panggung itu seperti sebuah mimbar, seperti podium bagi seminar atau kampanye politik. Musik yang muncul pun membangun kesan yang mengganggu: kesan yang disturbing. Kau seperti digoda untuk pergi, tetapi juga ditahan untuk betah menonton. Semakin ke belakang, tempo Jamaluddin mengelap busa di bibir makin naik, makin menjadi-jadi. Penonton diberi peran sebagai penonton: ada adegan percakapan imajiner tanya-jawab meski ganjil. Ya, Jamal terus mengoceh, meski tak terdengar keluar kata-kata dari mulutnya; dan tampak seperti seorang yang berkomat-kamit—dengan sesekali, tapi dalam arti sering, membelakangi penonton: mengusap-bersihkan busa liur. Intensitas pun semakin naik dan naik, semakin memuncak dan memuncak; ditambah dengan musik yang mendukung. Lalu, musik berganti jadi gelembung air! Ruang yang tampak realis menjelma surealis… Imaji yang tergambar di kepalamu menjadi ia tenggelam oleh omongannya sendiri, oleh busa kata-katanya sendiri, oleh janji-janjinya. Imaji tenggelam itu diperkuat dengan gerak tubuh Jamaluddin yang mencoba berenang dan mencoba keluar dari air. Ah, bagimu, tubuh itu jadi begitu berbunyi, akrobatik tapi terasa amat pas… Tubuh yang mengesot-bergeliat itu begitu memukau dirimu. Ah, apa kami, para penonton ini, juga tenggelam oleh omongannya? Bagimu, yang realis pun jadi surealis! Busa pun menjelma balon busa yang pecah! Ia terbangun; dan itu semua mimpi, tapi ia kembali ke titik awal: pertunjukan pun menjelma suatu siklus!

Pertunjukan kelima dibawakan oleh Doddy Micro dengan judul karya “Tak Ada Telur, Ayam pun Jadi”. Tentu, riuh penonton meningkat! Ia masuk dengan celana dan rompi merah, kemeja, sarung tangan dan sepatuh putih, juga riasan putih. Di pertunjukan itu, bagimu, yang menarik adalah bagaimana dimunculkan narator—meski hanya melalui sound. Dengan cara demikian, bagimu, cerita, bila mesti dikata sebagai cerita, jadi jelas-kentara; meski konsekuensinya, aktor pantomim jadi sejenis wayang bagi si juru cerita imajiner itu. Cerita yang dibawa oleh Doddy sederhana: seorang yang hendak sarapan dengan telur ayam, tapi telurnya tak ada. Adegan pun bergulir dari sana. Tampil Doddy yang menuju kandang ayam, spaktakel tentang senapan dan salah ambil barang, lantas kejar-kejaran dengan ayam yang kabur. Tentu, serangkaian adegan komikal itu membuat ruang riuh dengan tawa; pun dirimu. Menonton itu, kau seperti dibawa kembali pada pengalaman menonton seri Lonney Tunes dengan suatu yang didekat-karibkan. Telur itu didapat, akhirnya, dengan cara yang aneh dan memecah gelak tawa lagi; dan dimasak-digoreng. Dan, semua itu tampil dengan gerak tubuh yang begitu mencuri perhatian. Lalu, saat hendak dimakan Doddy, dengan gerak pantomim, sebab gangguan narator, telur goreng itu pun malah dimakan si ayam, dimakan oleh si induk. Tragedi berbalut komedi! Dan pertunjukkan dipungkasi adegan pengkonkretan judul yang utuh: tak ada telur, ayam pun jadi! Si induk pun disembelih, dimasak, dan dimakan… Dan, meski akhir cerita sudah dijelaskan dari dan melalui judul, yang berarti penonton sudah tahu akhirnya sejak mula, tapi adegan pamungkas itu tetap saja berhasil memecah keriuhan tawa: tawa yang sebenarnya getir pula!

Pertunjukan keenam, sekaligus pertunjukan terakhir di sesi petang, dibawakan oleh Endereza dengan judul karya “Dokter Jiwa”. Ia masuk dengan pakaian rapi, dengan setelan berjas coklat, serta rias putih. Sebelum genap memulai nomernya, ia menyapa penonton: memecah kebekuan dengan permainan kefokusan. Sekalian yang hadir pun turut serta bergembira; dan, setelah siap, Reza mulai masuk dalam pementasan dan pertunjukannya. Lampu tak padam, dan dia bermain di panggung depan, tak di panggung atas; jarak dengan penonton dekat, meski tetaplah berada di depan. Ia memunculkan suara, tapi bukan dari kata-kata; melainkan dari peluit kecil—yang menjelma penekanan-penekanan. Dan, dari sana ke belakang, kau kembali disadarkan bahwa pantomim itu memang hiburan; tapi hiburan yang seperti yang mesti dicari, digali, ditelusuri. Adegan mula, dan gerakan yang menyertai, hadir sebagai pembangun ruang imajiner: ruangan untuk praktek dokter. Ia memakai jas praktek dokter; dan peluit itu jadi penekanan titik-titik komikal. Kemudian dimunculkan imaji pintu; lalu dihadirkan seorang pasien imajiner: seorang ibu hamil! Lalu, adegan bergulir tentang proses persalinan. Adegan itu dilimpahi spaktakel; dan penonton riuh tertawa; tentu kau juga. Lalu, pertunjukan pun diakhiri dengan spaktakel dari bayi kedua yang lahir dalam persalinan; dan dari peluit yang lamat-lamat itu pun tak hanya terdengar sebagai bunyi, tetapi juga kata-kata. Ah, peluit itu bisa dibawa pada bunyi-bunyi lain ternyata… Sepanjang menyaksi, kau sadar, sesuatu yang umum pun bisa menjadi menarik, bila keumuman itu digarisbawahi dengan tebal, dengan amat tebal—

Kemudian, setelah enam pertunjukan itu, ada sesi diskusi kecil-kecilan; dan kau menyimak itu sejenak sebelum keluar. Di luar, kau berbincang kecil-kecilan dengan beberapa kawan-kenalan; berbincang tentang pertunjukan tadi, dan bayangan akan pertunjukan nanti, juga pertunjukan-pertunjukan lain yang kemarin. Kemudian, kau genap sejenak bergeser; dan hendaklah kembali saat dekat sesi kedua, sesi yang dilaksana kala malam, dan menampilkan sembilan pertunjukan.

- Sembilan Tubuh di Malam yang Merengkuh
Setelah sejenak menepi, kau kembali ke IFI, untuk sesi kedua parade pantomim yang diadakan oleh Rumah Pantomim Yogyakarta dengan tajuk Sowan itu. Dan kau mendapati halaman depan dan ruang registrasi itu semakin ramai dan padat. Ah, orang-orang makin banyak hadir. Sambil menanti jam masuk, kau berbincang-bincang kecil; dan sadar, sebagai sebuah seni pertunjukan, pantomim bisa mengumpulkan sekian banyak juga ternyata. Kau, yang dibesarkan studi sastra dan bahasa, meski lahir dari keluarga penampil, terpukau tentang bagaimana pertunjukan tanpa kata bisa membuat orang berkumpul dan riuh berbincang-bincang. Ah, atau malah sebab itu…? Di sesi kedua, itu malam, kau ambil posisi duduk di sisi lain, di sisi seberang ketika sesi pertama tadi. Di situ, dingin lebih terasa; kau kancingkan jaket jin hitammu, jaket pemberian itu—
Pertunjukan pertama di sesi malam, yang bagimu sudah menonton sejak petang menjadi nomer ketujuh, dibawakan oleh Aldi Adriansyah dengan judul karya “Marry Me 1899”. Aldo, yang di sesi petang jadi pembawa acara, di sesi malam pun jadi penampil pertama; dan pembawa acara pun diganti panitia lain. Itu kali, sebagai mula, sebagai sentakan sebelum genap pementasan, setelah disebut nama, terdengar musik pembuka khas John Cena; dan masuk Aldo dengan gaya tingkah penampil-pegulat. Ia memberi salam ke penonton sekalian. Itu kali, ia memakai setelan serba putih dengan topi koboi coklat. Kostum itu, bagimu, memberi imaji tubuh yang kian besar-lebar; terlebih ketika kau timbang dengan postur Aldo di luar panggung. Dan kesan yang demikian memberi kesan pendek pula. Dan ya; ia jadi tampak lebih lebar, tetapi lebih pendek… Imaji itu, bagimu, menjadi suatu yang menarik dipandang. Setelah genap salam pembuka, pertunjukan dengan nomer itu dimulai! Musik country terdengar; dan memberi imaji tentang dunia yang jadi setting cerita. Setelah gerak yang memperkuat citra ruang dan semesta imajiner, Aldo memunculkan lawan main imajiner melalui adegan dansa dan melamar. Adegan bergulir mesra sebelum konflik tiba! Kekasihnya dirampas; dan perlahan, meski terpresentasi dengan cepat, pertunjukan bergerak jadi pertempuran antarmafia, antarfamilia. Adegan pertarungan itu memukaumu; meski kau bayangkan adegan itu bisa lebih dramatis menekan; mengingat tubuh Aldo, setahumu, bisa mempresentasi hal itu. Dan tentu, efek suara makinlah menjadi! Adegan akhir itu, bagimu, terasa kuat: sebab adegan balas dendam bergerak labil antara berhasil dan tidak. Dendam terbalas, tetapi kekasih tak lagi digenggam tuntas. Imaji cincin di akhir, bagimu, begitu terasa! Ah, andai imaji cincin itu ditebalkan lagi, kau bayangkan meski hanya imajiner, cincin di akhir bisa kian berkilau, meski berlumur darah kepedihan. Ah, adegan memunculkan siluet itu pun bagimu begitu membekas: siluet yang dicipta-dimunculkan dari lampu senter dan jemari Aldo. Ah, batinmu, jika teknis itu lebih pas, seperti ditembak pada dinding yang lebihlah rata, kau membayangkan efeknya akan makin menjadi…

Pertunjukan kedua itu malam, yang berarti pertunjukan kedelapan yang kau saksi pada itu hari, dibawakan oleh Ghani FM dengan judul karya “Wahana Meja Makan”. Lampu global padam; dan lampu sorot menembak bagian tengah pamggung. Ghani masuk, dan berdiri di sana, di titik terang lampu itu. Ia memakai kaos belang hitam-putih, celana pendek, dan riasan putih. Musik mengalun lembut; memainkan melodi “Selamat Ulang Tahun”. Ia keluarkan sebuah topi ulang tahun imajiner dari balik tubuhnya; lantas memasang di kepala: topi dengan tali yang menyelip di antara dagu. Dan, bagimu, adegan itu bisa benar genap terbayang. Dengan gerak eksplorasi, Ghani mencipta ruang, mencipta setting bagi pertunjukan: tempat laku peristiwa dijalankan: ruang pesta yang meriah. Ah, kepalamu, yang suka iseng itu, tergoda juga membawa judul Ghani itu ke naskah Afrizal Malna, “Pertumbuhan di Atas Meja Makan”. Namun, serangkaian gerakan yang ditampilkan Ghani, itu kali, lebih membawamu pada satu babak di Lab Obah #3: Sejenak Berhenti, babak di mana Ghani tampil tunggal, yang kau saksi di Agustus tahun lalu. Adegan ulang tahun itu bergulir… Kerja membagikan roti, yang sudah dipotong, yang awalnya komik, menjadi sejenis tragik; lalu pelukan dari seorang tamu, lalu hadiah berkerdus besar yang di dalamnya ada kardus-kerdus yang terus mengecil: dan di akhiri dengan hadiah yang sekadar hanya. Tubuh itu, tubuh Ghani yang layu, mengikuti irama melodi lagu. Lampu sejenak padam, hening, lalu menyala kembali. Lagu melirih, dan Ghani melepas topi ulang tahun imajiner itu; dan lampu genap padam: pertunjukan selesai. Namun, gema dari pertunjukan itu begitu terasa: Untuk apa semua perayaan dan laku ini sebenarnya? Ah, andai kata emosi halus tapi menekan itu genap bisa dijaga, kau bayangkan gema diakhir akan menjadi-jadi—

Pertunjukan ketiga itu malam dibawakan oleh Wawan Bob dengan judul karya “Miyos”. Riuh penonton menjadi ketika nama Bob dipanggil. Dari panggung yang gelap, samar tampak Bob dan properti-kostumnya masuk menyiapkan diri. Setelah siap, lampu pun menyala! Sentakan spaktakel awal, bagimu, benar-benar mencuri perhatian: sekalian pandang terfokus. Jaring kain putih itu, yang di dalamnya ada Bob, di sepasang matamu, menjelma serupa kepompong. Gema itu terasa! Pergantian lampu yang tegas tak hanya menguatkan imaji, tetapi juga memberi magi. Ah, kau benar-benar terpukau adegan itu. Lalu, adegan proses lahiran yang puitik! Muncul Bob yang seluruh tubuhnya putih, berbalut putih—dengan hanya memakai celana kolor merah yang jadi tampak kian terang; meski saat lampu menyala merah jadi menyatu. Sekalian tertawa pada penampilan demikian; pun dirimu. Namun, di sepasang matamu, seluruh tubuh putih itu jadi berbunyi lebih ketika menilik pantomim yang selama ini dikenal-dipahami oleh kebanyakan hanya wajah saja yang berias putih. Ya: Bob menunjukkan jika seluruh tubuhnya adalah wajah! Kepalanya yang botak pun menguatkan imaji bayi, imaji kanak sekali. Adegan-adegan bayi yang dilaku Bob terasa komikal, tapi sekaligus sentimental. Raut wajahnya, dan gerak bibirnya, tanpa penebal riasan karakter malah berhasil tampil memberi beban emosi. Adegan gandengan, di mana Bob memunculkan citra imajiner yang menggandeng, bagimu, amatlah memukau. Adegan yang berpararel dengan topeng monyet. Lalu di akhir, seperti kanak yang akhirnya bisa berkata, dan jadi gema spaktakel akhir, Bob berucap: Mak… Sambil ikut tertawa di sentakan akhir yang amat gong, kau malah jadi iseng ingin bertanya: Apakah pantomime adalah sejenis kepompong, adalah sejenis tahapan, sebelum akhirnya jadi kupu yang bisa berkata menyeru? Betapa, kau juga terpukau pada pergantian lampu yang tegas itu: biru, hijau, kuning, dan merah, juga putih, yang jadi sejenis emosi. Betapa pergantian merah ke putih, bagimu, menjadi sesuatu yang sukar dilupa: dan bergema sebagai suatu lahiran. Ah, ya, adegan di mana Bob melempar kain putih itu seperti jaring untuk menangkap sesuatu…

Pertunjukan keempat itu malam dibawakan oleh Y. Krismanto dengan judul karya “Bisa Jadi”. Lampu padam, dan hanya spotlight yang menembak tengah panggung. Krismanto memakai jas lurik dan setelan kemeja lengkap, dan juga sebuah topi. Wajahnya ditutup dengan riasan putih; dan suatu energi memunculkan suatu lirisme dari wajahnya. Musik yang lembut mengalun. Ia berjalan perlahan, mencipta suatu teken; lalu bergerak mengeksplorasi panggung, lantas imaji setting perlahan muncul; meski bagimu ada suatu samar lembut kabut. Namun, saat Krismanto menatap atas, seperti mencari sesuatu di langit-langit, kau dapati suatu yang sedari tadi belum kau dapati; atau luput kau dapat-rasai. Sepasang mata itu berhasil mengusikmu untuk bertanya: Apa yang ia pandang sebenarnya. Dan tanya itu membawa pada sudut pandang orang pertama. Kemudian, setelah serangkaian gerak, di kepalamu muncul imaji suatu laboratorium dengan tabung-tabung kaca. Sepasang mata dan tubuhmu masih meraba cerita; tetapi, suatu di dadamu mendapati suatu perasaan yang lembut saja, meski ada suatu ketegangan sebab misteri mencari. Ah, sial, dari mana emosi ini bersumber, ya? Di akhir, serangkaian gerak memunculkan imaji kanak; dan suatu bayang percakapan. Apa tengah dicarinya obat kekal, obat muda kembali? Dan, pertunjukan kelar. Tubuhmu benar hanyut menonton: tenggelam dalam emosi. Dan, abila boleh bercuriga, ingin rasanya kau bercuriga, sekalian penonton punya suatu keinginan tolol untuk menonton lagi; dan mendapati masing-masing telah dijebak judul: Seluruh kemungkinan itu bisa jadi—dan bisa juga tidak jadi.

Untuk sejenak, pertunjukan tak langsung bersambut nomer. Panitia menata satu setting teknis kecil di atas panggung. Setelah hal itu siap, pembawa acara pun membacakan narasi pengantar, membacakan narasi puitik yang membuka pertunjukan Kinanti Sekar berjudul “Setitik”: Untuk mereka yang percaya, bahwa hujan adalah rapal doa… Setelah hening sejenak, sound yang memberi suara hujan terdengar. Ah, kau teringat tanyamu yang agak silam: Apa suara tik-tik-tik adalah suara hujan, atau suara benda-benda yang terkena hujan? Imaji hujan lekas muncul; dan kau, juga penonton lain, seperti berada dalam hujan. Setelah keterhanyutan awal, dari pintu samping bawah, muncul Kinanti Sekar. Ia masuk dengan membawa sebuah payung. Dan meski yang terang ada di dalam payung, sebab teknis lampu senter kecil, tapi di sepasang matamu malah mempertebal imaji hujan di luar. Itu kali, Sekar memakai kostum hitam-putih—juga dengan tambahan jas hujan putih bening. Di sepasang matamu, hal itu membawa kepada suatu imaji hujan yang kian kuat, hujan yang silam yang dibebani nuansa liris-romantis. Hujan yang terasa lembut, batinmu. Ia bergerak hangat di antara penonton, merespon sekalian yang ada dan hadir menyaksi. Tubuhnya, setidaknya di matamu, jadi tubuh penari yang tengah berpantomim; atau malah sebaliknya, tubuh pantomim yang menari. Ia tampaklah seperti kanak yang bermain hujan, bermain kecipak, dan terpukau ketika melihat pantul benda-benda di genangan; dan di sepasang matamu, kau seperti melihat pelataran halaman, lembut taman penuh tanaman yang basah. Ah, kau jadi rindu gadis itu, gadis yang suka pada bebunga liar dan suka ingin bermain hujanan… Kinanti Sekar perlahan sampai ke atas panggung depan; dan mencantolkan payung itu di tiang yang ada, tiang yang di-setting di awal. Ia mengambil air dengan sepasang tangan; menciduk air hujan. Dan kau lagi-lagi tertegun: imaji air itu sungguh benar tampak di sepasang matamu, terbayang di dalam kepalamu, dan kau rasai sejuk dingin hujan itu…

Pertunjukan keenam itu malam dibawakan oleh Tiaswening Maharsi dengan judul yang begitu panjang; dan membuatmu, yang ingin membuat catatan kecil-kecilan tentang pertunjukan, tak genap bisa meningat-catatnya. Namun, ketika mengingat kembali perasaan dan nuansa dari itu judul, kau malah merasa ingat: Sesuatu yang dilupa tapi begitu penting adanya. Judul karya yang dibacakan oleh pembawa cara itu memiliki subjudul tentang respon terhadap suatu lagu. Tias masuk dengan pakaian serba hitam, dengan selembar kain kecil-tipis terikat di kepalanya, kain bermotif bebunga—tentu bila sepasang matamu tak genap salah terka. Lampu di panggung menyala merah; dan ia bergerak perlahan, merespon mengikuti alunan. Gerak yang dilaku Tias tak besar; dan malah terkesan kecil-kecil; tetapi kau malah merasa bahwa gerak itu punya suatu yang tersembunyi, punya tenaga yang banyak dan sarat emosi. Dan, ya, kau belum tahu kenapa hal itu muncul; meski kau tetap hanyut menonton. Gerak itu perlahan menjalar ke jemari; lalu kedua tangan itu mulai terbawa irama yang lebih. Di sepasang matamu, yang berkilau-bebinar, kau melihat aksi itu serupa tarian kecak, tapi tanpa teriak. Adegan yang kemudian adalah Tias melepas tudung itu, memainkan kain dalam gerak dramatik: lalu meletakannya jadi penutup kepala, penutup muka. Ia masih bergerak mengalun; dan kau rasai perih yang lain. Saat itu, kau teringat, kekuatan pantomim adalah ekspresi; dan selama ini, ekspresi dipaham-arti dengan dan melalu wajah. Tias, bagimu, itu kali, memberi tawaran lain. Dan, kau jadi iseng membayang: wajah yang ditutupi itu tengah apa, perasaan apa yang dirasai tetapi tertutup kain itu, ya? Dan, sambil terhanyut menyaksi, kau teringat salah satu babak pertunjukan lain yang pernah kau tonton dari Tias di Lab Obah #3 pula. Ia bermain-main dengan imaji kain pula, dengan benang dan tekstil. Kain itu nyatanya tak pernah hanya jadi kain. Lampu berganti putih. Dan, setelah beberapa gerakan liris, ia pun membuka tudung, dan tampak wajahnya. Lantas, sebelum genap kau terka, lampu padam; pertunjukan selesai. Di akhir, kau baru semacam bisa memahami, ada sejenis dua irama dalam pertunjukan. Tubuh itu tubuh yang ikut menari, tetapi juga digerakkan oleh suatu yang lain. Dan kau menyejajarkan hal demikian seperti halnya ada suatu kenangan yang dimasukkan ke dalam lagu, kenangan yang bisa saja tak sesuai dengan emosi-narasi dari lagu, tapi begitu pas kuat melekat.

Pertunjukan ketujuh adalah pertunjukan dari Andy SW dengan judul karya “Berebut Keadilan”. Andy SW tak masuk dari pintu lumrah. Ia memulai dari tengah penonton, dari antara penonton. Ya: Andy SW ada di sisi kirimu, duduk di sebelahmu… Ia melepas jaketnya dengan dramatik, dengan suatu gerak indah yang juga puitik; dan menampilkan baju dan celana serba putih. Dari mulutnya, keluar tembang-tembangan—yang tentu saja lekas mencuri fokus para penonton. Ia bergerak di antara tubuh yang menari dan berperan. Ia merespon sekeliling; dan mencipta riuh gelak tawa. Ia seperti orang yang menari-kesurupan; meski di satu-dua titik ia tersadar, kembali jadi Andy dan memberi celotehan khasnya. Panitia membantu memberikan spotlight dari senter kala dia masih berada di antara penonton. Kanak, pun orang dewasa, yang menonton, tertawa; tenggelam pada perasaan geli. Satwa-satwa seperti kera, kucing, atau anjing, pun babi, seperti meminjam tubuh Andy. Ah, ya, kau juga menimbang, bahwa bisa juga dia yang meminjamkan tubuhnya sendiri dengan suka rela pada satwa-satwa. Di satu-dua adegan, bila memang boleh dan tepat menyebutnya adegan, sebab bunyi erangan, ada kanak yang lebih bocah terdengar hampir menangis karena merasa ngeri; dan meminta peluk sang ibu. Sekalian penonton tertawa atas atmosfer demikian. Dan, dari sana, kau kembali menimbang judul yang bagimu hadir sebagai bingkai. Ya: Apakah begini menonton sekaligus berada dalam pertunjukkan “Berebut Keadilan”? Ketakutan, kengerian, tawa, dan tangis bercampur baur secara brutal; dan demikian pula dengan yang sakral dan juga yang profan. Ia perlahan naik, dan sampai ke atas panggung. Tampak adegan silat yang bercampur dengan gerak satwa tegas. Di sana, ia seperti menjadi perujudan dari kata menimbang dan menimba sebelum jadi kata akrobat. Sekalian penonton riuh—seperti berhasil dijebak dalam dramaturgi berebut keadilan. Di akhir, sebelum kembali ke posisi mula, ia melaku adegan menanam: lalu menabur kembang imajiner itu searah jalan pulang kembali…

Pertunjukan kedelapan itu malam, yang jadi pertunjukan keempat belas bagimu yang menyaksi sejak petang tadi, dibawakan oleh Asita Kaladewa dengan judul karya “Life is Short”. Ia masuk dengan pakaian serba putih; dan riasan putih khas, meski tanpa ornamen penegas, entah di alis entah di bibir. Ia bergerak; mencoba membangun imaji ruang, dan mengenal-siapkan tubuhnya sendiri—pun mata para penonton. Ia bermain di arena yang terkena lampu tembak. Lalu, musik terdengar: pertunjukan seperti genap dimulai. Ia merespon tubuh dengan gerak lembut yang di sepasang matamu seperti mengandung tenaga yang begitu terukur tak tegang, tetapi kuat. Jari-jemari itu digerak dengan begitu, dan memukaumu; dan entah kenapa, membangun suatu imaji abstrak yang menguatkan emosi, emosi yang bagimu belum genap kau pahami. Lalu, di satu-dua adegan kecil, sepasang matamu seperti teringat Jemek. Asita pun membawa pertunjukan pada suatu lintasan treadmill. Ia hadirkan tahapan seorang dari bayi sampai tua, dari permen lolipop sampai rokok cerutu. Betapa terpukau kau saat ia mengalungkan syal sebagai peralihan dewasa ke tua setelah dewasa itu didefinisi dengan gerak memakai setelan jas. Ya: syal imajiner itu tampak di sepasang matamu! Dalam lintasan itu, ia pun merespon dengan tubuh pula, bukan hanya imaji dari benda-benda imajiner; tempo lintasan tak melulu lekas, tapi juga sesuatu usia tubuh di atas treadmill: usia tubuh kanak, dewasa, dan tua dengan temponya sendiri-sendiri. Namun, treadmill itu, linimasa itu, tetap berada dalam bingkai lekas, dalam dramaturgi short. Lalu, seperti yang diketahui, selepas tua adalah mati, adalah tiada, adalah sirna—atau menyatu dengan Yang Maha. Dan hidup memang begitu singkat, Sayangku, dan sialnya kita tergesa! Sekalian penonton, pun dirimu, merasa pertunjukan begitu lekas belum memberi puas. Namun, bagimu, ironi dan pardoks itu yang jadi keberhasilan pertunjukan Asita itu kali. Ah, kau ingin sekali berseru, setidaknya kepada dirimu sendiri, siapa pula yang bisa benar-benar puas dengan hidupnya yang ternyata begitu lekas? Sambil menikmati riuh tepuk tangan atas itu pertunjukan, kau dihinggapi tanya sentimental-spiritual itu: Nanti, di Sana, saat hidup ini ditayang-putarkan lagi, dan ditonton diri sendiri, apa hanya akan juga berdurasi ± 7 menitan?

Awalnya, Broto Wijayanto tak hendak tampil; mengingat kakinya sedang cidera. Namun, riuh penonton, dan para penampil sebelumnya yang telah mengambil posisi penonton, menyeru-meminta. Broto akhirnya mengiyakan; dan sorak riuh kembali terdengar. Ia pun memainkan pertunjukan dengan judul karya “Bebek-Bebekku”. Sebelum genap memulai pertunjukan, ia memberi arahan pada penonton: bila ditepuk sepasang tangannya, sekalian penonton berbunyi kwek-kwek-kwek dan menjelma bebek-bebeknya; dan, saat tangannya menutup-menguncup, suara itu berhenti, dan kembali diam. Ia pakai sarung sebagai selempang, dan mengeluarkan peluit. Lalu, pertunjukan dimulai… setelah ia merasuk ke dalam imaji peran itu. Setelah adegan di mana imaji sawah-lawang terbayang, Broto mulai adegan-adegan komikal: ia menghitung bebek dengan penekanan pada pluitnya. Lalu, ia melaku adegan makan dan malah diganggu nyamuk, dan mesti menepuk, dan suara kwek-kwek-kwek pun riuh terdengar. Broto, sebagai gembala, menutup-menguncup jari; dan bebek-bebek itu diam: penonton terdiam. Serentetan adegan komikal dimunculkan, dan meningkat dalam suatu intensi tensi, penonton pun makin antusias dengan bunyi kwek. Di akhir, setelah suatu aba-aba tambahan, terdengar kwek-kwek-kwek dalam irama “Selamar Ulang Tahun”; dan, selepas adegan itu, suatu lirisme muncul, dan pertunjukkan pun dicukupkan. Awalnya, kau menikmati, dan pemamahami perunjukan itu lugu saja: hiburan di akhir parade. Namun, tak lama, kau dapati pemahaman, gerak bisa memicu suara; dan sadar, kau lebih sering berada dalam pemahaman sebaliknya, suara atau kata yang memicu gerak. Tentu saja kau bisa menafsir-nafisir tentang bebek sebagai suatu yang tak hanya sekadar bebek; toh beberapa hal, spaktakel dan teknis misalnya, membuat bebek tadi tak hanya menjadi bebek, melainkan jadi simbol tertentu. Namun, bagimu, kekaguman awal masih sama: penonton mau terlibat dalam itu pertunjukan, tanpa merampas hak penonton sebagai penonton: atau sebenarnya dirampas tapi tak disadari?

- Selepas Menyaksi Lima Belas Tubuh
Menyaksikan lima belas tubuh dalam dua sesi sehari itu tentulah saja membuatmu begitu penuh dan kenyang. Bahkan, kepada beberapa kawan setelah pementasan, kau sampaikan bahwa kau begitu kenyang, dan di jeda antara sesi satu dan dua kau hanya makan setengah porsi dari prosi makan biasa. Ah, tubuh yang bermacam itu dipresentasi dengan bermacam pula. Kau, sebagai seorang yang merasa masih punya keterbatasan kosagerak, dan lebih lebih lagi kosapantomime, mendapati parade pertunjukan “Sowan” 2026 itu membawamu pada dua buah pertanyaan: Pantomime ternyata bisa seperti ini, ya; dan apa ini masih bisa disebut sebagai pantomim sebab seperti ini. Namun, dua tanya yang menjelma sepasang itu, bagimu, adalah soal yang menarik: suatu yang membuatmu betah menonton lima belas tubuh itu. Betapa, menyaksikan lima belas tubuh itu, jujur, kau tak merasa lelah; dan malah mengalami suatu gembira: ada suatu ringan yang kau dapat: entah dari tawa, perasaan liris, dramatis, pun lainnya. Kalaupun ada yang tanya tentang lelahmu, barangkali akan kaujawab: Lelah sebab menulis catatan kecil-kacilan atasnya. Dan tentu, ketika ditanya adakah nomer-nomer yang disuka, kau bisa menyebutnya. Namun, apabila boleh menyarankan, timbangmu kemudian, andai pertanyaan itu genap datang di depan badan, dengan segala keterbatasanmu kau lebih memilih melaku pembayangan komposisi alur dan dramaturgi tiap nomer bisa ditata lagi.
Ya, dibanding menyebut yang satu baik dan yang lain kurang, kau lebih bercuriga, bagaimana bila pertunjukan A hadir setelah pertunjukan B, atau malah di antara pertunjukan C dan D, apa efeknya masih sama—atau malah menjadi lebih baik dan pas? Kau bayangkan, apabila menu makanan ditata dengan pas, makanan yang satu takkan merusak makanan yang lain, sebab lidah telah mencecap dan mencecap. Alur rasa inilah yang hendak kau usulkan. Ya: kau bayangkan ada suatu pengaluran yang lebih besar. Tentu, kau tak sedang menyaran alur cerita. Sebagai suatu seni yang kuat memijak pada emosi, kau bayangkan naik-turunnya emosi itu. Kau bayang dinamika emosi itu jadi suatu alur dramaturgi. Ya, catatan dari Pak Jujuk di akhir kala sesi kecil diskusi, kau amini pula: tentang imaji yang mesti liar dalam artian kaya, tubuh yang lebih lentur dan siap dengan berbagai hal, dan keberanian berekspresi tapi tak hanya penolakan brutal dan lenyap dari akar. Namun, kagummu pada pantomim masih mendominasi; dan sebab perasaan kagum itu, kau jadi ingin meminta pada pelaku pantomim untuk lebih dan lebih, tak sekadar hanya dan hanya.
Ah, kau ingin saja berkata kepada gadis itu, hangat pelukan dan lembut cium mungkin memang lebih bisa menyampaikan, dibanding panjang khotbah dan tebal buku berkisah… []
(Januari—Februari, 2026)
Biodata Penulis

Polanco S. Achri adalah seorang penyair dan penulis prosa, juga pengulas teater dan seni rupa, yang lahir dan tinggal di Yogyakarta. Selain menulis, dan mengulas, ia kadang menyutradarai pertunjukan dan memproduseri film dokumenter kecil-kecilan; juga menguratori pameran. Ia dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.






