Dengan hati yang sedih saya menuliskan rubrik “Cita-cita” kali ini, sebab usaha dan rancangan selama satu tahun telah hilang sia-sia. Sedihnya melebihi putus dengan seorang kekasih lantaran tidak disetujui kedua orang tuanya.
Begini ceritanya:
Saya dan kedua teman (Koto dan Mbuko) membentuk sebuah kelompok Sastra. Tepatnya tahun 2024 akhir. Tak selang beberapa lama kelompok tersebut telah mewujudkan beberapa agenda kerja. Kami telah membuat beberapa acara di antaranya: Kelas menulis yang diampu oleh Abang Saut Situmorang dan Panggung Sastra berhadiah yang diselenggarakan secara berkeliling (Galeri Lorong, Sarang Building dan Sandya Tirto Gunung). Selain itu kami juga telah menyusun dan menyelenggarakan acara diskusi sastra.
Kami menamainya “Keringat Sastra”. Sebuah nama yang amat bersemangat dan penuh vitalitas. Keringat Sastra dibentuk guna membangun, mengimajinasikan dan menyelenggarakan kegiatan bersastra di sekitar kita dan Indonesia. Dengan demikian sastra akan tumbuh organik dan menguat. Huuaaahhh… gaya nian apa yang kami cita-citakan. Memang tak ada yang seindah cita-cita di dunia ini. Cita-cita tak sekadar kenikmatan dunia.
Dari sanalah saya mempunyai sebuah ide untuk membuat Web Sastra yang nantinya sebagai wadah tulisan para sastrawan. Tanpa membeda-bedakan yang tua maupun muda. Sebab sastra tak pernah mengkerut. Sastra selalu segar bugar dan berenergi. Maka dibuatlah web dengan nama keringatsastra.id kemudian logo keringat sastra yang dibuat oleh Mas Koskow juga sudah terpampang dengan indahnya.
Tahun 2024 telah berlalu, memasuki tahun 2025 ini seharusnya web sastra sudah berjalan dengan lancar. Akan tetapi web tersebut menganggur lama dan saya kurang mengerti mengapa isian web yang sudah digagas ternyata malah mandek tak berjalan. Pada tahun 2025 ini keringat sastra hanya mengadakan satu kali acara “Panggung Sastra” di Sarang Building. Mungkin karena kesibukan kami yang menghambat berjalannya acara Keringat Sastra.
Pada awal tahun 2026 saya mulai mengajak teman-teman untuk mengisi web Keringat Sastra. Alhasil web tersebut mulai aktif dengan admin web Mas Bayu. Banyak teman-teman yang menyambut dengan riang gembira. Para penulis segera mengirimkan tulisannya kemudian satu persatu tulisan telah ditayangkan. Tak ketinggalan peran para perupa yang menyumbangkan gambarnya tuk dijadikan ilustrasi tulisan. Senang sekali rasanya hati ini. Saya membayangkan semua akan berjalan lancar di bulan-bulan berikutnya.
Ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Seperti tahun lalu web tersebut sempat gangguan yang kemudian diperbaiki lagi. Namun tahun ini berbeda tingkat gangguannya. Entah mengapa tiba-tiba web tersebut tidak bisa dibuka. Saya sempat panik ditengarai ada kesalahan ngeklik. Saya sempat panik. Beberapa hari kemudian web sudah berhasil dibuka dengan sendirinya. Namun seminggu kemudian tiba-tiba web tersebut hurufnya berubah menjadi huruf Rusia. Ah… rupanya web Keringat Sastra kena hack sebab satu minggu berikutnya web Keringat Sastra sudah hilang dan berganti web jualan kerajinan dengan huruf-huruf kanji bahasa Jepang.
Sebel nian rasanya…
Cita-cita yang amat indah itu kini terkubur dan saya musti menabung untuk membuat Web Keringat Sastra yang baru lagi. Degan nama yang baru pula: keringatsastra.co.
Tunggu saja! (S3)






