Dalam kurun sepuluh tahun terakhir mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa di level SD, saya menjumpai fakta yang cukup membuat miris. Banyak siswa dari generasi sekarang yang menganggap pelajaran Bahasa Jawa sebagai momok, melebihi Matematika dan Science. Salah satu penyebab utamanya adalah tema aksara jawa a.k.a aksara nglegena.
Jika sebelumnya cukup para siswa saja yang merasa ngelu dengan aksara jawa, maka di era pandemi yang lalu segalanya berubah. Ketika itu para orang tua juga ikut pusing mempelajari aksara nglegena ini. Sebab dalam pembelajaran online di rumah, mau tak mau orang tua harus berperan jadi ‘guru’ juga.
Sebenarnya membaca dan menulis aksara jawa tidaklah sesulit yang dikira kebanyakan orang. Mempelajari aksara jawa bisa menjadi sangat sederhana asalkan dilakukan secara bertahap dan menggunakan metode yang tepat. Oh ya, perlu satu syarat lagi: jauhkan mindset bahwa aksara jawa itu rumit dan sulit.
Masih belum percaya? mari saya tunjukkan.
Metode Pengelompokan berdasarkan kemiripan bentuk
Aksara jawa nglegena versi Kongres Bahasa Jawa (KBJ) yang diajarkan di Kurikulum Merdeka berjumlah 20 huruf. Menurut Sumadji Dwidjahapsara dalam buku Pengantar Kabudayan Jawi, pengertian aksara nglegena yaitu: “Aksara Jawa yang pokok jumlahnya 20, disebut sebagai Dhentawiyanjana. Dhenta itu gigi. Wiyanjana deretan yang tertata. Jadi Aksara Jawa itu seperti deretan gigi. Urutan aksara disebut sebagai Carakan Jawa dan wujud aksara disebut sebagai Cakrik Jawa. Aksara Jawa itu tanpa sandangan sudah bisa berbunyi yang disebut sebagai Nglegena. Nglegena artinya masih telanjang (belum mendapat imbuhan).”
Di Jawa Timur, aksara nglegena baru diajarkan mulai kelas 3 SD. Selanjutnya di kelas 4 akan ditambah materi sandhangan. Berikutnya di kelas 5 akan dikombinasikan dengan materi pasangan. Memasuki kelas 6 bolehlah disebut sebagai level advancenya aksara jawa karena memuat semua kombinasi.
Kesulitan yang dialami oleh siswa (juga orang tuanya) pada umumnya adalah karena bentuknya yang sangat jauh berbeda dengan aksara latin. Terlebih lagi pengenalan 20 aksara dasar tersebut dilakukan tanpa metode khusus, hanya secara berurutan mulai dari HA sampai NGA seperti gambar di bawah ini:

Menghafalkan 20 aksara nglegena secara berurutan seperti itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka yang memiliki ingatan fotografis kuat. Namun kebanyakan siswa lainnya akan mengalami kesulitan. Nah untuk mempermudah menghafalnya, saya mencoba membuat metode pengelompokan berdasarkan kemiripan bentuknya.
Kelompok pertama

Berdasarkan pengalaman mengajar saya, siswa yang paling sulit menghafal sekalipun, masih mampu mengingat 2 aksara sederhana yaitu Ra dan Pa. Maka saya membuat pengelompokan berdasarkan kemiripan bentuk dengan 2 aksara tersebut sebagai patokan.
Kelompok pertama seperti pada gambar di atas berpatokan pada aksara Ra. Huruf tersebut dimodifikasi dengan menambahkan 1 kaki sehingga membentuk aksara Nga. Berikutnya kedua aksara tersebut diberi ‘kursi’ di depannya hingga menjadi Ba dan Nya.
Selanjutnya aksara Ba dikurangi kaki belakangnya hingga menjadi Nga. Aksara Nga ini jika bentuk kursinya dimodifikasi akan berubah menjadi aksara Tha.
Kelompok ke-2

Kelompok 2 ini mengambil aksara Pa yang serupa 2 punuk onta sebagai patokan. Jika ditambah 1 punuk lagi akan membentuk aksara Ya. Ketika diberi ‘paruh’ di punuk belakangnya ia akan menjadi aksara Wa. Kalau ditambah kaki di belakangnya akan menjadi aksara Ha. Sedangkan jika diberi lingkaran kecil di punuk belakang akan berubah bunyi menjadi Sa. Aksara-aksara hasil modifikasi tadi sebut saja sebagai ‘aksara turunan Pa’.
Masing-masing aksara turunan Pa tersebut masih bisa dimofikasi lebih lanjut. Huruf Ha jika dibalik akan menjadi huruf La. Demikian juga aksara Sa yang dibalik akan berbunyi Da. Aksara Wa bisa dimodifikasi dengan 2 cara. Jika diberi lingkaran kecil di depan akan menjadi aksara Ca. Sedangkan jika diberi ‘singgetan’ di tengah akan berubah menjadi aksara Dha.
Kelompok ke-3 dan ke-4

Dari 2 kelompok saja kita sudah bisa menghafalkan 15 aksara. 5 aksara sisanya adalah aksara Na yang jika ditambah kaki di belakangnya akan menjadi aksara Ka. Sedangkan 3 aksara yang lain tidak memiliki kemiripan bentuk dengan aksara lainnya. Mereka adalah aksara Ta, Ja, dan Ma.
Metode drilling ala iqra’
Menghafalkan aksara nglegena berdasarkan kelompok ini tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan step by step. Ketika sudah mengenal aksara di kelompok pertama, maka akan dilanjutkan dengan drilling seperti yang biasa dilakukan ketika ngaji huruf hijaiyah.
Contohnya begini: Acara menghafal aksara di kelompok pertama akan diselingi dengan drilling menuliskan aksara tersebut dalam suatu kata. Misalnya kata RaGa, GaRa, RaBa, RaNya, dan seterusnya. Asalkan masih termasuk kelompok pertama.
Begitu juga di kelompok ke-2 dan seterusnya. Dengan demikian acara belajar aksara jawa akan lebih mudah dan menyenangkan. Jika masih ada yang kurang jelas, silahkan tengok videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=5TG_co5-f3g&list=PLm3HWJZdW9pxolFl0jFMzpHlTGfHGpGkg&index=1&t=101s dan di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PT2m5k4FVWY&list=PLm3HWJZdW9pxolFl0jFMzpHlTGfHGpGkg&index=3
Selamat belajar.
Penulis
Rois Milano, sorang guru Sekolah Dasar (SD) tinggal di Malang, Jawa Timur.







Kula belajar nulis aksara Jawa rikala taksih SD dumugi SMP udakara th 1979 boten dong. Sareng sampun sepuh rikala umur kula sampun 55 th wiwit sinau malih, sinau ing Face book wiwot saget maos lan nulis ning nggih taksih blekak-blekuk.
Kula belajar nulis aksara Jawa rikala taksih SD dumugi SMP udakara th 1979 boten dong. Sareng sampun sepuh rikala umur kula sampun 55 th wiwit sinau malih ngantos samangke umur kula sampun 57 th, sinau ing Face book wiwit saget maos lan nulis ning nggih taksih blekak-blekuk. Makaten nuwun.
https://www.academia.edu/41951696/buku_ajar_aksara_jawa_untuk_kelas_3_4_5_dan_6_SD_MI
Mangga diunduh Bapa, mbok bilih saget migunani 🙏