Kita tidak pernah bisa menebak akan mati kapan dan dengan cara apa. Namun kita bisa merencanakan apa saja yang bisa dilakukan sebelum kematian datang. Meskipun kita juga tidak tahu, apakah bisa melaksanakan semuanya.
Renungan tersebut hadir setelah membaca buku Seminggu Sebelum Aku Mati. Sebuah buku karya Seo Eun-chae yang diterjemahkan oleh Dwita Rizki. Jangan tertipu dengan judulnya, karena buku yang diterbitkan oleh Shira Media ini tidak hanya bercerita tentang apa yang dilakukan karakter utama seminggu sebelum kematiannya. Namun ada juga sudut pandang dari orang-orang yang ditinggal meninggal. Biarpun novel romance, cerita yang disajikan mampu membuka pemikiran kita terkait makna dari sebuah kematian.
Ketika awal baca cukup dibuat bingung “Ini siapa yang mati?” “Ini matinya kenapa?” “Kok bisa tahu kalau ia akan mati seminggu kemudian?” Tapi terus membaca adalah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setiap kejutan yang hadir sangat ampuh membuat pembaca tidak mau berpaling dari buku ini.

Bercerita tentang Ram Woo yang mengalami kecelakaan karena menyelamatkan Hee Wan. Naasnya, Ram Woo hanya bisa terbaring di rumah sakit selama bertahun-tahun dan arwahnya berkeliling untuk melihat kondisi Hee Wan, teman perempuannya sejak kecil yang sangat ia cintai.
Secara teknis, gaya penceritaan Seo Eun-chae yang berpindah-pindah sudut pandang memang terasa menantang. Namun mungkin akan ada pembaca yang kebingungan selama membaca karena harus memikirkan banyak lapisan. Mulai dari alur ceritanya, sudut pandang yang digunakan, sampai pemaknaan dari kejadian demi kejadian. Terlepas dari itu, novel ini masih sangat bisa dinikmati dan berhasil menyajikan alur yang padat dengan plot-twist.
Novel ini berhasil menunjukkan bahwa kematian bukan hanya milik satu orang. Ada orang-orang di sekeliling yang juga mengalami kepedihan sangat mendalam. Misalnya Kim In Joo, Ibu Ram Woo yang sangat terpukul dengan kondisi anaknya. Lika-liku kehidupan yang dialami selama bertahun-tahun ternyata belum ada apa-apanya dengan melihat kondisi anaknya yang tumbuh besar di ranjang rumah sakit.
Kemudian ada juga seorang sahabat yang kehilangan dunianya dan belum sempat mendapat pernyataan cinta dari Ram Woo. Padahal Ram Woo adalah satu-satunya orang yang mampu mengerti Hee Wan. Sayangnya, kehilangan yang dialami Hee Wan tetap harus membuat Hee Wan melanjutkan hidup tanpa kehadiran sahabat terbaiknya.
Buku ini juga berusaha menyampaikan bahwa penyesalan terbesar manusia tidak selalu datang dari hal-hal besar. Bisa juga datang dari kata-kata sederhana yang tidak sempat diucapkan. Misalnya menyatakan cinta pada orang yang dicintai. Atau menyatakan sayang pada keluarga sendiri. Novel ini benar-benar menyadarkan kita bahwa menunda bisa menimbulkan penyesalan yang tiada ujung. Maka apabila hal tersebut sekiranya bisa segera dilakukan, maka lakukanlah. Mengutip lirik lagu Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya oleh Hindia: Lakukan apa yang kau mau sekarang. Saat hatimu bergerak, jangan kau larang!
Namun selain menceritakan kisah romansa tidak biasa dari Ram Woo dan Hee Wan, novel ini juga memberi cuplikan-cuplikan sudut pandang dari mereka yang akan menghadapi kematian. Ada seorang kakek yang siap untuk mati karena sudah merasa puas dengan hidupnya. Ada juga seorang anak yang paham hidupnya tidak lagi bisa diperjuangkan tetapi organ-organ miliknya masih bisa digunakan untuk kehidupan orang-orang lainnya. Maka ia rela mati dan menyumbangkan organ-organ miliknya, serta berharap penerima bisa melanjutkan hidup untuk menggapai cita-citanya.
Buku ini cocok untuk kamu yang ingin meluaskan sudut pandang terkait kematian. Karena kematian bukan sekadar akhir, melainkan juga cermin untuk menilai apakah kita sudah cukup jujur, berani, dan melakukan sesuatu yang berharga selama mendapat kesempatan hidup.
PENULIS
Profil Penulis Buku Seminggu Sebelum Aku MatiSeo
Eun-chae adalah penulis Korea Selatan yang juga pekerja kantoran. Ia selalu
ingin pulang tepat waktu di tahun baru. Seorang yang bermimpi menulis sebuah
roman. Di dunia ini, ada romansa yang bersifat sementara dan ada pula yang tak
tergantikan. Jika berbicara soal romansa, yang tak tergantikan sepertinya jauh
lebih romantis.
Profil Penulis Artikel
Hayah Nisrina adalah perempuan muda yang suka berburu cerita menarik. Selain suka
minun es degan dan nyemil buah, ia suka ikut komunitas buku untuk menikmati
diskusi ringan sekaligus mengambil informasi dari buku-buku yang dibaca para
anggotanya. Temukan berbagai ulasan buku Hayah lainnya di instagram
@hayahnisrinaf dan TikTok @gadisdongeng.







