Kamis, Februari 5, 2026
No menu items!

CATATAN PERJALANAN BENGKEL MIME KE TIMUR #2

Must Read

24 April 2018

Dalam perjalanan menuju Ambon memakai kereta dan pesawat, kami singgah terlebih dahulu di Surabaya tepatnya di daerah Jambangan. Kami singgah untuk keperluan menginap semalam sekaligus bertemu dengan Iwan Curex yang membantu per-lampu-an untuk pentas di Ambon dan Kupang. Kami menginap di tempat sepupu Curex. Pada malam hari dengan minum secangkir kopi dan merokok santai menghabiskan malam di area pemukiman rumah Surabaya mengobrol tentang kesenian wayang dan perkembanganya. Suara wayang sangat lirih ditelan kota Surabaya yang ramai dan penuh hingar bingar. Pagi sekali pukul 04.00 kami sudah bergegas bangun dan bersiap menuju bandara Juanda menuju Makassar untuk transit kurang lebih selama tiga jam sebelum menuju ke Ambon. Tiga orang dari kami saya, Curex dan Andy menghabiskan waktu di pintu keluar, sedangan Yudhi Becak menghubungi teman kuliahnya yang ingin bertemu barang sejenak di luar bandara untuk sekedar ngobrol dan ngopi. Setelah keluar untuk menuju pintu masuk kami sempat nongkrong di cafe kopi untuk minum, sebelum kemudian harus kembali check-in untuk lanjut berangkat ke Ambon.

Kamis sore sampai di Ambon

Kami dijemput oleh Zaid Maghrib (nama yang sebenarnya), tapi dia mengaku awalnya kepada kami biasa dipanggil Diaz Dosa, yang ternyata nama kebalikan dari aslinya. Bandara Pattimura suasananya tampak ceria, entah karena saya baru dan pertama kali sangat tertarik dan tertantang untuk mengenal tempat yang baru atau memang suasananya begitu, sebab ketika turun dari pesawat banyak oma dan opa yang berjalan sambil menyanyi lagu Ambon, barangkali karena ungkapan rasa syukur karena telah sampai dengan selamat di tanah kelahirannya. Bahkan alunan musik terdengar di dekat pintu keluar ada beberapa orang menyanyi dan menari lagu Ambon, sebuah sambutan hangat bagi kami sambil menunggu barang-barang dari bagasi pesawat datang. Rupanya menurut cerita teman asal Ambon adanya sambutan musik tersebut lantaran saat ini kota Ambon sedang gencar didorong oleh pusat menjadi kota musik. Alasannya adalah banyak tokoh nasional (penyanyi dan musisi) berasal dari Ambon.

Kami berempat sempat menunggu jemputan cukup lama di luar bandara dengan perut sedikit keroncongan karena baru sempat makan sedikit di pagi hari dan makan roti di siang sebelum berangkat. Rencana kami bersama tuan rumah akan dijemput menggunakan motor, tetapi ternyata ada beberapa koper yang membuat tidak memungkinkannya berboncengan dengan sepeda motor. Alhasil ada beberapa teman yang dibonceng dengan motor ada pula yang ikut menaiki angkot yang sampai hingga di sekitar bandara. Sungguh mengesankan, saya kira hal ini jarang terjadi di bandara-bandara besar di Jawa. Di angkot kami ditemani oleh Mas Awi, salah satu personel pendamping dari Bengkel Seni Embun angkatan 2008. Awi adalah salah satu keponakan dari salah satu tokoh di KPK. Saat kami tiba dan duduk di dalam angkot bersama beberapa penumpang lain menuju kota Ambon dari Bandara, banyak dari mereka merasa akrab dan tahu bahwa kami dari Jawa dan memanggil kami dengan sebutan “mas”. Mereka begitu ramah, bercerita pada kami tentang pengalamannya yang juga pernah ke Jogja. Kebetulan yang duduk di sebelah saya adalah nona-nona, mereka bercerita bahwa sangat senang tinggal di Jogja orang-orangnya baik dan ramah, mereka merasa aman dan nyaman. Nona tersebut bercerita bahwa tepat di bulan ini, di kota Ambon, sedang musim buah terutama Durian hingga harganya turun drastis mencapai 1000 rupiah per biji bahkan masih bisa ditawar hingga 500 rupiah. Menurut mereka Durian di sini kecil tetapi manis, berbeda jenisnya dari yang di pulau Jawa yang menurut mereka kurang manis rasanya. Durian di Ambon menjadi murah karena banyak stok kiriman dari Pulau Seram yang melimpah. Selain Durian di Ambon sedang musim Manggis, Cempedak dan Duku.

Buah khas Ambon sendiri dan yang sulit didapatkan di tempat lain adalah Gandaria. Rasanya seperti Mangga, ukurannya sebesar Sawo. Tetapi jika sedang tidak musim sulit untuk mencarinya karena buah ini di Ambon termasuk buah yang menjadi primadona. Kami dibawa oleh Awi dan Bang Diaz menginap di sebuah kos di Kampung Jawa dekat Sanggar Bengkel Seni Embun yang merupakan rumah Bang Diaz sendiri. Jadi setelah meletakan barang-barang sebentar kami diminta untuk turun ke rumahnya sekadar minum teh dan menyantap suguhan sambil mengobrol ringan.

Bengkel Seni Embun berdiri tahun 2004 baru kemudian diresmikan secara hukum menjadi yayasan. Sanggar ini banyak bergerak di Teater, Seni Rupa, Film dan Sastra. Pendirinya Bang Diaz pernah kuliah di Seni Rupa IKJ namun tidak selesai. Meski sering mengikuti acara festival perlombaan teater nasional yang paling menyedihkan adalah teman-teman dari Ambon sering disamakan dengan teman-teman dari Papua padahal karakter dan budayanya berbeda meski sesama ras Melanesia. Mereka merasa sedih jika orang Ambon masih selalu mendapat stigma ras hitam dan keriting sebagai identitas yang melekat di tengah orang umum. Padahal identitas manusia Ambon telah bercampur secara budaya, telah mengalami sejarah akulturasi yang panjang dengan ras dan budaya lain.

Beberapa orang yang tinggal di Kampung Jawa ini dulunya adalah korban dari konflik sektarian yang terjadi di tahun 1999 -2002. Padahal sejak zaman nenek moyang, ungkap Zaid, telah terjadi percampuran karena arus kebudayaan dan perdagangan yang bergerak dan kemudian terjadi perkawinan antar kultur ini. Marga Zaid yang disandang menurut ceritanya berasal dari Maroko dan Ibunya yang keturunan Belanda berasal dari Banda yang dahulu pada era kolonial merupakan pusat kota.

Dukungan pemerintah untuk kegiatan teater juga sedikit. Penyebabnya adalah tekanan dari pusat untuk kota Ambon menjadi kota musik, padahal jumlah musisi dan pemusik atau sekolah musik sudah hampir tidak ada. Ketika ada sponsor masuk membiayai teman-teman jadi sulit untuk bicara untuk mengekspresikan pendapat sendiri karena harus berkompromi dan pelaku teater menjadi kurang militan. Dana-dana pemerintah yang banyak diberikan pada musisi dan seni musik kemudian menyebabkan maraknya sudut-sudut kota dengan band-band yang meramaikan kota sebagai ikon yang terkesan dipaksakan (proyek). Banyak musisi-musisi yang hebat pun tidak tinggal di Ambon, sebab lebih nyaman tinggal di Jawa. Peribahasa di zaman kolonial mengatakan orang-orang tersebut suka makan keju dan berbahasa asing. Menyamankan diri menjadi borjuis kecil (bukan dirinya sendiri).

Ambon sebagai daerah plural dan dan multikultural harus dibaca ulang dalam peta arus kebudayaan yang telah bergeser dari era lampu petromaks, masa lisrik, televisi, ke teknologi gawai dan sosial media. Ada posisi transisi di mana kota Ambon merasa tertinggal dan sedang memulakan (lagi) dalam arus kebudayaan nasional saat ini. Pengaruh kebudayaan secara terpusat atau pola sentralistik membuat pengelolaan pemerintah mengalami penyeragaman dan imbasnya adalah program-program kebudayaan yang tidak dapat sesuai dengan spirit kemandirian. Kebudayaan baru masyarakat sebagai identitas yang diciptakan melalui pengetahuan dan penelitian lokal masyarakat serta pergeserannya.

Teater dan ruang ekspresi di Ambon juga sulit dicari (menurut informasi Zaid). Ada seorang musisi Ambon tua yang bagus hanya dibayar 300 ribu per tampil, itu pun diambil sebab orang dia harus beli rokok. Makan sehari-hari orang Ambon pun saat ini beras, tidak lagi sagu seperti umumnya dimengerti masyarakat luas. Para pengajar dari Bengkel Seni Embun bekerja sebagai guru seni di sekolah.

Transportasi di kota Ambon adalah angkot. Pasarnya unik di mana dagangan ditata dengan rapi beralaskan cawan. Banyak pangkalan ojek di gang-gang jalan raya besar. Ongkos makan di pinggir jalan berkisar 10-20 ribu, Makan di dalam kampung pun harganya lebih murah. Semenjak kerusuhan kota Ambon terbagi dua yang dulunya berasal dari satu daerah kemudian terpisah berdasar agama sebagai identitas. Jika pagi hari, seperti layaknya di Jogja, banyak yang berjualan jajanan pasar.

28 April 2018

Harga sayur di pagi hari di Ambon murah. Ketika beranjak siang dia sedikit mahal dan sore harganya akan turun lagi. Harga rokok lebih mahal dari pada di Jawa, juga air mineral bermerk. Sementara bahan bakar dan pokok sama. Seorang siswa berkata dalam sebuah sesi seusai pentas dan workshop bahwa orang Ambon gengsinya tinggi. Pagi hari Sabtu beberapa siswa Muhammadiyah SMK Waru sudah berkumpul, workshop dan pementasan pantomim memang jarang di sini. Dari sekitar 30 an siswa hanya 3 orang yang pernah menonton via media sosial. Antusias siswa lumayan baik meski sedikit terkendala bahasa, tidak semua siswa ikut, banyak daripadanya pulang dengan cara izin ke toilet. Ketika presentasi sesuai workshop tampak jumlah peserta kurang lebih 70 an orang. Beberapa siswa potensial memiliki kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan, bahkan ada beberapa siswa yang sebelumnya tidak minat menjadi berniat bahkan lebih dari itu berani untuk tampil.

Di Ambon cuaca tidak menentu. Terkadang hujan bisa datang secara tiba-tiba. Nama kampung Jawa di Ambon berasal dari pekerja zaman kolonial yang didatangkan dari Jawa untuk mengurusi kelapa. Menurut cerita beberapa orang yang tinggal di situ, ada beberapa yang keturunan Jawa. Ada pemuda bernama Ricky yang hidup dengan satu ginjal, karena ginjal yang satu tertembak karena kerusuhan. Di Ambon kendaraan berjalan cepat dan jalanan padat. Ketika orang menyeberang harus pula tidak boleh ragu-ragu sebab kendaraan di sini meski cepat mereka siaga. Dalam keramaian lalu lintas yang cepat dan padat, jika terjadi kecelakaan orang-orangnya bisa langsung responsif untuk melihat dan berlari, mendekati sumber kejadian, entah hal tersebut karakter atau trauma suara keras yang berlebihan.

Penulis

Ficky Tri Sanjaya. Seorang Aktor Pantomim dan Teater, Tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil menggeluti berbagai macam seni yang membuat daya kreativitasnya terus tumbuh hingga sekarang. Bulan Desember ini Ficky bersama kelompok Parisukaria berpentas keliling di Negeri Sakura, Jepang.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

“PARADE PERTUNJUKAN PANTOMIM ‘SOWAN’ 2026 TANDAI PEREsMIAN YAYAsAN RUMAH PANTOMIM YOGYAKARTA”

Kelompok seni Rumah Pantomim Yogyakarta secara resmi akan mengumumkan transformasinya menjadi Yayasan Rumah Pantomim Yogyakarta melalui sebuah peristiwa artistik...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img