Jika tidak ada aspek humanisme dalam teori gravitasi, lalu buat apa teori itu?
Pertanyaan saya mungkin terkesan ceroboh. Tapi pada dasarnya saya sebagai seorang yang berbasis humaniora merindukan penjelasan filosofis atas berbagai hal di alam semesta. Anda mungkin bisa menyebut manfaat teori gravitasi. Tapi menurut saya Einstein lebih bermanfaat daripada Newton. Karena teori teori Einstein lebih melibatkan kesadaran manusia sebagai agen yang aktif dalam komunikasi dengan semesta kenyataan. Bagaimana manusia mempersepsikan waktu, ruang, sebenarnya bentuk kontak antara kesadaran dan kenyataan itu.
Einstein merupakan bagian dari semangat zaman. Ia bisa dihubungkan dengan para ilmuwan sezamannya: Freud misalnya juga mengangkat teka-teki kesadaran manusia. Menurut saya Einstein telah menerapkan teori kesadaran di bidang fisika.
Nah, saya tertarik dengan bergesernya perspektif fisika modern, dari yang semula objektif menjadi subjektif, mulai abad ke 20 lalu. Sifat subjektif fisika modern membuatnya terasa lebih humanis. Pada dasarnya secara umum pengetahuan modern kian antroposentris, dan fisika modern menjadi bagian dari kecenderungan antroposentrisme itu. Artinya juga bahwa manusia sadar atau tidak kian berusaha mengendalikan alam semesta. Masuknya perspektif subjektif ke dalam fisika modern itu adalah bentuk ikhtiar intuitif manusia untuk mengendalikan alam semesta. Fisika zaman Newton belum seperti itu.
Secara konkret, kemenangan subjektivitas fisika modern adalah ia tidak lagi menggunakan ukuran ukuran absolut, atau tidak lagi menganggap bahwa alam semesta menuntut akan hal itu. Dengan tidak lagi menggunakan ukuran absolut maka sebenarnya fisika modern telah menurunkan alam semesta dari singgasananya, melakukan profanisasi terhadap semesta, dan dengan demikian ini adalah ikhtiar untuk mengendalikan alam semesta dalam kekuasaannya.
Kuatnya sifat subjektif dalam fisika modern beriringan pula dengan hilangnya otoritas gereja terhadap ilmuwan dan individualisme setelah revolusi industri.
Mengapa saya menyambut baik sifat subjektif ini, itu karena dalam sejarah perumusan pandangan saintifik kita pernah punya contoh menarik. Mari kita ingat Plato. Pada mulanya, Plato menganggap bumi adalah pusat alam semesta, tapi di masa tuanya ia menyesal, karena seharusnya ada yang lebih layak menempati posisi pusat itu. Plato punya pandangan seperti ini jauh sebelum terbentuknya otoritas keagamaan, dalam hal ini adalah gereja, dan perubahan spekulasinya itu tidak berpengaruh ke arah turunnya reputasi. Hal yang berkebalikan dialami para pengikut Copernicus pada abad pertengahan. Artinya apa? Pada zaman Yunani kuno, Plato telah melakukan desakralisasi terhadap alam semesta, memandangnya sebagai entitas yang profan, dan dengan demikian membuka interaksi yang maju antara manusia dengan alam semesta. Subjektivitas Plato ditunjukkan dengan keengganannya untuk terus-menerus menempatkan bumi pada posisi absolut. Kesadaran Plato bekerja sebagai agen yang aktif dalam komunikasi dengan semesta kenyataan. Tapi pada abad pertengahan, di mana otoritas keagamaan berkuasa, interaksi itu justru mandeg, karena adanya tuntutan untuk melakukan sakralisasi terhadap alam semesta. Tak ada lagi subjektivitas. Einstein di zaman modern abad ke 20 dengan aspek kesadarannya mengembalikan sifat profan itu dan kembali menjadikan alam semesta sebagai teman interaksi yang terbuka bagi subjektivitas.
Newton dengan teori gravitasinya memang mengembangkan teori tata surya Copernicus, dan ia bisa dibilang melakukan desakralisasi tersendiri menurut standar abad pertengahan. Tapi desakralisasi Newton masih bersifat matematis, menggunakan ukuran yang ketat, dan absolut, yang pada akhirnya tidak lagi terasa sebagai desakralisasi alam semesta dalam standar Einstein.
Pada dasarnya, teori fisika Einstein adalah bukan tentang mekanika, melainkan tafsir atas mekanika. Tafsir lebih merupakan aspek kesadaran ketimbang aspek rasional. Sifat ilmiah teori Einstein sebagai tafsir atas mekanika inilah yang membuat ia terlihat sebagai seorang seniman. Ia mengangkat selubung mekanika itu dan menunjukkan sisi abstrak dari cara kerja alam semesta. Sisi abstrak ini lebih lanjut membuka jalan ke arah mistisisme. Manusia tidak bisa sepenuhnya memetakan alam semesta secara mekanis sebagaimana halnya ia tidak bisa memetakan seluruh aspek pribadinya sebagai seorang individu dengan sebuah definisi yang baku.
Saya sekarang justru punya pikiran simbolis. Jika Newton menemukan teori gravitasi dengan melihat buah apel yang jatuh dari pohon, maka dengan kesadaran subjektifnya Einstein yang mewakili sifat intuitif keinginan untuk mengendalikan alam semesta itu disimbolkan dengan sebuah tangan yang bergerak untuk menangkap buah apel itu sebelum jatuh ke tanah.
Imogiri, 4-11 Nov 2025
PENULIS

Nurul Hanafi, Penulis cerpen, penerjemah dan perenung alam semesta. Tinggal di Imogiri Yogyakarta.






