Pada 31 Januari 2026, di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Kisam Dji’un. Malam itu, di tengah barisan penonton yang padat dan pengap oleh ekspektasi, saya kembali diingatkan mengapa 12 Angry Men tetap menjadi naskah yang “angker” untuk disentuh. Karya Reginald Rose ini adalah sebuah mikrokosmos dari segala yang rapuh di dalam kepala manusia: prasangka, ego, dan kebenaran yang sering kali hanya setipis kertas. Dan Teater Zat tidak datang dengan repetisi yang patuh, di bawah penyutradaraan Aldi Cendikia, ada sebuah tawaran segar yang menarik serta menggugah rasa penasaran: perombakan dominasi lelaki dan menyusupkan napas perempuan ke dalam ruang sidang yang maskulin itu.

Intervensi gender ini mewujud melalui kehadiran tokoh-tokoh seperti Rosella (Juri 1), Margaret (Juri 2), Sophie (Juri 8), hingga Samantha (Juri 9), yang seketika memberikan lapisan emosional berbeda pada ruang yang biasanya gersang. Kehadiran perempuan di ruang juri mampu mengubah dinamika kuasa; cara persuasi yang biasanya didominasi otot vokal bergeser menjadi sesuatu yang lebih subtil dan berlapis. Di sini, kita melihat bagaimana bias kelas dan gender berkelindan di meja juri, menciptakan pergulatan argumen yang jauh lebih cair sekaligus kompleks. Keberanian Teater Zat untuk mengeksplorasi naskah yang mengandalkan intensitas vokal dan ketajaman akting ini patut dirayakan sebagai upaya pendewasaan teater kampus yang seringkali terjebak dalam zona nyamannya.
Namun, memindahkan naskah yang begitu lekat dengan sosiokultural Amerika 1950-an tidak cuma soal mengalihbahasakan teks, tetapi juga memindahkan ‘suhu’ zamannya. Jika Peter Brook melihat teater bisa bermula dari sebuah empty space (ruang kosong), maka dalam semesta Reginald Rose, ruang tersebut justru tak boleh dibiarkan hampa. Ia harus dipadati oleh densitas tekanan psikologis dan pengapnya atmosfer yang menjadi katalisator bagi tiap amarah yang meledak di meja juri. Dan inilah yang menjadi tantangan Teater Zat.
Lapis Empati dan Ruang yang Mendingin
Sophie Parker, misalnya, tidak tampil sebagai pahlawan heroik yang mencari panggung, tetapi sebagai arsitek yang skeptis. Ia tidak mencoba menghancurkan argumentasi juri lain dengan gertakan seperti yang dilakukan oleh Michael (Juri 10) dan Thomas (Juri 3) tetapi ia mengurai simpul-simpul keyakinan juri lain melalui presisi detail. Kehadiran Rosalia yang membawa otoritas seorang guru, serta Samantha dengan kelembutannya, menggeser poros perdebatan, dari sekadar penghakiman “benar atau salah” yang hitam-putih, menjadi sebuah dialektika tentang “harga sebuah nyawa.” Pergeseran ini adalah sebuah progresivitas yang menyegarkan, mengingat intensitas dialog naskah ini sangat rentan terjebak dalam keriuhan maskulin yang monoton.

Namun, pencapaian konseptual yang apik ini sayangnya terbentur pada dinding eksekusi yang kurang presisi. 12 Orang Marah sejatinya membutuhkan apa yang disebut sebagai atmospheric dramaturgy—sebuah kondisi di mana ruang tidak hanya dijadikan sekadar latar, melainkan subjek. Karena seharusnya panas musim panas di New York dalam naskah aslinya tidak hanya dekorasi cuaca semata, tapi difungsikan sebagai katalisator yang mendorong saraf-saraf para juri hingga ke titik didih. Di panggung ini, kegerahan itu sayangnya belum menjelma menjadi “aktor ke-13”. Saya tidak melihat peluh yang mengganggu, atau kegelisahan tubuh yang merasa terperangkap dalam suhu yang mencekam. Tanpa tekanan suhu ini, kemarahan para tokoh terkadang terasa muncul dari ruang hampa dan bukan sebagai akibat dari tekanan lingkungan yang gerah.
Ketidakterhubungan ini meluas pada semiotika visual. Ada semacam disonansi antara identitas tekstual yang diusung—nama-nama Barat yang kental dengan latar hukum Amerika—dengan penanda visual yang hadir di panggung. Properti dan beberapa busana yang tidak secara spesifik merujuk pada latar waktu dan tempat tersebut menciptakan jarak estetis. Penonton seolah ditarik ulur dalam jarak estetis yang canggung: dipaksa mengikuti narasi hukum yang sangat spesifik, namun dihadapkan pada visualisasi yang mengambang. Kondisi “tanggung” ini ditambah oleh alih bahasa yang masih menyisakan kekakuan struktur asalnya. Dialog-dialognya seringkali gagap dalam menentukan posisi, terjepit di antara formalitas ruang sidang dan keberantakan bahasa sehari-hari, yang pada akhirnya membuat intensitas perdebatan sesekali kehilangan denyut alaminya.
Satu momen yang luput dari daya kejut adalah penemuan pisau lipat yang identik. Sebagai sebuah peripeteia (titik balik), adegan ini seharusnya menghantam kesadaran penonton. Sayangnya, eksekusinya terasa datar, kehilangan momentum yang seharusnya mampu mengubah arah angin perdebatan secara instan.
Catatan paling kritis saya tujukan pada adegan di kamar mandi. Dalam sebuah drama realisme yang berpijak pada institusi formal seperti pengadilan, membiarkan laki-laki dan perempuan bergumul dalam satu ruang toilet yang sama adalah sebuah ruptur logika. Kesalahan kecil dalam logika ruang ini berisiko meruntuhkan seluruh bangunan kepercayaan yang telah dibangun susah payah oleh para aktor.

Penutup
Meski demikian, saya harus angkat topi pada Frank (Juri 7). Frank sang salesman ini adalah nyawa bagi tempo pertunjukan yang tampil dengan kecairan yang luar biasa, ia tahu kapan harus menjadi menyebalkan dan kapan harus memberikan ruang bagi rekan mainnya seolah ia adalah jangkar yang membuat pertunjukan ini tetap membumi di tengah dialog-dialog yang berat.
Walhasil, secara keseluruhan, saya rasa pementasan Teater Zat ini adalah sebuah keberhasilan dari keberanian. Antusiasme penonton yang meluap adalah bukti dari bagaimana keberhasilan mereka dalam mengambil hati penonton; beberapa tawa, geram, dan emosi lainnya yang saya dengar saat pertunjukan. Catatan-catatan teknis di atas hanyalah serpihan detail yang, diharapkan dapat membantu pementasan mereka berikutnya lebih melekat dan menghantui.
Bravo Zat!
PENULIS

Maysha Yusuf Fadillah, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negri Jakarta (UNJ). Cowok kalem yang gemar menulis dan mengapresiasi seni pertunjukan maupun sastra. Anak muda yang sukak bergaya ala John Travolta ini aktif berkegiatan di komunitas Atelir.






