Minggu 29 April 2018
Rumah-rumah di Ambon jarang bahkan tidak ada yang beratapkan genteng. Kebanyakan adalah seng, sebab jika menggunakan genteng jika terkena lemparan batu mudah pecah dan bocor ujar seorang tukang angkat. Pukul 07.30 mulai stand by tetapi ternyata angkot Morella yang dipesan tidak datang, cukup sulit mencari ganti angkot lain sebab jarak ke Morella dari kota Ambon cukup jauh. Morella terletak di balik gunung di kota Ambon dan hanya angkot Morella transportasi umum yang bisa menjangkaunya. Bergegaslah kami berjalan menuju terminal untuk mencari angkot lain yang menuju ke Morella. Angkot datang. Angkot membawa kami menuju Morella melewati gunung, rumah, ladang, pohon cengkeh, dan pala. Morella berseberangan langsung dengan Pulau Seram di pinggir laut. Ada kampung Morella yang terdiri dari 3000 jiwa yang tinggal menetap di situ. Warga Morella hidup dari pertanian, perikanan, dan pariwisata. Di Laut, pada sebuah jalan di pinggir sungai, angin membawa bau kotoran hewan dengan pekat. Ada kambing kucing, sampah kain, plastik dan bungkus makanan berserakan di bibir pantai. Tampaknya sanitasi dan pengolahan limbah kotoran sangat buruk di sini. Ketua pemuda di Morella adalah seorang TNI yang kurang lebih baru tiga tahun bertugas di sana. TMD (Tentara Masuk Desa) fokus pada ketertiban dan keamanan. Tampaknya banyak terjadi masalah di mana-mana, banyak persoalan tetapi tidak ada solusi bersama. Merenung sejenak di Benteng Amsterdam, di bibir pantai perbatasan antara negeri Kaitetu dan begeri Hila. Terdapat peninggalan masjid tertua yang berdiri sekitar tahun 1441, dibangun tanpa menggunakan paku. Juga gereja tua yang kosong masih tampak bersih namun sudah tidak pernah di gunakan untuk beribadah. Lahan kosong tempat banyak warga berpindah. Begeri Hila yang tenang dengan pemandangan laut yang cantik, namun banyak menyimpan luka sejarah kompleks konflik saudara panjang 1999-2003 yang memisahkan keberagaman identitas kampung menjadi seragam dengan basis agama sebagai identitas warga. Meski telah terjadi perdamaian, tetapi sesama orang Ambon masih hidup dalam praduga dan curiga pada pada saudaranya yang berbeda keyakinan. Semua sama-sama tahu, lebih dari itu mengerti, mencoba memahami sebuah peristiwa dengan saling menyimpan luka dengan samar-samar dan rapat. Angin laut datang sejuk dan samar-samar menyibak ombak ke bibir pantai. Kapal-kapal kecil berlayar membelah laut. Anginnya membawa sejuk yang mengusik bulu roma. Panjang usialah perdamaian.
Mungkin Rindu.
Di Ambon pagi ini, saya teringat dua sahabat karib di kampung bernama Ardi Noor Setiawan (Ardi Bokek) dan Theo Dominggus A. Sedikit tercenung pada satu waktu, kemudian merenung. Apakah kedua sahabat kecilku pernah terbayang untuk datang menengok tanah kelahiran kakek-nenek moyangnya? Ahhh… sungguh romantisme dan sentimentil. Doaku semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia.
Beberapa hari ini di Pulau Ambon, Bengkel Mime bersama Diaz Dosa setiap pagi selalu berada di dalam angkot. Angkot di Ambon adalah salah satu moda transportasi ekonomis utama yang menjangkau area bukit di sekitar kota Ambon. Perjalanan angkot ke daerah balik bukit dari kota kurang lebih 1-2 jam. Minggu pagi perjalanan Morella. Kami singgah di Komunitas Kapahaha Utara kota Ambon, tepat di bibir pantai berseberangan langsung dengan pulau Seram. Dihuni oleh sekitar 3000 orang. Hari ini naik ke arah yang sama, ke atas dan berbelok ke arah timur di daerah Hila menuju ke komunitas Rumah Kita dan beberapa sekolah pentas dan lokakarya. Komunitas-komunitas berbasis seni di Ambon mulai banyak tumbuh, menjadi ruang riuh kreatifitas dari gagasan-gagasan yang terus bergeliat. Komunitas-komunitas ini
rata-rata digerakkan oleh anak-anak muda. Meski tidak semua, tumbuhnya banyak komunitas seni ini tidak terlepas dari usaha gigih pendiri Bengkel Seni Embun Diaz Dosa yang bergerilya mengajar seni teater di sekolah-sekolah di Pulau Ambon.
29-30 April 2018
Cafe dan Hostel OCD (Ody Conny Dio) adalah salah satu dari banyak hostel dan cafe yang berhasil dikelola oleh orang lokal di Kupang. Terletak di pinggir pantai Lasiana (Hutan Kecil) dari bahasa Kupang.
Area pinggir pantai yang lumayan luas tersebut ditumbuhi kelapa dan pohon lontar, terdapat bangunan hostel dan cafe yang dibangun dengan kayu dan bambu berhadapan langsung dengan pantai dengan latar pegunungan. Bulan dan bintang masih ada di atas laut. Debur suaranya kecil namun cukup menggetar dan mengejutkan.
Para penyadap Nira (tuak manis) dengan lampu di kepala sudah mulai memanjat dan mengambil jerigen yang panen setiap pagi dan sore. Penduduk kampung mulai lari pagi menyusuri pinggiran pantai. Sementara matahari mulai akan muncul dari hadapan bibir pantai, menyusun gradasi warna MEJIKUHIBINIU seperti gambar cinderamata sebuah piring berlatar perahu, kelapa dengan senjakalanya.
Laut tampak sayu, semetara di sisi berlainan pagi telah tiba sebelum matahari hadir. Suara burung mulai banyak berkicau. Suara ombak mulai melirih kecil. Batu-batu berwarna di pinggiran pantai mulai tampak memikat mata.
Cahaya mulai cepat terang, panas lembab mulai terasa. Angin gunung mulai turun dengan kuat. Kafe dan hostel mulai beroperasi meski para tamu masih banyak yang terlelap tidur. Selama 3 hari sostel dan kafe ini sedang ada gawe acara bernama Tia Tasi (sahabat laut) Festival yang di prakarsai Ragil Sukriwul bersama komunitas-komunitas seni Kupang. Festival Tia Tasi diselenggarakan mulai sore sehabis matahari tenggelam di ujung laut.
Ketika langit mulai gelap para penikmat dan penonton acara mulai berdatangan. Festival ini selama beberapa hari menyajikan pameran, pementasan teater,sastra, pantomim, lokakarya seni, diskusi, dan musik. Banyak komunitas yang ikut berpartisipasi baik dari NTT maupun luar daerah.
ODC Cafe dan Hostel selain berorientasi bisnis, juga memfasilitasi dan memberi ruang terbuka bagi para aktivis sosial dan seni budaya untuk berjumpa, menyapa, saling mengenal, dan bertukar dialog kemanusiaan. Adalah cita-cita Ody Mesakh, seorang aktivis sosial yang berbaik hati menerima dan menyambut bahagia banyak tamu yang datang dari lintas komunitas di ruang bersama yang ia impikan terjadi di bibir pantai Lasiana.
Musik Reggae mengalun di penghujung malam menutup acara yang sederhana namun mengesankan. Lampu-lampu mulai padam, suara angin di dedaunan dan ombak pantai mulai lirih terdengar, malam yang dingin mulai larut. Orang-orang mulai bersantai berbincang dalam kegelapan.
Terimakasih Kupang, Beta terkesan!
31 April 18 – 5 Mei 18
Perjalanan terakhir di Nusa Tenggara Timur kami tutup dengan menyewa 2 mobil ikut bersama teman-teman komunitas KAHE dari Flores yang sebelumnya juga berpartisipasi di festival TIA TASI di pinggir Pantai Lasiana. Teman-teman Kahe diajak serta ke Kefa untuk turut pula berjumpa dan ikut berjejaring bersama kawan-kawan muda seni di Kefa yang sedang menggeliat. Dari Pantai Lasiana kami menempuh perjalanan darat mobil kurang lebih sekitar 2 jam 30 menit ke arah Soe, melewati sungai dan pegunungan, dengan panas yang cukup terik sehingga tanahnya tampak kering tetapi masih banyak tetumbuhan hutan ketika naik. Kami sempat berhenti di sebuah restoran Padang Singgalang untuk makan bersama, masakan Padang memang salah satu masakan yang saya selalu bisa temui di daerah-daerah pelosok Timur dan cukup menjadi kesukaan. Di rumah makan Padang nafsu makan kami tergugah karena perjalanan yang berkelok-kelok naik turun melewati desa-desa dengan rumah-rumah khas NTT, meski tidak banyak melewati jalan trans Timor ini. Restoran ini nampaknya menjadi restoran pemberhentian, yang menjadi idola banyak para pengemudi rombongan bus maupun mobil, dan kadang juga ada motor untuk singgah. Para penumpang makan di dalam, sementara para sopir telah ada ruangan tersendiri di belakang dengan sejawatnya. Melanjutkan perjalanan 30 menit sampailah kami di Soe. Kota Soe berada di atas gunung, hawanya agak dingin dan kering, tetapi ramai orang.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi, menuruni jalan Trans Timor menuju kota Kefamenanu dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Hingga sampailah kami di sebuah persimpangan dekat pasar dan swalayan. Di sana ada seorang sukarelawan yang membantu kami selama di sana. Namanya Ria. Ria kemudian membimbing kami menuju sebuah losmen kecil di pinggir perempatan di mana kami berhenti dan menyediakan beberapa kamar untuk singgah sementara beberapa hari selama berada di Kefamenanu.
Kami segera rehat-rehat kecil, bersantai dan makan bakso pinggir jalan yang lewat sembari menyaksikan angkot berseliweran dengan musik ajojing disko. Beberapa hari ke depan kami akan berkenalan dengan para muda-mudi yang tergabung dalam Ikatan Mudika Gereja Bunda Maria Santa Teresa Kefamenanu. Dimulai dengan malam kami berkenalan dan ngobrol santai dengan pengurus Mudika Katolik dan beberapa orang luar yang datang untuk ikut workshop dari beberapa guru sekolah yang turut hadir. Pertunjukan seni pantomim dan teater di Kefamenanu amatlah jarang, bahkan tidak banyak yang tahu, yang populer di sana dan disukai muda-mudi adalah dansa dan musik. Tetapi juga ada beberapa anak muda yang secara serius menggandrungi dunia fotografi, film dan sastra tetapi jumlahnya tidak banyak. Menurut cerita, ternyata mengapa banyak muda-mudi NTT menuntut ilmu di luar daerahnya penyebabnya adalah ongkos yang dikeluarkan lebih murah daripada mereka tinggal dan menuntut ilmu di NTT. Semisal di Jogja, Surabaya, Malang, atau Jakarta. Maka dari itu banyak alumni Jogja yang telah pulang dan bekerja juga turut menyambangi kami berkenalan juga menonton pertunjukan.
Sebelum pementasan juga kami menemui Romo pengurus tertinggi Gereja Bunda Maria Santa Teresa Kefa untuk berkenalan dan meminta izin pementasan meski tidak banyak mengobrol namun Romo menyambut baik kedatangan kami. Kota Kefa kecil dan tidak terlalu ramai, tetapi masih banyak bangunan sisa kolonial yang kokoh dan unik bercokol di sana. Selain itu pohon Beringin selalu bisa ditemui di mana-mana. Menurut cerita yang simpang-siur pohon tersebut secara simbolis menegaskan kekuasaan atau pemerintahan Soeharto dengan partainya yang berlambang beringin. Banyak orang Jawa juga tinggal di pulau Timor ini, beberapa yang saya jumpai mereka berjualan warung pecel lele, nasi goreng, rames, ataupun sate ayam. Beberapa bernasib baik, sementara yang lain tidak.
Pagi hari, saya jalan-jalan masuk ke dalam pasar tradisional di Kefa, meski sama-sama tradisional namun secara karakter berbeda dari hasil buminya, pola dan cara menata dagangan. Karakter yang mencolok dari pasar di Kefa adalah banyaknya sirih, pinang dan tembakau sepaket. Kebiasaan mengunyah sirih, tembakau dan pinang tampaknya sudah menjadi sesuatu hal yang lumrah, sebab terkadang di pojok sudut jalan tampak bekas ludahan dari ketiga bahan tersebut.
Lokakarya pantomim diikuti oleh muda-mudi di Gereja Kefa, ada lebih dari 30 orang lebih yang berpartisipasi. Materi lokakarya difokuskan untuk umum-awam agar mereka mudah mengenal pantomim dan mampu menggunakan serta mengenali potensi tubuhnya untuk berkomunikasi, berekspresi, dalam ruang lingkup kesenian. Kebiasaan Bengkel Mime adalah berpentas di ruang yang bukan standar panggung, sehingga tim artistik harus punya kreativitas dan imajinasi untuk membaca ruang tidak hanya sebagai panggung pentas, tetapi panggung yang menjadi bagian bersama penonton. Seperti halnya pementasan-pementasan tradisi, wayang, jatilan, reog dlsb yang dapat menggunakan ruang apa saja sebagai panggung pergelaran.
Malam harinya panitia telah menyiapkan ruang bagi para penonton yang kurang lebih memadati aula terbuka gereja. Jumlah penonton yang hadir menurut para panitia sekitar 700 orang. Memang tidak banyak pertunjukan teater atau pantomim di Kefa, sehingga reaksi penonton bermacam-macam ada yang histeris, tertawa, takut. Ada juga yang diam; barangkali bingung. Rangkaian pertunjukan pementasan pun biasanya disisipi pertunjukan lain sebagai jeda, ada yang membacakan puisi karangannya dan ada pula yang menyumbangkan suaranya melalui lagu. Seusai pementasan kami makan bersama hidangan khas Kefa: Nasi Jagung.
Hari terakhir di NTT kami menuju perbatasan kabupaten Timor yaitu Atambua menggunakan dua mobil. Kurang lebih 2 jam perjalanan berkelok menuju arah negara Timor Timur. Tidak pernah terbayangkan akhirnya melewati kota ini, di mana sewaktu SMA pernah mempunyai kawan yang berasal dari kota ini dan lama tak berjumpa. Kota yang kecil dan tenang, keramaian yang terbatas hanya pada sudut-sudut tertentu.
Kami tiba di kantor perbatasan yang baru saja di bangun pemerintah, yang sarana dan prasarananya lebih lengkap, bangunannya pun lebih modern, penataanya juga lebih baik dan canggih. Meski bangunan tersebut tampak kontras dengan rumah tinggal penduduk di sekitarnya yang tampak sederhana. Tetapi sebagai simbol kebanggaan perwujudan kedaulatan bangsa bangunan yang megah tersebut tampaknya merupakan komitmen pemerintah untuk memuliakan masyarakatnya. Hal tersebut tampak dari jumlah transaksi komoditas yang lebih lancar keluar masuk antar perbatasan yang konon meningkat. Dari sebelum diperbaiki, transaksi barang keluar masuk kantor perbatasan tersebut yang tercatat hanya sekitar 600-700 komoditas, tetapi setelah di perbaiki kata petugas kantor imigrasi, jumlah transaksi yang tercatat keluar masuk meningkat menjadi 4000-4500 setiap bulanya.
Sore kami sempat mampir di tepi pantai perbatasan Pulau Timor, menyaksikan matahari terbenam yang indah. Pantai yang sepi dan tidak ada orang hilir mudik. Sesekali hanya ada babi atau anjing lewat tanpa peduli. Malam harinya sempat bertemu barang 5 menit dengan teman SMA yang sudah sekitar 12 tahun tidak berjumpa, dan harapan tipis untuk bertemu, namun akhirnya bisa saling bersapa, rasanya bahagia akan tetapi juga seperti mimpi. Kami harus berburu waktu untuk pulang ke Kupang mengejar pesawat esok pagi, tidak ada mobil lagi yang akan mengantar kami. Kami harus mengejar jadwal bus yang berangkat malam ini pukul 20.00. Beberapa kawan yang berasal dari pulau ini berusaha keras untuk mencari kontak bus atau menanyakannya di depo agar kami tidak tertinggal bus.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan berkelok, beberapa orang tertidur karena kelelahan, beberapa lagi bernyanyi menghabiskan waktu mendengarkan musik yang diputar. Perjalanan dengan kecepatan tinggi yang tadinya 2 jam menjadi 1 jam 30 menit, akhirnya membuahkan hasil baik, masih ada bus terakhir yang belum berangkat dan mereka berkenan menjemput kami di losmen tempat menginap sebelum berangkat Kupang. Kami mulai berkemas dengan cepat, dan kernet bus membantu menata barang-barang kami di bus. Bus antar kabupaten ini berpenumpang sekitar 30an, dengan ongkos per orang sekitar 70 ribu. Musik-musik pop 90an selalu bergema dengan keras di pengeras suara bus beradu dengan suara mesin, jika kami mengobrol dalam bus harus sedikit berteriak agar teman bisa mendengar apa yang diperbincangkan.
Bis beristirahat sekali di tengah perjalanan di tengah kota Soe untuk makan malam, di sebuah warung. Biasanya para penumpangnya bisa meminta pak sopir berhenti jika kelaparan selama perjalanan. Jam 2 pagi kami telah sampai di tepi pantai Lasiana, Kupang. Kami bergegas turun, mengemasi barang dan mencari tempat istirahat. Pagi sekali kami harus bangun dan meninggalkan Kupang untuk kembali ke pulau Jawa.
Penulis

Ficky Tri Sanjaya. Seorang Aktor Pantomim dan Teater, Tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil menggeluti berbagai macam seni yang membuat daya kreativitasnya terus tumbuh hingga sekarang. Bulan Desember ini Ficky bersama kelompok Parisukaria berpentas keliling di Negeri Sakura, Jepang.






