Kamis, Februari 12, 2026
No menu items!

CATATAN PERJALANAN BENGKEL MIME KE TIMUR #1

Must Read

Catatan Ulang Memahami, Mengerti dan Menyirami Latar Belakang lahirnya Gagasan “Mandala Indonesia Cinta” Bengkel Mime Theatre

Komunitas di Kudus dan Romo Ipeng

          Bengkel Mime Theatre (BMT) sejak 2010 telah kerap melakukan kerja-kerja kolektif bersama jejaring komunitas baik seniman maupun non seniman di daerah lain dengan tajuk “Mandala Indonesia Cinta”. Sebelum Kudus sudah pernah dikerjakan pada sepuluh daerah (Purwokerto, Solo, Bandung, Jakarta, Semarang, Padang Panjang, Malang, Bali, Nusa Tenggara Barat, Makassar). Sebenarnya cita-citanya amatlah tidak muluk-muluk, yaitu mendorong tumbuhnya infrastruktur kerja jaringan dan wacana pantomim dengan berbagi metode dan dialog gagasan di kota-kota melalui workshop dan diskusi seusai karya (pementasan) dilaksanakan, harapan gagasan dan ide mengenai pantomim dapat bermanfaat tidak hanya sebagai kerja artistik di atas panggung, tetapi juga bermanfaat bagi perkembangan kehidupan nyata (pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dsb dll). Sehingga penerapan pantomim tidak hanya sebatas pada seniman atau komunitas pantomim saja, melainkan juga seluruh lapisan warga masyarakat melalui jejaring budaya dalam berbagai profesi dan status (guru, anak-anak, pekerja kantor, PNS, olahragawan, sastrawan, dll) .

          Program ini ketika itu digagas dan disusun dalam semangat muda dengan kerangka sistem kemandirian. Muda yang dimaksud adalah ketika itu disusun oleh seluruh anggota BMT yang berjumlah 6 orang (Andy, Asita, Ari, Ficky, Hambar Riyadi) yang masih dalam keadaan menyadari bahwa masih berusia relatif muda dan belum berkeluarga sehingga belum memiliki tanggung jawab dan tuntutan ekonomi lain selain dirinya sendiri. Jiwa muda kala itu, dengan gelora idealisme yang tinggi, turut membantu terwujudnya cita-cita program ini secara khusus. Kemandirian di dalam program ini adalah adanya sistem kerjasama berbasis komunitas yang mampu berkembang bersama melalui tawaran dialog dan diskusi wacana berdasarkan kemampuan dan potensi sumber daya manusia yang ada.

          Selain tawaran dialog dan diskusi wacana, kerja kemandirian yang dikembangkan juga berdasarkan pada cara mendorong jejaring kerja baik seni maupun non seni melalui gagasan dan karya yang dirancang tumbuh, dibiayai, serta mendapatkan ruang-ruang alternatif pertunjukan juga keuntungan yang ditanggung bersama atau gotong royong (promosi, tiket, workshop, transportasi, akomodasi) dan dengan prinsip saling menguntungkan. Sehingga program yang dicetuskan Bengkel Mime Theater bertajuk “Mandala Indonesia Cinta” dengan semangat kemandirian dan kerja gotong royong harapannya dapat tumbuh, menggema, disirami, dimiliki, spiritnya tidak hanya oleh BMT saja tetapi juga oleh publik lain. Selain itu program “Mandala Indonesia Cinta” ini juga tidak bernada atau bernafaskan chauvinisme atau nasionalisme sempit tetapi secara gagasan semangat program ini pun universal dapat dikembangan diwujudkan dengan sistem dan gagasan yang sama di belahan negara lain. Wujudnya dari gagasan tersebut pernah dilakukan di luar Indonesia, yaitu pada pementasan dan workshop di Substation, Singapura, dengan jejaring komunitas lokal di negara tersebut. Seluruh program ini berlandaskan kepercayaan, pertemuan dan saling menghargai.

Kudus, 20 April 2018 (Andy, Abhe, Odon, Becak dan Yancuk)

          Setelah berhenti tidak memproduksi karya kelompok selama kurang lebih 2 tahun lamanya, akhirnya di tahun 2018, tepatnya pada bulan April, Bengkel Mime kembali terbangun dari tidur panjang. Kali ini dengan memproduksi nomor karya-karya tunggal dan duetnya. Andy Sri Wahyudi menyiapkan 3 nomor tunggal berjudul “Dilarang Berburu”, “Kau Tak Tahu Perasaanku”, “Pertemuan Sesudah Hujan”. Saya Pribadi menyiapkan 2 nomor tunggal berjudul “Mas Tomat” dan “Mangkat Dadi Asu”. Sementara untuk pertunjukan berdua (duet) kami mementaskan lakon berjudul FIT Malam itu Bicara Sendiri. Pada produksi ini 2 orang anggota bengkel yang lain sedang off atau beristirahat lantaran berbagai alasan dan sebab. Alhasil Andy dan saya yang masih ingin terus bregerak bersama BMT terus menyirami gagasan ini dalam produksi ini dibantu oleh Odon, Yanuar, dan Becak. Oh, iya, juga bersama Mas Abhe supir rental mobil yang pendiam dan ternyata sangat supel.

          Seperti dalam program Bengkel Mime sebelumnya perjalanan terkadang ditempuh lewat berbagai macam cara: bisa darat, laut, atau udara. Hal tersebut sudah menjadi hal biasa, meski dalam persiapannya perlu banyak hal teliti yang dipersiapkan baik perlengkapan pribadi, kebutuhan pentas dan konsumsi. Dalam setiap kali perjalanan program Bengkel Mime biasanya setiap anggota memiliki peran ganda, tidak hanya bermain sebagai penampil tetapi juga mengurusi hal-hal lain di luar kebutuhan tersebut. Bukan perkara dana yang kecil maupun besar melainkan kebutuhan program ini lebih kepada kepentingan dan gagasan kerja atas keuntungan bagi program kelompok yang dikerjakan mandiri. Namun tidak dipungkiri jika tidak dalam semua perjalanan kerja bersama ini pula terkadang mendapat keuntungan meski tidak besar.

          Jumat, perjalanan dari Jogja ke Kudus, kami merencanakan waktu selama tiga hari di sana. Ditempuh dengan berkendara menggunakan mobil, perjalananan ini seperti perjalanan piknik luar kota menggunakan mobil pada umumnya. Berbagai keperluan dan kebutuhan kegiatan selama di lokasi harus dapat diringkas dan ditata seramping mungkin dan dimasukkan ke dalam tas pribadi dan koper. Kebutuhan-kebutuhan properti, artistik yang berukuran berat biasanya meminjam atau meminta dicarikan pada panitia ketika di lokasi di mana kami singgah berpentas, namun sifatnya tidak dadakan tetapi kami mengirimkan daftar kebutuhan barang yang perlu dibantu dipersiapkan di lokasi. Kebutuhan lain seperti buklet selebaran dan beberapa souvenir karya kelompok pun biasanya kami bawa sebagai usaha ekonomi lain. Perjalanan darat kami kali ini menempuh jalur Solo, Purwodadi, Pati, Sukolilo, Pantura, hingga sampai ke Kudus di daerah Rejosari.

          Sebelum sampai ke lokasi, selama perjalanan kami juga biasa mampir makan untuk menikmati menu lokal yang cukup menarik di daerah tertentu. Acara Untu, saya mengistilahkannya, sangat penting sebagai cara untuk mengenali atau berbaur rasa dengan berbagai menu dari lidah lain dan mengenal unsur kebudayaan lain yang terkadang berlainan suasana dan rasa di lidah (Soto Batok Sambisari, Swike Cik Ping Purwodadi, Soto Kerbau Kudus, dll). Selain makanan juga obrolan, celetukan, ejekan, guyonan, mengenai pemandangan arsitektur, sejarah, “porno”, kelucuan, cerita lokal, dan politik, selama perjalanan menguji dan membuat diri lebih mengenali karakter pribadi maupun orang lain. Pengalaman soal obrolan dan makanan tersebut tentu menambah kosakata dan bahasa serta pengenalan rasa kami terhadap daerah atau identitas tertentu melalui sesuatu hal baru yang terkadang unik atau aneh yang hanya dapat kita temui pada sebuah perjumpaan dalam perjalan panjang. Pengalaman tersebut secara spontan selalu berbeda atau bahkan bisa sama pada daerah satu atau yang lain.

          Lokasi kami berkegiatan kali ini adalah di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Sebuah tempat yang dibangun sebagai ruang publik bagi tumbuhnya gagasan dan wacana kesenian khususnya di area Rejosari. Di lokasi kami disuguhi berbagai arsitektur bangunan berbentuk joglo dan rumah-rumah bambu yang unik dengan nuansa alam yang terjaga. Balai Budaya Rejosari ini dibangun oleh Romo Haryono yang sangat peduli untuk menjaga ekosistem air di daerah tersebut. Semangat balai budaya Rejosari untuk melestarikan air muncul terutama dikarenakan daerah Rejosari secara geografis adalah letak dari sumber mata air daerah. Sumber mata air tersebut tercermin dari adanya dua sumber mata air yang tidak berjauhan, antara lain Sungai Logung dan Sendang Kanoman. Sumber Sendang Kanoman ditengarai warga sekitar bahwa siapapun yang membasuh diri di sana akan dapat awet muda. Sumber air ini muncul dari bawah sebuah pohon besar dan saat ini telah dibangunkan bilik-bilik bagi orang yang datang dan akan membasuh diri mereka di sendang tersebut. Sementara Sungai Logung adalah sebuah sungai yang terletak di bawah tebing-tebing tinggi di daerah Rejosari. Sungai Logung menurut cerita terkenal dengan airnya yang jernih, tetapi pada saat menengok ke sana ternyata sedang ada proyek pembangunan Waduk oleh pemerintah pusat melalui program infrastrukturnya. Alhasil sungai yang jernih yang ingin kami lihat sedang keruh karena bercampur dengan tanah dari dampak pembangunan waduk.

          Selama Di Kudus, BMT melakukan workshop kebutuhan dengan mengundang keikutsertaan komunitas-komunitas yang ada di Kudus. Workshop dibatasi 20 orang peserta. Antusias peserta di Kudus cukup baik dengan terpenuhinya kuota. Workshop kali ini diadakan secara gratis sebab program kali ini BMT telah didukung oleh sponsor; biasanya akan berbayar jika tidak ada sponsor. Meskipun begitu cara-cara kerja komunitas yang sama seperti dalam tujuan program tetap dilakukan. Workshop di Kudus untuk pemula kali ini mencoba berangkat dari ruang eksplorasi dan penciptaan karya, berbasis pada bentuk-bentuk tubuh secara sederhana, berangkat dari serta melalui sumber pengalaman penghayatan personal atas relasinya dengan alam sekitar. Materi ketubuhan yang diberikan oleh Mas eSWe antara lain: intensitas, ide, menggambar wujud, dan eksplorasi gerak. Saat eksplorasi ide-ide yang muncul secara spontan dalam workshop pada kelompok ternyata banyak temuan menarik seperti bergerak menjadi air sungai dan kemudian tumbuh menjadi pohon, api yang membakar kayu, bertani, dan ruang meja makan.

          Pementasan dan diskusi dilakukan di sesi terakhir, selama diskusi pertunjukan BMT menuai berbagai tanggapan dan pendapat, tidak semua memuji baik dan banyak pula yang mempertanyakan berbagai tawaran gagasan pertunjukan yang disajikan oleh BMT. Salah seorang penanya yang menonton merasa tidak dapat memahami gagasan keseluruhan pertunjukan. Meskipun begitu pada akhirnya ia terdorong melakukan sesuatu setelah menyaksikan pementasan. Artinya yang ia lihat dari pementasan meski tidak mengerti seluruhnya, tetapi ada nilai atau potensi yang ditawarkan, yang menjadi ruang dialog yang dipantulkan dari sebuah peristiwa pementasan sebuah sajian karya.

          Pertunjukan BMT yang sengaja ditampilkan di ruang alternatif, yang tidak lazim di Rejosari juga memunculkan respon baik dari Romo Ipenk, sebagai tuan rumah yang mewakili Romo Haryono. Romo Ipenk menyatakan bahwa pembacaan dan penggunaan ruang tertentu (tidak berupa gedung pertunjukan yang lazim sebagaimana pertunjukan profesional) atau ruang-ruang konvensional di Rejosari yang biasa dipergunakan, membuatnya berpikir ulang mengenai ruang Rejosari yang memiliki banyak situs saintifik yang dapat dipergunakan untuk pertunjukan. Malam itu memang BMT tidak menggunakan ruang yang biasa dipergunakan oleh berbagai kelompok pertunjukan yang biasa hadir di sana, tetapi BMT mencoba membaca, membuat dan menghidupkan ruang baru. Dalam diskusi ruang pementasan tersebut ternyata memiliki dampak dan pengaruh pada publik penonton, memunculkan dimensi lain bahwa ruang pertunjukan dan nilainya bergantung pada manusia atau seniman yang memproduksi wacana ruang secara lain kepada publik penonton sebagai peristiwa dialog.

          Di Kudus kami menginap di balai-balai rumah panggung bergaya campuran. Bangunan Balai budaya Rejosari ditata begitu unik dengan beberapa pendopo, perangkat gamelan, wayang, perpustakaan, juga banyak pohon besar dan pohon buah seperti durian, ada juga kandang unggas dan anjing. Suasana Balai budaya, konsep pembangunannya, nampaknya memang didesain untuk bersinergis dengan alam sehingga suasana menjadi teduh ketika siang terik tiba. Selama di Kudus kami juga mencoba menu Sate Kerbau dan nongkrong di sebuah warung rames khas Kudus yang cukup tenar di laman pencarian Google.

Penulis

Ficky Tri Sanjaya. Seorang Aktor Pantomim dan Teater, Tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil menggeluti berbagai macam seni yang membuat daya kreativitasnya terus tumbuh hingga sekarang. Bulan Desember ini Ficky bersama kelompok Parisukaria berpentas keliling di Negeri Sakura, Jepang.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

CATATAN PERJALANAN BENGKEL MIME KE TIMUR #2

24 April 2018 Dalam perjalanan menuju Ambon memakai kereta dan pesawat, kami singgah terlebih dahulu di Surabaya tepatnya di daerah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img