Senin, Maret 30, 2026
No menu items!

Nulis Nulis

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Sepatu Bawalah aku ke negeri-negeriyang ada di dongengpengantar tiduryang dibacakan ibu.Di negeri itu,Aku bisa kaburdari hiruk pikuksosial media. Purbalingga, 2025 Spidol Bukankah Tuhan memerintahkanmanusia untuk membacabukan menulis.Lantas, untuk apa aku diciptakan?Menulis adalah anakyang lahir dari rahim membaca. Purbalingga, 2025 Orasi Kabupaten Pada Kaum Urban Kami memang...

Puisi-Puisi Y.P.B. Wiratmoko

POHON JIWAKU  pohon jiwaku kubiarkan bertunasmenelusuri kebebasan di langit hatiku sampai aku tahu angin surga yang terus meniupkan kesucian  dan kekudusan hidup sampai hujan berkat tercurah akan kerelaan damai sejahteranya  bunga-bunga kegembiraan kubiarkan terus mekar bergerak penuh semangat dalam buah-buah harapan yang terbuka dalam sukacita  langit biru yang bersih adalah kelegaan dan...

Yang Terbaik untuk Kita

Hujan di pagi bulan Januari masih menyisakan rintik-rintik yang mulai mendinginkan hati. Pandanganku di dalam ruangan ini hanya tertuju ke satu arah: Riana. Seorang petugas kebersihan sekolah yang sedang sibuk mengepel lantai dan membuat kopi untuk para guru setiap...

Natal Tanpa Bapak

Memori itu masih terngiang hingga kini. Ketika aku masih kecil, bapak sering mengajakku ke kota dengan sepeda jengki plantangan. Aku duduk di depan, sementara bapak mengayuh pelan. Sepanjang jalan, ia menunjuk bangunan demi bangunan yang kami lewati, seolah sedang...

Dia yang Tersisa Paling Akhir

Kisah yang akan kubagikan ini dimulai tepat sebelum aku menemukan tempat peristirahatan terakhirku. Pada sebuah kotak kayu mahoni yang sudah lapuk bersama saudara-saudaraku lainnya. Tidak pernah aku duga bahwa pada akhirnya aku akan berlabuh di tempat ini. Tapi tentu...

Puisi Kristal Firdaus

Jalan Kecil Menuju Pulang: Dina Oktaviani tumbuhlah, tumbuh patahkupatah yang berjalaninikah jalan kecil itu, dina?tak seorang pun bisa menjadi bulandi langitlangit rumah yang menyalakan putus asakejatuhan seperti kaki raksasaterbelahbelah & kutelan reruntuhandaratan ini menjorokku hingga angin terakhirtanjung sialan, ketika kujauhi...

Puisi Ridwan KH

BULAN SEMPURNA DI WAJAH LAUT Akhirnya kita berhenti di siniSebuah pantai kecil yang sepiLengkap dengan serakan sampahSeperti rumah kita yang kerap pecahDan berhamburan sampai ke halaman Bulan menggantung di langitDan bulan di muka ombakSementara lampu kamar kita masih nyalaMenunggu tubuh kita...

Puisi Rifqi Septian Dewantara

Nyanyian dari Teluk Cenderawasih Laut di sini tidak biru, ia bening seperti mata nenek yang menatap masa lalu tanpa dendam. Di atas perahu, para nelayan mendengar desir ombak seperti bisikan dari arwah yang pernah tenggelam bersama mimpi tentang kebebasan. Sagu...

BAYI DENGAN BEDIL DALAM MULUTNYA

Aku memiliki bedil dalam mulutku. Bedil itu tumbuh dalam diriku sejak aku dalam kandungan ibu. Pelatuknya hanya akan mengetuk peluru keluar apabila aku bersuara kencang, dengan kata lain, berteriak. Bisa kalian bayangkan, bagaimana brutalnya kondisi ruang bersalin saat aku lahir....

Hari Terakhir di Rumah Mertua

Aku ditemani bapak di beranda dengan tanaman-tanaman bunga hijau dan subur dalam pot. Beranda depan ini tidak begitu lebar, tetapi asri dan rapi. Dulu kerap dipakai istriku buat memberi les privat kala ia belum kusunting. Pohon Kedondong, Mangga, Belimbing...
- Advertisement -spot_img

Latest News

Seni Rupa Ceria

Mengapa kita—yang mengaku atau diaku sebagai praktisi seni rupa profesional—menggambar, melukis, membuat patung, dan atau, membuat karya-karya seni rupa...
- Advertisement -spot_img