Jumat, 6 April 2018, sore hari. Hujan mulai reda. Langit masih dikepung mendung tebal. Saya terus menunggu sambil harap-harap cemas. Mengingat malam sebelumnya Malang dilanda hujan yang sangat deras dan listrik padam. Berulang kali saya memandang ke arah langit sambil berdoa agar hujan tidak turun lagi. Jika hujan menderas, pertunjukan “Gawe-gawe Lohgawe” (selanjutnya ditulis GLG) dari Ruang Karakter yang dihelat di halaman belakang Gedung Pemuda Keuskupan Malang akan dibatalkan. Pertunjukan semi-outdoor tersebut memang tidak dapat dihadirkan dalam kondisi hujan. Beruntung, hujan reda sepenuhnya. Pertunjukan berjalan tanpa gangguan cuaca apapun.
GLG dibuka dengan memunculkan seluruh aktor ke atas panggung yang menampilkan komposisi gerak, dipadu dengan gerakan berlari ala militer sehingga menimbulkan suara derap kaki yang iramanya teratur. Layaknya suara jarum detik pada jam. Adegan pembukaan tersebut berhasil menggiring pikiran saya menuju persoalan waktu, seperti yang tertera pada narasi di poster pertunjukan.
Waktu sebagai Siklus
Tema besar dari pertunjukan GLG berkutat seputar siklus waktu. Waktu yang senantiasa berputar dan berulang kembali. Seperti lingkaran kehidupan tanpa awal dan akhir. Bahwa apa yang terjadi saat ini adalah ulangan dari kejadian-kejadian di masa lalu, apa yang pernah terjadi saat ini pasti akan terulang kembali di masa depan. Konsep siklus waktu itulah yang menjadi acuan titik fokus dalam pertunjukan GLG. Seluruh jalinan adegan yang diramu sutradara merupakan usaha untuk mewujudkan konsep siklus waktu ke atas panggung.
Hadir dalam beberapa sekuen adegan penuh intrik antar tokoh sebagai gambaran kondisi sosial masyarakat yang pelik dan kerap ditemui dalam realitas hidup sehari-hari seputar kehidupan percintaan, peristiwa pemerkosaan, perselingkuhan, kekuasaan, pembunuhan. Penonton diajak untuk melompat ke masa lalu dan masa kini secara bergantian. Waktu tidak berjalan linier di atas panggung GLG. Lompatan adegan dari masa kini, ke masa lalu, kembali lagi, melompat lagi, dan seterusnya, dirangkai tidak secara acak-acakan. Meskipun secara sekilas ia tampak sebagai jalinan adegan lepas yang tidak saling berhubungan satu sama lain dan dapat berdiri sendiri. Nyatanya tidak. Saya merasa sutradara sengaja menyusun adegan maju-mundur. Dari sisi setting waktu, pertunjukan ini tampak kacau balau. Namun tema-tema dari deretan adegan-adegan tersebut membentuk sebuah alur cerita yang rapi dan berkesinambungan. Dengan cara itu pula sutradara secara langsung menunjukkan benang merah yang membentang antara masa lalu dan masa sekarang. Misalnya di awal pertunjukan, ketika adegan tokoh Ken Dedes bersama para selir dan dayang-dayang masuk ke bilik peraduan yang setting-nya berada di masa lalu. Tidak lama sesudah itu muncul adegan tempat hiburan malam dengan wanita penghibur yang menari gemulai mengundang birahi para pria hidung belang di masa kini. Atau ketika di akhir pertunjukan, adegan terbunuhnya Tunggul Ametung oleh keris milik Mpu Gandring di masa lalu dirangkai dengan adegan terbunuhnya mempelai pria saat acara resepsi pernikahan di masa kini.
Di tengah-tengah pertunjukan, sutradara juga menyuguhkan sebuah adegan goro-goro. Lelucon dibangun. Berbagai fenomena sosial diangkat. Mulai dari isu pilkada hingga fenomena selfie. Batasan waktu masa lampau dan masa kini dilebur jadi satu. Sehingga penonton dibuat kebingungan saat mencoba mengidentifikasi waktu. Tapi saya kira persoalan waktu tidak begitu penting di bagian ini. Sebenarnya adegan goro-goro ini dikemas dengan apik dan ciamik. Aktor-aktornya begitu lepas merespon berbagai hal lucu. Hanya saja terasa sedikit mengulur waktu sehingga adegan ini terasa berlebihan porsinya.
Saya mencermati ada dua hal yang menonjol dalam pertunjukan GLG berkaitan soal waktu. Pertama adalah tokoh Lohgawe dan Mpu Gandring. Dua tokoh ini selalu muncul berpasangan dan dapat mengarungi dimensi ruang-waktu secara bebas. Mereka acap kali bertindak sebagai narator yang menjembatani adegan demi adegan, dengan selalu menekankan persoalan siklus waktu di tiap narasinya. Pasangan tokoh ini tampil sebagai simbolisasi waktu yang terus berjalan tanpa henti. Kedua adalah tokoh tukang sapu. Ia banyak muncul sebagai figuran. Fungsinya hampir sama dengan pasangan tokoh Lohgawe dan Mpu Gandring, yaitu sebagai jembatan dari adegan satu ke adegan yang lain dengan mengambil peran sebagai tukang sapu yang membersihkan panggung pertunjukan setiap kali sebuah adegan selesai, lalu memberi jeda kepada aktor lain agar bersiap-siap menuju adegan selanjutnya. Tokoh tidak penting ini tiba-tiba muncul paling kuat di antara karakter tokoh yang lain sebagai wujud Waktu secara utuh. Ia ada sekaligus tiada. Ia menjadi faktor penting di waktu-waktu jeda, sekaligus diabaikan di saat-saat genting. Laiknya ketika kita sering lupa pada waktu ketika kita sedang diburu kesibukan pekerjaan, tapi mewujud ketika kita sedang mengambil jeda. Ia bisa berlari begitu cepat saat peristiwa demi peristiwa terjadi, sebaliknya ia bisa berjalan sangat lambat di saat kita sedang tak melakukan apa-apa.
Dari Cerita Sejarah ke Narasi Kontemporer menuju Panggung Realita
Satu hal yang juga menarik dari pentas GLG yang diproduksi Ruang Karakter adalah upaya untuk menggali kembali cerita-cerita sejarah, kemudian mendulang bagian-bagian penting, lantas menariknya ke dalam konteks kekinian tanpa menghilangkan konten-konten aslinya. Cerita Arok-Dedes tidak hanya dikonstruksi ulang, tapi diubah alurnya, serta ditabrakkan ke kondisi masyarakat saat ini. Di tengah hiruk-pikuknya kondisi sosial dan ekonomi disertai ramainya dinamika politik berkaitan dengan isu-isu pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden, cerita Arok-Dedes berlatar suksesi terhadap tampuk kekuasaan yang ada dalam genggaman Tunggul Ametung menjadi sangat relevan dituturkan ulang ke bentuk yang baru.
Namun, jika narasi pertunjukan dibangun berdasarkan cerita sejarah Arok-Dedes, saya mengamati pertunjukan ini tidak dibarengi dengan unsur-unsur etnografi yang kental, kecuali melalui penggunaan beberapa kostum ala Jawa. Saya menaruh harapan cukup besar bahwa kelak pertunjukan ini dapat memuat unsur tradisi yang kuat sebagai bagian dari pertunjukan melalui piranti-piranti artistik, entah secara keaktoran, tata visual panggung, ataupun tata musik.
Relasi Kuasa Antar Tokoh
Pertunjukan GLG juga menunjukkan adanya relasi kuasa yang tersirat di tiap adegan. Di mana yang lemah secara tidak sadar akan tunduk pada yang lebih kuat. Para lelaki takluk pada wanita penghibur, sebagai simbol kelemahan laki-laki ada di persoalan syahwat. Korban perkosaan takluk pada jaksa penuntut umum, simbol kalahnya kenyataan dari opini publik yang dibentuk oleh orang-orang tertentu. Kesediaan korban perkosaan menikah dengan pemerkosanya sendiri adalah simbol dari ketidakberdayaan perempuan berhadapan dengan mitos-mitos kesucian yang diyakini oleh masyarakat.
Relasi kuasa ini muncul akibat adanya hegemoni oleh salah satu pihak dalam berelasi. Hal ini dapat menjadi gambaran kenyataan masyarakat yang mulai kehilangan hak-hak asasi di berbagai bidang. Contoh sepele, soal para lelaki yang takluk pada wanita penghibur. Saya meyakini fenomena ini muncul karena pihak laki-laki kehilangan haknya untuk mendapatkan penghargaan dari kaum perempuan, sehingga larilah ia ke tempat hiburan malam demi mendapatkan sesuatu yang disebut sebagai penghargaan, meski itu semu belaka.
Erotisme: Dari Permaisuri hingga Wanita Penghibur
Sisi erotis menjadi salah satu unsur yang cukup dominan mewarnai jalannya pertunjukan GLG. Erotisme memang hal paling mudah untuk disuguhkan sehingga sebuah pertunjukan menjadi menarik secara visual. Ada beberapa pemeran perempuan yang tampil di panggung dengan bahasa tubuh dan mimik wajah yang teramat sensual dan dapat mengundang birahi kaum lelaki. Meskipun adegan-adegan tersebut muncul dalam tema-tema yang pas. Misalnya pada adegan tempat hiburan malam, adegan pemerkosaan, dan adegan perselingkuhan. Hanya saja, seperti yang saya sebutkan tadi, sisi erotis menjadi cukup menonjol. Sehingga saya cukup kuatir bila tema besar dari pertunjukan GLG yang berada di seputar siklus waktu menjadi tenggelam oleh daya pikat para aktor perempuan yang aduhai, dikarenakan porsi kemunculannya yang cukup sering.
Yang mengherankan adalah bahwa adegan erotis ini muncul di setiap adegan yang memiliki muatan hubungan seksual. Ken Dedes di bawah kuasa Tunggul Ametung muncul dengan erotis. Adegan perkosaan tampak erotis. Perselingkuhan Arok-Dedes juga erotis. Semakin lama, saya menangkap bila adegan-adegan erotis ini jadi tampak monoton dan agak dipaksakan.
Pentas Laboratori Pertama di Ruang Karakter (RK)
Pertunjukan GLG digelar dengan konsep laboratori. Penonton terdiri dari beberapa undangan khusus dan diakhiri dengan sesi diskusi yang intens sebagai bentuk studi terhadap pentas yang telah berlangsung. Langkah ini diambil sebelum nantinya GLG akan dibawa pentas keliling ke beberapa kota. Sutradara mengambil langkah ini guna mengumpulkan masukan dari para penonton undangan yang kemudian dapat menambah materi pertunjukan ke arah yang lebih baik.
Sutradara GLG, Koes Indarto, mengakui bahwa ini kali pertama ia membuat pentas laboratori. Secara pribadi, Koes memiliki keinginan untuk membangun diskusi teater yang sehat. Sebuah tukar pikiran yang berlangsung secara serius, santai, mendidik, tanpa pretensi saling hujat satu sama lain. Hal yang mungkin langka terjadi di Malang. Ruang Karakter ingin memulai budaya kritik yang positif. Bahwa kritik adalah sesuatu yang membangun, bukan sesuatu yang menjatuhkan. Dan saya sangat gembira bila Ruang Karakter bisa menjadi motor penggerak terciptanya iklim berteater yang menarik dan menggairahkan.
Secara garis besar, diskusi berlangsung menyenangkan. Mayoritas memberi masukan pada persoalan teknis, bukan pada persoalan tema yang diangkat. Saya pikir, persoalan tema sudah sangat matang dipikirkan oleh sutradara. Hanya saja saya mesti mencatat bahwa dari segi keaktoran, GLG memang memiliki beberapa kendala. Melalui diskusi saya mengetahui bahwa aktor-aktor yang bermain di GLG seluruhnya adalah aktor-aktor baru yang masih sangat muda, yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman berteater. Dari kacamata tersebut saya akhirnya memaklumi, ada bagian-bagian yang luput digarap oleh para aktor. Saya justru merasa permainan akting mereka cukup baik, jika harus mengingat lagi proses mereka yang masih baru. Memang hal tersebut mestinya tidak bisa dijadikan permakluman. Seorang aktor yang memiliki kesadaran keaktoran tentunya akan mengupayakan banyak cara untuk mengeksplorasi tokoh yang dimainkan, di luar apa yang telah diarahkan oleh sutradara. Saya mencatat ada beberapa persoalan mendasar seperti gerakan kuda-kuda yang tidak stabil, ada sedikit blocking mengganggu, ada aktor dengan artikulasi yang tidak jelas dan volume suara yang lemah. Hal-hal mendasar inilah yang mesti paling banyak dibenahi.
Sekali lagi. GLG memang digelar secara laboratori sebagai media pembelajaran dalam satu proses produksi teater. Artinya, semua pihak (penampil dan penonton) mengharapkan bila kelak GLG mampu menutup celah-celah kosong yang masih belum digarap secara maksimal, hingga akhirnya didapat satu formula pertunjukan yang pas untuk menyuguhkan GLG ke hadapan publik. Dan sebagai sebuah eksperimen yang baru kali ini dicoba oleh Ruang Karakter, saya berharap besar jika pentas laboratori ini bisa menjadi satu contoh baik agar metode-metode dialektika semacam ini dapat dikembangkan lagi. Demi kemajuan dunia teater di Malang khususnya. Semoga…
PENULIS

KOMANG IRA PUSPITANINGSIH lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Memulai karir di bidang penulisan kreatif sejak tahun 2000. Tulisannya berupa puisi dan cerpen pernah hilir mudik di berbagai surat kabar lokal dan nasional dan memenangi beberapa lomba penulisan kreatif. Pernah diundang menjadi peserta Majelis Sastra Asia Tenggara 2006 di Samarinda, temu sasra Mitra Praja Utama 2008 di Lembang, panggung sastra Festival Kesenian Yogyakarta 2014 dan 2015. Kumpulan puisinya yang sudah terbit berjudul Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu (Ning, 2012). Beberapa kali terlibat garapan pertunjukan yang disutradari Andy Sri Wahyudi antara lain; Ora Iso Mati (isih akeh wong jujur nang ngisor wit jambu air) Festival Teater Jogja 2013, Hampir Pecah (performing art Pseudo Partisipative Project) Cemeti Art House 2014, Demam (Sri Kehujanan di Jalan) Karnaval 20 Tahun Teater Garasi 2014. Kini menetap di Yogyakarta, memilih vakum sejenak dari dunia penulisan kreatif dan merintis Kedai Cening untuk menyalurkan kesukaannya memasak.






