Tahun Baru
Tak ada yang berlalu
Masih ada yang selalu menunggu.
Tahun 2026 telah tiba, apa yang musti kita kerjakan? Banyak, banyak yang harus kita kerjakan. Semua punya agenda kerja masing masing. Juga aku. Tapi harus dimulai dari mana kerja-kerja tersebut? Apakah akan kita biarkan menggelinding begitu saja, menyesuaikan keaadaan terutama modal finansial. aku rasa tidak, tak semuanya bergantung pada uang, uang, dan uang. Namun bergantung pada sesuatu yang bernama TEKAD.
Ah, tapi apa jadinya pabila tekad tanpa dibarengi dengan ke-uang-an. Tentu akan berhenti menjadi angan-angan belaka. Uh… benar-benar menyebalkan. Seakan dunia ini akan semuanya jadi macet dan hancur tanpa uang. Seingkali aku tak punya uang sepeserpun tapi hidup saya cukup tenang jika masih ada gas, kacang hijau dan gula jawa. Aku masih bisa merebusnya untuk makan sehari-hari. Hahaha… ya, sudah barang tentu itu hanya bertahan dalam beberapa hari saja, paling banter satu minggu.
Lantas bagaimana setelah kacang hijau, gula jawa dan gas semuanya habis? Sementara uangku sudah habis. Sempat kepikiran akan jual diri menjadi pelacur laki-laki, tapi niatan busuk itu membuatku tertawa ngakak sendirian. Siapa yang tertarik pada diri ini yang sudah mulai menua dan jelek. Sudahlah realistis saja, aku harus bergerak agar mendapatkan uang. Cara pertama menjual buku-buku koleksi dan menjadi buruh apa saja. Dari sanalah aku mulai dapat uang sekadar untuk makan.
Semakin lama aku sadar ‘tuk menyisihkan uang untuk masa depan. Sialnya saya tak pernah punya gambaran tentang masa depan akan seperti apa? Kekekekw… bengcek memang! Jadi aku urungkan niatan menyisihkan uang. Pernah suatu ketika ada seorag cewek datang, ingin pacaran dengan saya. Manis dan menyenangkan. Kontan saja aku menolaknya secara terang-terangan. Ya, lantaran aku tak bisa menjamin kebahagiaan dengan kemiskinanku. Kukatakan padanya bahwa hidup ini bukan film atau novel yang bisa dikarang menjadi Happy Ending.
Aku memilih untuk sendiri saja. Ketika sendiri itulah aku merenung lalu tersenyum sendiri. Lalu kuambil selembar kertas dan pulpen. Kali ini aku tak menulis pwisik tapi menggambari kertas itu sesuka hatiku. Senang rasanya melihat hasil karyaku. Aku tertawa ngakak lantaran menertawai diriku sendiri. Menertawai keinginan dari dalam diriku, bahwa aku ingin pameran.
Aku hanya punya tekad untuk pameran. Sejak saat itu aku menggambari kertas-kertas kosong yang aku jumpai. Menggabar dengan media seadanya. Menggambar dan menggambar. Hatiku semakin girang. Hidupku bergairah, wajahku berseri-seri dalam kesendirian nan riang itu. Tiada terasa gambarku semakin banyak terkumpul. Tekadku semakin bulat untuk berpameran.
Tibalah saatnya untuk pameran secara mandiri dan diam-diam. Kupajang gambar-gambar kecil itu di tembok rumahku yang berdinding GRC dengan lem. Kupandangi sendiri dan kubuka sendiri. Kuundang beberapa teman untuk main ke rumah tapi tidak kuberitahu jika aku sedang berpameran. Namun aku yakin secara otomatis teman-temanku bakal melihat gambar-gambarku dan mengapresiasinya. Jelas mereka mengolok-olok dan tak ada yang bilang gambarku bagus.
Aku tak bersedih hati malah senang dapat banyak cerita dari teman-teman tentang menggambar. Berbagai pengalaman aku dapati, berbagai teknik aku pahami.
Aku bangga dengan diriku sendiri yang sudah bisa mewujudkan tekadku mewujudkan cita-citaku untuk membuat pameran. Hahahaa… akan aku apakan gambar-gambar jelek itu? Oh, tentu saja aku unggah di story WhatsApp dan media sosial lain. Ya, karena tidak mungkin aku jadikan sebuah katalog indah seperti para seniman besar itu.
Tak dinyana tak diduga. Beberapa orang berminat dengan gambar-gambar jelekku itu. Orang-orang itu ingin mengoleksinya. Betapa riang hati ini. Aku tak bisa memberikan harga pada karya-karyaku. Dan kubiarkan secara bebas para kolektor liar itu yang memberi harga sendiri. Ternyata bermacam-macam harganya. Dari seratus limapuluh ribu rupiah sampai empat ratus ribu rupiah.
Begitulah ceritanya. Pengalamanku empat tahun lalu yang kadang membuatku tertawa sendirian. Itu hanyalah sepenggal kisah saja. Masih banyak contoh kisah-kisah lainnya. Jadi aku lebih percaya tekad dari pada uang. Ya, aku memang membutuhkan uang tapi untuk mewujudkan cita-cita tidak harus dengan banyak uang. Masih banyak cara lain menuju kebahagiaan.
Tahun ini apa yang akan aku kerjakan? Aku jawab dengan tegas: mewujudkan cita-cita dengan TEKAD!
Selalu ada yang menunggumu… (S3)






