Kamis, Februari 5, 2026
No menu items!

‘Mozaik Hidup Kami’ : Catatan Proses

Must Read

Pameran seni rupa pelajar “Mozaik Hidup Kami” merupakan tempat bertemunya para seniman (remaja yang berkarya rupa) dengan masyarakat penonton yang terjalin dalam komunikasi lewat karya seni yang disuguhkan dan menjadi sarana yang menciptakan peristiwa bersama.

Pelajar SMK yang masih dalam masa remaja; masa di mana pencarian jati diri menjadi penting. Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang. Kecepatan pertumbuhannya berbeda-beda dan akan menyesuaikan secara maksimal jika diberi kesempatan secara tepat untuk mengaktualisasikan diri secara utuh. Seni rupa bagi sebagian siswa-siswi ini adalah bidang yang tidak biasa. Setiap kali mereka mendengar kata ‘seni rupa’ yang tergambar di pikiran mereka adalah “menggambar”, sehingga banyak yang menganggap seni rupa tidak perlu, dan karenanya merasa tidak berminat untuk mencoba.

Saya tidak tahu bagaimana pendidikan seni yang mereka terima di sekolah sebelumnya. Bahkan warna dasar atau warna primer pigmen saja mereka kurang paham. Sebagian mereka tidak menyadari bahwa sejak taman kanak-kanak mereka belajar melalui media rupa. Di bangku Sekolah Dasar tentunya juga diberikan pembelajaran seni rupa, pun di Sekolah Menengah Pertama. Tapi siswa-siswi yang saya hadapi ini seperti tidak pernah mengenal seni (rupa) dan canggung untuk mengaktualisasikan diri.

Akhirnya saya harus melontarkan beberapa pertanyaan yang (mungkin tidak) berkait dengan pelajaran, semisal, siapa namamu ? di mana rumahmu ? apa pekerjaan orantuamu? dengan siapa kamu tinggal ? apa yang kau senangi? apa yang kau benci ? apa yang kau pakai di tanganmu ? kenapa kamu menyisir rambutmu ? kenapa kamu tersenyum pada temanmu di ujung sana ? kado apa yang kau siapkan untuk temanmu yang ulangtahun? apa yang kau duduki ? dan lain sebagainya yang bisa membuat mereka bicara dan berkomunikasi secara nyaman dengan saya, bahkan kalau bisa berkelakar bersama.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu saya ajak mereka ke pemahaman soal seni dan budaya; bahwa sebenarnya manusia tidak lepas dari seni sebagai kebutuhan akan keindahan sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Dengan begitu pemahaman akan apresiasi yang dituntut kurikulum bisa dicapai. Mereka lebih dapat memahami diri, lingkungan dan sekitarnya. Juga memahami bagaimana mudahnya membuat karya seni dengan gembira dan bahagia.

Karya rupa mozaik menjadi pilihan kami ketika mengapresiasi seni rupa barat. Mozaik adalah karya yang mudah dikerjakan di kelas tanpa mengganggu kelas lainnya. Dan dapat menjadi media untuk menuangkan apa yang ingin mereka ekspresikan, baik itu diri pribadi, cita-cita, persoalan rumah, persoalan kebangsaan dan lain sebagainya. Setelah mereka yang memilih dan menentukan gagasan apa yang mau dituangkan ke dalam media mozaik, mereka juga mencari sendiri bahan pecahan-pecahan kaca atau keramik untuk dijadikan karya. Sebagian memang membalik konsep ini, dengan mengawalinya dengan bahan yang ada, baru membuat gagasan.

Selama proses pengerjaan, keasyikan bisa mereka dapatkan. Meskipun ada satu yang menganggap bahwa alat yang digunakan dalam berkarya rupa mozaik ini adalah ‘alat tukang’; apakah anak-anak jurusan akuntansi ini mau jadi tukang batu? Begitu anggapannya. Tetapi berproses membuat mereka akhirnya memahami makna “suatu proses”.

Dari masyarakat ada dinamika, muncul banyak hal, dari masyarakat pula kita bisa lebih banyak belajar tentang manusia. Belajar tentang persoalan hidup, sehingga akan lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Pameran seni rupa pelajar yang kami gelar ini pun merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat yang sekaligus berfungsi sebagai ruang apresiasi dan sarana pendidikan alternatif di luar sekolah.

Hidup itu seperti serpihan-serpihan peristiwa. Kita sering lupa serpihan akan menjadi serpihan belaka. Tapi kalau sedikit kita terbuka untuk melihat serpihan itu dan berusaha untuk menyatukannya, serpihan tersebut akan menjadi mozaik hidup yang indah. Tapi itulah hidup. Hanya yang kuasa yang berhak menyatukannya menjadi utuh.

Pameran dilaksanakan pada Sabtu hingga Kamis,  28 April – 3 Mei 2018, Pukul 10.00 – 17.00 WIB. Pembukaan Sabtu 28 April 2018, Pukul 09.00 WIB di SMK Kristen 1 Surakarta diikuti semua siswa-siswi yang berkarya dengan diapresiasi oleh Irul Hidayat (pelaku seni rupa mural di Solo dan penggerak komunitas senirupa).  Yogi SWA perwakilan dari “Kota-kota Bersuara” dan dibuka oleh Ibu Sunarni, SE. selaku kepala sekolah SMK Kristen 1 Surakarta. Pembukaan diisi dengan meriah menampilkan pantomim, beat box dan vokal group dari siswa-siswi.***

Penulis

Yustinus Popo, YUSTINUS POPO H. A. C., lahir di Surakarta, 8 November 1978. Mengenal teater sejak SMA di dalam ekstrakurikuler Teater Timbul SMAN 5 Surakarta dan kemudian menjadi pelatih di kelompok ini sejak 1999-2013. Pernah bergabung di Teater Gidag-gidig sejak tahun 1995. Sewaktu mahasiswa aktif di Teater Jejak STSI (sekarang ISI) Surakarta mulai tahun 1997. Membentuk Komunitas Doran bersama alumni SMAN 5 tahun 2003. Membentuk dan memimpin Kelompok Teater EKS tahun 2006-sekarang. Beberapa kali mementaskan naskah sendiri maupun naskah orang lain baik sebagai Aktor maupun Sutradara. Sering berproses bersama teater TERA Surakarta dan seni tradisi (kethoprak) di Surakarta. Selain masih bermain di Teater EKS, pada saat tertentu melatih Pantomim di beberapa SD seputar Solo Raya. Pernah menjadi pengajar di SMK Kristen 1 Surakarta. Saat ini menjadi pengajar Seni dan Budaya di SMA Negeri 8 Surakarta. Tinggal di Jagalan Rt 02/ IX Surakarta 57124, bersama istri dan putri-putrinya.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

CATATAN PERJALANAN BENGKEL MIME KE TIMUR #2

24 April 2018 Dalam perjalanan menuju Ambon memakai kereta dan pesawat, kami singgah terlebih dahulu di Surabaya tepatnya di daerah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img